
"Kak Raffa!" panggil Aurel dan Vina setelah kuliah mereka telah usai.
Raffa yang akan menaiki motornya, seketika urung mendengar panggilan itu.
"Kak Raffa, beneran Nina mau cuti kuliah?" tanya Aurel.
"Iya, Nina mau fokus dengan kesehatannya dulu." jawab Raffa, kemudian dia memakai helmnya.
"Kak Raffa mau pulang?"
"Aku mau ke tempat kerja. Kalau kalian mau main ke rumah gak papa. Temani Nina." Raffa kini naik ke atas motornya dan beberapa saat kemudian motor Raffa sudah melaju meninggalkan kampus.
"Vin, kita ke rumah Nina yuk. Tapi sebelumnya kita beliin rujak buah dulu. Pasti bumil satu itu lagi pengen rujak buah." kata Aurel.
"Oke."
Mereka berdua menaiki motor, lalu segera melajukan motor mereka menuju penjual rujak buah yang ada di pinggir jalan. Mereka masih asyik mengobrol sambil menunggu pesanannya.
"Vina, Aurel."
Panggilan itu membuat Vina dan Aurel meluruskan pandangannya. "Kak Bayu."
Ada Bayu yang diam-diam mengikuti mereka. Dia kini turun dari motornya dan berjalan mendekat sambil membawa satu kantong plastik berwarna hitam yang lumayan besar. "Gimana keadaan Nina?" tanya Bayu.
Mereka berdua terdiam beberapa saat lalu menjawabnya. "Sudah membaik. Nina juga sudah pulang dari rumah sakit."
"Aku dengar, dia cuti kuliah." Bayu menghela napas panjang lalu menyodorkan kantong plastik itu pada Aurel. "Aku titip ini ya buat Nina. Tapi jangan bilang kalau dari aku."
"Eh, tapi kak." Aurel akan mengembalikan barang itu pada Bayu tapi Bayu mendorong tangan Aurel.
"Tolong ya. Aku gak bisa kasih langsung." setelah itu Bayu kembali naik ke atas motornya dan berlalu.
Vina dan Aurel masih spechless menatap kantong plastik itu.
"Dalam banget cinta Kak Bayu. Udah tahu Nina nikah dan mau punya anak tapi masih aja nyimpan perhatian." Aurel membuka kantong hitam itu, dia mengabsen isi yang ada di dalamnya. "Susu ibu hamil aneka rasa. Ada manisan buah juga, tahu banget kalau itu penghilang mual. Cracker, biskuit susu, biskuit gandum."
"Fix calon suami idaman," kata Vina.
"Idaman sih, tapi kasihan juga ya. Atau jangan-jangan Kak Bayu merasa bersalah karena ini terjadi kan juga karena Kak Bayu."
Vina mengangkat bahunya lalu mengambil pesanan dan membayarnya. "Ya udah yuk, bilang aja ini dari kita. Biar bumil sehat."
Kemudian mereka segera naik ke atas motor dan segera melaju menuju rumah kontrakan Nina.
...***...
"Maaf, karena kamu kemarin tidak datang jadi posisi kamu sudah ditempati orang lain."
Seketika harapan Raffa pupus, dia keluar dari rumah makan itu dengan lemas. Karena hari pertama kerjanya yang terlewat, dengan cepat posisi pekerjaannya sudah ditempati orang lain.
Raffa menghela napas panjang sambil menaiki motornya. "Aku harus cepat cari pekerjaan lagi." Tak peduli dengan sinar matahari yang masih terik Raffa melajukan motornya.
Dia menghentikan motornya setiap ada kafe atau rumah makan. Bahkan di beberapa warnet dan rental playstation, berharap dia bisa mendapatkan sebuah pekerjaan tapi tetap tidak ada lowongan di berbagai tempat yang sudah dia datangi.
Hari sudah sore dan muali gelap. Raffa duduk dengan lemas di depan sebuah ruko yang tutup. Rasa lapar dan haus sudah kalah dengan rasa putus asanya.
"Aku harus cari kerjaan dimana lagi?" dia tundukkan kepalanya. "Kalau harus melamar di pabrik, itu berarti aku harus melepas kuliah aku."
Dia pijat sesaat pelipisnya yang terasa pusing. Ternyata hidup tak semudah yang dia bayangkan.
Bagaimana aku bisa menafkahi Nina kalau kayak gini. Kalau memang gak ada pekerjaan paruh waktu, terpaksa aku harus berhenti kuliah.
Raffa masih saja menundukkan pandangannya. Sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang mendekatinya lalu dia menepuk bahu Raffa.
Raffa terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya. "Paman Rendra."
Raffa menggelengkan kepalanya. "Lagi mencari pekerjaan."
Rendra menghela napas panjang, tentu saja dia sudah tahu masalah yang menimpa Raffa. "Sudah dapat?"
Raffa menggelengkan kepalanya. "Gak ada lowongan soalnya aku cari yang bisa paruh waktu. Tapi kalau seperti ini, besok aku coba melamar di pabrik saja dengan ijazah SMA."
"Kamu mau berhenti kuliah?"
"Mau bagaimana lagi? Aku harus menafkahi Nina."
Rendra mengusap punggung Raffa. "Sabar, semua pasti ada jalan. Di saat kamu berada dalam masalah, apa kamu sudah mendekatkan diri kepada Allah, berdo'a dan memohon petunjuk."
Raffa menggelengkan kepalanya. Seketika dia teringat dosa-dosa yang pernah dia lakukan. Ini baru sedikit masalah di dunia, bagaimana dengan nantinya. "Aku... Aku sudah berbuat banyak dosa."
"Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Paman dulu juga pernah hidup di dunia gelap tapi setelah kita melakukan taubat, pasti semua akan diberikan kemudahan."
Raffa hanya menatap jalanan yang ramai kendaraan dengan mata yang memanas. Selama ini dia terasa jauh dengan Sang Pencipta.
"Selalu berdo'a dan jangan pernah putus asa."
Raffa menganggukkan kepalanya sambil menekan kedua ujung matanya.
"Kamu butuh pekerjaan paruh waktu kan? Paman punya kenalan, dia pemilik kafe yang sangat baik. Semoga saja masih ada lowongan untuk pekerja paruh waktu."
"Dimana?" seketika wajah Raffa berbinar.
"Ikuti mobil Paman ya. Paman antar." Rendra berdiri dan masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Raffa dia naik ke atas motornya dan segera mengikuti mobil Rendra yang telah melaju.
Di depan sebuah kafe dan resto yang mewah, mobil Rendra berhenti.
Raffa turun dari motornya, sebelumnya dia memang pernah ingin melamar di tempat itu tapi dia ragu karena kafe itu sangat besar dan mewah, mungkin saja tak menerima karyawan paruh waktu.
Rendra mengajak Raffa masuk ke dalam kafe itu. Mereka duduk di meja VIP.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang bapak yang tersenyum pada Rendra. "Apa kabar, Pak? Lama tidak ke sini?" orang itu langsung menjabat tangan Rendra.
"Alhamdulillah baik. Iya, aku sedang mengurus pondok. Kafe Pak Alvin semakin sukses saja."
Alvin hanya tersenyum lalu memerintahkan waitress nya untuk mengambil makanan dan minuman. Setelah itu dia duduk bersama mereka.
"Pak Alvin jadi begini, apa ada lowongan kerja paruh waktu di sini. Ini ponakan aku masih mahasiswa sedang butuh pekerjaan." kata Rendra.
"Ada, kebetulan karyawan paruh waktu aku baru saja berhenti karena sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
Seketika Raffa tersenyum, ada beban yang sedikit hilang di hatinya.
"Besok kamu bisa mulai kerja."
Mendengar hal itu Raffa meraih tangan Alvin dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Iya, sama-sama. Aku suka dengan semangat anak muda yang membara seperti ini. Kamu sudah semester berapa? Butuh pekerjaan buat bayar kuliah? Aku bisa bantu ada program beasiswa juga di sini."
Raffa menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh malu mengakui jika memang dia sudah berkeluarga. "Saya sudah menikah."
Meski sedikit terkejut karena wajah Raffa memang masih terlihat sangat muda. "Tidak apa-apa, bagus jadi bisa lebih semangat bekerja."
Kemudian mereka lanjut mengobrol sampai hari akan menjelang malam.
💞💞💞
.
Siapa lagi pemilik kafe kalau bukan si Alvin. Masih satu home produksinya author makanya pada kenal.. 😂😂