
Aku berusaha sebisa mungkin untuk melakukan apapun untuk diriku sendiri. Aku bahkan mencuci pakaian yang sudah aku pakai dan menjemurnya di tempat Jiwoek menjemur dalaman miliknya. Setidaknya aku tidak banyak merepotkan Jiwoek lagi.
Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit aku melangkah dengan Walker ini. Tanganku sangat lelah menahan tubuhku sendiri. Tidak mungkin jika berat badanku bertambah. Aku masih bisa bertahan. Aku harus bisa berjalan dengan kakiku sendiri. Aku harus pulang. Aku harus kembali ke negaraku. Berkumpul kembali dengan keluargaku.
Sampai di ambang pintu kamar mandi, agak kesulitan buatku membuka pintunya karena harus terhalangi oleh Walker ini. Sedikit lagi, aku harus berusaha. Dengan alat ini aku tidak harus bergantung terus dengan Jiwoek. Aku menggeser sedikit Walker ke samping agar aku bisa membuka pintunya.
Klek...
Akhirnya… ada kelegaan setelah aku berhasil membukanya. Aku tersenyum bangga. Ini pertama kalinya aku merasakan kebanggaan pada diriku sendiri.
“Gigi…” Jiwoek menyadari aku yang telah selesai dari kamar mandi, dengan agak tergopoh-gopoh dia berlari kecil menghampiriku.
“Why you don’t call me?” Jiwoek bertanya kenapa aku tidak memanggilnya.
Tidak ada jawaban dariku.
Aku hanya tersenyum, dan menunjukkan bagaimana aku bisa melakukannya sendiri dengan bantuan yang dia berikan.
Untuk kesekian kalinya. Jiwoek meraih Walker dari ku, dan menyingkirkan alat itu kemudian menggendongku.
“You have to eat breakfeast….”Jiweok bilang aku harus sarapan dulu.
Ini benar-benar seperti anak kecil. Apa aku jadi seseorang yang tidak bisa mengurus diriku sendiri. Tidak mudah bagiku, membiarkan seseorang merawat dan menyediakan semuanya untukku seperti ini. Karena aku adalah wanita yang mandiri. Sangat mandiri.
Jiwoek kali ini tidak membawaku ke atas tempat tidur lagi. Dia membawaku keluar dari kamar ini. Dan, ketika Jiwoek membuka pintu, disana sudah ada Lana dan Radovan.
Apa yang harus aku lakukan, aku malu jika mereka melihatku sedang di gendong oleh Jiwoek seperti ini. Sebelumnya Lana hanya membantuku berjalan dengan cara menuntunku. Apa yang nanti akan mereka pikirkan. Mereka pikir, mungkin aku mengambil kesempatan dan memanfaatkan Jiwoek. Atau bisa jadi mereka akan berpikir bahwa aku wanita yang manja. Oh…tidak. Aku tidak boleh menimbulkan kesalah pahaman.
“Jiwoek, let me down….” Aku meminta Jiwoek untuk menurunkan aku. Tapi sepertinya Jiwoek tidak menghiraukan perkataanku.
Tapi sepertinya Lana dan Radovan tidak terlalu peduli dengan keberadaanku dan Jiwoek. Mungkin sebaiknya aku tidak harus mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.
Lana dan Radovan duduk di sofa yang berada di depan TV dan mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Lebih seperti dua orang yang sedang berdebat. Aku bisa melihat dari mimik muka mereka berdua. Jiwoek melaluinya begitu saja, sepertinya dia sudah tahu apa yang sedang terjadi antara Radovan dan Lana.
“What’s wrong with them?” aku menanyakan pada Jiwoek ada apa dengan Radovan dan Lana.
Jiwoek mendudukan aku di kursi yang ada di sisi pilar dekat dengan dapur. Tapi dari tempatku duduk sekarang ini aku malah bisa melihat dengan jelas Radovan dan Lana yang sedikit bersitegang.
“Nothing, It’s their business.” Jiwoek bilang tidak ada apa-apa, karena itu urusan mereka berdua.
Ya, memang itu bukan urusanku, itu urusan mereka berdua.
Tapi aku penasaran. Ada apa dengan mereka berdua?
Apa hubungan mereka berdua?
Apa yang sedang mereka bicarakan?
Jiwoek memberiku hidangan yang sepertinya sudah di siapkan dari tadi. Roti isi telur. Aku tidak membiasakan diriku untuk sarapan. Aku tidak pernah sarapan. Aku baru memulai makan ku di jam 12 siang. Ya seperti itu rutinitasku biasanya. Sekarang tiba-tiba aku bertemu orang baru dan di layani layaknya tuan putri seperti ini membuatku tidak nyaman. Aku terbiasa melakukan semuanya sendiri.
Tapi Jiwoek sudah menyiapkannya, aku tidak boleh mengecewakan Jiwoek dia sudah bersusah payah membuatnya.
“Thank you, Jiwoek.” Aku berterima kasih pada Jiwoek atas Roti isi telur yang sudah dia buat untukku.
Aku mengambil piringku, menariknya agar lebih dekat dengan jarakku untuk makan. Tapi walaupun aku sudah memulai sarapanku. Mataku tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku dengan apa yang terjadi antara Radovan dan Lana. Sambil makan begitu pula dengan mataku yang terus memperhatikan ke arah Lana dan Radovan yang saling berdebat.
“Ah…nothing” jawabku pada jiwoek. Aku bilang padanya tidak ada, maksudku tidak ada yang aku perhatikan. Aku tahu itu bohong.
“Really…” Jiwoek terkekeh kecil. Menemukan sikapku yang salah, dia tahu aku berbohong.
Jiwoek mengambil kursi dan di dekatkan padaku. Sekarang kami duduk saling berhadapan. Aku tepat bisa melihat Lana dan Radovan yang saling bicara dengan jelas di depanku. Dan Jiwoek duduk memunggungi Lana dan Radovan. Seperti Jiwoek memang sengaja menghalangi pandanganku.
“I don’t know why I’m so corious about what they are talking about. Maybe it’s because they use language that I don’t understand.” Akhirnya aku mengakuinya.
Aku katakan pada Jiwoek, aku tidak tahu kenapa aku begitu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, mungkin karena mereka menggunakan bahasa yang tidak dapat aku pahami.
Aku rasa itu satu-satunya jawaban yang tepat. Karena ini tidak seperti diriku. Aku orang yang selalu tidak mau ikut campur dengan masalah orang lain. Tapi kali ini berbeda, ada sebagian besar dari diriku yang menarik diriku sendiri untuk penasaran dan ingin tahu tentang orang lain. Sungguh tidak seperti diriku yang biasanya.
“Their conversation will end.” Kata Jiwoek pembicaraan antara Lana dan Radovan akan segera berakhir.
Aku hanya terdiam mendengar ocehan Jiwoek. Dan Jiwoek melanjutkan lagi,
“Look, Lana will talk while screaming….”
Lihat, sebentar lagi Lana akan bicara sambil berteriak. Begitu ocehan dari Jiwoek.
“And Radovan , he will leave this room.”
Dan Radovan dia akan pergi meninggalkan ruangan ini.
Ucapannya malah memancingku untuk lebih penasaran. Aku memiringkan sedikit kepalaku agar aku bisa sedikit melihat apakah yang di katakan oleh Jiwoek benar.
“Arghhhhhh….” Tiba-tiba Lana berdiri dari duduknya dan berteriak.
Jiwoek masih mengoceh di hadapanku
“Lana will go follow him” katanya Lana akan pergi mengikuti Radovan pergi.
Benar saja, Radovan setelah mendengar Lana berteriak dia langsung pergi meninggalkan Lana yang sedang marah. Bahkan tidak peduli bagaimana Lana terus memanggil namanya.
Brakk!!
Radovan keluar dari rumah Jiwoek dengan tergesa-gesa dan membanting pintu. Sepertinya Radovan juga sangat marah.
Lana akhirnya mengambil tas ransel miliknya dan pergi dengan terus memanggil nama Radovan….tanpa pamit. Mungkin mereka lupa kalau masih ada aku dan Jiwoek yang bisa mendengarkan mereka yang sedang bersitegang.
Bagaimana Jiwoek bisa menggambarkan apa yang akan terjadi pada Lana dan Radovan? Apa Jiwoek ini seperti seorang yang bisa membaca pikiran atau orang yang mampu melihat kejadian yang akan terjadi? Atau memang kejadian seperti ini sudah sering terjadi hingga Jiwoek sangat hafal dengan apa yang terjadi?
Seolah tahu dengan apa yang aku fikirkan. Jiwoek akhirnya menjelaskan.
“They both love each other, but they are equally ashamed to admit. Everytime they meet they fight. Their relationship ended because Radovan left Lana and preferred his master’s degree in medicine. This happens often."
Antara Radovan dan Lana, mereka saling mencintai satu sama lain, sayangnya mereka sama-sama saling gengsi untuk mengakui perasaan masing-masing. Setiap kali mereka bertemu dimanapun mereka pasti bertengkar. Hubungan antara mereka berakhir karena Radovan pergi meninggalkan Lana untuk gelar masternya di bidang kedokteran. Dan ini sudah sering kali terjadi.
Ah…ternyata tentang kisah cinta mereka berdua. Harusnya mereka bersyukur karena masih bisa saling bertemu satu sama lain. Bagaimana denganku, Jakko aku kehilangan senyum indahnya. Aku bahkan sudah tidak lagi bisa bertemu dengan Jakko.
Jiwoek menuangkan minum untukku, sebelum dia membereskan sarapannya yang sudah habis dan beranjak pergi dari hadapanku.