
Aku merenungi kesalahanku. Tidak, mungkin lebih tepatnya aku sedang memikirkan beribu-ribu kata tentang andai dan kenapa.
Andai aku tidak meminta Jakko membelikan minuman?
Andai aku tidak datang kesini?
Andai aku tidak menerima lamarannya…?
Aku bahkan menyesali banyak hal, aku harusnya sekarang sudah ada di rumah Jakko. Sudah berkunjung ke kantornya. Atau bahkan aku mungkin sudah di ajak Jakko jalan-jalan ke berbagai tempat. Aku kembali menangis.
Aku terus menyalahkan diriku sendiri. Apa yang terjadi pada Jakko itu adalah salahku. Mungkin aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku sudah merenggut nyawa orang yang aku cintai.
Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri dengan apa yang terjadi.
Aku masih belum bisa menerima keadaan yang sudah terjadi.
Kembali aku mengingat senyuman Jakko, senyuman paling cerah yang pernah aku jumpai seumur hidupku.
Aku mengeluarkan semua kesedihanku. Menangis sejadi jadinya. Tanpa harus khawatir ada orang lain yang akan memperhatikanku. Untuk beberapa saat aku meluapkan semuanya. Sampai aku rasa aku bisa menguasai emosiku dan menenangkan diriku sendiri.
**
Aku berusaha bangun dan mencoba berdiri dengan kekuatanku sendiri. Tapi tiba-tiba,
“Bruukkkk!!!” aku terjatuh.
Aku berusaha sebisa mungkin meraih kursi tempat aku duduk sedari tadi. Aku merangkak secara perlahan dan kembali duduk di atasnya.
Infus yang sedari tadi rapi ada di pergelangan tangan kananku terlepas. Dan menyisakan rasa sakit karena terlepas dengan sendirinya.
Ada apa ini kenapa kakiku serasa tidak mau bergerak padahal aku bisa merasakannya. Aku memukul tiap bagian dari kakiku beberapa kali dan aku merasakan sakit setiap aki memukulnya. Tidak mungkin aku lumpuh. Aku menggoyangkan kakiku, dan itu bisa bergerak, lalu mengapa kakiku tida bisa menopang tubuhku sendiri. Bagaimana aku bisa berjalan, kalau kakiku sendiri tidak bisa membantuku untuk berdiri.
“Are you okay?”
Aku mendengar suara laki-laki cantik itu dari balik pintu kamar mandi ini. Ah, Jiwoek. Terakhir kali dia memperkenal kan dirinya sebagai Jiwoek. Aku masih belum terbiasa. Apalagi dengan orang asing sepertinya.
“I’m okay” jawabku setengah berteriak.
“Can you help me?” sambungku. Aku meminta bantuan darinya.
“I’m coming in now, if it’s okay?” tanyanya lagi dari luar, apakah dia sudah bisa masuk segera.
“Yaaa, I’m done” sahutku dari dalam kamar mandi bahwa aku sudah selesai.
Dia membuka pintu, dan berjalan ke arahku. Dan melihat kearah tanganku, dia menyadari jarum infus ku terlepas dari tangan kanan ku.
“Really are you okay?” dia bertanya sekali lagi tentang keadaanku sambil mengambil infus yang tergeletak di lantai. Kemudian dia meraih tanganku tanpa sungkan dan memeriksanya.
“yeah, I’m fine.” Aku mengangguk pelan.
Sekali lagi dia menopang tubuhku dan memapahku berjalan keluar dari kamar mandi.
Aku terus berjalan. Hingga sampai di bibir tempat tidur. Dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tanpa permisi Jiwoek menggendongku dan mem-baringkan aku di tempat tidur.
“Lana….” Ucapnya agak keras , sambil menata sandaranku.
Perempuan yang sedari tadi sangat sibuk dengan kedua tas nya itu segera bangkit kemudian berjalan kearah kami. Aku hanya diam.
“I don’t know what’s your name..?” Laki-laki ini…bukan…namanya Jiwoek. Jiwoek mengatakan tidak tahu namaku. Kemudian duduk kembali di kursi yang tadi di tempati olehnya.
“Aaaa….Ziegi. You can call me Gigi” kataku mengenalkan diri.
“Okay Gigi, this is Lana. She was to protect you if I’m not here. Tell to her anything you want.”
Jiwoek memperkenalkan aku pada perempuan itu, bukan aku rasa mungkin lebih tepatnya seorang gadis. Gadis berparas cantik, berkulit putih, bertubuh kurus tidak terlalu tinggi dan mempunyai tahi lalat tipis di ujung bibirnya. Lana, namanya.
Aku mengangguk seolah sebagai tandaku memperkenalkan diri. Lana, mengangguk sama hal nya sepertiku dan tersenyum ke arahku.
“ I have many question for you, Jiwoek.” Kataku menoleh kearah Jiwoek ingin mengajukan beberapa pertanyaan padanya yang mengganjal di hatiku.
“I know….but I have to go now.” Jiwoek berkata dia harus pergi sekarang.
“Aaaa…okay” aku mengangguk lagi.
“If you don’t mind, saving your question until I come…” dia menyuruhku untuk menyimpan pertanyaanku sampai dia kembali.
“okay” aku menyetujuinya.
"I will answer all you question later" dia akan menjawab semua pertanyaanku nanti setelah dia kembali.
Dia beranjak dari tempatnya dan berbincang dengan Lana. Kembali aku tidak dapat memahami apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka menggunakan bahasa yang hanya mereka pahami. Beberapa kali aku perhatikan Lana hanya mengangguk dengan apa yang di bicarakan oleh Jiwoek.
Masih dari tempatnya berdiri, Jiwoek menoleh ke arahku,
“Gigi , I wanna go now…” dia mengangkat tangan kirinya dan membawa salah satu tas yang sedari tadi di periksa oleh Lana dan satu tas lagi di bawa oleh Lana.
Mereka berjalan kearah pintu dan meninggalkanku sendirian. Bahkan ketika aku belum sempat menjawab perpisahan yang di ucapkan oleh Jiwoek.
Beberapa menit kemudian, Lana kembali dan tersenyum kembali kepadaku. Dia mulai tampak sibuk lagi membereskan setiap sudut di ruangan ini.
Aku tidak mau menganggu kegiatannya, tapi aku sungguh haus sekali. Apa yang harus aku lakukan. Ah, mama,papa dan Zielve aku belum menghubungi mereka sama sekali sejak aku datang tadi....ah...bukan, mungkin kemarin. Sekarang yang aku harus lakukan adalah menghubungi keluargaku dulu. Aku bahkan melupakan mereka karena terlalu larut dengan kesedihanku sendiri tentang Jakko. Jakko, setiap kali aku menyebut namanya aku kembali mengingatnya dan selalu air mataku datang tiba-tiba tanpa ada aba-aba. Segera aku menghapus air mataku yang mulai berderai. Sampai Lana menyadaridan berjalan ke arah ku. Dia diam sejenak, aku menyambutnya dengan senyum sambil teeus mengusap air mataku yang tidak mau berhenti.
"I'm Sorry..." kataku meminta maaf karena menangis di hadapannya, membuatnya jadi tidak nyaman dengan keadaan ini.
Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Jiwoek, Lana mengambil sekotak tissu yang berada di meja tepat disebelah tempat aku berbaring. Bedanya, Lana langsung mengambil lembaran tissunya dan menyekanya ke barisan mataku yang masih sembab dan terus berair.
Lana duduk di tepi tempat tidurku, menggenggam tanganku. Tanpa kata dia menarik kedua bahuku dan memberikan pelukan hangatnya untukku. Walaupun sedikit terkejut dengan yang di lakukan oleh Lana. Tapi tindakan sederhana ini sedikit menenangkan ku. Lana menepuk-nepuk punggungku dan mengatakan sesuatu yang aku tidak mengerti apa arti dari ucapannya.
"Thank you Lana..." kataku memberanikan diri membalas pelukannya.