Love has no Limit

Love has no Limit
Love Story Life



“I’m sorry, Lana” kataku setelah aku mulai sedikit tenang.


Kembali Lana menyeka air mataku, seolah dia adalah temanku, seperti kami pernah bertemu dan saling mengenal sebelumnya. Apa orang dari negara ini selalu sebaik ini? Atau kebetulan saja aku di pertemukan dengan orang yang baik.


Tidak, masih ada yang mengganjal di pikiranku. Kenapa Jiwoek itu membawaku kesini? Kenapa tidak ke rumah sakit? Bukan kah ini aneh? Apa yang mereka mau dariku? Kecuali Jakko, tidak ada orang yang aku kenal di sini. Setidaknya aku harus bersabar sampai Jiwoek datang untuk aku tahu apa jawaban dari setiap pertanyaanku.


Tapi, Jiwoek pergi dengan dua tas besar tadi. Dengan tas yang sebesar itu, berapa lama lagi dia akan kembali.


Lana, siapa dia?


Kenalan?


Asisten ?


Teman ?


Entahlah, tapi aku rasa aku perlu tahu dengan orang-orang ini. Siapa mereka? Dan apa alas an mereka menolongku? Tidak…..mungkin lebih tepatnya, kenapa mereka membawaku kesini?


Lana hanya tersenyum kepadaku.


“Sorry, Lana…Can you help me?” aku meminta tolong kepadanya.


Lana, mengatakan sesuatu…tapi aku tidak dapat memahaminya. Sepertinya dia menggunakan bahasa negara ini yang sama sekali tidak aku pahami.


Aku pernah berpikir belajar menggunakan bahasa dari negara S ini. Tapi kata Jakko, aku tidak perlu belajar dia bersedia seumur hidup menjadi translator bagiku. Aku ingat, kata Jakko kalau aku tinggal disini lama-kelamaan aku akan fasih dengan sendirinya berbicara dengan bahasa dari negara ini. Kenyataannya sekarang, jangankan untuk jadi translatorku, melihat senyumnya saja sudah tidak mungkin. Senyum cerah milik Jakko hanya ada dalam hatiku…selamanya.


“Can you help me charge my cellphone? I want to contact my family..” aku meminta bantuannya untuk mengisi baterai handphone ku. Aku harus menghubungi keluargaku, terutama aku ingin memberi kabar tentang Jakko.


Lana mengambil handphone miliknya dan mengutak atik nya. Tak lama kemudian menyodorkan padaku.


Translate…


“I don’t understand what do you talking about…” begitu translate yang dia ketik.


Rupanya Lana tidak bisa memahami apa yang aku katakan.


Aku mengambil Handphone milik Lana. Aku mulai mengetikkan sesuatu dalam bahasa dari negaraku dan men-translate nya ke bahasa dari negara ini


“Maafkan aku, Lana. Tapi bisakah aku meminta bantuanmu untuk mengisi baterai handphone ku. Dari kemarin aku belum menghubungi keluargaku.”


“baiklah” ketik Lana.


Lana tersenyum ke arahku. Dan menyodorkan tangan nya. Aku dengan sigap memberikan hp milik ku. Lana mengambilnya dan mengisi baterainya tepat di dekat tempat tidurku.


“Can you help me again…” kataku pada Lana lagi tapi Lana langsung menyodorkan hp milik nya.


Sepertinya cara ini adalah satu satunya yang berhasil untuk kami saling ber komunikasi. Tidak masalah buatku.


“maafkan aku Lana. Aku tidak bermaksud merepotkanmu. Tapi dimana letak air mineral. Aku ingin minum.”


Setidaknya kali ini aku tidak akan meminta sesorang untuk membelikan ku minuman lagi. Karena minuman, aku kehilangan Jakko. Sebisa mungkin, aku berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan.


Aku menyodorkan hp miliknya untuk di baca oleh Lana.


“Aaaa…" Lana kembali berbicara dengan bahasanya dan aku tidak mengerti.


Dia beranjak dari tempatnya, dan keluar dari ruangan ini. Aku hanya melihatnya saja. Seingatku, Jiwoek tadi memberikan aku minum dari meja di sebelah ku ini. Tapi semenjak aku dari kamar mandi tadi aku sudah tidak melihat air mineral di meja ini. Aku hanya memandang meja di sebelahku yang kosong. Dan hanya da hp ku saja di sana yang sedang di isi baterai.


Tak lama Lana datang dengan kedua tangannya memegang 2 botol air mineral.


Dia menyodorkan padaku air mineral yang sudah di buka tutup botolnya oleh Lana.


Lana kembali menyodorkan hp miliknya. Aku mengambilnya dan membaca translate dari sana.


“Jadi kamu berasal dari negeri D…”


“Ya”


“Baiklah Gigi kamu istirahat saja. Kalau ada yang bisa saya bantu katakan saja padaku”


“Kalau kamu tidak keberatan boleh kah aku bertanya sesuatu?” ketik ku pada hp Lana


“Baiklah, apa saya disini saja menemani kamu. Kalau begitu tanyakan saja tidak perlu merasa tidak enak padaku”


Lana mengambil kursi yang tadi di tempati Jiwoek dan duduk di sebelahku.


Hp milik Lana, akhirnya jadi alat komunikasi kami, meski saling diam. Tapi jari jari kami terus bergerak untuk berkomunikasi.


“Lana, sebenarnya kenapa aku bisa berada di sini?” aku mengetik nya berharap Lana mau memberi jawaban.


“Mungkin hal seperti itu hanya Jiwoek yang bisa menjawab. Kamu tanya saja sama Jiwoek nanti ketika dia pulang”begitu yang baca dari jawaban nya.


Lana kembali tersenyum dan membelai rambutku, seperti seorang kakak perempuan. Bolehkan aku menganggapnya begitu. Bertemu orang baru dan menjadi saudara bukan kah itu hal yang baik.


“Berapa lama Jiwoek pergi?” aku mengetik kan nya di hp milik Lana.


“Saya tidak tahu. Paling lama besok Jiwoek kembali.” Aku membaca translate dari hp itu. Lana mengambilnya lagi dan mengetikkan sesuatu.


“Sejujurnya saya sangat senang melihatmu sudah bangun. Kami menghawatirkanmu setiap hari. Meskipun kata teman kami Radovan kamu baik baik saja. Setiap hari kami bergantian menjaga mu.” Lana mengetiknya begitu Panjang.


“Setiap hari?....” aku menghentikan ketikan ku dan memeriksa Hp milik Lana. Aku mengembalikannya ke halaman depan dan aku melihat jelas disana tertera tanggal hari ini adalah tanggal 17 sedangkan aku datang ke negara ini tanggal 13. Berarti sudah 5 hari aku tertidur. Selama itu. Tidak mungkin aku tidur begitu lama. Apa yang terjadi padaku?


Aku terkejut dengan diriku sendiri. Lana hanya memperhatikan gerak gerikku yang melihat hp miliknya. Aku melihat ke Arah Lana, seolah mengerti yang aku pikirkan. Lana mengguk keras padaku , menepukkan kedua tangannya dan menaruh di samping pipi kanan nya membuat gerakan isyarat seperti tertidur. Aku membuka mulutku tak percaya. Lana mengangguk lagi.


Lana mengambil hp dari tanganku dan mengetikkan sesuatu


“Kenapa saat itu kamu ingin memasuki Café yang meledak itu…”


“Ada orang yang sangat penting buatku di dalam café itu.” aku menjawabnya seperti itu


“Maafkan saya Gigi tidak seharusnya saya bertanya tentang itu…”


“Tidak masalah Lana, kamu sudah menanyakan hal yang seharusnya…” aku tersenyum padanya


Lana membacanya dan melihatku sedang menyeka air mataku. Jakko masih mengambil alih jiwaku saat ini.


“Gigi mari kita berteman….kita jangan membicarakan kesedihan lagi. Apa kamu mau menonton televisi? “


“Terima kasih sudah mau menjadi temanku yang pertama disini Lana”


“Pertama…sungguh…apa kamu tidak punya teman di nageri S ini.”


Aku membaca nya dan melihat ke pada Lana. Aku menggelengkan kepalaku.


“Satu-satunya orang yang ku kenal dari negara ini ada di dalam café itu…”


“Kenapa kita jadi membahas café itu lagi.” Aku membacanya dan melihat Lana sedang menepuk kedua tangannya dengan isyarat meminta maaf


“ Kita nonton TV saja. Aku akan membantumu berjalan.” Aku melanjutkan membaca sisanya.


Lana, teman pertamaku dari negara ini.