
“And how about Jakko??”
Jakko….
Kali ini aku mohon untuk tidak ada lagi pembicaraan tentang Jakko. Aku mohon aku ingin mengubur Jakko dalam ingatanku. Bantulah aku Jiwoek. Bathinku.
“What…?” aku menggeleng tak mengerti.
“Jakko….ehmm Edmund Jakko, right? He is a person known Xakan, ummm…I mean He is Xakan’s Friend.” Kata Jakko
Menurut Jiwoek, Jakko adalah temannya Xakan. Managernya Jiwoek.
Ingatanku di bawa kembali dengan pembicaraan Jakko saat itu. Dia bilang dialah yang mencarikan apartemen untuk Jiwoek.(episode 6 First kiss from First Love)
Aku ingat dengan jelas bagaimana Jakko menunjukkan padaku bangunan-bangunan tinggi yang berjajar-jajar dan dominan berwarna putih.
Kala itu dia dengan bangga menunjukkan padaku bagaimana berjasanya dia menemukan apartemen untuk di tinggali oleh aktor yang aku gemari.
Aku tidak menyangka semua ini sekarang hanya tinggal kenangan. Setiap ucapan yang di lontarkan oleh Jakko semuanya benar. Dia jujur padaku. Apalagi yang bisa membuatku ragu? Tidak ada. Aku semakin menilai Jakko sebagai laki-laki sempurna yang tidak ada duanya.
Dan ini sangat ironi dengan kehidupan yang aku jalani sekarang...sekarang aku tinggal di salah satu bangunan tinggi berwarna putih itu. Aku bahkan tinggal di dalam rumah aktor yang aku idolakan. Berkat Jakko.
"Ny. Jakko..." aku ingat bagaimana dia menggodaku beberapa kali memanggilku seperti itu.
Sekarang panggilan Ny. Jakko adalah panggilan mustahil yang tidak akan mungkin terjadi. Setidaknya aku pernah mendengar seseorang memanggilku seperti itu. Langsung di beri ijin dari si pemilik nama. Aku merindukanmu Jakko.
Jakko…si pemilik senyum terindah itu kembali melintas di ingatanku. Aku yang membuatnya menghilang dari dunia ini. Rasa sesak dan sakit yang aku rasakan ini, siapapun tidak akan bisa mengerti.
Aku diam di hadapan Jiwoek yang terus berceloteh tentang Jakko, dia selalu membahas tentang Jakko. Tidak peduli dengan apa yang aku rasakan. Apa Jiwoek memang sengaja membahasnya atau memang dia hanya asal bercerita.
Aku hanya dian dan mulai menunduk berharap tidak lagi diperpanjang pembicaraannya tentang Jakko. Meski yang aku harapkan sia-sia.
“He is the owner of a real estate agent in the area near Icy café” Jiwoek masih melanjutkan kalimatnya.
Katanya Jakko adalah pemilik agen real estate di dekat daerah ledakan Café Icy. Aku juga tahu tentang masalah itu. Kembali pembuktian dan sebuah pembenaran yang tidak bisa aku sanggah kebenarannya. Jakko adalah karya agung sang pencipta, pun dengan semua sikap dan sifatnya.
I Love You Jakko, aku menggumamkannya dalam hati.
Aku sungguh tak bisa menanggapi kata-kata yang terlontar dari Jiwoek. Aku ingin menghentikan dia bicara. Tapi aku tidak punya alasan yang cukup bagus untuk menghentikannya terus berbicara. Sungguh aku sangat tidak nyaman. Aku terus menahannya, aku harus bisa menang melawan diriku sendiri.
“And I have meet him, Gigi” Jiwoek terus meneruskan ucapannya. Dia bilang dia juga pernah bertemu dengan Jakko. Dia laki-laki yang tampan kan
Betwee
Benarkah?
Jiwoek pernah bertemu dengan Jakko, tapi Jakko bilang dia tidak pernah bertemu Jiwoek. Bagaimana Jiwoek bisa tahu tentang ini?
Jiwoek mencari pandangan mataku yang mulai penuh dengan genangan air mata. Dia menarik daguku agar tidak menunduk. Saat dia melihat mataku yang sudah mulai berkaca-kaca, Jiwoek mengatakan sesuatu, tapi sesuatu itu tidak bisa aku terima dengan baik maksudnya, karena dia mengatakannya dengan menggunakan bahasanya sendiri.
“kusfgyurshfeskhjooidzfnzgshojoesd” dia mulai mengomel dengan bahasanya.
Aku mendengarnya tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dan apa yang sudah di katakan oleh Jiwoek.
“Come on Gigi….” Ucapnya sambil kembali ke tempatnya, dia mengambil sehelai tissue dan memberikannya padaku. Aku hanya menerima tissue itu dalam diam.
Mulai sekarang aku harus bisa tahan dengan apapun yang akan di katakan oleh Jiwoek. Setidaknya aku berusaha mensugesti diriku sendiri.
Bahwa apapun yang di katakan oleh Jiwoek tidak berpengaruh besar dalam hidupku.
Meski sesungguhnya Justru luka yang menganga itu bernama Jakko.
“I know this is very hard for you Gigi. You are a strong woman. You can get through this without hiding in yourself. You must be able to forgive yourself.” Jiwoek mulai menceramahiku.
Kata-katanya sungguh sangat menasehatiku. Harusnya kata-kata ini bisa menguatkan apalagi ini di ucapkan oleh seorang aktor yang selama ini aku kagumi. Dia bahkan ada persis di hadapanku.
Jiwoek tahu ini berat buatku. Katanya aku harus kuat. Aku tidak harus terus bersembunyi dalam diriku sendiri. Aku harus bisa memaafkan diriku sendiri.
Iya, masalah besar dalam diriku adalah tentang mengampuni diriku sendiri. Tidak bisa, aku tidak bisa melupakan bagaimana Jakko melambaikan tangannya terakhir kali dan mulai masuk ke dalam Café itu.
Semuanya masih tergambar dengan jelas dalam ingatanku. Bagaimana tiba-tiba ada ledakan hebat dari dalam Café itu. Semua karena aku. Hanya karena minuman aku kehilangan laki-laki dengan senyum paling cerah.
Aku hanya butuh waktu untuk menjalani prosesnya.
Proses untuk memaafkan diriku sendiri.
Proses untuk menerima kenyataan.
Proses untuk melupakan Jakko.
Meski harus memakan korban waktu milikku.
Jiwoek membelai ujung kepalaku.
“Don’t hurt your self anymore, Gigi.” Katanya aku tidak boleh lagi menyakiti diriku sendiri.
Di sisa-sisa sengau suaraku karena airmata yang selalu jatuh tanpa diundang, aku memohon pada Jiwoek.
“Please don’t talk about him again…” agar Jiwoek tidak lagi membicarakan tentang Jakko lagi. Ucapku sedikit agak marah pada Jiwoek
“You must be able to deal with it” Jiwoek berkata aku harus bisa menghadapi tentang Jakko.
Sepertinya Jiwoek memang akan terus membahas tentang Jakko sampai aku bisa mengatasi tentang diriku sendiri yang masih tidak bisa menerima kenyataan.
“Hari ini cukup sampai disini dulu, Woek.” Aku sengaja mengatakannya dengan bahasaku.
Percuma saja aku berbicara kalau Jiwoek juga tidak mendengarkan apa yang aku katakan.
Aku mengambil tongkat penyanggaku. Meninggalkan Jiwoek yang masih mematung di sana. Aku tidak mau hubunganku dengan Jiwoek akan tidak baik nanti. Karena aku sudah meraba dengan apa yang akan terjadi kalau-kalau kami jadi akan cekcok atau ribut.
Itu akan membuatku jadi semakin jauh dari Jiwoek.
Jiwoek sudah seperti malaikat penolongku. Apapun yang dia katakan walaupun aku tahu itu menyakitiku, tetap aku tidak bisa marah kepadanya. Bagaimanapun tujuan dia sebenarnya baik.
Aku kembali ke kamar dan bermain sendiri dengan HP milikku. Mencari kesibukan agar tidak terus memikirkan Jakko.