Love has no Limit

Love has no Limit
Traumatic of Love



Aku masih terpana melihat ke arah Jiwoek yang sedang menelpon keluargaku. Dia kembali mengingatkan aku pada Jakko.


Ini seperti dejavu, sebelumnya Jiwoek sudah bilang agar aku tenang dengan pikiran yg positif. Melihatnya berbicara dengan keluargaku membuat aku ingat Jakko. Jiwoek adalah laki-laki kedua yang bisa akrab dengan keluargaku selain Jakko.


Jiwoek mengakhiri panggilannya. Pandangan mata kami bertemu. Aku langsung mengalihkan perhatianku kearah yang berlawanan. Padahal tidak ada apapun di tempat yang aku lihat. Aku yakin Jiwoek menyadari hal itu. Dia berjalan menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku.


"I explained to your family about your situation here and I also told your family not to worry about you...." begitu dia menjelaskan.


Katanya Jiwoek sudah menjelaskan bagaimana keadaanku disini dan memberi tahukeluargaku untuk tidak khawatir.


Aku hanya mendengarkannya, dan mengangguk mengerti.


"But..." sambung Jiwoek menggantung.


Tapi apa?.....pikirku


Jiwoek seperti seseorang yang sedang ragu berbicara.


"What....?" kataku mencoba mencari tahu apa yang hendak di katakannya.


"Emmm..." tambahnya.


“Who is Jakko?” tanya Jiwoek tentang Jakko.


Siapa Jakko?


Jakko...? Dia manusia terindah yang pernah aku jumpai dalam hidupku. Mahakarya paling indah dari sang Pencipta yang pernah di kirimkan kepadaku.


Apa yang bisa aku katakan tentang Jakko? Banyak, tidak akan ada habisnya jika aku harus membahas tentangnya.


Tapi sesak dalam dadaku ini...membuatku tidak bisa berkata apapun tentang Jakko untuk saat ini.


Apa yang sudah mama bicarakan dengan Jiwoek tentang Jakko?


Jakko adalah luka terbesar dalam hidupku. Dia membawa kebahagiaan sekaligus luka buatku. Sungguh aku tidak ingin berbicara apapun tentang Jakko.


Nanar dalam mataku mulai kembali lagi. Air mataku pun sudah menggenangi permukaan mataku yang siap terjun bebas merambat ke pipiku kapanpun. Aku berusaha menahan sakitnya mengenang Jakko. Pandangan mataku semakin memudar akibat mataku yang masih terus berkaca-kaca.


“Okay, maybe next time you can already tell to me your story” Jiwoek menghentikan pertanyaannya tentang Jakko.


Dia bilang aku bisa bercerita padanya lain kali.


Aku rasa Jiwoek tahu dengan apa yang aku rasakan. Atau dia memahami karena reaksiku tadi yang diam membisu tidak menjawab dari pertanyaannya tentang Jakko.


Ketika Jiwoek hendak beranjak pergi, aku masih bimbang harus mengatakan apa pada Jiwoek.


Aku mulai membuka suara,


“Jakko…” suaraku mulai bergetar,


Sambil terus bergumul dengan hatiku, aku kembali menerawang detik-detik saat bersama dengan Jakko.....dan detik berikutnya aku malah terisak, aku bercerita pada Jiwoek tapi menggunakan bahasa dari negaraku. Aku ingin berecerita …tapi susah sekali buatku untukku memulainya. Terlebih lagi, ini karena kesalahanku


Jiwoek menghentikan ceritaku dengan langsung memelukku. Sesekali dia menepuk punggungku. Menenangkanku sambil terus berkata,


“Sorry…I’m sorry Gigi…really I’m sorry….” Jiwoek terus meminta maaf padaku.


“Calm down Gigi, I’m sorry… I promise I won’t ask about Jakko ,…Jakko anymore.” Jiwoek terus berusaha menenangkan aku dan meminta maaf padaku. Dia berjanji tidak akan bertanya tentang Jakko lagi.


“Don’t cry again…I promise I will not discuss this again” Jiwoek terus meyakinkanku untuk berhenti menangis dan dia berjanji untuk tidak lagi membahas masalah ini.


Ini agak berat buatku, jika menyangkut Jakko ada hal yang tiba-tiba memenuhi dadaku. Rasanya sakit. Sakit sekali, tidak bisa di ungkapkan. Jakko, pria indah itu sekarang sudah menjadi bagian dari diriku yang meninggalkan luka yang teramat dalam.


Mungkin karena aku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.


***


(7 hari kemudian)


Hari demi hari sudah aku habiskan di tempat ini. Apartemen mewah yang beratas namakan Jiwoek. Setidaknya walau agak tertatih, aku mulai bisa mengandalkan kakiku sendiri. Tongkat penyangga ini sangat membantuku untuk berjalan. Tidak lagi menggunakan Walker.


Perlahan, aku berusaha agar bisa sembuh. Sudah banyak hal yang bisa aku lakukan sendiri. Aku sudah mencuci piring sendiri. Bahkan untuk memasak hal-hal yang sederhana sudah bisa aku lakukan tanpa bantuan Jiwoek.


Sekarang ini Radovan sering kali mengunjungiku. Dia menunjukkan banyak perkembangan dari dalam diriku. Aku sangat ingin lebih cepat sembuh dari seblumnya. Radovan bilang, yang terpenting bagiku adalah menyembuhkan luka dalam hatiku. Dengan begitu aku akan sembuh dengan sendirinya.


Luka itu atas nama Jakko. Aku masih belum bisa menutupnya. Aku belum bisa sepenuhnya menyembunyikan Jakko di sudut hatiku. Beberapa kali Radovan memberiku teraphi. Katanya agar aku bisa berdamai dengan alam bawah sadarku. Selama trauma dan luka itu masih dominan di alam bawah sadarku, psikomatis ini juga akan terus bersarang dalam diriku.


Selama tidak ada yang mengungkit tentang Jakko, aku bisa hidup normal. Bahkan sekarang aku sedang berkonsentrasi untuk kesembuhanku. Segera setelah aku bisa berjalan, aku akan pulang.


Jiwoek, si aktor tampan ini…


Aku baru yakin Jiwoek adalah orang yang sama seperti yang aku bayangkan, setelah Radovan berhasil meyakinkanku kalau Jiwoek adalah benar si aktor tampan itu.


Ini di luar hal yang aku inginkan. Terdampar di negara ini dan di tolong oleh aktor terkenal…siapa saja tidak akan menyangkanya. Aku bahkan tinggal di rumahnya, di rawat olehnya layaknya keluarganya sendiri. Aku mungkin tidak sanggup mengganti biaya yang sudah di keluarkan Jiwoek untukku.


Sejak kejadian terakhir yang aku lihat, antara Lana dan Radovan. Aku tidak lagi bertemu dengan Lana. Kata Jiwoek Lana sedang melanjutkan proyeknya.


Lana Anniston, sekali lagi aku sudah di buat takjub. Dia adalah desainer sukses untuk sketsa film-film Hollywood. Aku pernah mendengar namanya, tapi baru kali ini aku bisa melihatnya secara langsung.


Ini sungguh menakjubkan untukku. Ada Jiwoek yang akan selalu menjagaku. Lana seorang desaigner dunia yang terkenal. Radovan sang doctor muda yang sangat berbakat. Aku benar-benar di kelilingi oleh orang-orang hebat.


**


***


****


*****


Untuk penggemar Setia Love has no limit,maaf atas keterlambatan saya untuk melanjutkan ceritanya🙏🙏🙏


Saya ucapkan terima kasih sudah menyukai karya saya.😄