Love has no Limit

Love has no Limit
First Kiss from First Love



Hatiku berdebar-debar, moment singkat dari Jakko membuatku bahagia. Jakko mengecup singkat dibibirku saat dia membantuku memasangkan sabuk pengaman.


Kali ini aku beranikan diriku membalas kecupan itu dengan singkat pula. Jakko tersenyum tipis dengan ulahku. Dia membelai lembut rambutku, tangannya turun di pipi kanan ku. Kali ini dia sedikit menarikku dan mendaratkan ciuman manis. Jantungku terus berdebar kencang. Ini benar-benar ciuman pertamaku. Apa yang harus aku takutkan, laki-laki ini sebentar lagi akan menjadi suamiku.


Jakko mulai agak kikuk, setelah ciuman tadi. Beberapa saat dia hanya berdiam diri di dalam mobil. Aku pun juga tidak tahu harus berbuat apa. Kami hanya sama-sama saling kebingungan dengan ciuman tadi.


“Buy me a buble drink….” Kataku berusaha senormal mungkin.


“Aaa….eeee…..okay…” Jakko masih sedikit canggung, dia bahkan kesulitan membalas ucapanku. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Jakko mulai mengendarai mobilnya, tanpa berani menatapku. Aku menyukai moment manis tadi, kenapa sekarang jadi secanggung ini. Aku tidak suka suasana ini.


Terjadi keheningan diantara kami. Jakko, laki-laki ini begitu banyak bicara dengan Zielve ketika darang ke negeraku 2 bulan yang lalu. Dia bahkan bermanja-manja dengan papa dan mamaku tanpa ada rasa sungkan, seolah dia mengenal mereka lebih lama.


Sekarang ini kemana hilangnya sosok laki-laki yang begitu ramah itu. Bukankah ciuman tadi harusnya membuat kami bisa menjadi lebih dekat, tapi apa ini malah sekarang dia jadi lebih diam. Aku bahkan masih berdebar-debar sekarang. Membuatku semakin bertanya-tanya.


Apa aku melakukan kesalahan? Apa ciuman itu terlalu terburu-buru? Tadi dia bilang dia menyukai ciuman singkat dariku. Dia bahkan tersenyum cerah tadi sesaat sebelum menciumku.


Apa nafasku bau? Aku menutup mulutku dengan tanganku dan menyisakan sedikit rongga diantaranya dan sedikit meniupkan udara ke tanganku. Tidak ada bau, atau aku tidak bisa mencium baunya dengan benar. Aku memikirkan semua kemungkinan. Aku berkutat dengan pertanyaanku sendiri yang membuatku tidak habis pikir dengan perubahan Jakko ini.


“What buble drink do you want, Zie” tanya Jakko tiba-tiba.


“Up to you,Jakk” aku menjawab tersenyum padanya. Akhirnya dia membuka suaranya.


“aku pikir aku melakukan kesalahan. Sejak tadi kamu hanya diam, Jakk” kataku memberanikan diri.


Jakko meraih tanganku, menggenggamnya erat diantara jari-jari tangannya yang lebih besar dari tanganku. Mengangkat tanganku dan mencium punggung tanganku dengan lembut.


“I’m sorry. Maafkan saya, Zie. “ Jakko menggenggamkan jarinya lebih erat.


“Maaf sudah membuat Ny. Jakko tidak nyaman. Kamu tidak salah, Zie. Hanya saja saya tidak terbiasa tiba-tiba bahagia seperti ini.” Jakko menarik nafas.


“Wanita yang selama ini saya tunggu, ada di hadapanku dan menerima cintaku. Saya bahkan tidak bisa menggambarkannya, Zie. Bagaimana bahagianya saya sebentar lagi akan menikahimu dan hidup denganmu. Saya bahkan berusaha mengendalikan hatiku yang berdetak dari tadi, apa kamu bisa mendengarnya, Zie” sambungnya panjang lebar.


“Apa? Dengar apa?” tanyaku.


“Hatiku yang berdebar-debar.” Jakko menyeringai menggodaku.


“Ucapan mu seperti dalam drama, Jakk” kataku tidak mau kalah.


“Saya bukan penggemar film atau drama Jiwoek. Tapi karena kamu suka, saya jadi ikut penasaran seperti apa film kesukaan Ny. Jakko ini.” Dia tertawa menggodaku.


“Kamu juga lihat film nya Jiwoek?” tanyaku penasaran


“Ya,” dia mengangguk dengan jelas.


Aku terkekeh mendengarnya.


“Daerah ini dekat dengan tempat tinggal Jiwoek.” Katanya sambil menunjukkan bangunan tinggi yang berjajar-jajar berwarna putih.


“Bagaimana kamu tahu, Jakk?” tanyaku.


“Managemen artis yang menanganinya datang ke kantorku untuk mencari apartement tinggal untuk Jiwoek.” Jelas Jakko padaku.


“Benarkah?” kataku.


“Wah…Jakko terkenal juga disini” sambungku


“Tidak, Zie. Saya tidak seterkenal itu. Kantorku sangat kecil ada di ujung jalan ini. Hanya saja management artis yang menangani Jiwoek dulu adalah teman kuliahku.” kata Jakko


“Ooo, aku mengerti sekarang. Dan, apa kamu juga pernah bertemu Jiwoek ?” tanyaku lagi


“Ya, beberapa kali” jawabnya singkat.


“Sungguh…apa dia keren?” tanyaku antusias


“Saya tidak pernah melihatnya, dia selalu menunggu di dalam fan dan selalu mengenakan masker.” Jakko melirik kea rah ku


“Ny. Jakko kenapa kamu terus tanya tentang Jiwoek. Apa kamu datang jauh-jauh hanya untuk Jiwoek.” Sambungnya


“Are you angry, Jakk? Are you jealous?” aku menyenggol lengannya.


“Kenapa kamu begitu suka dengan Jiwoek. Dia hanya anak-anak.” Dia tidak mempedulikan pertanyaanku.


“Tampan aku atau Jiwoek?” Jakko melirik ke arahku


Aku tertawa lepas, apa ini juga dalam hitungan cemburu. Cemburu nya Jakko semanis ini.


“Kau lebih tampan berlipat-lipat kali di banding Jiwoek, Jakko.” Kataku


Jakko tersenyum padaku. Senyuman ini yang selalu membuatku ketagihan untuk melihatnya.


“Are you Jealous, Jakk? Ayolah , Jakk . Aku sudah memilihmu, lihat ini “ aku menunjukkan cincin darinya yang melingkar di jari manisku.


“Ya,Zie. I’m happy today. You are my happiness.” Dia membelai lembut pipiku dengan punggung tangannya.


“Kamu suka Jiwoek, saya juga akan belajar suka Jiwoek.” Sambungnya lagi


“tidak, Jakk. Apa yang aku suka, kamu jangan belajar mengikutiku dan menyukainya juga. Cukuo menerimaku dengan semua kekuranganku. Tidak baik buat hubungan kita nanti. Saling memaksakan diri untuk menyukai hal yang tidak biasa kita lakukan. Hanya akan membuat kita saling tidak nyaman.”


“Very wise, Ny. Jakko. Ahhh… beruntungnya saya akan menikahimu, Zie. Terima kasih sudah menerimaku, Zie.” Dia menyebutku bijak, sekali lagi dia meraih tanganku dan mencium nya lembut.


“Kenapa kamu memilihku, Jakk. Ada begitu banyak rasa penasaran bagiku. Banyak wanita yang tidak kalah cantik dariku, Jakk. Aku bahkan tidak cantik…” belum selesai aku bicara


“Tapi kamu menarik, Zie. Kamu tidak menyadari itu.”Jakko memotong ucapanku.


“Bukankah, ini terlalu singkat, Jakk. Baru sekitar 5 bulan kita saling kenal. Apa ini pantas di sebut cinta. Apa kita tidak terlalu terburu-buru.” Tanyaku


“5 bulan itu hanya angka, Zie. Cinta tidak mengenal angka. Karena wanita itu adalah kamu, zie” Dia bicara dengan tenang. Aku bisa merasakan keseriusan dalam ucapannya.


“Good talker…” kataku singkat memberinya sebutan.


**


“Tunggulah di sini, Zie” ucap Jakko sambil meminggirkan mobilnya ke tepi jalan sejaar dengan banyaknya parkiran mobil yang memanjang.


Aku mengangguk meng-iya-kan perintahnya.


“I’ll buy you a buble drink…” dia melepaskan sabuk pengamannya.


“Saya tahu kamu suka minuman coklat.” Dia tersenyum tipis dan mencium pipiku tanpa permisi. Jakko segera berlalu di hadapanku dan menyeringai sambil berlalu.


Aku melihatnya menyeberang jalan, dan masuk kedalam salah satu toko…bukan…mungkin lebih tepatnya café. Disana kulihat berjejer café penyedia makanan ringan dan minuman.


Jalanan ini cukup ramai di lalui pejalan kaki. Pantas saja jika Jakko membuka kantornya di daerah ini, sejenak aku ikut bangga memiliki Jakko.


Ziegill street, itu yang aku baca di papan petunjuk jalan tak jauh dari tempat jakko memarkirkan mobilnya.


Jakko masuk café yang diatasnya bernamakan “This ICY”. Sebelum masuk dia melambaikan tangannya padaku. Dia mengawasiku, apa dia juga tetap melambaikan tangannya jika aku tidak melihat kearahnya.


Aku tersenyum ke arahnya dan melambaikan tanganku membalas lambaiannya padaku tadi.


Aku berdiam diri cukup lama. Kulihat kearah jam tanganku, sudah setengah jam Jakko belum kembali membeli minuman.


Aku melihat kearah Café yang di masuki Jakko.


Tidak ada tanda-tanda orang keluar dari sana. Cukup bosan buatku tinggal di dalam mobil tanpa melakukan apapun. Aku pikir dia kan cepat tapi, kenapa jadi selama ini. Apa Cafenya ramai? Aku bertanya-tanya. Apa aku menyusulnya saja.


Aku mebuka sabuk pengamanku dan merapikan tas kecil yang kubawa. Aku membuka pintu mobil Jakko dan keluar.


***



Tiba-tiba..


“DUUAAARRRR!!!”


Café yang di masuki oleh Jakko tiba-tiba meledak. Suara ledakan berasal dari café itu.


“This ICY” aku mendengarnya dengan keras. Tubuhku terasa seperti terpental, walaupun aku berdiri di seberang café. Aku terkejut menunduk memegang telingaku.


Berbarengan serpihan kaca-kaca kecil dari café terlontar hingga keluar. Saat itu aku menyadari ledakan itu dari Café tempat jakko membelikanku minuman, aku hanya bisa merasakan kegelapan dan keheningan.