Love has no Limit

Love has no Limit
Me And My First Love



Aku mematung kebingungan dan tidak bisa berkata-kata. Aku bahagia, sangat bahagia. Laki-laki tampan ini melamarku.


Ini sebuah penikahan. Untuk seumur hidupku. Aku tidak bisa menerimanya hanya karena dia tampan.


Aku tidak tahu banyak tentangnya. Hanya sebatas telpon dan video call. Apa itu sudah bisa menjelaskan sosoknya yang sebenarnya. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa.


"Mom, look at your daughter. She is just silent." kata Jakko memecahkan keheningan yang membuat canggung.


Mamaku hanya menatapnya dan mengangkat kedua tangannya, seolah tidak mau ikut campur dengan urusan kami.


Zielve jalan kearahku dan mengambil alih bagian cuci piring.


"Kak Gigi bicaralah berdua dengan kak Jakko" kata adikku sambil menyenggolkan bahunya ke lengan ku.


Jakko meraih tanganku dan menarikku berjalan keluar dari dapur. Tindakannya yang spontan membuatku semakin terkejut.


Aku pun berjalan ke arah dia menarikku. Kembali aku hanya diam dan hanya menatap lekat pada tangannya yang memegang tanganku.


Jakko menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku.


"Ahhh...I'll remember. No kiss. No Hug. And now you wanna say No touch..." dia melepaskan tanganku dan terkekeh kecil melihatku.


Sejujurnya aku sangat suka dengan bagaimana caranya dia menarik tanganku. Bukankah akan lucu kalau dia meminta ijin dulu padaku untuk menyentuh tanganku. Aku tetap tidak bisa berkata apapun. Entah karena aku malu atau sangat bahagia.


"Dimana kita bicara...?" dia memasukkan tangannya ke kedua saku celananya.


Aku hanya menunduk dan menatap bagaimana tangan laki-laki ini melepaskan tanganku. Dan aku berharap dia tetap memegangnya. Aku hanya tertunduk lesu, menyesalinya. Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa.


"Di sofa itu." jawabku menunjuk kursi yang ada di ruang tamu yang tak jauh dari kami berdiri. Dia segera berjalan kesana dan aku mengekorinya dari belakang.


**


"So, Zie... is my love unrequited" dia duduk dan menatapku bertanya apa dia bertepuk sebelah tangan kepadaku.


"No, Jakk. I will...like you too. But..." akupun menyukainya.


Laki-laki setampan ini, aku sebagai wanita normal sudah pasti akan tertarik karena ketampanannya. Bukan hanya aku, wanita lainnya pun akan setuju dengan ku.


"But..." Jakko mengulangi kata-kataku seolah menuntut ku memberi penjelasan.


"You proposed me ... to be your wife, ini tentang sebuah pernikahan Jak. " terangku.


"Ya, so what's the problem Zie?" dia menatapku dengan senyum manisnya.


"I don't want you to choose the wrong one....just....because you have the heart" aku tidak mau dia salah memutuskan sesuatu.


Aku pun masih tidak percaya. Laki-laki ini datang dari negeri seberang hanya untuk melamarku.


"Come on, Zie. Saya melihat tidak ada masalah disini. Saya cinta kamu ,kamu juga suka saya. Jadi dimana letak masalahnya." Jakko tiba-tiba mengenggam tanganku. Dan tanpa ada penolakan dariku.


"Jak, kita bahkan belum saling mengenal. Kamu tidak tahu bagaimana aku yang sebenarnya dalam keseharianku. Kamu..." belum selesai aku bicara,


"Saya tahu tentang kamu. Mom, Dad and Zielve often talk about you. I know everything about you. All about you. That's why I want mary you" keluarga ku ada dibaliknya selama ini. Aku jadi penasaran seberapa sering mereka berkomunikasi, sampai Jakko bilang tahu semua tentangku.


"Tapi aku tidak banyak tahu tentangmu, Jakk." sambungku.


"Kita baru mengenal Jakko. Baru 3 bulan. Bagiku itu terlalu singkat..." jelasku.


"We talk everyday. Kita bicara setiap hari Zie. Apa itu tidak ada arti buat kamu." Jakko melontarkan pendapatnya.


"Saya tahu...kamu belum siap menikah Zie?" tebaknya dengan senyum manis di ujung bibirnya.


Aku hanya diam dan menggelengkan kepalaku. Aku ingin menerimanya, tapi aku takut melakukan kesalahan. Apa dia orang yang tepat buatku. Aku takut menyesalinya nanti.


"Listen to me Zie, berapa lama waktu yang kamu butuhkan. Tidak, saya akan menunggumu Zie, sampai kamu mau menjadi istri saya. Saya tidak peduli berapa lama itu, asal kamu hanya melihat ke arah saya saja. Saya tidak akan membuat kamu ragu dan meyakinkan kamu." Jakko menggenggam tanganku lebih erat.


Kata-katanya seperti omong kosong bagiku. Dia laki-laki dewasa, mana mungkin dia akan terus menungguku. Dia bisa mencari lagi wanita lain melalui aplikasi kencan itu setelah ini.


Jakko terus menatapku, mengharapkanku mengatakan sesuatu. Tapi aku hanya membisu.


"Mulai sekarang jangan pernah bosan mendengarkan ku setiap hari melamarmu. Because I don't know when you are ready to accept me to be your husband." sambungnya sambil menyodorkan kotak berisi cincin.


"Good talker..." kataku sekenanya.


"No, Zie. Ini karena wanita itu adalah kamu." sekali lagi dia berusaha meyakinkan aku.


Aku mengangkat kedua alisku, seperti sedang menuntutnya memberikan penjelasan yang lebih agar aku bisa menerima alasannya.


"Pakailah cincin itu ketika kamu siap menerimaku." Jakko mengelus lembut punggung tanganku.


Jakko tersenyum dengan manisnya dihadapanku, sebelum akhirnya dia berdiri dan mengangkat kedua tangannya yang di letakkan di kepalanya. Seperti seseorang yang sedang putus asa.


Untuk beberapa saat ada keheningan diantara kami.


"Why..." aku memberanikan diri untuk bicara padanya.


"Hmmm, kamu berkata sesuatu Zie.." tegurnya menoleh ke arahku.


"Kenapa aku, Jakk?" akhirnya aku mengatakannya.


Aku sungguh penasaran. Ada begitu banyak wanita, kenapa aku yang dia pilih untuk menjadi istrinya. Pikiran-pikiran seperti itu masih terus menghantuiku tanpa alasan.


"Because it is you Zie." singkatnya dengan senyumnya yang khas. Aku mungkin bisa merindukan senyuman ini dan pemiliknya nanti.


"Mom, Zie menolak saya." katanya sambil berlalu di hadapanku.


Aku tidak menyangka sedekat ini keluargaku dengan Jakko. Sepertinya justru aku tamu di rumah ini. Setidaknya aku bahagia laki-laki yang baru saja melamarku itu juga sangat menyayangi keluargaku.


*****


(Dua Bulan kemudian)


Kali ini aku tidak akan menyesali apapun yang sudah aku putuskan. Walaupun, sebenarnya ada sedikit kekhawatiran aku harus liburan seperti ini seorang diri.


Tidak masalah buatku. Jakko sudah berjanji akan mendampingiku disana di setiap kunjungan dari Tour yang sudah di pesan olehnya.


Ini adalah ketiga kalinya, aku menginjakkan kaki di Bandara ini. Kali pertama dan kali kedua ku saat itu adalah ketika aku menjemput Jakko datang dan mengantarkan dia waktu kembali ke negeri S. Bedanya kali ini aku yang akan berangkat ke Negeri S dan bertemu dengan Jakko. Laki-laki bersinar itu, aku sangat merindukan senyum manisnya.