
Lana, teman pertamaku dari negara ini. Meskipun aku tidak tahu siapa dia, setidaknya untuk sekarang ini aku bisa mengandalkan nya kan?
Lana menolongku berjalan, dia melingkarkan tanganku ke belakang leher nya, perlahan memapahku dengan bahunya berjalan keluar dari ruangan ini. Sesekali Lana melihat ke arahku, memastikan tidak ada sakit yang aku rasakan ketika berjalan.
Pelan pelan, kami sudah ada di depan pintu agar kami bisa keluar dari ruangan ini. Lana meraih gagang pintu itu. Membukanya segera, meraih ujung pintu tersebut dengan kakinya, sedikit menendangnya agar lebih lebar terbuka.
Aku terpana melihat di luar ruangan ini, sangat berbeda dengan ruangan tempat aku berbaring tadi.
Berantakan! Cukup berantakan.
Lana bisa melihat keterkejutanku. Dia terkekeh kecil dan mengatakan sesuatu. Aku hanya bisa tersenyum padanya. Aku juga tidak paham dengan apa yang dia katakan.
Banyak sekali gantungan baju. Ruangan yang serba putih ini, jadi tidak harmonis dengan kekacauan yang ada di sini. Pun dengan sofanya, disana ada banyak sekali sampah plastik. Banyak sekali sampah makanan di meja depan sofa. Ruangan yang seputih kapas ini jadi tampak ternoda dengan barang barang yang berserakan. Untuk sepersekian detik aku bahkan sudah tidak tertarik dengan keberadaan ku. Siapa itu Jiwoek? Siapa itu Lana? Apa tujuan mereka kepadaku? Semua nya teralihkan dengan kekacauan yang ada di ruangan ini. Aku bahkan lebih penasaran dengan kenapa ruangan ini bisa begitu berantakan? Ada 3 koper terbuka dengan isi yang berserakan. Mungkin akan tampak beda kalau ruangan ini jadi lebih rapi.
Lana mendudukkan aku di sofa. Dia menendang semua yang berada di dekat sofa dan memberi jarak yang cukup kosong di sekitarku. Dia menarik kursi panjang yang warnanya senada dengan sofa ini dan menggabungkan berjajar persis di sebelah sofa tempat aku duduk. Lana meraih kakiku dan membaringkan kakiku di kursi panjang itu agar aku bisa setengah berbaring dengan nyaman.
“No, Lana” aku terlambat untuk mencegahnya melakukan hal itu (membaringkan kakiku di kursi panjang yang sudah di tarik oleh Lana). Aku jadi merasa bersalah padanya, di negaraku ini adalah bentuk dari kesopanan. Dan itu membuatku merasa sungkan. Lana memperlakukan aku seperti orang yang sedang sakit keras.
Seperti tidak menghiraukan dengan yang aku katakan padanya. Lana memutar badannya, mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ini. Mulai mengacak acak ke setiap pakain yang berserakan dan beberapa barang yang sudah berantakan. Aku mulai mengernyitkan alisku. Membuatku semakin penasaran dengan ulah Lana. Kenapa Lana malah mengacak acak ruangan yang bahkan tanpa di acak acak pun ruangan ini sudah kacau balau seperti kapal pecah. Sepertinya Lana sedang mencari sesuatu. Dia terus membuka-buka beberapa tempat yang tertutupi oleh barang dan baju yang berserakan.
“What are you looking for, Lana?” aku bertanya pada Lana tentang apa yang dicari olehnya. Aku sengaja mengatakan sesuatu yang mungkin bisa di pahami nya. Lana kembali tidak menghiraukan aku. Tapi kata-kataku sudah menarik perhatiannya. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum padaku. Terus mencari sesuatu, dia bahkan berjongkok dan menaruh pipi nya yang putih ke lantai, mencari sesuatu yang mungkin bisa tersembunyi di bawah kolong, berpindah dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya. Lana terus bergumam, berkata seorang diri. Lana tahu benar kalau aku tidak paham dengan apa yang dia bicarakan. Kalau saja aku mengerti apa yang dia katakan. Aku juga ingin sedikit berguna dan bisa membantunya mencari sesuatu yang tampaknya sangat penting melihat ulahnya yang seperti itu. Kalau pun aku bisa mengerti apa yang sedang di gumamkan oleh Lana, aku tetap tidak bisa membantunya mencari sesuatu yang berharga itu, karena kakiku tidak berfungsi dengan baik sekarang.
Akhirnya Lana merogohkan tangannya tepat di bawah lemari tempat sebuah Televisi yang sangat besar itu berada. Dan terkejutnya aku, yang Lana cari hanya sebuah remote control. Aku terkekeh kecil. Ada tawa ringan yang sangat manis dari Lana. Mungkin dia lega sudah menemukan remote itu. Dia memandang ke arahku. Mulai menghampiriku dan menyerahkan remote TV itu padaku.
Dia kembali mengatakan hal-hal masih tidak bisa aku pahami. Dia mulai mengambil Hp miliknya dan mengetikkan sesuatu disana. Kali ini sudah di translate dengan bahasa dari negaraku.
“Nikmatilah TV nya, banyak acara yang menarik. Dari pada kamu bosan. Aku akan membereskan ruangan ini.”
Aku membalas apa yang baru saja di tulis olehnya,
“Maafkan aku Lana, Andai saja aku bisa membantumu.”
Lana membacanya dan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kamu meminta maaf, bukan kamu yang menyebabkan kekacauan ini.”
Aku mengetikkan sesuatu agar Lana bisa menjawab rasa penasaranku,
“Siapa yang sudah membuat kekacauan seperti ini, Lana?”
Setelah membacanya, tanpa mengetik Lana tersenyum ke arahku dan menunjuk dirinya sendiri.
“Jiwoek, Xakan dan saya yang telah membuat kekacauan ini” dia tersenyum padaku.
Aku bahkan tidak bisa membalas lagi yang sudah di ketik ole Lana. Aku sedang bermain dengan pikiranku sendiri. Lana mengatakan Jiwoek, Xakan, dan dirinya sendiri yang sudah menyebabkan kekacauan itu. Bagaimana mereka bertiga bisa membuat kekacauan yang membuat ku tidak bisa berkata-kata.
Semoga Jiwoek bisa segera datang dan bisa menjelaskan semua padaku. Bahkan Lana tidak bisa menjawab pertanyaanku. Dia menyuruhku menanyakan langsung pada Jiwoek.
Beberapa saat ada keheningan antara aku dan Lana karena keterkejutanku. Lana meraih Hp milik nya yang sedari tadi aku pegang. Dia mulai mengetikkan sesuatu, menyerahkan padaku dan berlalu dari hadapanku begitu saja tanpa menunggu reaksiku,
“Aku akan membersihkan ruangan ini. Janagn terkejut, Ruangan ini tidak pernah sekacau ini, hanya untuk hari hari tertentu saja. Seperti hari ini. Panggil aku jika kamu perlu sesuatu atau jika ada yang kamu tanyakan.” Aku membacanya seolah dia mengerti dengan arti keheninganku. Aku mengangguk sendiri.
Lana mulai memunguti setiap baju yang berserakan di lantai, di sofa, dan di beberapa gantungan baju yang di taruh asal, Lana menumpuknya dan menaruhnya di dalam koper besar. Aku melihat bahkan di semua baju yang berserakan itu label baju itu masih terpasang di sana. Baju yang masih baru, begitulah menurutku. Lana mulai melipati baju itu satu persatu. Aku tidak akan menganggu Lana lagi.
Aku baru menyadarinya, ternyata selain untuk menghiburku Lana menggiringku ke sini adalah karena dia harus membereskan ruangan yang berantakan ini dan sekaligus menjagaku.
Aku meraih remote yang sudah di berikan Lana padaku. Memperhatikan setiap tombolnya dan mencari tombol power dalam segenggam remote berukuran kotak kecil di tanganku ini. Aku menyalakan TV yang super besar itu, entah berapa inch ukuran besarnya. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat TV sebesar ini. Aku menyembunyikan ketidak tahuan ku dan berdiam diri.
Aku menyalakan TV ini, mengganti di setiap chanel TV yang ada. Aku bahkan mengurutkannya satu persatu. Dan tidak ada satupun dari acara itu yang bisa aku pahami. Kata-kata yang asing, aku tidak mengerti sama sekali. Aku terus memindahkan saluran TV ini. Akhirnya aku hanya menonton film animasi anak-anak, tanpa mengetahui bahasa yang di gunakan sepertinya aku bisa memahami jalan ceritanya hanya dengan gerakan saja dari animasi itu. Lana menghampiriku, dan mengambil remote yang aku bawa. Dia mengarahkan remote itu ke arah TV. Dan di sudut atas sebelah kiri TV itu ada bertuliskan BILINGUAL.
Ah, bodohnya aku di jaman yang sudah secanggih ini, aku tidak memahami hal sekecil ini. Aku merasa malu. Tapi aku terus menonton nya walaupun aku tidak benar-benar tertarik melihat acaranya.
Di sela-sela kesibukan Lana yang sedang membereskan ruangan ini, dia masih mengajakku berkomunikasi. Lana bilang dia tidak ada hubungan keluarga dengan Jiwoek.
Dia mengenal Jiwoek sejak Jiwoek masih sekolah. Jiwoek sudah seperti adik buat Lana. Adik?... aku sedikit tercengang. Bagian ini juga yang susah aku cerna? Aku bahkan harus menanyakan berulang pada Lana, memastikan aku tidak salah mengartikan yang dia ketik. Iya, benar Lana 5 tahun lebih tua di bandingkan Jiwoek.
Aku tidak mempercayainya, Lana terlihat seperti adik bagi Jiwoek jika aku lihat dari penampilannya. Dia tampak jauh lebih muda di banding Jiwoek. Tapi jika dipikirkan lagi, mengingat yang dia lakukan padaku. Pantas saja sikapnya padaku tadi seperti seorang kakak yang lembut.
Seperti seorang kakak? Dan aku terus memanggilnya Lana. Di negaraku ada sebutan khusus untuk memanggil seseorang yang lebih tua. Dan tidak sopan jika hanya memanggil seseorang yang lebih tua dari kita hanya dengan namanya saja. Bagaimana caraku mengatakan pada Lana, kalau aku ingin memanggilnya kakak? Mungkin nanti atau entah kapan akan ada waktunya mengatakan pada Lana.
Jiwoek dan Lana memang dalam hubungan bekerja sekarang ini. Dia memastikan apapun keperluan Jiwoek harus bisa di atasi dengan benar. Termasuk membersihkan ruangan yang berantakan ini adalah tanggung jawabnya.
Lana bahkan menyuapi aku makan siang ini.
Dia tidak mengijinkan aku memegang sendok, selama beberapa saat kami hanya saling memperebutkan sendok. Tidak ada dari kami yang saling mengalah. Tanganku masih bisa aku gerakkan dengan baik, bahkan ketika aku bersikeras menutup rapat mulutku agar Lana tidak bisa menyuapiku. Kami bahkan saling berkata dengan bahasa kami masing-masing walaupun kami saling tidak mengerti satu sama lain dengan apa yang kami katakan. Hanya karena makan. Akhirnya kami saling tertawa bersama. Aku yang mengalah, aku membiarkan Lana bertindak layaknya seorang kakak pada adiknya yang sedang sakit.
***
Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Tepat saat itu Jiwoek pulang dengan seorang laki-laki Jangkung di sebelahnya dengan wajah setenang air. Laki-laki jangkung itu membawa kedua tas yang tadi bawa Jiwoek ketika berpamitan padaku. Siapa lagi laki-laki ini? Laki- laki jangkung itu menaruh kedua tas yang ada di tangan kanan dan kirinya dengan kasar. Meletakkan kedua tas itu begitu saja. Dan berjalan di salah satu sudut ruangan ini di belakang aku duduk, tanpa sadar mataku mengikuti ke arah laki-laki jangkung itu berjalan. Dia mengambil air mineral yang berjajar rapi di salah satu rak yang ada di samping kulkas dan langsung meminum air mineral tersebut.
Jiwoek berjalan ke arah ku, mengambil air mineral dengan asal yang ada di meja tepat didepan sofa tempat aku dan Lana duduk sekarang ini. Dia mengambil botol air mineral milikku, aku memandanginya, seolah tidak peduli denganku, dia meminum habis isi dari botol air mineralku.
Bukankah terlambat kalau aku mengatakan pada Jiwoek sekarang jika yang di minum olehnya barusan adalah air mineral milikku. Cara dia mengambil botol itu, membuka tutup botol dan meminumnya sudah secepat kilat. Aku mengendalikan diriku sendiri dan tidak mengatakan apa-apa. Mungkin Jiwoek pikir itu milik Lana. Tapi pikiranku terpatahkan, karena berikutnya Jiwoek mengambil lagi botol minum milik lana, dan menenggak habis isinya. Sepertinya dia kehausan. Bukan kah Kulkas ada tidak jauh dari tempat Jiwoek berdiri saat ini. Tanpa aku sadari aku menoleh ke belakang tempat kulkas itu berada. Seolah sama acuh tak acuhnya dengan laki-laki jangkung itu, Lana juga tidak menegur yang baru saja dilakukan oleh Jiwoek? Bukankah dia bilang tadi Jiwoek sudah seperti adik baginya?Aku tidak bisa memahami isi pikiran mereka. Semakin banyak pertanyaan di kepalaku.
Jiwoek duduk di atas meja segera setelah mengahabiskan 2 botol air minum sisa milik ku dan milik Lana. Dia memandang ke arahku dan bertanya,
“Are you okay, Ziegi?” Jiwoek memiringkan kepalanya menatap lekat ke arahku dari tempat dia duduk.