Love has no Limit

Love has no Limit
Let's Go my Love



(satu bulan kemudian)


Meski aku sudah tidak lagi menggunakan tongkat penyanggaku, jalanku masih belum sempurna. Masih sedikit terpincang-pincang. Aku sudah sangat bersyukur, tidak lagi mengandalkan tongkat ataupun bantuan Jiwoek yang kadang malah membuatku merasa tidak nyaman.


Dapur ini seakan menjadi area kekuasaanku. Makanan yang di bawa Ibu Jiwoek yang lalu beberapa masih bertengger di kulkas besar ini. Ibunya bilang saat membawanya, semua makanan itu makanan kesuakaan Jiwoek, tapi Jiwoek hanya menyentuhnya di awal saja, hari berikutnya dia menuntutku untuk memasak untuknya. Dan makanan dari Ibu Jiwoek ini terpaksa aku yang memakannya, terkadang aku juga memakannya bersama dengan Xakan.


Dan di balik dapur ini, sudah di sulap menjadi tempat Jiwoek berolah raga. Sebelumnya sisi sebelah kiri pintu utama untuk masuk ke apartemen ini adalah ruangan fitness milik Jiwoek. Sekarang karena ada aku, ruangan itu harus berubah menjadi ruangan untuk keperluan Jiwoek ketika harus berangkat syuting.


Menurut Xakan, sebelumnya setelah selesai syuting semua keperluan Jiwoek langsung di taruh di kamar Jiwoek. Tapi karena kamar itu sekarang aku yang menempati, jadinya untuk menaruh semua keperluan Jiwoek untuk syuting di pindah ke ruangan itu. Alhasil beberapa alat fitness milik Jiweok ini harus berada disini.


Antara dapur dan alat-alat fitness ini hanya bersekat tembok dengan tinggi hampir sepinggang dan diantar pilar dapur ada jendela besar tanpa kaca, yang membuatku ketika melakukan kegiatan di dapur ini bisa melihat Jiwoek yang sedang berolah raga.


Bahkan ketika berkeringat pun dia masih mempesona, seakan tidak ada celah yang buruk untuk di setiap sudut wajahnya. Jiwoek memang tampan, kalau tidak, dia tidak mungkin jadi aktor. Ah, Jiwoek ini seperti tokoh utama dalam karakter sebuah komik. Ketampanannya bersinar.


“Gigi, come on go with me today” Tiba-tiba Jiwoek mengajakku pergi di sela-sela olah raganya.


“Me…Come with you? Where? And Why….suddenly?” jawabku sambil menata ulang isi lemari es.


Jiwoek mengajakku….Ini bukan seperti dia biasanya. Kemana dia akan mengajakku? Dan kenapa dia mengajakku?


Memang aku tidak pernah keluar dari apartement milik Jiwoek ini. Bahkan apartement ini ada tingkat berapa aku juga tidak tahu. Pernah terpikir olehku untuk keluar dari ruangan ini, tapi aku juga memiliki ketakutan. Aku takut kalau-kalau aku tidak bisa kembali. Aku tidak terlalu pintar untuk mengingat letak atau arah.


“Nothing….”Jiwoek menggantung kata-katanya.


"Nothing??? ….I’m at home.” Aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah saja. Tidak ada alasan buatku untuk tetap ikut Jiwoek.


Jiwoek ini aktor besar, akan ada gossip macam-macam jika ada yang tahu ada perempuan yang keluar bersama dengan dia, media akan menyebar berita yang aneh-aneh. Kasian Jiwoek, dia sudah banyak membantuku.


Eh…..tapi kenapa aku harus khawatir, toh tidak ada apa-apa antara aku dan Jiwoek. Tinggal di jelaskan saja, jika ada berita yang macam-macam atau tidak semestinya. Aku lupa kalau ini bukan di negaraku, dimana berita kecil artis saja bisa jadi muluk-muluk dan menuai banyak sensasi.


“No no no…Gigi. You have to come with me…”Jiwoek tetap menyuruhku ikut bersamanya, tapi aku masih penasaran kenapa dan kemana?


“You said nothing. Then why should I come with you? Tell me the reason.” Aku masih menanyakan hal yang sama. Tentang kenapa aku harus ikut bersamanya. Biasanya Jiwoek melakukan atau membeli sesuatu seorang diri tanpa aku. Lalu kenapa tiba-tiba Jiwoek memintaku untuk ikut bersamanya.


Sambil berlalu dari dapur tempat sedari tadi aku berkutat disana. Meninggalkan Jiwoek yang masih sibuk berolah raga. Aku menyalakan Tv untuk mengurangi kebosananku.


“I have a reason, ah…but…can you not ask anything and follow me…just trust me..” Jiwoek berjalan ke arahku, melihatnya dari sini seperti seseorang yang muncul dari sebuah lukisan.


Jiwoek mendekat padaku, tepat duduk di sebelahku. Lukisan sang Pencipta yang tepat duduk di sebelahku ini, beberapa kali belakangan ini sering membuatku salah tingkah. Sering membuat hatiku berdegup kencang tanpa aturan.


Spontan aku menjauh dari dia duduk, tanpa harus menyinggungnya aku menggeser dudukku. Jiwoek melihatku sekilas dan tersenyum melihat ulahku. Ah, dan senyumnya itu…siapapun akan setuju jika aku mengatakan senyum Jiwoek benar-benar bisa mengalihkan dunia.


“Get ready Gigi, We’re leaving in an hour…” Jiwoek menyuruhku untuk bersiap-siap karena satu jam lagi akan berangkat.


“Where….?” Aku masih bertanya meski Jiwoek bilang aku tidak boleh bertanya.


Jiwoek meminum sebotol air mineral di tangan kanannya.


“Just trust me…”Jiwoek mengulang kata-katanya untuk mempercayainya.


Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.


**


Aku mengenakan setelan sederhana, pakaian Casual yang memang adalah gayaku. Kaos berlengan pendek warna hijau yang aku padukan dengan jeans warna hitam.


Aku memang tidak banyak punya baju di sini, setelah koperku aku tinggalkan di hotel yang letaknya dimana dan apa nama hotelnya aku tidak tahu karena aku tidak bisa mengingat dengan jelas. Beruntungnya aku sudah di tolong laki-laki cantik yang baik hati, karena hampir semua pakaianku adalah pemberian Jiwoek. Dulu Lana pernah membawakan baju juga untukku, kadang Xakan yang datang membawakannya entah atas instruksi Jiwoek atau inisiatif dari mereka sendiri. Aku jarang menanyakan pada mereka, aku hanya tahu berterima kasih saja.


Jiwoek keluar dari kamar dan dia mengenakan pakaian yang jauh lebih sederhana dariku. Aku mengernyitkan alisku melihat penampilannya. Dia mengenakan training yang sering dipakai olehnya ketika latihan dan kaos polos yang longgar yang dirangkap dengan Jumper abu-abu. Ini adalah pakaian yang sering digunakan olehnya ketika latihan dan ketika dia pergi ke minimarket terdekat.


Dia akan membawaku kemana?


Apa hanya mau mengajakku ke minimarket saja?


Apa aku terlalu berlebihan memakai celana jeans?


Apa aku juga harus ganti pakaian sehari-hari saja?


“I have to change clothes?” aku bertanya pada Jiwoek apakah aku juga harus ganti pakaian menyesuaikan pakaiannya?


Jiwoek hanya menggeleng saja. Jiwoek mengeluarkan masker dari kantong jumpernya, dia mendekat padaku dan memasangkan masker itu ke wajahku. Ini sudah benar, untuk melindungi karirnya. Jiwoek juga mengambil topi miliknya dan memakaikannya kembali padaku. Aku hanya diam mengikuti apa yang dilakukannya.


Begitupun Jiwoek dia memakai masker, topi dan kacamata hitam. Siapapun tidak akan bisa menebak itu adalah Jiwoek. Agak ribet memang. Tapi ini resiko pekerjaan Jiwoek, resiko diajak pergi oleh aktor ternama. Setiap penggemarnya akan iri dengan posisiku sekarang.


“Okay, Let’s go…” Jiwoek menggandeng tanganku untuk meninggalakn apartemennya.


Ini adalah kali pertama aku menginjak keluar dari apartemen Jiwoek. Keluar pintu aku melihat lorong panjang yang sama seperti lorong masuk hotel pada umumnya. Aku hanya berjalan mengikuti Jiwoek. Untuk sampai lift membutuhkan kurang lebih 40 langkah, bagiku ini lumayan menguras olah raga kaki untuk aku yang sudah hampir 2 bulan ini hanya tinggal di dalam apartemen ditambah lagi langkah kakiku yang masih agak tertatih-tatih. Apartemen Jiwoek paling ujung di lantai ini, dan berada di lantai ke 12 digedung ini. Aku baru tahu detilnya sekarang.


**


Mobil Jiwoek ini terlihat sekali kalau ini mobil mewah, sungguh menyita perhatian. Percuma dia memakai masker lengkap dengan topi dan kacamata hitam, jika mobilnya saja membuat banyak orang memandang. Ah, identitas aktor itu memang berat. Sangat membuatku tidak nyaman harus ada di dekat sang aktor tampan ini.


“where are we going, Woek?” aku bertanya pada Jiwoek.


“Kamu akan tahu kalau sudah sampai…” Jiwoek mengatakannya dengan bahasaku yang berhati-hati dan mengeja.


Ini membuatku terkejut, sejak kapan dia belajar menghafalnya, kali ini entah ulah siapa dari keluargaku yang mengajarinya.


“Ha…” aku terkesima dengan yang di ucapkannya.


“What wrong, Gigi? It’s something wrong with my…” jiwoek belum menyelesaikan kalimatnya aku sudah memotong pembicaraannya.


“no, no no…. I just surprised to hear you say that…” aku menerangkan bahwa aku cukup terkejut dengan yang di ucapkannya.