
Alarm ponsel Raffa berbunyi di pagi hari itu. Dia segera bangun dan mematikan alarm ponselnya sambil menguap panjang. Sebelum matahari terbit, dia harus segera bangun.
Dia melihat Nina yang masih tidur dengan nyenyak dan tidak mungkin dia bangunkan. Raffa tidak membangunkannya tapi dia justru semakin menaikkan selimut Nina.
Dia beranjak dari ranjang lalu mengambil keranjang yang berisi pakaian kotor untuk dia cuci. Membawanya ke kamar mandi dan kemudian merendamnya terlebih dahulu.
Setelah itu, dia menanak nasi dalam rice cooker. Kemudian dia bergegas keluar rumah untuk membeli lauk pauk yang berada di warung dekat kontrakannya. Seperti itulah kehidupan Raffa, meskipun umurnya belum genap 20 tahun dan terlahir dari keluarga kaya, tapi dia sangat mengerti tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Bahkan dia sangat memanjakan Nina, karena bagi dia, belum saatnya Nina harus kerepotan mengurus rumah. Cukup Nina merasakan kehamilan yang sekarang menjadi anugerah itu.
Setelah membeli lauk pauk dan menatanya di atas mangkok dan piring, tak lupa menutupnya dengan tudung. Dia kini beralih mencuci pakaian. Baru setengah kucekan, terdengar suara langkah kaki yang dengan cepat menuju kamar mandi.
"Kak Raffa." terlihat Nina sedang menutup mulutnya.
Raffa segera berdiri dan mengusap punggung Nina yang selalu muntah di pagi hari.
"Aku buatkan minuman hangat dulu ya."
Nina menganggukkan kepalanya setelah dia selesai berkumur dan membasuh wajahnya. Dia kini duduk di kursi dekat meja dapur.
"Mau aku buatin susu?" tanya Raffa.
Nina hanya menganggukkan kepalanya. Setiap bangun pagi kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual. Entah sampai kapan morning sickness itu akan mereda. Padahal seharian kemarin sudah jauh lebih enakan.
"Ini, mumpung masih hangat kamu minum dulu."
Nina meraih gelas yang berisi susu rasa strawberry. "Makasih, Kak." Nina Segera meminumnya sampai habis.
Sedangkan Raffa kini melanjutkan pekerjaannya.
Nina termenung beberapa saat melihat raice cooker yang sudah mengeluarkan asap, itu berarti sebentar lagi nasi akan matang. Di dalam tudung saji juga sudah berisi makanan.
"Kak, aku bantu ya." kata Nina sambil menoleh Raffa yang sedang berkutat dengan cuciannya.
"Jangan, ini sudah hampir selesai." kata Raffa sambil membilas cuciannya. Dia tidak memperbolehkan Nina mencuci pakaian secara manual apalagi dia sedang hamil.
Mata Nina berkaca-kaca. Dia sangat beruntung memiliki Raffa. Sejak kecil, Raffa memang selalu menjaga dan memanjakannya. Sampai sekarang saat Raffa sudah menjadi seorang suami dengan berbagai macam tanggung jawabnya, Raffa masih saja berusaha memanjakannya. Nina mendekat dan memeluk Raffa dari belakang saat Raffa sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Sayang, kaget. Tiba-tiba peluk gini." Raffa mematikan kran air. Lalu tangannya mengusap tangan yang melingkar di perutnya.
"Angkat ke depan ya. Biar aku yang jemur. Kak Raffa mandi saja." kata Nina yang berada di belakang Raffa.
Raffa memutar tubuhnya agar bisa menatap Nina. Dia tersenyum lalu mengecup singkat bibir Nina. "Tahu aja kalau aku gak bisa nata jemuran."
"Mulai sekarang aku akan belajar jadi ibu rumah tangga yang baik. Kapan-kapan aku boleh kan belajar masak?" pinta Nina. Karena menanak nasi dalam rice cooker saja dia tidak tahu ukuran airnya seberapa.
Raffa menganggukkan kepalanya. "Boleh, asal kamu tidak sampai kecapekan."
Nina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kalau masak nasi di rice cooker airnya seberapa sih?" tanya Nina.
Raffa jusru menunjuk jari telunjuknya. "Ukur airnya seruas jari di atas beras."
"Iya kah? Kak Raffa tahu darimana?"
Raffa tertawa kecik. "Dari kecil aku sering diajak Bi Rini masak jadi aku tanya banyak hal."
"Besok kalau aku bangun pagi, aku mau langsung masak nasi ya."
"Iya."
...***...
Begitulah hari-hari Raffa, dan setelah pulang kuliah, dia langsung ke tempat kerja untuk memulai hari kerjanya untuk yang pertama kali.
Mendapat bos yang sangat baik tentu suatu keberuntungan bagi dia. Ada jatah makan siang juga di kafe itu.
Raffa beberapa kali salah mencatat pesanan, bahkan sampai memecahkan piring saat membawa nampan.
Raffa menghela napas panjang, dia membersihkan piring yang jatuh dari nampannya. Ternyata kerja itu tidak mudah. Baru sehari rasany sudah sangat capek.
"Raffa!" panggil si pemilik kafe itu.
Setelah Raffa membuang pecahan piring itu, dia masuk ke dalam ruangan bosnya. Dia sudah gemetar takut, apa dia akan dipecat karena melakukan kesalahan berulang di hari pertama kerja.
"Saya minta maaf, Pak. Saya sudah melakukan kesalahan berkali-kali hari ini." kata Raffa. Dia masih menundukkan pandangannya, takut jika bosnya benar-benar memarahinya.
"Saya masih bisa maklum karena kamu anak baru. Tapi besok kamu harus bisa lebih hati-hati."
Raffa menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak."
"Kamu sudah berapa lama menikah?" tanya Alvin.
"Baru satu minggu."
Alvin menganggukkan kepalanya. "Oke, itu berarti kamu sudah punya tanggung jawab, jadi kamu harus benar-benar bekerja dengan giat dan rajin."
Raffa menganggukkan kepalanya.
"Anggap saja semua karyawan kafe, termasuk saya sendiri sebagai keluarga. Jangan sungkan kalau butuh sesuatu." jelas Alvin.
"Iya, Pak."
"Ya sudah kamu boleh pulang. Bawa juga makanan yang masih ada di dapur."
"Baik Pak, terima kasih." Raffa keluar dari ruangan bosnya. Berulang kali dia bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang baik.
"Raffa, katanya istri kamu sedang hamil. Ini bawa pulang buat istri kamu." kata salah satu temannya di kafe.
"Iya, terima kasih."
Dia tersenyum menatap bungkusan yang berada di dalam kantong plastik itu. Setelah memakai jaket dan mengambil tasnya, dia keluar dari kafe. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu Nina di rumah.
Setelah sampai di rumah, dia mengunci kembali pintu itu. Dia melihat Nina yang tertidur di atas kursi sambil dengan televisi yang masih menyala.
Dia duduk di sampingnya lalu mengusap lembut pipi Nina agar terbangun. "Sayang pindah ke kamar ya."
Nina perlahan membuka matanya. "Kak Raffa baru pulang?"
"Kamu mau tidur atau mau makan dulu? Aku bawa makanan dari kafe. Pemilik kafe itu baik banget, teman yang lainnya juga baik semua." cerita Raffa dengan antusias yang membuat Nina membuka matanya lebar.
"Iya Kak? Syukurlah. Kak Raffa bawa apa?" Nina membuka kantong plastik itu. "Ada salad buah sama smoothies." kata Nina sambil tersenyum karena itu makanan kesukaannya.
"Kamu makan ya. Aku mau mandi dulu." Setelah mengecup singkat kening Nina, dia masuk ke dalam dapur dan menuju kamar mandi tapi langkahnya terhenti saat melihat banyak biskuit dan buah di atas meja.
"Nin, ini dari siapa?" tanya Raffa sedikit berteriak dari dapur.
"Dari Aurel dan Vina."
"Vina dan Aurel?" gumam Raffa pelan. "Kemarin juga bawa susu dan makanan. Kayaknya mereka gak mungkin beli ini semua dengan uang sakunya."
Raffa nampak berpikir sambil mengecek beberapa biskuit dari merk mahal. "Besok biar aku tanya sama mereka."
Sepertinya Raffa mulai curiga.
💞💞💞
.
Sebenarnya Raffa mau aku buat hidup susah, tapi author gak tega.. 😬 sedang aja, biar usaha Raffa ada hasilnya.