Love has no Limit

Love has no Limit
Let it Go for Love



Varawook….memang anak yang sangat menggemaskan. Putri kecilnya Jiwoek. Ada yang kurang, kemana Jiwoek? Aku tidak melihatnya dari tadi.


“Aku setuju, Vara memang lucu.”singkatku menyetujui ucapan Veve.


“Dia sangat mirip dengan Jiwoek, seperti ayah dan anak yang sesungguhnya.” Kata Veve kemudian.


“Bukankah, Vara memang putrinya Jiwoek?”kataku


Aku melihat mamaku dan Veve saling bertatapan. Apa ada yang salah dari ucapanku?


“Kenapa?” tanyaku melihat mereka.


“Kak Gigi pikir Vara-Wook itu anaknya Jiwoek?” tanya Veve yang kujawab dengan anggukan.


“Bukan, Gi. Vara itu anak kakaknya Jiwoek yang lagi sekolah di luar negeri?” kata mamaku sambil tersenyum kecil.


“Jiwoek punya kakak?” tanyaku kebingungan.


“Kamu ini beneran nggak tahu?” tanya mamaku.


Aku menggeleng karena ku benar-benar tidak tahu masalah itu.


“Kak, Jiwoek itu punya kakak perempuan seorang desaigner. Keluarga mereka benar-benar hebat. Bahagianya jadi tante Loudres, anak perempuannya sukses jadi desaigner dan anak laki-lakinya jadi akyor yang di kenal seluruh dunia…Wow…” ucap Veve dengan sangat menggebu-gebu.


“Kamu pikir mama nggak bangga punya kalian berdua ? Anak-anak mama cantik-cantik. Gigi begitu penurut, tidak pernah menuntut apapun dan kamu Veve, walaupun yang kamu bicarakan seperti petasan kamu juga terang dalam keluarga kita…” sepertinya mamaku tidak mau kalah karena bahagia memiliki kami.


“Mama memang yang terbaik…” aku mendekat dan memeluknya.


“Wah…. Kenapa aku seperti petasan? Dari mana asal darah petasan yang mengalir di tubuhku ini ma?” Veve masih protes dengan ke isengannya seperti biasa.


“Apa katamu? Jadi maksudmu darah cerewtmu itu berasal dari mama? Meski mama cerewet tidak sepertimu yang tiap bicara seperti orang berteriak-teriak!”alhasil mamaku malah emosi dan berusaha memukulnya.


“Kakak, tolong aku kak, mama mengamuk lagi….”


Seperti biasa Veve selalu meminta perlindungan dariku.


Aku seperti biasa ada di tengah-tengah, diantara mereka.


Suasana yang bahagia seperti ini, aku sangat merindukan suasana seperti ini.


Mamaku, adikku ada di depan mataku menghiburku setelah rentetan panjang yang tidak pernah aku bayangkan dalam hidupku.


Bolehkah aku tertawa lepas seperti ini?


Setelah aku membuat seseorang yang akan menjadi bagian dalam hidupku meninggalkan aku selamanya.


Bolehkah aku bahagia?


Jakko, bersalahkah aku jika aku menghapusmu?


Tiba-tiba aku jadi menyalahkan diriku sendiri, di sela-sela tawa dan candaku bersama mama dan adikku. Aku memeluk Veve dengan erat, menangis di pundaknya yang kecil.


Mamaku jadi panik melihatku tiba-tiba menangis. Mamaku memelukku dari belakang. Seperti seorang ibu yang benar-benar peka dengan keadaan anaknya. Meski tidak mengatakan apapun, pelukan mama seperti obat penenang buatku.


“Kak, Gigi kenapa?” tanya Veve kebingungan dengan sikapku yang tiba-tiba berubah.


Tanpa kami sadari, Ibu Jiwoek sudah datang dan menghampiri kami.


“It’s okay, Gigi” kata ibu Jiwoek sambil mengelus rambutku.


Aku di kelilingi banyak orang-orang yang peduli padaku. Ini sekaligus jadi hal aneh yang baru buatku. Entah ada apa denganku? Kenapa aku menangis tiba-tiba? Ketika aku mulai merasakan bahagia bertemu dengan keluargaku. Aku pun jadi sangat kikuk,apalagi di depan mamanya Jiwoek seperti ini.


Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa kepalaku tiba-tiba jadi sangat berat? Aku mulai susah mengatur nafasku, nafasku jadi sesak. Pandanganku mengabur dan berkunang-kunang. Aku melihat papaku dan Jiwoek berlari kecil ke arahku kemudian….. gelap…aku tidak merasakan apapun.


**


Kalau hari ini kamu jatuh, jatuhlah sejatuh-jatuhnya yang hanya kamu sendiri izinkan sedalam apa? Asalkan besoknya kamu jamin mulai lagi bangun, bangkit dan memulainya.


Aku membuka mataku. Ruangan asing yang baru kulihat. Ini bukan rumah Jiwoek, dimana aku?


Ah, Jiwoek mengajakku kerumahnya tadi… Caracas…iya sengingatku dia mengajakku ketempat bernama Caracas island. Terakhir aku melihat Ibu Jiwoek membelai kepalaku dan aku ada di pelukan mamaku dan Veve.


Apa itu mimpi?


Aku melihat sekelilingku….tidak ada siapapun….ah…gadis kecil ini ada tepat di sebelahku sambil terus melihat kearahku, pipinya yang seperti bakpau menarik perhatianku, aku memegang pipi yang halus dan kenyal itu…


“Are you okay, Ziegi’s mother?” tanyanya bak orang dewasa.


Aku tersenyum ke arahnya,”I’m Fine…” kataku sambil mengangguk.


Dan secepat kilat gadis kecil yang lucu itu menjauh dariku dan pergi dari hadapanku sambil berteriak,


“Grandmha….Ziegi’s mother wake up……Grand mha….”


Vara ini lucu sekali dia seperti papan pengumuman untuk orang-orang di luar kamar yang serba putih ini. Banyak poster Jiwoek di ruangan ini.


Apa ini kamar Vara?


Serta merta mereka yang ada di luar masuk ke ruangan ini satu persatu seperti sedang mengunjungi seseorang yang sakit, lengkap dengan Radovan yang bersiap memeriksa keadaanku.


“What’s your name…?” tanya Rodovan padaku.


Masih dengan pertanyaan yang sama, aku mendengar pertanyaan ini berulang kali setiap kali aku berakhir tidak sadarkan diri.


“Gigi, I still remember who I am. I’m okay Radovan.” Jelasku. Aku kali ini menjelaskan bahwa aku tidak kehilangan ingatanku.


Aku bahkan hafal apa yang akan Radovan tanyakan padaku berikutnya, dia akan bertanya apa yang aku pikirkan terakhir kali sebelum aku pingsan.


“Okay…What did you think last time, before you pass out?” tanya Radovan lagi persis seperti yang aku perkirakan.


“Mmm, I’m happy to meet my family. Can see my mother and my sister fight like usual. Thank you so much Woek, thank you so much Mom and thank you Radovan.” Ucapku menunduk.


Aku bahagia bisa bertemu keluargaku, bisa melihat mamaku dan adikku bertengkar seperti biasanya.


Aku sangat berterima kasih pada Jiwoek yang sudah jauh-jauh menyetir sendiri kesini, bertengkar dengan Xakan hanya untuk memeprtemukan aku dan keluargaku.


Aku juga berterima kasih pada Ibunya Jiwoek yang sudah menyambut keluargaku dan membuat mereka nyaman disini.


Radovan, tanpa dia aku mungkin malah susah mengerti dengan diriku sendiri.


Melihat jawabanku, mamaku mendekat dan memelukku, mencium sayang kepadaku.


“Ketika aku bahagia melihat mama dan adikku, aku mengingatnya………..” aku sengaja berbicara dengan bahasaku.


Mamaku yang mengerti dengan kata-kataku langsung memelukku.


“Ini bukan salahmu, bukan salah Gigi. Itu hanya kecelakaan. Bukan salahmu, mengerti….” Mamaku terus mengulang-ulang ucapannya. Sepertinya aku malah membuat mamaku jadi sedih.


Aku melihat Jiwoek meninggalkan ruangan ini segera setelah melihat mamaku yang sedikit panik dengan keadaanku. Mungkin dia sudah bosan mendengarku yang selalu pingsan karena sebab yang sama. Dia yang pertama pergi meninggalkan ruangan ini.


Apa dia masih marah padaku?


Papaku dengan segera menarik mamaku dari sisiku, mengajaknya keluar dari ruangan ini juga. Mengikuti Jiwoek yang sudah meninggalkan aku. Gara-gara aku mamaku jadi sesedih dan sepanik itu. Maafkan aku…


“Mom, please take care Gigi…” kata Radovan pada Ibunya Jiwoek. Dia menitipkan aku pada Ibunya Jiwoek.


Radovan juga meninggalkanku dan menggendong Vara keluar.


Aku seperti contoh yang buruk bagi Vara. Iya, Radovan sudah benar dengan membawa Vara pergi dari sini, anak seceria Vara jangan melihatku yang serapuh ini. Aku bukan contoh yang baik.


Veve yang ada di ambang pintu juga ikut meninggalkanku. Aku juga tidak mau melihat pandangan Veve yang seperti itu. Pandangan yang mengasihaniku. Seburuk itukah aku?


Apa aku salah menafsirkan sesuatu. Sepertinya mereka memang sengaja memberiku ruang untuk berdua dengan Ibunya Jiwoek.


“Mom, I’m sorry…” aku meminta maaf dan menunduk.


“Sorry for what?” kata beliau sambil menghampiriku.


Beliau duduk persis di sebelahku. Mendekapku dari samping.


Aku minta maaf atas suasana canggung yang sudah aku ciptakan ini. Karena aku, gara-gara aku yang tidak bisa bersikap biasa.


“It’s okay Gigi.” Katanya tidak apa-apa.


“This is not you fault…”


Ini bukan salahku katanya. Beliau terus menepuk bahuku, memberiku pelukan yang hangat. Sama seperti Jiwoek.


“I want to tell you my story…” kata ibu Jiwoek kemudian