
“I’m fine…”jawabku.
Siapapun akan terpesona melihat senyum nya. Dia memanggilku dengan caranya yang lucu. Pantas saja Lana bilang jiwoek sudah seperti seorang adik baginya. Caranya memandangku ini membuat ku kembali teringat akan adikku Veve. Veve juga sering melakukan hal yang sama, memiringkan kepalanya dan bertingkah manja ketikan menginginkan sesuatu dariku.
Iya, Zielve. Aku harus menghubunginya. Hpku…ada di dalam kamar itu. Aku memandang ke sudut pintu kamar tadi. Bateraiku pastinya sudah terisi penuh kan. Lana, aku harus minta tolong pada Lana.
“Lana can you help me?” pintaku meminta tolong dan memandang Lana yang ada di sebelahku.
Lana memahami aku sedang berbicara ke padanya, tapi aku rasa dia tidak mengerti dengan yang aku ucapkan. Karena Lana langsung mengambil Hp miliknya dan mulai mengetikkan sesuatu di sana.
Jiwoek yang menyadari keterbatasan ku dan Lana dalam berkomunikasi, langsung mengambil alih pembicaraan kami.
“What can I help you?” kata jiwoek menanyakan apa yang bisa di bantu untukku sambil merampas Hp milik Lana
Lana tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya terkekeh kecil di hadapan Jiwoek. Aku masih penasaran dengan hubungan kedua orang ini. Cukup unik. Sungguh membuatku semakin ingin tahu.
“I want to contact my family. My cellphone is in the bedroom while it is charging. Maybe now the battery is full.” Aku menjelaskan bahwa Hpku sedang di charger di dalam kamar mungkin sekarang sudah penuh dan aku bisa menghubungi keluarga ku.
“I know…” dia mengangguk menyimak ucapanku. Jiwoek seperti sedang menterjemahkan ucapanku pada Lana.
Lana melihat ke arahku dan tersenyum sambil mengacungkan dua jempol ibu jarinya ke arahku. Sekarang aku yang tidak memahami bahasa isyarat dari Lana. Bukankah aku hanya meminta tolong untuk mengambilkan Hp. Apa ada sesuatu yang salah? Kenapa harus dua jempol. Aku tidak melakukan apapun yang cukup untuk mendapat pujian. Lana berdiri dan masuk ke kamar.
“what does she mean?” Aku menanyakan pada Jiwoek ap aarti dari bahasa tubuh Lana. Kataku sambil menirukan gerakan Lana mengacungkan dua jempol.
“what?...Aaaa…” Jiwoek agak bingung dengan pertanyaanku namun selang beberapa detik dia langsung memahami yang aku tanyakan dengan melihat gerakan jariku yang menirukan Lana.
“That’s because you said you would contact your Family.” Lanjut Jiwoek yang mengatakan karena aku bilang akan menghubungi keluarga ku.
Jiwoek berganti tempat duduk, dia duduk di sebelahku sekarang menggantikan Lana yang baru kembali dari kamar dengan memegang Hpku. Lana menghampiriku dan memberikan Hp itu, aku mengambilnya sambil setengah berdiri.
Aku melihat Xakan memulai pembicaraan dengan bahasa mereka. Lana pun ikut menimpalinya juga. Aku tidak bisa mengerti yang mereka katakan.
Aku terdiam sambil berusaha menyalakan Hpku. Hasilnya nihil, Hp ku tetap mati. Seberapa pun kerasnya aku berusaha menyalakan, Hpku tetap tidak mau menyala. Seperti aku hanya sendiri sekarang, aku tidak peduli dengan orang yang di sekitarku, Jiwoek dan yang lainnya untuk beberapa saat, aku melupakan mereka. Aku hanya focus pada HP ku yang tidak mau menyala, aku seperti di buat frustasi hanya karena Hp ku tidak bisa nyala.
Lalu bagaimana aku bisa memeberi kabar pada keluargaku? Bagaimana aku bisa memberitahu mereka tentang Jakko? Bagaimana aku bisa mengatakan pada mereka agar tidak khawatir padaku? Tanpa aku sadari air mataku menetes dengan sendirinya.
Jiwoek menjadi orang pertama yang menyadari dengan hal yang aku lakukan. Bahkan tanpa meminta ijinku, dia mengambil Hp yang sedang aku pegang. Dia juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Dia berusaha menekan tombol on/off di Hp ku. Sama saja nihil. HP ku rusak, benar-benar rusak. Dan rusak di saat yang tidak tepat.
Hp ku memang sering eror akhir-akhir ini. Tapi waktu itu aku pikir sayang kalau aku harus beli HP baru, uang nya bisa ku buat tambahan sebagai uang saku ku untuk berkunjung ke negara ini. Apalagi setelahnya nanti aku adalah pengangguran.
Aku terdiam duduk di tempatku menyembunyikan kesedihanku mengusap tipis air mata di pipiku, sambil memperhatikan Jiwoek yang ada di sebelahku terus mengutak atik Hpku. Benar-benar rasanya seperti kesialan yang beruntun. Apa mungkin tidak seharusnya aku datang ke negara ini. Sekarang ini aku sungguh menyesali semuanya. Tentang Jakko terutama.
Aku hanya mengangguk lemah, membenarkan bahwa HPku itu memang rusak.
“If I may…let me fix it. I think maybe tomorrow?” Jiwoek meminta ijin dariku untuk membenarkan Hp rusak itu.
Aku tidak ada pilihan lain selain berkata,
"okay"
Jiwoek berbicara dengan Xakan dan Lana kembali menggunakan bahasa mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, Jiwoek memberikan Hpku kepada Xakan. Lana juga ikut mengatakan sesuatu dan dia bersiap untuk pulang, aku rasa seperti itu. Karena Xakan langsung melambaikan tangan padaku. Aku mengangguk kecil. Lana menghampiriku dan mencium pipi kanan dan kiriku. Sambil membuat gerakan tangan dada ke arahku. Jiwoek pun terlihat mengekori mereka.
Aku mencoba berdiri sendiri kali ini, entah apa yang membuatku tidak bisa bertumpu pada kakiku sendiri padahal kakiku tidak mati rasa. Aku coba sambil berpegangan pada sudut sisi sofa ini. Awalnya baik baik saja, aku sudah bisa setengah berdiri, tapi ketika aku mulai melangkahkan kakiku...
"Brukkk..." aku kehilangan keseimbanganku dan terjatuh, bahkan ketika tanganku terus berpegangan pada sisi sofa juga tetap membuatku tidak berdaya. Sebenarnya ada apa denganku?
Jiwoek dari ujung pintu melihat kearahku dan berlari menghampiriku.
"Ziegi what are you doing?" kata katanya setengah membentak. Menanyakan apa yang sedang aku lakukan.
Entah itu rasa khawatir, atau apa? Jiwoek sampai setengah berteriak. Sambil setengah berlari dia menopangku dan meletakkan tanganku di pundaknya melingkar ke lehernya tanpa sungkan. Dia melakukannya seolah kami sudah saling mengenal untuk waktu yang lama.
"Why I can't stand up? even tought my feet aren't numb..." aku masih penasaran, kenapa aku tidak bisa berdiri padahal kakikutiidak mati rasa.
Aku harap ada jawaban yang keluar dari mulut Jiwoek, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Jiwoek hanya diam membisu.
"where are you going?" tanyanya aku hendak kemana sambil menatapku.
Siapapun yang melihatnya, pria berparas cantik ini bisa membuat banyak kaum hawa lupa diri. Ya, jujur aku terpesona.
Sambil menutupi malu, aku membuang pandanganku mencoba menghindari tatapan dengan Jiwoek.
"I want to go..." aku ingin ke kamar, aku menunjuk ke arah pintu kamar.
Sekali lagi, tanpa rasa sungkan Jiwoek tiba-tiba menggendongku tanpa permisi.
"I'm sorry Ziegi..." dia meminta maaf dan terus berjalan menuju arah kamar.
Hatiku seketika dag dig dug tanpa sebab. Aku bahkan tidak bisa membantah, aku juga tidak tahu apa sebabnya. Apalagi yang bisa aku lakukan kecuali menerima dengan pasrah.