
Setelah kejadian itu, Nina dan Raffa sedikit menjaga jarak. Ditambah lagi motor Raffa yang masih disita oleh Papanya membuat Raffa tidak bisa mengantar atau menjemput Nina.
"Jadi karena hubungan terlarang kamu dan Nina, kamu pilih mutusin aku." kata Freya pada Raffa yang saat itu sedang duduk di depan kelas.
"Bukan urusan kamu." jawab Raffa acuh.
"Ya, memang bukan urusan aku. Tapi aku gak rela aja kalau kamu justru berhubungan dengan adik sendiri. Kenapa gak sama cewek lain aja?"
Tanpa menjawab, Raffa justru berdiri dan berjalan meninggalkan Freya. Baginya Freya tidak penting, terserah dia mau berkomentar apa.
Yang jelas sekarang rasanya dia kangen sekali dengan Nina. Sudah tiga minggu dia tidak mendengar cerewetnya Nina. Tidak merasakan manjanya Nina.
Kini dia sengaja menunggu Nina di depan kelasnya.
"Kak Raffa." panggil Nina saat melihat Raffa sedang duduk di dekat kelasnya.
"Nin." Raffa berdiri lalu menggandeng tangan Nina. "Aku mau bicara sama kamu sebentar, kita duduk di taman kampus yuk." ajaknya.
Nina hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah Raffa menuju taman belakang kampus. Mereka kini duduk di bangku taman sambil sesekali menatap langit siang itu yang sedikit mendung.
"Beberapa hari ini kita jarang ngobrol ya. Kangen banget rasanya. Motor aku juga masih disita Papa. Entah kapan Papa mau balikin. Jadi gak bisa antar jemput kamu." kata Raffa.
Nina hanya terdiam, dia mendengar perkataan Raffa tapi tak menyahutinya. Seharian itu kepalanya terasa pusing.
"Kamu kenapa?" tanya Raffa yang melihat wajah pucat Nina. Dia tempelkan tangannya di kening Nina untuk mengecek suhu badannya.
"Aku lagi gak enak badan, kepala aku pusing sedari tadi," jawab Nina. Memang sudah beberapa hari ini dia merasakan pusing, terus hilang, pusing lagi, dan hilang lagi.
"Ya udah, kita pulang aja. Kamu dijemput?" tanya Raffa. Satu tangannya kini mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.
Tiba-tiba saja Nina berdiri. "Sebentar aku mau ke toilet." Dia menutup mulutnya dan berlari menuju toilet.
Raffa menjadi sangat khawatir. Dia mengikuti Nina sampai ke dalam toilet dan melihat Nina sedang memuntahkan isi perutnya. Tangannya terulur menahan rambut Nina sambil mengusap punggungnya.
Setelah selesai, Nina berkumur dan membasuh wajahnya.
"Kita ke klinik dulu ya kalau kamu sakit."
Bukannya menjawab, Nina justru menangis. "Kak, aku takut..."
"Takut apa?" tanya Raffa yang masih tidak mengerti dengan maksud Nina.
"Kalau aku hamil gimana? Aku sudah satu minggu telat. Aku juga pusing dan mual, aku browsing, itu tanda-tanda kehamilan." jawab Nina sambil mengusap air matanya.
Bagai disambar petir. Benarkah Nina hamil karena perbuatannya? Raffa menggaruk rambutnya sambil berjalan pelan mondar-mandir. "Tapi kamu belum test kan? Siapa tahu memang sakit biasa?"
Melihat ekspresi Raffa yang seolah tak ingin dia hamil dan mungkin saja takut untuk bertanggung jawab, Nina membalikkan badannya dan meninggalkan Raffa.
"Nin!" Raffa segera menyusul langkah Nina.
"Udah lepasin! Biar aku urus sendiri aja masalah ini." Nina menarik tangannya saat Raffa akan menggandengnya.
"Nin, bukan gitu."
"Apa?" Nina membalikkan badannya. Dia melihat sekitar tempat itu memastikan jika tidak ada orang yang mendengar suaranya. "Kak Raffa takut kan? Iya, aku tahu cowok memang selalu gitu. Bilangnya mau tanggung jawab tapi ternyata pengecut."
Raffa menghela napas panjang. "Bukan gitu Nin. Aku cuma kaget. Ya udah sekarang lebih baik kita pastikan dulu. Kita beli dulu alat test nya."
Tanpa menjawab lagi, Nina mendahului Raffa berjalan.
Raffa hanya menghela napas panjang sambil mengikuti Nina di belakangnya.
Nina ragu untuk masuk ke dalam karena banyak pembeli yang sedang mengantri.
"Aku belikan. Kamu duduk saja di sini." Raffa menuntun Nina agar duduk di kursi tunggu. Kemudian Raffa masuk ke dalam apotek. Memang ada beberapa pembeli di sana. Raffa sedikit ragu, tapi dia tidak boleh malu. Ini semua terjadi karenanya.
Raffa kini berdiri di depan penjaga apotek setelah mengantri beberapa saat. "Beli testpak dua." kata Raffa.
Penjaga apotek itu melihat Raffa menyelidik karena Raffa masih terlihat sangat muda. "Mau merk apa?"
"Yang paling akurat saja." Raffa menghela napas kecil saat penjaga apotek itu mengambil barang yang dibelinya.
"Paling akurat melakukan test saat bangun tidur ya."
"Iya, terima kasih."
Setelah membayar, buru-buru dia keluar dari apotek dan duduk di sebelah Nina. "Kamu test besok pagi habis bangun tidur biar lebih akurat." Raffa memasukkan alat test itu ke dalam tas Nina.
Nina hanya diam saja sedari tadi. Dia sendiri bingung harus berbuat apa. Dia sangat takut, bagaimana jika nanti kedua orang tuanya tahu akan hal itu.
"Nin?" panggil Raffa karena sedari tadi Nina hanya diam saja. "Aku pasti tanggung jawab. Aku pasti akan menikahi kamu."
Mata Nina kembali berkaca lagi. Dia belum mau memikirkan pernikahan, apalagi menjadi ibu.
"Kamu sekarang mau makan apa? Biar perut kamu gak kosong."
Nina hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, kita pulang saja biar kamu istirahat di rumah. Aku pesankan grab car dulu."
Nina sama sekali tak menyahuti Raffa.
Raffa mengambil ponselnya dan segera memesan grab car dengan tujuan rumah Nina. Setelah itu, dia ikut berdiam diri. Jika memang benar itu terjadi, dia harus bisa bersikap dewasa. Dia harus segera mencari pekerjaan dan masih banyak hal lagi yang harus dia lakukan. Apakah dia bisa?
Setelah mobil pesanannya datang, mereka segera naik ke dalam mobil. Saat perjalanan, kepala Nina semakin pusing, perutnya terasa diaduk-aduk.
Hingga perjalanan yang hanya memakan waktu 20 menit itu terasa sangat lama. Sekuat tenaga Nina menahan rasa mualnya.
Raffa terus mengusap punggung Nina berharap rasa mual itu mereda.
Setelah mobil itu berhenti, Nina segera turun. Dia kembali muntah-muntah di selokan tepi jalan samping rumahnya.
"Makasih Pak." setelah membayar, Raffa segera berdiri di belakang Nina lalu memijat pelan tengkuk lehernya.
Hati Raffa benar-benar teriris melihat Nina seperti ini karena perbuatannya.
Raffa mengambil tisu dan membantu Nina membersihkan bibirnya.
"Kamu periksa saja ya ke dokter, aku antar. Kamu makin pucat, aku khawatir banget."
Nina hanya menggeleng lemah. Dia membenarkan ikat rambutnya yang berantakan.
"Kak Raffa lebih baik sekarang pulang saja." usir Nina saat Raffa akan mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Tapi..."
"Besok aku kasih tahu hasilnya." kata Nina sambil berlalu.
Raffa hanya berdiri mematung di dekat gerbang rumah Nina. Rasa menyesal dan bersalah itu bercampur aduk di dadanya.
Dia berniat menolong Nina dari Bayu, tapi justru menambah masalah baru di hidup Nina.