Love has no Limit

Love has no Limit
Brand New Day for Love



Klek


Setelah Jiwoek meninggalkan ku sendirian. Aku langsung menyalakan air yang ada di sebelahku. Aku sengaja membiarkan air itu mengucur tanpa henti dan tanpa arti. Aku pikir dengan begini Jiwoek tidak akan mendengarkan suaraku yang sedang menangis.


Dadaku tidak bisa menanggulangi rasa tak karuan yang tidak bisa aku definisikan. Sekarang ini aku hanya ingin menangis. Menangis sejadi jadinya. Mengais sekeras kerasnya.


Aku meluapkan semuanya. Menangis dengan tersedu-sedu. Sesekali meraung tanpa tahu seberapa besar rasa sedih yang sedang aku tanggung.


Aku tidak lagi bisa menyimpannya. Hanya tangisan ini yang tersisa untukku.


Jakko, tolong aku….


Bahkan untuk mengatakan hal itu rasanya tidak mungkin. Tidak ada lagi yang bisa aku andalkan di negara ini.


Dan sekarang ini…..Aku harus bersembunyi di sini di tempat ini, sampai kapan?


Apa aku tidak bisa kembali ke negaraku? Ini bukan tempatku.


Kenapa aku harus terjebak di negara antah berantah yang jauh ini?


Dan satu lagi…..Kakiku….kaki ini adalah penghalang terbesarku. Untuk melangkah sejengkal jari saja aku terjatuh.


Sampai kapan aku terus seperti ini?


Apa selamanya aku akan terus seperti ini? Tidak bisa melangkahkan kakiku.


Lalu, apa itu tidak bisa di sembuhkan? Kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini. Segenting apakah keadaan di luar sana?


Kenapa aku harus terseret di dalamnya?


Apa tadi yang di bilang Jiwoek?


Psikomatis?....


Apa itu?


Hp ku?


Aku perlu Hpku bukan hanya untuk menghubungi mama dan papa. Tapi aku juga ingin tahu arti Psikomatis ini apa? Kalau saja ada Hp ku…


Aku juga tidak mau meminjam Hp milik Jiwoek dan mencari artinya dari Hp miliknya. Dengan begitu Jiwoek akan tahu kalau aku penasaran dengan arti Psikomatis.


Tidak....


Aku tidak boleh membiarkan siapapun tahu dengan apa yang aku rasakan. Aku tidak ingin masuk dalam kehidupan mereka lebih dalam. Mereka hanya orang asing bagiku. Entah aku harus berterima kasih atau harus marah pada mereka?


Aku memikirkan segala kemungkinan….


Kalau saja Jiwoek tidak membawaku pulang ke tempat ini?


Harusnya sekarang ini aku ada di rumah sakit kan?


Atau kah aku ada di penjara?


Apapun itu setidaknya aku tidak bersalah?


Aku tidak melakukan kesalahan apapun?


Kenapa aku harus takut?


Kalau aku tidak bersalah bukankah nantinya aku akan di kembalikan ke negaraku.


Justru mereka yang sudah merenggut Jakko dariku.


Negara ini, sudah membuatku terjebak dalam keadaan yang masih tidak bisa aku pahami barang sedikit.


Kepalaku benar-benar merasakan kesakitan yang sangat hebat. Sekarang ini….


Air mata yang terus bercucuran seperti aliran darah yang tidak bisa di hentikan, Terus berderai tanpa henti. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan kesedihan yang dahsyat seperti ini.


Harusnya aku tidak perlu sesedih ini kan?


Aku bahkan tidak sanggup memahami diriku sendiri.


Apa yang membuatku jadi sesedih dan sehancur ini?


Ledakkan bom itu?


Jakko yang sudah meninggal?


Aku tidak bisa menghubungi keluarga ku? Aku yang sendirian di negara ini?


Aku yang tidak bisa kembali pulang ke negaraku?


Atau keadaan yang membuat ku terjebak disini?


Apa aku selamanya harus seperti ini?


Apa selamanya aku harus ada disini? Bersembunyi seperti buronan, bahkan ketika aku tidak melakukan kesalahan apapun.


Tidak tahan. Diantara air mataku yang terus menetes padanganku mulai kabur sedikit demi sedikit…Aku juga sudah mulai berat membuka mataku. Sangat berat, pelan-pelan mulai gelap. Aku tidak lagi bisa merasakan diri ku sendiri.


**


Hawa ini sangat dingin. Aku membuka mataku secara perlahan. Dimana ini?


Aku memperhatikan sekelilingku.


Ah, ini…..ruangan yang sama. Rumah Jiwoek. Aku masih ada di sini.


Dalam hati kecilku, aku sungguh masih berharap bahwa semua ini hanya sebuah mimpi yang sangat panjang, yang akan segera berakhir. Walaupun aku tahu itu tidak mungkin.


Aku lihat Jam kecil di atas meja dekat tempat tidur ini menunjukkan pukul 3 pagi dini hari. Aku masih mengedarkan padanganku ke seluruh ruangan ini. Ruangan ini sangat besar. Bahkan ruangan ini seukuran dengan ukuran kamarku, kamar Zielve dan kamar mama papaku jika di jadikan satu.


Aku berusaha membangunkan diri ku sendiri. Bangkit dari tidurku sambil setengah duduk di atas tempat tidur ini. Aku juga berusaha menarik diriku sendiri untuk bersandar di ujung tempat tidur.


Ruangan ini sangat dingin. Aku menarik selimut sampai ke bahuku agar aku tidak terlalu kedinginan. Tanpa sengaja jariku terselip di antara pita baju yang aku kenakan.


Aku membenarkan letak jariku….tunggu dulu…..aku tidak memakai baju ini sebelumnya. Benar, baju yang gunakan kemarin juga bukan baju yang terakhir aku pakai saat ada ledakan bom itu. Bajuku yang sekarang ini melekat padaku juga bukan baju yang pakai kemarin.


Siapa yang mengganti bajuku?


Jiwoek?


Apa laki-laki itu yang sudah mengganti bajuku?


Dari cara dia yang menggendongku tanpa permisi harusnya aku sadar dia juga pasti sanggup menggantikan aku pakaian tanpa permisi juga.


Apa aku harus mempercayai laki-laki ini?


Aku harap masih ada kebaikan dan sisi positif yang mengelilingiku.


Tiba-tiba mataku tertuju ke sofa panjang yang ada tepat lurus dengan letak tempat tidur ini. Laki-laki yang cantik itu tidur di sana. Jiwoek tidur di Sofa.


Apa aku ini tamu yang merepotkan. Ini rumahnya tapi si tuan rumah malah tidur di sofa. Harusnya aku yang tidur di sana. Aku adalah orang yang menumpang disini. Apa ini boleh ini di artikan sebagai rasa kemanusiaan bahkan ketika aku belum jelas apa tujuannya.


Aku harus sembuh.


Aku harus bisa sembuh dan berusaha untuk tidak merepotkan Jiwoek?


Untuk saat ini aku tidak punya pilihan. Aku sudah putuskan untuk mencoba mempercayai Jiwoek.


Setidaknya dia adalah orang yang akan aku andalakan kedepannya, sampai aku bisa kembali pulang ke negaraku.


Aku berusaha meraih air minum yang berada tepat berada di meja itu. Aku meraih ujung gagang dan mnarik gelas kecil di sampingnya. Walau dengan sedikit bersusah payah aku akhirnya bisa menuangkan air ke gelasnya.


Tapi aku tidak berhasil mengembalikan dengan benar air nya di atas meja. Dan hasilnya….


Pyar….


Air itu jatuh ke lantai, bahkan aku juga belum sempat meminum air yang sudah aku tuangkan. Gelas kecil berisi air masih berdiam di tangan kananku.


Aku sadar aku sudah menimbulkan keributan kecil di pagi hari yang masih gelap. Seperti yang aku duga, air yang terjatuh itu sudah sukses membangunkan Jiwoek yang sedang tertidur. Padahal aku sama sekali tidak bermaksud untuk merepotkannya terlebih lebih membangunkannya.


Dia segera bangkit dari sofa itu dan berjalan menghampiriku.


“Are you okay, Gigi?” Jiwoek menanyakan keadaanku baik-baik saja atu tidak.


“Sorry….” Aku meminta maaf padanya.


Aku menunjukkan pada Jiwoek gelas yang masih aku pegang dan utuh dengan isinya, karena aku belum meminumnya. Aku yakin Jiwoek paham aku hanya ingin minum.


“Call me Gigi. If you want something.” Ini lebih terdengar seperti omelan. Jiwoek bilang aku harus memanggilnya kalau aku ingin sesuatu.


Gimana ya? Padahal aku tidak mau merepotkan Jiwoek, dia sedang tertidur tadi.