
“Welcome back home sweet home, Caracas Island”
Caracas Island…
Aku hanya menyimpan pertanyaanku dalam hati. Caracas Island, itu nama yang cukup unik menurutku.
Ada apa Jiwoek mengajakku sampai ke tempat ini?
Ada apa ini?
Apa aku akan di pindahkan ke sini oleh Jiwoek, karena aku terlalu banyak merepotkan dia.
Apa baiknya aku bilang saja pada Jiwoek aku lebih baik pulang ke negaraku saja?
Ketika Jiwoek berbelok ke kanan, jalanannya sangat kecil. Jalanan ini hanya bisa di lalui satu jalur mobil saja. Tapi sekitar 50 meter ke dalam jalanannya lumayan lebar.
Sangat kental aroma pepohonan, sebagian besar rumah di area ini memang menggunakan kayu sebagai material utama bangunannya. Sangat asri, wah suasana seperti ini juga ada di negara ini rupanya. Aku tidak menyangka sebelumnya.
“Itu rumahku, Gigi.”
Jiwoek menunjuk dengan telunjuknya banguan yang berdiri kokoh yang tidak kalah eksotis dengan bangunan lainnya.
Rumah Jiwoek itu berada diantara 2 bangunan lain yang berdiri berdampingan dengan warna yang senada. Bedanya bangunan rumah Jiwoek di kelilingi pagar di sisi bagian luarnya. Sungguh pemilihan yang tepat untuk sebuah bangunan yang tampak sederhana,
“Ah, rumahmu, Woek. Kamu berasal dari sini, Caracas island” aku mengangguk setelah melihat begitu uniknya rumah Jiwoek.
Jiwoek hanya tersenyum cerah menjawab pertanyaanku.
Laki-laki ini memang cantik, apalagi jika aku melihatnya dari samping seperti sekarang. Dari sudut manapun Jiwoek memang tampan. Aku benar-benar terpesona dengan ketampanan Jiwoek.
Eh, tunggu dulu…apa baru saja Jiwoek berbicara lagi dalam bahasaku? Aku sampai tidak memperhatikannya.
“Wait a minute, how can you speak using the same language as me, Woek?” tanyaku penasaran.
Aku sungguh penasaran bagaimana Jiwoek bisa menyebutkan beberapa kalimat dalam bahasaku.
Jiwoek mengangkat HP miliknya. Seolah menjelaskan dia belajar dengan HP miliknya.
Xakan Calling, tiba-tiba HP milik Jiwoek berbunyi. Kali ini Jiwoek tidak langsung menjawab seperti biasanya. Jiwoek malah mematikan ponselnya.
“Hey, Xakan calling…” aku menegurnya karena sudah mematikan panggilan dari Xakan.
Jiwoek tidak menghiraukan panggilan dari Xakan. Dia malah mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya di saku celananya.
“Welcome to my House, Gigi” kata Jiwoek menyambutku seolah sama sekali tidak menghiraukan apa yang aku katakan padanya.
Aku pun seperti tersihir dengan sambutannya.
Jiwoek mendahuluiku keluar dari mobil, dia berlari kecil ke arahku, dengan senyumnya itu dia menyambutku lagi untuk membuka pintu mobil ini.
Seperti dejavu, aku kembali mengingat Jakko lagi. Sepanjang perjalanan kemari aku berusaha tidak memikirkannya, tapi melihat tingkah Jiwoek barusan sungguh mengingatkanku pada Jakko.
Aku mengangguk kecil keluar dari mobil Jiwoek yang mewah ini.
Aku rasa HP milikku bergetar, sejak dulu aku jarang menyalakan suara Hp. Aku mengambilnya dari kantongku, untuk melihat siapa yang menelponku.
Xakan…
Xakan menghubungiku? Ini pasti karena Jiwoek tidak mengangkat telp. dari Xakan. Xakan hanya menjalankan tugasnya sebagai manager Jiwoek. Jiwoek tidak seharusnya mematikan handphone miliknya.
Aku segera mengangkatnya.
“Hallo…” ucapku yang tidak bisa kulanjutkan karena Jiwoek secara tiba-tiba meraihnya dan mematikannya.
“What are you doing? Xakan call me…” sambungku menuntut penjelasan darinya.
Jiwoek hanya melihat handphoneku dan mematikannya juga, sama halnya dengan hp miliknya yang langsung masuk kantongnya, dia juga memasukkan hpku ke kantongnya.
“Give me back my phone, Woek” aku meminta Handphoneku kembali.
Jiwoek tidak menghiraukanku dia masih dengan senyum ramahnya menunjukkan rumahnya.
“Woek, Xakan call you, Xakan also call me. There must be important things to talk about”
Aku mengatakan pada Jiwoek, Xakan telp. pasti ada sesuatu yang penting yang harus di sampaikan olehnya.
“Nothing important.” Singkatnya. Jiwoek bilang tidak ada yang penting.
Apanya yang tidak penting, Xakan hanya melakukan tugasnya, kenapa Jiwoek mempersulitnya?
Apa susahnya mengangkat telp. dari Xakan?
Apa salahnya mengangkat telp dari Xakan?
Ada apa dengan Jiwoek?
Ini tidak seperti Jiwoek yang biasanya. Jiwoek selalu tepat waktu untuk setiap pekerjaannya. Dia tidak pernah melewatkan panggilan dari telponnya.
“Woek, What’s wrong with you? Why are you suddenly acting like this? Don’t scare me.”
Aku menuntutnya menjawab setiap pertanyaanku.
Kali ini wajah Jiwoek seketika berubah, tidak lagi ada senyum ramah yang di tunjukkkan padaku seperti barusan. Wajahnya jadi lebih serius.
“Xakan is looking for me. I did not pick up phone calls from him. I have been permitted since a month ago asking for holiday today to go home. But two days ago I saw my schedule was very tight today. Only today. What do you think I’m wrong?” tanpa basa basi Jiwoek menjelaskan.
Xakan memang mencari Jiwoek. Tapi seperti yang di katakan oleh Jiwoek, dia sengaja tidak mengangkat telpon dari Xakan. Menurut Jiwoek dia sudah meminta ijin sebulan yang lalu untuk kembali pulang ke rumahnya hari ini, tapi setelah dia melihat jadwalnya kemarin, hari ini justru jadwalnya sangat padat. Jiwoek menanyakan pendapatku apakah dia salah?
Kali ini setelah menjelaskan sesuatu padaku, Jiwoek malah tidak menghiraukan aku dan pergi berjalan mendahuluiku kea rah pintu masuk rumahnya.
Dan di tempatku berdiri sekarang ini, aku hanya terpaku mendengar penjelasan dari Jiwoek. Tidak ada yang salah dari apa yang dilakukan Jiwoek. Justru aku disini yang sudah salah paham.
Kalau dipikir, kegiatan Jiwoek untuk tiap harinya memang sangat menyita waktu, aku bahkan bisa bertemu dia di tiap harinya hanya di pagi hari ketika sarapan saja.
Aku harus meminta maaf pada Jiwoek. Aku sudah salah mengartikan sesuatu. Aku hanya berpikir tidak seharusnya dia jadi aktor yang tidak peduli orang-orang yang ada di belakangnya dimana mereka bekerja juga tidak mengenal waktu.
Aku segera berlari dengan tertatih-tatih menyusul Jiwoek, dengan tergesa-gesa sambil memanggil namanya,
“Woek…”
“Jiwoek, wait….” Ini pertama kalinya Jiwoek tidak menghiraukan panggilanku, Dia bahkan tidak peduli.
Jiwoek malah bergegas masuk kedalam rumahnya, tanpa sadar aku mengekorinya dengan terburu-buru ke dalam rumah. Aku berusaha meraih tangan Jiwoek.
“Jiwoek, listen to me….” Ucapku setelah berhasil meraih tangannya. Aku memintanya untuk mendengarku barang sebentar.
“Woek, I’m sor….” belum selesai aku berbicara.
Aku terlalu fokus untuk mengejar Jiwoek, hingga aku melewatkan banyak hal.
“Gigi…!!” teriak beberapa suara secara bersamaan, suara yang sangat familier bagiku.
Kejutan yang sangat tak terduga….suara ini aku sangat hafal dengan suara ini. Aku menoleh seketika ke arah sumber suara. Ini benar-benar hal yang tidak pernah aku sangka, aku sungguh sangat bahagia. Aku menghampiri mereka dengan kerinduan yang sangat memuncak. Tak sabar aku memeluk mereka dengan rasa haru yang luar biasa membahagiakan dalam hatiku.