
Aku masih terlalu sibuk dengan pemikiranku sendiri. Roti, sayur, telur, daging masih tetap diam di tempatnya. Aku masih bingung dengan sarapan pagi ini. Aku hanya memandangnya tanpa melakukan apapun.
Ketika aku sedang menikmati diriku sendiri yang masih menerawang dengan menu pagi ini. Ada tangan yang menyentuh pundakku tanpa ijin dan memutar badanku menghadap si pemilik tangan. Sampai-sampai tongkat penyanggaku hampir terlepas dari tanganku. Siapa lagi kalau bukan Jiwoek.
Jiwoek menuntunku, untuk duduk di kursi biasa kami untuk sarapan. Aku hanya mengikutinya tanpa ada penolakan.
“Today you just sit here.” Kata Jiwoek sesaat setelah aku duduk. Dia bilang hari ini aku cukup duduk saja.
Aku hanya diam mengikuti kata-katanya.
“This morning I made breakfast for us.” Lanjutnya.
Hari ini Jiwoek yang akan membuatkan sarapan untuk kami.
Apa Jiwoek menyadari tingkahku yang agak kikuk tadi sehinnga dia mengambil alih tugasku membuat sarapan.
Tapi di hadapan Jiwoek, aku juga tidak bisa berbuat banyak selain hanya menurut dan menyetujui setiap ucapannya. Apa sudah setergantung ini aku pada Jiwoek? Sehingga apapun yang di katakan Jiwoek aku tidak bisa berkata banyak.
“You said there would be a photo shoot.” Aku hanya mengatakan basa-basi.
Meski aku tahu Jiwoek akan ada jadwal pemotretan aku tetap membiarkannya membuat sarapan untuk kami.
Apa aku memang ingin sedikit menahannya agar tinggal lebih lama lagi. Ini tidak seperti aku yang biasanya. Aku sangat menyadari hal ini. Aku bukan tipe orang yang akan lebih suka merepotkan orang lain, tapi apa ini?
“Because I’m going to have a photo shoot so I will just make food for our breakfast.” Jiwoek menjawab sambil terus mengolesi Roti dengan butter.
Karena dia akan pergi pemotretan makanya dia yang buat makanan untuk sarapan kami.
Apa maksudnya?
Bisakah aku mengartikannya karena dia akan meninggalkanku untuk pemotretan makanya dia sedikit memanjakan aku dan membuatkan sarapan untukku. Walaupun ini bukan pertama kalinya Jiwoek membuatkan makanan untukku. Kenapa aku sedikit terkesan hari ini dengan apa yang dilakukannya.
Atau,
Apakah karena aku tadi terlalu bingung mau buat makanan apa, Jiwoek menyadarinya dan mengambil alih tugasku. Bisa jadi kalau menungguku membuat makanan, dia malah akan terlambat datang ke pemotretan, karena takut aku akan membuat sarapan kami terlalu lama. Jiwoek datang tadi saja aku belum selesai, bahkan aku belum mulai.
Iya, mungkin alasan kedua lebih tepat. Aku bisa menghambatnya terlambat datang ke tempat pemotretan. Bodohnya aku…Ziegi, katamu mau balas kebaikannya kenapa malah menghalanginya?
Aku menyalahkan diriku sendiri untuk beberapa saat.
“Woek, I’m sorry” kataku meminta maaf.
“Hmm…” Jiwoek tidak mengatakan apapun, dia masih sibuk dengan roti terakhir di tangannya.
Dia menyiapkan di dua piring dan membawanya ke arahku. Dia menyodorkan piring berisi roti buatannya di depanku. Roti isi Daging. Ini hanya roti daging biasa, tapi yang membuatnya berbeda adalah roti ini buatan Jiwoek. Siapapun akan iri padaku. Aku bahkan makan roti isi buatan aktor yang di puja banyak umat hampir di seluruh dunia ini.
Jika ini Mimpi, aku tahu ini serakah tapi jangan membangunkan aku dulu. Biarkan aku makan dengan pria tampan ini dan menghabiskan rotiku. Meski ini adalah kenyataan yang tidak pernah aku rencanakan, aku akan mensyukuri setiap waktu yang sudah aku habiskan dengan aktor tampan ini.
“Thank you, Woek” kataku sambil meraih roti di piring yang di sudah di siapkan olehnya.
“Why…” tanyanya.
“Thank you for…..because you already make breakfast.” Jawabku.
Terima kasih untuk….karena Jiwoek sudah membuat sarapan untuk kami. Tapi buatku ini bukan hanya terima kasih untuk itu. Terima kasih sudah menolongku, terima kasih sudah merawatku, terima kasih sudah menjagaku. Terima kasih untuk semua yang sudah pernah dilakukannya untukku selama ini.
“I know…”jawabnya singkat sambil memakan roti isi daging buatannya sendiri.
“Enak, Gigi” sambungnya.
Jiwoek menghabiskan makanannya dengan cepat. Mungkin dia terburu-buru dengan jadwalnya.
“What time you will go to work” aku menanyakan jam berapa dia akan berangkat.
Jiwoek mengankat tangan kirinya untuk melihat jam tangan yang sudah terpasang rapi.
“Soon, half an hour again” jawabnya setengah jam lagi. Jiwoek berdiri dan membawa piringnya ke tempat cuci piring, menaruhnya disana.
Tapi sepengetahuanku, biasanya Xakan sudah datang untuk menyiapkan banyak hal. Kenapa kali ini Xakan belum nampak batang hidungnya.
“Why isn’t Xakan coming yet?” aku menanyakan kenapa Xakan belum datang.
“Xakan is picking up my Mom” jawabnya sambil mencuci piringnya.
Aku menghabiskan sarapanku segera hendak menaruh piringku ke tempat cuci piring. Tapi Jiwoek melihat ke arahku dan mengambil piringku tanpa aku suruh. Mungkin tongkat penyangga ini sering menimbulkan bunyi ketika aku berusaha memindahkannya, hingga mudah bagi Jiwoek mengawasi setiap gerak gerikku. Dia langsung mencucinya.
Ibunya akan segera datang, jika Xakan sekarang sudah menjemputnya. Itu berarti Jiwoek akan pergi setelah bertemu dengan ibunya kan?
“Then you will wait for Xakan will come to pick you up?” Aku bertanya apakah Jiwoek akan pergi menunggu Xakan datang menjemputnya?
Masih di tempat mencuci piring,
“No, Gigi. After taking my Mom here, Xakan will go directly to the shooting location. We will meet there.”
Jiwoek bilang setelah mengantarkan ibunya kesini , Xakan akan langsung menyusul ke tempat lokasi shooting. Mereka akan bertemu disana.
Lalu? Bagaimana dengan aku?
Apa Jiwoek benar-benar akan meninggalkan aku sendirian disini. Aku tidak mengenal ibunya, setidaknya kenalkan aku dulu, agar tidak ada suasana kikuk nantinya. Biarkan Xakan yang memperkenalkan aku kepada ibunya. Jiwoek tidak bisa mengerti yang aku rasakan. Aku sedikit memasang muka kecewa.
“What’s wrong with you Gigi?” katanya setelah dia menyelesaikan cuci pring.
Jiwoek kembali duduk di kursinya tadi. Kami duduk saling berhadapan.
“What’s wrong, Gigi.”ucapnya sambil tersenyum di depanku, seperti senyum yang mengejekku.
Senyumnya ini…deg deg deg deg deg…..Jiwoek memang tampan. Senyumnya membuat hatiku bergetar.
Entah senyum yang seperti apa aku tidak terlalu menghiraukan. Ketampanan wajahnya yang hanya berjarak sejengkal di hadapanku ini sungguh membiusku. Pantas saja dia di gemari banyak kaum hawa, sungguh ketampanan Jiwoek ini sangat tidak manusiawi bagiku. Dengan wajahnya yang cantik inilah dilihat dari sudut manapun dia tetap bagus. Satu lagi mahakarya sang pencipta ini juga tidak ada tandingannya.
“Don’t tell me you’re trying to stop me by being spoiled like this.” Ucapnya masih dengan senyum menggodaku.
Jiwoek bilang aku sedang berusaha menghentikannya dengan cara bersikap manja.
Manja yang seperti apa? Ini aktor kalau ngomong beneran nggak pernah peduli orang lain bisa terluka dengan kata-katanya.
Argh…apanya yang tampan. Padahal baru saja aku terkesima dengan ketampanan miliknya. Aku tidak ingin berdebat dengannya, dia sangat pandai berkata-kata. Aku mengambil tongkatku akan beranjak meninggalkannya.
Tapi Jiwoek langsung meraih tanganku sebelum aku sempat pergi. Dia menghentikanku sambil menyuruhku duduk kembali dengan menggerakkan dagunya menunjuk ke kursi yang aku tempati.
“Don’t angry …” Jiwoek tahu aku tersinggung dengan gurauannya
Dia mengambil HP miliknya dan menelpon seseorang…
“Hai Mom…uyhdhashudbsdnu” Jiwoek berbicara menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku sungguh ingin belajar bahasa dari negeri ini agar aku bisa berbicara lancar dengan bahasa yang sama dengan Jiwoek, agar aku juga bisa memahami apapun yang di bicarakannya.