Love has no Limit

Love has no Limit
My First Love Edmund Jakko



Akhirnya hari keberangkatanku datang juga, liburan yang hampir tiap hari aku bayangkan. Walaupun ini adalah pengalaman pertamaku berkunjung keluar negeri, tidak ada keraguan sama sekali dalam hatiku untuk pergi.


"aku sangat beruntung" gumamku.


Tidak semua orang akan mendapatkan kesempatan seperti yang aku alami. Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya, kali ini akan kugunakan dengan sebaik-baiknya.


Mungkin ada baiknya aku harus berterima kasih langsung kepada Edmund Jakko, pria bule keturunan asal negeri N yang menetap di negeri S. Dialah yang membiayai Tour ku ke negeri S, untuk bertemu denganku.


***


Aku berkenalan dengan Jakko melalui aplikasi kencan yang sedang viral di negaraku saat itu. Menurut profil yang di cantumkan oleh Jakko, dia adalah seorang CEO di bidang properties. Tapi bagiku profil bisa di isi apapun seperti yang di kehendaki oleh si pemilik akun. Bisa jadi dia berbohong tentang statusnya hanya untuk menarik perhatian lawan jenis.


Dari semua akun yang mengirimiku pesan dan email, tidak ada satupun akun yang pernah aku balas. Karena aplikasi tersebut berbayar, dan untuk berlanggalan dalam sebulannya aku harus merogoh uang sejumlah dengan biaya makan siangku selama 15 hari. Oleh karenanya aku hanya bisa membaca email dan pesan yang masuk tanpa bisa membalasnya.


Dan dari semua akun, hanya akun milik Jakko yang rajin tiap hari nengirimiku pesan dan email.


(hari pertama) "hi, lady "


(hari kedua) "hi, angel"


(hari ketiga) "nice to meet you, Zie" dia mulai berani menyebutkan namaku


(hari keempat) "hello my future half, I'm looking for lady"


(hari kelima) " i guess i start to feel to you so strong"


(hari keenam)" why you never reply..."


(hari ke tujuh) " we can talk..."


Tidak lama setelah itu notifikasi dari aplikasi ini pun berdering dan itu adalah panggilan pertama ku dari aplikasi kencan tersebut.


Secara asal aku menerima panggilan tersebut, ajaibnya aku bisa mendengar suara


"hallo"


harusnya aku tidak bisa menerima panggilan ini, karena aku tidak memiliki coin untuk membayar panggilan tersebut.


"hallo" balasku tanpa memikirkan bagaimana aplikasi tersebut eror karena aku bisa menerima panggilan


"hai, Zie.It's me Jakko."


aku masih tidak bisa percaya, aku bisa mengobrol dengan salah satu pemilik akun dari aplikasi tersebut.


"Ya, Jakko....I remember you..." kataku menegaskan bahwa aku mengingat sang pemilik suara di seberang sana


"You send message every day" sambungku.


"Really..you know me, but never reply to my message" dia menegurku karena aku tidak pernah membalas pesan nya.


"I'm sorry for that..." aku menjelaskan padanya aku tidak bisa membalas pesannya karena aku tidak bisa membayar berlangganan di aplikasi tersebut.


Akhirnya aku pun tahu , ternyata yang membayar panggilan itu adalah Jakko.


Hal itu lama kelamaan menjadi rutinitas dalam keseharian ku. Kami bahkan sudah tidak menggunakan aplikasi itu lagi, Jakko menghubungiku langsung via chat email dan menelpon di no pribadiku.


Malam sebelum aku tidur, dia berangkat kerja, dia makan, di pergi jalan jalan. Hampir di setiap kesempatan dia menelpon atau video call.


Cukup sering dia mengirimi kami paket hadiah entah itu baju ataupun makanan.


Keluarga ku pun jadi menyukainya. Dan belakangan dia menelpon ku berbicara dengan menggunakan bahasa dari negeri asalku.


"Hai Zie, kamu sudah makan?" tanya nya tiba tiba suatu hari


"Belum, hei bagaimana kamu bisa berkata dengan menggunakan bahasaku. Katakan padaku siapa yang mengajarimu?"


"Slowly Zie, I don't understand what do you talking about. I'm still learning to use the same language as you." dia tidak paham dengan apa yang aku bicarakan barusan, dan dia masih belajar menggunakan bahasa yang sama denganku. Sungguh terharu bagiku.


Ada rasa yang mulai menggelitik hatiku.


Apakah aku boleh berharap lebih dari ini.


**


Dua bulan yang lalu dia datang ke negeri ini, hanya untuk bertemu denganku.


Awalnya aku takut berhubungan dengannya, karena aku tidak mengenalnya sama sekali. Atau lebih tepatnya karena dia berasal dari tempat yang sangat jauh dari tempatku. Aku jadi lebih waspada. Karena selama ini aku mengenalnya hanya via telepon.


Pria jangkung dengan garis wajah yang tegas, dan bibirnya yang tipis itu selalu terukir senyum dalam wajahnya. Rambutnya rapi terbelah diatas alis diantara matanya, sesekali dia menyisir rambutnya dengan jari tangan seolah itu memang menjadi kebiasaannya. Sikapnya yang sangat jelas menggambarkan semua yang akan dilakukannya. Jakko orang yang sangat ramah, dia ramah kepada siapa pun yang di temuinya. Bahkan dia selalu tersenyum kepada siapapun. Begitulah gambaranku tentangnya ketika kami bertemu saat itu.


(Bandara Udara)


Hari kedatangan Jakko ke negaraku. Dia datang ke tampat yang jauh ini hanya demi melihatku dan bertemu dengan keluargaku.


Aku yang hanya bekerja sebagai SPG di salah satu Mall terbesar di kotaku, terpaksa harus mengambil hari libur untuk menjemput Jakko, laki-laki yang sudah lebih dari tiga bulan belakangan ini dekat denganku.


Aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku ke bandara udara ini sepanjang 20th hidupku selama ini. Ini adalah pertama kalinya bagiku,ada sedikit kegugupan oleh karenanya aku mengajak Zielve adikku untuk menemaniku,lagipula Zielve juga mengenal Jakko. Untuk bertemu Jakko,aku sudah berusaha sebaik mungkin dalam penampilanku.


Hatiku terus berdegup dengan kencang bahkan sebelum dia datang. Aku teringat dengan apa yang dia katakan sehari sebelumnya


"will you marry me, Zie?"


Aku masih bergelut dengan pikiranku sendiri, meskipun bandara ini sangat ramai, tapi tidak seramai seperti hati dan pikiranku.


" Hai, Zie" dia melambaikan tangannya ke arahku bahkan sebelum aq mengenalinya.


Aku masih dalam kebingungan di tempatku berdiri dan tidak percaya, laki-laki gagah nan tinggi itu datang menghampiriku. Inikah mahakarya sang pencipta yang sempurna. Laki-laki bernama Jakko yang bersinar karena ketampanannya ini tersenyum sedang berdiri di depanku dan dengan sedikit membungkuk untuk sejajar dengan wajahku.


"Hai, Jakk.It's me Zielve" adikku menyapanya lebih dulu dan menyelamatkan aku dari speechless yang memalukan.


"Hai, lil sis...saya sudah bisa bahasa for a little. Let's talk with bahasa." balasnya dengan canggung.


Aku memahaminya ini pertama kalinya bagi kami bertemu secara langsung.


Aku menyodorkan tangan ku untuk berjabat tangan.


Jakko meraihnya dengan senyum manis dan mencium lembut punggung tanganku.


"No kiss. No Hug" kataku refleks menarik tanganku dengan apa yang dilakukannya.


"Really...only for you ...or maybe..." dia menggantung kalimatnya sambil melirik ke arah adikku. Entahlah,sepertinya mereka punya rahasia yang aku tidak boleh tahu.


***