Love has no Limit

Love has no Limit
My Daily Life with Love



…To My First Love Edmund Jakko…


Sometimes when I miss you



In Another Life…


I would be your girl


We’d keep all our promises


Be us against the world


All this money can’t buy me time machine


Can’t replace you with a million rings


I should’ve told you what you meant to me


‘Caise now I pay the price


In another life…


I would make you stay


You were the one that got away


The one that go away….


Sayup-sayup aku mendengar alunan musik yang sendu. Aku menikmati musiknya. Ballad, bisakah aku menyebutnya seperti itu. Tapi bagian refrainnya….tiba-tiba menyayat hati….mengintimidasi setiap pola pikirku, membuka luka di hatiku yang sudah mulai kututup.


Lagu siapa ini?...


Kembali mengingatkan aku tentangnya, tentang Jakko. Aku harus berusaha menerima kenyataan ini. Aku tidak boleh menghindari kenyataan ini. Kata Radovan ada sebagian diriku yang tidak bisa menerima kenyataan yang sangat ingin di hapus.


Tentu saja, ini bukan tentang bagaimana aku bisa menerima kenyataan. Ini tentang aku…tentang diriku….


Sampai detik ini, aku bahkan tidak tahu bagaimana tempat peristirahatan terakhirnya. Aku terlalu takut untuk mengunjunginya….mengunjungi Jakko.


Orang tua angkatnya, harusnya sudah ada yang menghubungi mereka bukan? Aku bahkan belum sempat berkenalan dengan mereka…


Semua pembicaraan manisku dengan Jakko, kami bahkan belum sempat membicarakan tentang masa depan bersamanya. Satu-satunya yang tersisa dari Jakko hanya cicin manis yang melingkar di jari manisku ini. Beberapa kali aku melepasnya, tapi tak sampai hati aku memakainya lagi hal ini sering aku lakukan.


Aku terisak dengan kesendirianku, di tengah kesibukanku yang sedang memasak untuk Jiwoek. Entah bagaimana berkembangnya hubungan kami yang semakin akrab ini. Apa yang aku lakukan sekarang ini hanyalah untuk membalas semua kebaikan Jiwoek.


Jiwoek sudah melakukan banyak hal untukku. Dia juga tidak pernah membahas bagaimana nanti aku membalasnya.


Jika aku sudah kembali ke negaraku….aku berjanji pada diriku sendiri aku akan segera mencari pekerjaan, dan aku akan mengumpulkan sedikit demi sedikit gajiku untuk mengganti semua yang sudah Jiwoek berikan padaku. Kedengaran klise memang, entah butuh waktu berapa lama hingga aku bisa melunasinya. Bahkan seumur hidupku aku rela habiskan waktuku untuk mengganti semuanya. Semoga sang pencipta memberiku kemudahan dalam aku menjalankan rencanaku.


Oleh sebab itu, aku harus bisa segera sembuh dari Lukaku yang bernama Jakko. Bagaimana aku bisa sembuh jika setiap saat ada hal yang mengusikku tentang romansa percintaan, aku selalu merasakan sakit dalam bagian hatiku yang tidak bisa aku deskripsikan dengan kata-kata.


Tujuanku sekarang adalah tidak lagi merepotkan Jiwoek lebih lama. Aku harus sembuh, aku harus segera pulang. Aku juga merindukan keluargaku.


Mamaku…sejak terakhir kali saling berkomunikasi tidak lagi terdengar dari mamaku atau papaku menyinggung tentang Jakko. Harusnya aku senang, mereka tidak lagi mencoba menguliti masalah Jakko. Tapi…ada sebagian dari dirku juga ingin membagi cerita yang sentimental ini kepada mereka.


Terlalu lama tinggal di apartemen jiwoek juga tidak baik. Jiwoek … dia ada di dunia indah yang bernamakan entertainment yang tidak mungkin bisa kugapai. Mungkin siapapun akan bahagia, tapi ini bukan hal baik buatku. Aku jadi takut membiasakan diri dengan keadaan ini. Keadaan yang serba ada. Apapun kebutuhanku, keinginanku dan keperluanku sudah tercukupi oleh Jiwoek. Aku takut pada diriku sendiri yang semakin hari nantinya semakin tidak bisa aku kenali. Aku takut aku berubah menjadi tamak dan serakah, karena Jiwoek yang selalu memanjakan aku. Semua baju yang aku pakai adalah baju baru yang di belikan Jiwoek, pun termasuk pakaian pribadi yang harusnya itu di beli oleh diriku sendiri. Aku sangat menyadari ini seperti mimpi. Mimpi yang tidak mungkin hinggap di setiap manusia.


Xakan adalah manager Jiwoek. Tidak jarang aku melihatnya mengantar setiap kebutuhanku dengan muka masam. Sungguh aku pun juga ada dalam keadaan yang aku sendiri tidak mau ini semua terjadi padaku.


Jika Jiwoek harus pergi meninggalkan aku sendiri, Xakan adalah orang pertama yang ada disini, sebelum Radovan datang. Xakan juga membersihkan apartemen milik Jiwoek.


Tapi akhir-akhir ini sebelum Jiwoek pergi tiap pagi aku selalu membersihkannya sebelum Xakan datang, jadi tidak banyak yang di lakukan Xakan untukku.


Aku bisa memahami bagaimana perasaan Xakan. Harusnya sebagai manager yang dia penuhi kebutuhannya adalah keperluan si aktor, bukan aku.


Apa lagi yang bisa aku lakukan?


Yang bisa aku lakukan hanya diam.


Dan satu hal lagi, tempat tidur besar di kamar itu…milikku. Setiap hari aku yang menempatinya. Jiwoek selalu tidur di Sofa. Pernah satu waktu karena keadaanku yang mulai membaik, aku sengaja tidur di Sofa menggantikan dia sebagai pemilik rumah.


Yang ada aku malah membuatnya marah-marah yang aku sendiri tidak jelas karena apa? Sampai Jiwoek sendiri rela mengangkatku pindah ke tempat tidur.


Memang itu bukan yang pertama kali jiwoek menggendongku. Tapi setiap kali aku melihat wajahnya yang hanya berjarak beberapa centimeter denganku, aku sungguh jadi terpesona. Jiwoek sangat tampan, wajahnya cantik seperti sifatnya.


Beberapa kali belakangan ini aku selalu tersipu setiap kali Jiwoek pulang dan memulai perbincangan denganku. Dia tidak lagi sungkan dengan hal-hal yang membuatku sentimental.


Cuma dia…cuma Jiwoek yang selalu membahas tentang Jakko denganku. Meski kadang berujung dengan tangisanku, Jiwoek tahu tentang ini.


Setiap kali Jakko melintas dalam pikiranku air mataku seperti mesin otomatis yang siap keluar.


Padahal Jiwoek sudah mendapatkan cerita dari Radovan tentang lukaku bernama Jakko. Sebagai dokter yang menanganiku, aku harus jujur padanya, walaupun jujurku itu dengan teraphi yang agak melelahkan.


“These tears will know me…emmm…I mean just me…You are okay crying in front of me. Don’t have to hide. Understand…?”


Jiwoek pernah mengatakan padaku, lama kelamaan air mataku akan mengenali Jiwoek, Maksudnya aku tidak lagi harus bersembunyi kalau ingin menangis. Tidak masalah jika aku harus menangis di depannya.


Walaupun hal itu sangat bertentangan dengan diriku. Aku hanya akan terlihat lemah di hadapan orang lain. Karena aku wanita yang mandiri.


Kemarin Jiwoek bilang dia mau makan nasi ayam ciri khas dari negaraku. Lagu ini …..


In another life…


I would make you stay


You were the one that got away


The one that go away….


Lagu ini hanyalah latihan buatku. Latihan untuk memulai tahap baru kesembuhanku. Dengan perkembanganku yang sebaik ini harusnya sebentar lagi aku bisa berjalan tanpa bantuan alat lagi. Harusnya seperti itu….


**


Jiwoek kembali dengan tangan penuh bawaan, aku menghampirinya dan mulai membantunya mengambil sebagian dari tangan kanannya. Kali ini yang di bawa oleh Jiwoek adalah bahan makanan. Sayur-sayuran dan beberapa lauk yang sangat fresh. Aku segera mengisinya ke dalam kulkas. Kulkas ini tidak pernah kosong, bahkan sebelum kosong Jiwoek akan segera membelinya tanpa ku minta.


Tiap hari dia kembali tidak pernah tidak membawa sesuatu. Ada saja yang di bawa olehnya. Kemarin dia membawakanku make up, padahal aku tidak pernah memintanya. Jiwoek berkata padaku dia mendapatkannya secara gratis, dan karena dia sudah memiliki make up miliknya sendiri jadi dia memberikannya padaku.


Aku hanya mengangguk, meng-iya-kan yang di katakan olehnya. Walupun aku sendiri sebenarnya meragukan ucapannya. Make up selengkap itu, di berikan secara cuma-cuma, akan masuk akal kalau itu hanya satu merk, yang dia berikan padaku merk yang berbeda-beda.


Make up milikku ada di koperku yang aku taruh di hotel. Kemarin Jiwoek menanyakannya padaku


“What is the name of the hotel?” Jiwoek menanyakan apa nama hotel tempatku menginap.


Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepalaku.


“What is the name of the tour travel” Dia juga menanyakan nama tour travel yang membawaku.


Sekali lagi aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepalaku.


“I only remember the name of the guide was Miss Amare” aku mengatakan pada Jiwoek, aku hanya ingat nama Guidenya adala miss Amare. Karena Jakko pernah mengatakannya padaku.


Hanya itu petunjuk yang aku punya. Aku juga tidak mengharapkan bisa bertemu lagi dengan miss Amare. Apa yang bisa aku katakan padanya? Tidak ada Jakko lagi. Aku hanya ingin sembuh dan segera pulang.


**


Aku menyiapkan makanan di meja yang tidak jauh dari tempat aku memasak. Jiwoek dengan cekatan langsung mengambil alih dengan apa yang aku lakukan.


Sebenarnya aku ingin mengatakan kepadanya untuk berhenti memperlakukan aku seperti orang sakit. Bukankah dia melihat aku sudah bisa berjalan dengan kakiku sendiri walau menggunakan alat penyangga ini.


Tapi… aku hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya langsung berputar duduk di seberang meja. Karena begitulah selama ini, aku sudah terbiasa duduk disisi yang ini, dan Jiwoek duduk menghadap persis ke arahku.


Meski aku di negaraku jarang makan di jam malam, tapi disini setiap hari aku makan menemani Jiwoek. Ada beberapa kebiasaanku yang berubah bahkan dalam waktu belum satu bulan.


“Gigi, Your cooking is very good. My Mother would be suitable when meeting you”Jiwoek mengatakannya di sela-sela makannya.


Jiwoek bilang masakanku enak, Ibunya akan cocok denganku jika nanti di pertemukan.


“What is special? It’s only fried chicken.” Aku menjawab seadanya.


Apa yang special dari masakanku? Tidak ada yang special, itu hanya ayam goreng.


Jiwoek sangat pandai mengucapkan hal-hal yang manis. Dia aktor yang banyak di cintai penggemarnya, karenanya dia juga selalu berucap dengan sangat manis.


“Unlike the fried chicken that I usually eat…emmm…there is the smell of spices,it’s taste so fitting.” Jiwoek terus berkomentar di sela-sela makannya.


Katanya ayam goreng buatanku tidak seperti ayam goreng yang biasa dia makan. Katanya ada bau bumbu yang kuat dan rasanya sangat pas.


Ini pertama kalinya bagiku ada seseorang yang memuji setiap masakanku. Entah apa yang dikatakan Jiwoek itu tulus atau tidak?


“Tell to me how about you today ?” Jiwoek menanyakan keadaanku hari ini.


Aku tidak pernah bisa menjawab dengan benar jika dia menanyakan tentang keadaanku tiap harinya.


Aku menyimpulkan senyumku pada Jiwoek.


....


.


.


.


.


.


Lagu yang di dengarkan Zigie


"The One That Got Away"


By. Brielle Von Hugel (Cover)


.


.


.


.


Untuk para Readers mohon maaf🙏🙏🙏 jika kedepannya❤ "Love has no Limit"❤ akan up di waktu yang tidak bisa di tentukan karena kesibukan pribadi saya.🙏🙏🙏