Love has no Limit

Love has no Limit
Fast Time with My First Love



Jakko, hanya dalam waktu beberapa bulan dia sudah berhasil mengisi penuh hatiku. Laki-laki dengan senyum cerah yang membuat hari-hariku lebih berwarna. Jantungku selalu berdetak kencang setiap kali aku mengingat caranya tersenyum padaku.


Aku benar-benar wanita yang beruntung. Memiliki seorang laki laki seperti Jakko disampingku, aku bisa mengharapkan apalagi. Dia sudah satu paket lengkap yang di utus Tuhan untukku. Mahakarya sang pencipta yang hampir sempurna ini ada di sampingku. Apa lagi yang harus aku takutkan.


Dengan waktu yang sesingkat ini bolehkah aku memilihnya dan mempercayainya. Aku sudah memikirkannya selama 2 bulan belakangan ini. Aku tidak akan menyesalinya.


Kami sudah tiba di hotel K, hotelnya tampak mewah dari luar. Tapi setelah aku menginjakkan kaki di lobby hotel ini ternyata hotel nya tidak terlalu besar. Tampak sama seperti hotel lain pada umumnya.


Aku dan Jakko berjalan mengikuti rombongan tour yang berkumpul di depan Aquarium besar. Tak jauh dari tempat kami menunggu, aku melihat miss Amera sedang mengurus kamar kami di meja resepsionis. Miss Amera berjalan menuju kearah kami para rombongan yang sedang menunggunya dan membagikan kunci kamar pada tiap peserta Tour.


Wanita bertubuh kurus dengan rambut sebahu terurai kebelakang dengan rapi dan dengan senyum yang meninggalkan lesung manis di pipinya, membuat miss Amera terlihat seperti guide cantik yang profesional.


Miss Amera datang ke arahku dan Jakko berdiri, kemudian menyerahkan amplop kotak kecil berisi card sebagai kunci kamarku. Aku menerimanya dan tersenyum padanya.


"Thank you" ucapku kemudian.


Sebelum Miss Amera pergi Jakko memanggilnya dan berbicara padanya, aku bahkan tidak bisa meraba apa yang sedang mereka bicarakan. Yang aku lihat hanya pada akhirnya mereka saling berjabat tangan dan saling melempar senyum. Miss Amera pun menghampiriku dan menjabat tanganku tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya tanpa tahu apa maksudnya.


"Enjoy your holiday, miss Ziegi" ucapnya meninggalkan lesung di pipinya.


Aku mengangguk ringan dan tersenyum kepadanya.


Jakko menghampiriku dan tersenyum dengan cerah padaku.


"Kamarmu ada di lantai 3, Zie" Kata Jakko yang menggandengku siap mengantarku menuju kamarku.


Aku mengangguk dan memperhatikan amplop dari miss Amera tadi, di pojok atas sebelah kanan amplop berwarna kehijauan itu bertuliskan angka 309, sebagai nomor kamarku.


"What do you talking about?" tanyaku penasaran.


"Why...are you jealous?..." Jakko menggantung kata katanya,


"This fast..." secepat ini sambungnya keheranan sambil menggodaku dengan senyum nya yang khas.


"No, Jakk. I'm just curious.." aku hanya penasaran jelasku.


"Really...you're not jealous...ahhh...I'm so sad. I'll do my best to make you trust me and love me more." Jakko meraih tanganku dan mengecup lembut punggung tanganku.


Seketika hatiku berdebar debar sangat kencang, aku bahkan tidak bisa mengontrol detak jantungku.


Baru beberapa jam yang lalu kami bertemu dan sekarang jadi sedekat ini. Apa ini juga yang di rasakan orang yang jatuh cinta pada umumnya. Mungkin karena aku merindukan pemilik senyum yang selalu menghantuiku selama 2 bulan belakangan ini, jadinya aku sangat bahagia dengan tindakan spontan yang di lakukan oleh nya.


Jakko mengantarkan aku tepat di depan kamar ku. Aku membuka pintunya dengan kunci berbentuk card yang tadi sudah di berikan oleh Miss Amera. Jakko hendak mengikutiku masuk dalam kamar, dengan sigap aku berbalik menghadap ke arahnya dan mengusirnya.


"This is Lady room, Mr. Jakko" kataku mengusirnya dengan halus.


"Apa bedanya, kamu bahkan ingin berkunjung ke tempat saya." protesnya


"Kamu bilang kamu percaya sama saya..." sambungnya.


Aku tidak punya alasan yang kuat untuk membantah pendapatnya. Hanya saja aku tidak mau Jakko melihat aku membongkar barang bawaanku.


Kali ini aku memberanikan diriku "cup" aku mengecupnya singkat meninggalkan jejak di pipi kanan Jakko.


Aku melihat Jakko tampak mematung untuk beberapa saat kemudian menggaruk bagian belakang kepalanya dan menjawabku dengan kikuk,


"baiklah...." ucapnya dengan tampak keheranan.


Aku pun sama terkejutnya dengan Jakko. Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. Aku pikir itu adalah cara yang cukup berhasil membuatnya pergi tanpa harus membuatnya tersinggung. Aku pun baru melihat sisi lain Jakko yang polos seperti itu.


***


Mobil berwarna abu-abu ini sudah melaju dengan santainya di jalan raya. Dari kami meninggalkan hotel sampai sekarang ini kami hanya saling berdiam diri tanpa kata.


Aku menyesali tindakan ku tadi. Aku terlalu gegabah. Aku sudah membuat kami menjadi secanggung ini. Bukan suasana seperti ini yang aku inginkan. Aku sudah melakukan kesalahan dengan menciptakan keheningan yang cukup lama di antara kami. Apa yang Jakko pikirkan tentang aku. Apa itu terlalu terburu-buru.


"Bodohnya aku....." spontan aku memejamkan mata dan membuat gerakan memukul kepalaku sendiri dengan tangan kiriku.


Menyesali kecupan singkat yang membuat ada ruang hening antara aku dan Jakko.


Tanpa aku sadari Jakko memperhatikan yang baru saja aku lakukan, dan meraih tangan ku yang memukul kepalaku.


"Siapa yang mengijinkan tangan ini melukai kepalamu, Ny. Jakko." ucapnya menunjukkan tanganku yang di pegang olehnya.


"Maafkan aku tadi, Jakko" aku menyesali perbuatanku dan menunduk malu.


Jakko membelai lembut ujung kepalaku dengan tangannya.


Aku terbuai dengan sisi lembut Jakko, bagaimana jarinya menyentuh ujung rambutku membuatku jantungku seketika berdetak kencang. Aku merasakan hatiku berdebar debar, bahkan lebih cepat dari sebelumnya.


"Apa yang perlu di maafkan...?" tanyanya.


"Membuatmu tidak nyaman." kataku pelan masih menunduk dengan malu.


"Saya menyukainya, Zie. Saya hanya terkejut dengan perubahan mu." jelasnya.


Aku masih mematung dan tidak bicara.


"Kamu makan apa ,Zie. Di rumahku tidak ada makanan. Kita beli dulu sebelum sampai rumahku." tanya Jakko.


"Apapun, Jakk."


"Sushi..." Jakko menawariku. Aku hanya mengangguk.


Kami baru saja membeli 2 paket sushi. Aku bahkan belum pernah memakannya. Jakko bilang itu adalah makanan kesukaannya.


Kali ini Jakko memperlakukan aku seperti seorang ratu. Dia membukakan untukku pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk, layaknya seorang pelayan kepada majikannya.


Aku tidak pernah di perlakukan seseorang dengan istimewa seperti ini sebelumnya.


Dan di dalam mobil ketika aku kesulitan memasang sabuk pengaman. Jakko dengan sabar meraihnya dan memasangkan sabuk pengamanku. Tanpa kami sadari apa yang baru saja di lakukan Jakko membuat wajah kami hanya berjarak 5cm. Aku menatapnya lekat, begitu pula sebaliknya, untuk beberapa saat kami mata kami saling bertemu. Dan kali ini "cup" kecupan singkat dan manis mendarat tanpa ijin di bibirku.


Mataku terbelalak karena terkejut dengan yang di lakukan Jakko. Dia tersenyum manis di hadapanku. Dadaku serasa mau lepas dari tempatnya, karena detakkan jantungku sudah tak terkontrol.