Love You, Brother

Love You, Brother
Memulai Hidup Berdua



Raffa kini merebahkan dirinya di samping Nina. Rasanya ini seperti mimpi saat dia tidur bersama Nina dalam satu kamar.


Dia menghela napas panjang. "Mulai sekarang, aku harus berhenti menyesal. Ini semua adalah anugerah." Perlahan Raffa mengusap perut Nina. Dia tersenyum kecil, ada satu kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Setelah itu, dia juga mulai memejamkan matanya. Banyak rencana yang harus dikerjakan besok hari.


Saat malam menjelang pagi, Nina tiba-tiba terbangun. Perutnya terasa sangat mual. Dia melihat Raffa yang masih tertidur di sampingnya.


"Kak." Nina menggoyang lengan Raffa agar terbangun.


"Kenapa?" tanya Raffa dengan perlahan membuka matanya.


"Mual banget."


Raffa bangun lalu membantu Nina untuk duduk. Dia usap punggungnya berharap rasa mual itu bisa berkurang.


Tapi yang ada rasa mual itu semakin menjadi. Nina turun dari ranjang, dengan langkah cepat dia keluar dari kamar setengah berlari menuju kamar mandi.


Di kamar mandi kecil dekat dapur itu, akhirnya Nina mengeluarkan isi perutnya yang sudah tidak bisa dia tahan.


Raffa mengikutinya, dan menahan rambutnya sambil memijat pundaknya


Setelah selesai, Nina meraih gayung tapi dicegah oleh Raffa. "Biar aku saja yang bersihkan, kamu istirahat di kamar saja. Sebentar lagi aku ambilkan air hangat." Raffa segera menyiram dan membersihkan.


"Emang ada dispenser air Kak? Kompor juga belum ada." karena setahu Nina di dapur masih belum ada apa-apa. hanya ada beberapa piring, gelas, dan sendok.


"Iya, memang gak ada. Sebentar lagi aku carikan. Kamu istirahat saja di kamar."


Nina menganggukkan kepalanya. Dia berjalan pelan kembali ke kamar. Naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya dengan selimut yang dia tarik hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Badannya terasa lemas dengan pikiran yang melayang kemana-mana. Bisakah dia menjadi istri yang baik? Sedangkan selama ini saja dia terlalu manja dengan Bundanya. Makanan dan segala hal keperluannya sudah tersedia.


Beberapa saat kemudian, Raffa masuk ke dalam kamar dan sudah membawa segelas air hangat. "Kamu minum dulu biar perutnya enakan."


Perlahan Nina duduk dan meminum air hangat itu dari tangan Raffa.


"Kak Raffa dapat darimana air hangat?" tanya Nina.


"Dari tetangga sebelah. Kebetulan mereka sudah bangun."


Setelah habis setengah gelas, Nina menyudahi minumnya. "Kak..."


Raffa meletakkan gelas itu di atas meja kecil lalu kembali naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Nina. Dia usap-usap lembut perut Nina agar rasa mual itu mereda.


"Kalau kamu gak enak badan nanti gak usah kuliah ya."


Nina menggelengkan kepalanya. "Aku gak papa, Kak. Ini mual bawaan hamil bukan penyakit. Nanti semakin siang juga akan hilang."


"Ya sudah. Setelah kuliah kamu tunggu di rumah saja, aku mau cari pekerjaan dulu. Sudah ada beberala rekomen dari teman-teman."


Nina mengangguk pelan. "Aku masih punya tabungan Kak kalau Kak Raffa butuh uang."


"Nggak, kamu simpan saja uang kamu. Biar ini semua menjadi tanggung jawab aku sebagai seorang suami."


"Suami?" Nina justru tertawa kecil. Geli juga mendengar sebutan itu.


"Iya, suami." Raffa justru menciumi pipi Nina. "Tapi masih banyak kekuranganku. Aku belum bisa bahagiakan kamu sepenuhnya."


"Gak papa Kak. Kita sama-sama belajar. Aku juga belum bisa jadi istri yang baik."


Mereka terdiam beberapa saat hingga matahari telah terbit.


"Beli dimana? Gofood aja, aku punya saldo."


"Gak usah. Nanti nunggunya lama. Simpan saja saldonya." Raffa turun dari ranjang. "Ada warung nasi di depan gang. Kamu mau sarapan pakai apa?"


"Terserah Kak Raffa saja."


"Oke, sebentar ya..."


Setelah memakai jaketnya, dia keluar dari kamar.


...***...


Mulai sekarang, Raffa harus terbiasa dengan hidupnya. Tidak boleh lagi ada rasa malu.


Karena jarak dengan warung penjual nasi tidak terlalu jauh, Raffa berjalan kaki. Dia memilih menu yang lengkap untuk Nina. Ada sayur dan juga proteinnya. Meskipun kini dia kembali ke rumah sambil menghitung total uangnya jika dikali tiga dalam sehari.


Raffa menghela napas panjang. "Lain kali yang penting Nina makan enak dan bergizi. Kalau aku kan bisa makan apa aja." gumamnya dalam hati karena setelah dipikir-pikir biaya makan lumayan juga dalam sehari.


Dia kini sampai di teras rumahnya. Dia tersenyum menyapa tetangga sebelah rumahnya.


"Raffa, sebentar ini ada mangga buat istri kamu." kata tetangga yang bernama Sari itu pada Raffa. Dia memberikan sepiring mangga yang sudah dikupas pada Raffa. "Ingat aku dulu, kalau pagi-pagi gini waktu hamil muda pasti mual banget."


Raffa menganggukkan kepalanya. Dia tidak kepikiran membelikan Nina mangga. "Terima kasih ya, Mbak."


"Iya, kalau ada perlu apa-apa bilang saja jangan sungkan-sungkan."


"Iya." kemudian Raffa masuk ke dalam rumahnya. Terlihat Nina baru saja keluar dari kamar mandi.


"Habis mandi?" Raffa meletakkan nasi bingkusnya di atas meja dan sepiring mangga itu.


Nina menganggukkan kepalanya sambil berjalan mendekat. "Kak Raffa dapat mangga darimana?"


"Dikasih sama tetangga. Kamu makan dulu ya. Aku mau mandi sebentar aja." Raffa mengusap rambut basah Nina sesaat kemudian berlalu.


Nina tersenyum sumringah melihat mangga yang nampak segar itu. Dia mengambil garpu lalu segera memakannya. Sudah dari kemarin sebenarnya dia ingin mangga tapi dia tahan.


Dia memakannya dengan lahap sampai tanpa sadar sepiring mangga itu sudah tandas.


"Sayang mangganya dihabiskan? Kamu gak makan nasi?" Raffa yang baru selesai mandi itu kini ikut duduk di sebelah Nina.


Nina hanya tersenyum kecil. "Sebenarnya dari kemarin aku pengen mangga."


Hanya dengan kalimat itu saja membuat hati Raffa sedih. Harusnya dia bisa memenuhi masa ngidam Nina. "Kenapa kamu gak bilang? Kan bisa aku belikan."


Nina hanya menggelengkan kepalanya. "Gak papa. Bisa aku tahan. Dan ternyata tiba-tiba ada rezeki dapat mangga."


"Iya, tapi lain kali kamu bilang sama aku." Raffa membuka bungkusan nasi itu beserta lauknya. Ada sayur pecel, tahu tempe dan ayam.


Nina melihat nasi milik Raffa yang hanya berlaukkan telor. "Kak Raffa lain kali kalau beli disamakan ya. Meskipun lauk tempe aja tapi disamakan." Nina memotong menjadi dua ayam goreng itu dan diberikan pada Raffa.


"Kan kamu yang butuh nutrisi lebih. Anak kita sedang masa pertumbuhan di dalam perut." kata Raffa sambil mengusap perut Nina. Hal yang sangat suka dia lakukan setelah tahu benih cintanya telah tumbuh di dalam sana.


"Sama aja Kak. Lagian aku makannya cuma dikit."


"Mulai sekarang kamu harus banyak makan. Nanti aku mau melamar pekerjaan. Doakan diterima ya."


"Iya." kemudian mereka mulai menikmati sarapan pagi itu.


Perjuangan mereka untuk hidup hanya berdua baru dimulai...