Love has no Limit

Love has no Limit
from Jiwoek's heart : I Never Regret to Loving You



(Hari di saat Ledakan Café Icy)


Duarrrr!!!!


Suara ledakan yang teramat dahsyat ini masih menggema di telingaku. Membuatku mengalihkan pandangan mataku ke letak sumber suara. Getarannya pun sampai dari tempatku beberapa detik yang lalu saat aku melewatinya.


Guncangan besar ini sempat di prediksi dan menjadi topik utama berita politik beberapa hari sebelumnya. Dan hari ini guncangan itu menjadi nyata saat ledakan itu berasal dari Café milik dari salah satu kandidat partai politik.


Ledakan ini mendorongku bertemu bidadari berhati malaikat dengan rupa yang bersinar bak butiran berlian.


Pertama kali melihatnya seperti melihat berlian diantara ribuan pasir. Pasir yang tak beraturan layaknya kami, sepertiku.


Entah apa yang mendorongku begitu berani menghampirinya. Dari sampul depan yang di tunjukkan olehnya, seperti menterjemahkan bahwa dia berbeda. Aku tahu dia berbeda dari orang sekitar. Dia tidak berasal dari negara ini. Atau dia besar di negara ini?


Dia seperti kebingungan menentukan langkahnya yang berat. Dengan terhuyung-huyung diantara orang yang berlarian menjauh dari tempat yang porak poranda. Justru dia adalah satu-satunya yang berjalan berlawanan, dia dengan sisa-sisa kekuatannya bersikukuh berjalan kearah tempat yang sudah porak poranda itu. Pasti ada seseorang yang sangat istimewa di dalam sana, hingga dia tidak memikirkan tentang keselamatannya.


Dari tempat aku melihatnya saat itu, ada keraguan besar dalam diriku untuk menghampirinya, aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi pesonanya seperti magnet buatku dan terus menggelitikku untuk berlari kepadanya.


Aku pun menghentikan Xakan yang sedang menyetir mobil untukku kala itu, tanpa memberi alasan apapun pada Xakan yang tidak berkutik memandang keheranan setelah kutinggalkan begitu saja.


Aku menghampiri berlian indah itu, dengan keberanian yang besar aku menghentikan langkahnya setelah bersusah payah bangkit. Aku menarik tangannya agar tidak berjalan ke tempat yang sudah hancur akibat ledakan beberapa detik yang lalu. Dia berusaha meronta dengan sisa kekuatannya untuk melepaskan pegangan erat dari tanganku. Dan dari sisa kekuatannya, aku mendapatinya pingsan seketika.


Begitu banyak yang aku khawatirkan, aku takut bidadari yang indah ini justru di manfaatkan oleh orang yang salah, tanpa pikir panjang aku membawanya bersamaku.


Meski setelahnya aku di hujani dengan ribuan pertanyaan baik dari orang-orang yang dekat denganku ataupun dari pihak managerku.


“Aneh, kau sungguh pria yang aneh…ada yang salah dengan otakmu” kata-kata seperti ini bukanlah yang pertama kalinya bagiku. Jadi aku sudah biasa dengan cercaan mereka.


Apa yang salah dari menolong orang lain. Kenapa mereka begitu egois? Hingga menolong orang adalah perbuatan yang salah. Walaupun kekhawatiran mereka di dasarkan pada kesibukan keartisanku. Mereka takut bidadari ini menganggu kegiatanku.


**


Gadis itu masih tertidur panjang. Ini sudah 1x24 jam lamanya. Sudah sehari sejak kemarin dia masih belum bangun. Sesekali aku melihatnya menangis dalam tidurnya, sambil memanggil


“Jakko….”


Jakko, siapa Jakko? Kakaknya? Adiknya? Temannya? Atau bahkan mungkin kekasihnya? Yang jelas itu pasti nama pria.


Aku absen dari kegiatan keartisanku, sambil menunggunya terbangun. Ibuku juga sangat mendukung yang aku lakukan, meski yang lainnya menyayangkan keputusanku untuk lebih menjaga gadis ini dari pada harus memenuhi kewajibanku yang sudah berdasarkan kontrak kerja.


Prinsip keluargaku menolong sesama itu jauh lebih penting dari pada kegiatan keartisanku. Kepopuleranku ini juga bersifat sementara, aku harus siap jika sewaktu-waktu nanti aku di lupakan oleh penggemarku.


(Dua minggu berikutnya)


Aku tidak mengerti. Mengapa orang lebih menganggap cinta itu indah hanya di awal? Cinta itu menyakitkan?


Dan aku tidak merasakan apa yang mereka katakan. Aku tidak merasakan sakit meskipun dia tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan, bahkan aku rasa dia tidak tahu aku ada di sana.


Seperti biasa, aku selalu melihat dia bersenang-senang dengan dirinya sendiri dalam diam. Matanya menerawang entah kemana, aku tidak tahu.


Rambut hitamnya yang indah melambai saat angin berlalu di depannya.


Dia sering menggigiti bibir bagian bawah yang lebih tebal dari bibir atasnya, entah ini memang kebiasaannya atau karena ini di tempat yang asing baginya. Sehingga dia melakukan hal yang di luar kebiasaannya.


Saat berhadapan dengannya, aku bisa melihat dengan jelas isi ketulusan dari dalam matanya….matanya sangat bulat dengan bulu matanya yang memang asli tebal tanpa harus memakai bulu mata palsu seperti wanita kebanyakan.


Meski alis matanya pendek, itu sangat serasi dengan wajahnya yang mungil. Wajahnya memang tidak sebersih, seputih, dan semulus artis-artis yang sering aku jumpai, tapi wajahnya ini benar-benar sangat original, sangat khas seperti sosok wanita yang berkharisma.


Bahkan di lihat dari samping seperti ini dia terlihat seperti lukisan siluet yang indah. Meski tidak secantik dewi, tapi dia tetap bagaikan bidadari bagiku. Sepertinya Tuhan tersenyum saat menciptakannya. Lalu dia menyelesaikan kegiatan rutinnya. Membuatku merasa tersesat.


Ketika aku sedang sendiri seperti sekarang di lokasi syuting, aku selalu teringat akan tingkah lakunya yang membuatku jatuh cinta.


Sudah terlambat, bahkan Xakan pun sudah datang dan berkata ‘selamat pagi’ untuk membuatku berpisah darinya pagi tadi. Tapi dia tetap acuh padaku dan hanya mengangguk dalam diam saat aku berpamitan padanya. Tentu saja aku sangat mencemaskannya, apa dia baik-baik saja kutinggalkan seorang diri?


Pertanyaanku dijawab dengan kepulanganku kerumah. Aku terkejut saat dia duduk sambil menangis. Sungguh aku tidak tahan melihatnya sangat sedih, dengan mata yang seolah berteriak dan tangis sedihnya benar-benar membuat hatiku patah.


Apa yang terjadi? Apa yang salah?Apakah ada yang menyakitimu? Banyak pertanyaan yang muncul di benakku.


Padahal aku selalu datang dan berkata ‘jangan khawatir, jangan sedih, aku disini’ atau hanya memeluknya dan mengusap air matanya. Jangan menangis lagi, cintaku.


Lalu dia melihat ke arahku. Seketika dia berhenti menangis dan mengusap air matanya.


“Calon suaminya adalah salah satu korban dalam Ledakan Café Icy”


“…..”


“Trauma besar dalam dirinya itu tidak bisa di atasi oleh jiwa, hati, dan pikirannya. Trauma seperti ini sering terjadi dalam kehidapn nyata tapi biasanya si penderita tidak akan menyadarinya.”


“…”


“Dan untuk kasus Ziegi, dia sendiri yang menolak untuk menghapus kejadian singkat itu, kejadian yang sudah membuat dirinya sendiri tidak sanggup menjalani kehidupan ini. Ini tidak jauh berbeda dengan mayat hidup. Dia ingin mati tapi dia sangat sadar dia hidup, ada kehidupan dan dia tidak bisa memilih untuk mati. Dan dia juga tidak mau hidup dengan rasa terpuruk, hancur dan rasa bersalah yang dirasakannya sangat besar.”


"..."


“Sebisa mungkin buatlah dia tenang…setenang mungkin sampai dia bisa nyaman dengan sekitarnya.”


"..."


“Jalan satu-satunya adalah dia harus bisa menghadapi kenyataan di depan matanya. Dia harus bisa menerima semuanya. Dengan begitu dia seperti terlahir kembali. Dia bisa sembuh total.”


"...."


“Tapi untuk sementara, yang terbaik adalah membuatnya nyaman dulu. Biarkan saja jika dia ingin melupakan kenangan terburuk itu. Dia sangat tahu cepat atau lambat dia harus menghadapi kenyataannya sendiri.”


Dan dari semua penjelasan Radovan itu aku tahu dia sudah memiliki kekasih. Kekasih yang sangat di cintai olehnya. Aku menyadari bahwa aku akan sangat sulit mendapatkan hatinya. Tidak mungkin dia bisa mengenaliku sebagai orang yang juga pantas untuk dicintai olehnya. Mustahil. Karena aku tidak seperti orang lain. Aku tidak memiliki kebebasan layaknya Jakko, cinta pertamanya. Belum lagi, bidadariku ini bisa di bully oleh penggemarku.


Di bidang ke artisan sudah banyak piala dan medali yang aku dapatkan karena prestasiku dan aktingku yang kata banyak orang aku tidak hanya mengandalkan wajah tampanku saja. Maka tak ayal banyak sekali orang yang mengenalku, meski aku tidak mengenal mereka. Terutama penggemar perempuan.


Aku sangat sadar penggemarku selalu menempatkanku sebagai pasangan mereka. Hingga jika ada kabar kedekatanku dengan artis lain, reaksi mereka sangat mengerikan.


Untuk urusan percintaan. Jujur, aku angkat tangan. Semenjak usiaku menginjak remaja hingga sekarang ini pun aku belum pernah pacaran.


Aneh memang, mereka menganggapku sempurna meski aku adalah orang yang aneh, itu yang sering Xakan katakan padaku. Anehlah, bodohlah, bahkan katanya aku tidak normal. Oh no! Bukan, bukan, aku hanya belum siap saja. Padahal banyak perempuan yang menyatakan cintanya padaku. Tapi aku tidak merasakan ada getar-getar cinta di hatiku. Aku selalu mengakhirinya dengan kata ‘maaf’.


Akan tetapi, benih-benih asmara di ladang hatiku mulai tumbuh. Bahkan sejak pertama kali aku jumpa dengannya.


Penampilannya sederhana. Pembawaannya tenang dan anggun. Semenjak ada bidadari berwujud Ziegi dalam hari-hariku, hidupku jadi penuh warna.


Walaupun mustahil mendapatkan cintanya, aku ingin menjadi orang yang selalu ada di sampingnya. Aku ingin melindunginya. Aku akan menjaganya sebaik mungkin, bahkan dari ribuan atau jutaan penggemarku di luar sana.


Jika penggemarku tahu keberadaan berlian yang indah ini dalam keseharianku, mereka akan langsung menerornya. Resiko besar bagi jiwanya yang rapuh itu. Ulah dari penggemarku bisa menyakitinya sangat dalam.


Seharusnya aku tidak mencintainya, namun perasaan ini ada disana. Ah, Tuhan apa yang harus aku lakukan?


Dan pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku hanya bisa mengawasinya dari sini, dengan pendirian bahwa cinta itu tidak menyakitkan.


Di meja yang tertutup debu ini, aku tersenyum. Aku melihat fotonya yang kuambil diam-diam tanpa sepengetahuannya. Aku senang meski aku mencintainya dalam diam.


Cintaku ini, cinta yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Hingga rasanya aku siap menukar hidupku hanya untuk melihat tawanya.


Aku senang karena dia selalu ada disini di dalam hatiku. Aku bahagia, bisa melihatnya setiap hari. Aku akan berjuang mendapatkan cintanya, meski memakan waktu yang lama, aku ingin terus mendampinginya. Rasa yang kuat seperti ini hanya untuk Ziegi.