
“Mom…” aku memanggil Ibu Jiwoek seperti yang beliau sarankan.
“Yeah, Ziegi…” beliau menjawabku meski masih sibuk dengan segudang makanan yang sudah di bawanya.
**
Kami berdua sangat sibuk menyimpan makanan yang sangat banyak ini. Sebagian isi dalam kulkas kami keluarkan dan kami menatanya ulang bersama.
Ini…bahkan termasuk dalam hal yang tidak pernah aku bayangkan. Aku juga tidak menyangka di dunia ini ternyata ada orang yang sangat mudah akrab seperti beliau. Kami bahkan baru bertemu selama beberapa jam.
Aku sangat nyaman ada di dekat beliau. Kami bahkan bisa seakrab ini sekarang, juga adalah hal yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ah, beruntung sekali Jiwoek memiliki Ibu yang seperti Dewi ini.
Kami tertawa bersama, ya meski sebagian besar yang membuatku tertawa adalah cerita beliau ketika menceritakan setiap kekonyolan yang di lakukan oleh Jiwoek.
Dari cerita beliau pun aku baru tahu ternyata Jiwoek dan Lana dulu waktu kecil tinggal bersama.
“If I may know wheter Lana and Jiwoek are……” aku sengaja menggantung kata-kataku.
Aku takut apa yang aku tanyakan bisa menyinggung, meski aku hanya ingin tanya apakah Jiwoek dan Lana itu benar-benar bersaudara.
“Brothers….? Sisters….?” Beliau menebak kata-kata yang sengaja tidak aku lanjutkan.
“Ummmm, yes I think like that…” aku tersenyum.
“Hahaha….” Beliau malah menertawai pertanyaanku.
Aku pun mengikutinya tersenyum yang kupaksa.
Apakah ada yang dengan apa yang aku tanyakan?
“Do you like Jiwoek?” tebak beliau.
Aku reflek langsung menggelengkan kepalaku. Tapi seketika aku sadar, bisa jadi aku malah mengecilkan hati beliau.
Aku pun sengaja merubah gelengan kepalaku menjadi anggukan agar beliau tidak ada salah paham.
Karena jujur aku justru sangat berterima kasih pada Jiwoek atas semua yang dia lakukan padaku. Aku menerima lebih banyak dari pada yang bisa aku berikan pada Jiwoek.
“Do you love Jiwoek?” tanya beliau lebih serius kali ini. Beliau memastikan apakah aku mencintai anaknya.
Apa jawabanku salah ya?
Seharusnya aku tidak menanyakan tentang hubungan Jiwoek dengan Lana. Ini malah jadi serba salah. Apapun jawaban yang aku berikan justru jadi boomerang buatku sendiri.
Menyukai Jiwoek?
Aku menyukainya?
Iya, seluruh wanita yang pernah melihatnya pasti menyukai Jiwoek. Aku rasa itu semua juga di rasakan oleh wanita kebanyakan di luar sana. Dan aku bukan satu-satunya yang merasakan ini. Bukankah wajar menyukai dan mengagumi karya indah dari sang Maha Pencipta. Pasti sangat bangga memiliki Putra yang seindah dan secantik Jiwoek, wajah tampannya tidak mudah di lupakan.
“ I’m Sorry, Ziegi. I didn’t mean to make you uncomfortable” Beliau menjelaskan di sisa-sisa tawanya.
“Emmmm….hehehe…This is not like which means love. This is more like what all girls and women feel mostly to Jiwoek. Like a fans….like fans who are corious about the lives of their idol.”
Aku pun menjelaskan rasa sukaku ini seperti rasa suka dari fans untuk idolanya, bukan rasa suka yang seperti di bayangkan oleh beliau, bukan rasa cinta yang sesungguhnya. Aku tidak mungkin menghianati Jakko.
“I understand…” singkat jawaban dari beliau malah membuatku, garing.
Bersyukur, beliau bisa mengerti dengan penjelaskanku.
Beliau menjelaskan, bahwa Jiwoek dan Lana sebenarnya bukanlah saudara kandung. Jiwoek bertemu Lana di suatu tempat saat masih kecil, mereka sering bertemu ketika Jiwoek pulang sekolah. Karena Lana adalah seorang yatim piatu Ibunya Jiwoek menawarkan pada Lana untuk tinggal bersama.
Pantas saja Lana pernah mengatakan bahwa Jiwoek sudah seperti adik baginya.
Cukup lama kami mengobrol satu sama lain, makan bersama, merapikan kulkas dan bercanda menertawai masa kecil Jiwoek.
“Grandma…….!!!”
Anak kecil itu tampak begitu senang ketika melihat ibu Jiwoek, tampak seperti anak yang paling bahagia sedunia.
“Are you happy?” Ibu Jiwoek pun menyambut pelukan hangat dari gadis kecil yang menggemaskan itu.
“I’m so happy….grandmha….” jawabnya tak kalah imut. Membuat ku ingin memeluknya juga, dia sangat menggemaskan.
Tapi tunggu dulu, siapa anak ini?
Dari mana datangnya anak ini?
Dengan siapa dia datang?
Bagaimana dia bisa datang kesini?
Dia memanggil ibu Jiwoek dengan sebutan ‘grandma’. Apa mungkin itu artinya gadis kecil yang menggemaskan ini adalah anak dari Jiwoek. Ah, apakah ini rahasia yang seharusnya aku tidak boleh tahu. Ternyata Jiwoek sudah memiliki anak.
“Grandma…..uijhnbkthdvrtvfbginhyu” gadis kecil itu bertanya sesuatu kepada ibu Jiwoek.
Anak kecil itu, terus menatap ke arahku dan sambil menunjukku di sela-sela pertanyaannya.
Meski aku tidak tahu apa arti dari bahasa yang mereka gunakan. Tapi aku yakin yang sedang mereka bicarakan adalah aku. Dan sepertinya gadis ini sedang bertanya tentangku. Sama sepertiku yang juga penasaran dengan gadis kecil yang lucu ini.
“This is Ziegi, introduce yourself…” Ibu Jiwoek menjawab pertanyaan gadis kecil itu dan menyuruh anak kecil dengan pipi sebesar bakpau itu memperkenalkan dirinya.
“Hai, Ziegi’s mother…. “ dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.
Aku pun mengambil jabatan tangannya sebagai tanda berkenalan antara kami. Tapi panggilan Ziegi’s mother ini sedikit mengangguku.
Dia seperti gadis yang sudah dewasa. Aku sangat menyukai gadis kecil ini.
“ My name Varawook…” katanya ketika kami berjabat tangan.
“Vara….her name is Vara….” Ibu Jiwoek menerangkan padaku.
“No….I’m Varawook, grandma…” gadis kecil ini tetap meyakinkan aku bahwa namanya Varawook.
“She wants to be famous like Jiwoek.”
“No, grandma….Jiwoek’s father is mine….” Gadis kecil ini sangat lucu bahkan ketika berdebat tentang namanya.
Tak lama Radovan datang lengkap dengan jacket putih tebal berukuran kecil dan tas anak-anak di tangan kirinya. Ah, rupanya Vara datang bersama dengan Radovan.
Padahal aku masih ingin berlama-lama dengan Vara yang menggemaskan. Ketika melihat Radovan, Vara langsung berdiri dan menarik jari-jari ibu Jiwoek untuk mengikutinya. Sambil terus mengucapkan kata-kata yang aku tidak mengerti karena menggunakan bahasa mereka. Ibu Jiwoek tampak jelas sangat memanjakan cucunya tersebut. Tanpa kata beliau pun bangkit dari duduknya.
Gadis kecil berambut halus sebahu dan berponi tepat diatas alis matanya. Pipinya yang merah menenggelamkan hidungnya yang kecil. Dibawah bibirnya paling kanan ada tahi lalat kecil yang khas dengan wajahnya yang cantik. Sangat lucu meski tidak terlalu mirip dengan Jiwoek, tapi wajah cantuknya ini mengingatkan aku pada seseorang yang aku tidak bisa ingat mirip siapa, seperti seseorang yang tidak asing buatku. Tapi aku lupa siapa.
Dengan terburu-buru karena ajakan sang cucu, Ibu Jiwoek langsung mengambil tas dan outer tebalnya.
“Ziegi, I’m sorry I have to go now. May be next time we can tell story again.”
Beliau meminta maaf karena harus berpamitan dengan cara di tarik-tarik oleh cucunya.
“Ae you coming back today, mom?” tanyaku
Aku pikir beliau akan menginap ketika beliau hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaanku, itu artinya beliau tidak kembali lagi hari ini.
Radovan yang baru saja masuk pun kebingungan dengan ulah si gadis kecil ini. Dan hanya bisa tertawa geli melihat tingkah lucu dari Vara.
“Gigi, I also have to go now.” Radovan pun ikut berpamitan, dia bahkan belum duduk atau bahkan minum sesuatu.
Aku hanya mematung di tempatku, sambil sesekali tersenyum melihat ulah Vara yang menggemaskan.