
“I want to tell you my story….” Kata ibu Jiwoek
Beliau bercerita kisah yang hampir sama denganku. Tentang pengalaman pribadinya.
Dulu Ayah Jiwoek pernah berjanji akan mengajaknya pergi ke Caracas untuk menikah.
Tapi selama berhari hari di tunggu ayah Jiwoek tak kunjung datang. Kemudian tidak lama berselang ada telp. yang mengabarkan bahwa Ayah Jiwoek meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika berkendara hendak menjemput ibu Jiwoek.
Bahkan Keluarga dari ayah Jiwoek juga menyalahkan Ibu Jiwoek untuk kematian ayah Jiwoek.
Saat itu Ibu Jiwoek sedang mengandung Jiwoek, dia sangat terguncang dan dalam kondisi sama sepertiku sekarang.
Beliau juga menangis dan menyalahkan diri sama sepertiku.
Tapi itu tidak berlangsung lama,
“Everything will have a time…Gigi” semua akan ada waktunya.
Sekitar 2-3 bulan sebelum Jiwoek lahir, beliau melawan rasa bersalahnya. Karena Beliau harus hidup untuk Jiwoek kedepannya. Mendidiknya dengan baik. Karena Jiwoek adalah harta paling berharga dalam hidupnya.
“You don’t have to delete Jakko from your life. You don’t have to forget Jakko. Remember him as the most beautiful memories of your life, Gigi. Don’t make him sad with your condition now. I’m sure if Jakko is still alive, Will he be happy to see you like this?...No, Gigi. I think he will be sad to see you in this condition.”
Kata ibu Jiwoek, aku tidak harus menghapus Jakko dari hidupku. Aku juga tidak harus melupakan Jakko.
Aku harusnya mengingat Jakko sebagai kenangan yang paling indah yang pernah aku miliki dalam hidupku. Jangan membuat Jakko sedih dengan keadaanku yang sekarang.
Beliau malah menegaskan, jika Jakko masih hidup apakah dia akan bahagia melihatku seperti ini?...Tidak, Jakko pasti sedih melihat wanita yang di cintainya dalam keadaan yang seperti ini.
“But, if Jakko didn’t meet me….” Aku menyela nasehat yang di berikan ibu Jiwoek padaku.
Kalau saja Jakko tidak bertemu denganku.
“It’s Destiny, Gigi. Death is a destiny from God. No one can get past it. Even though Jakko didn’t meet you. If indeed it was Jakko’s destiny, death was still his destiny.” Ibu Jiwoek dengan telaten memberiku pengertian.
Ini adalah Takdir katanya. Kematian adalah takdir dari Tuhan. Siapapun tidak ada yang bisa melawannya. Walaupun Jakko tidak bertemu denganku, kalau memang saat itu adalah takdir kematian Jakko tidak ada yang bisa merubahnya.
Aku terisak dan semakin dalam larut dengan kesedihan milikku.
“Listen to me and remember this…” Beliau menghapus air mata di pipiku. Meyakinkan aku mendengarkannya dan mengingat apa yang akan di katakannya untuk bisa sekuat beliau.
“Gigi, from now on, stop blaming yourself. You did nothing wrong. You also deserve to be happy, enjoy the slightest happiness around you.”
Beliau berkata, mulai sekarang aku harus berhenti menyalahkan diri sendiri. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku juga berhak bahagia. Nikmati kebahagiaan sekecil apapun di sekitarku.
“Remember this…..You only came at the wrong time and place.” Beliau terus mengulang kata-kata yang sama sambil memelukku.
Katanya, aku hanya datang di waktu dan tempat yang salah. Dan ini semua bukan kesalahanku.
Benar, aku hanya datang di waktu dan tempat yang salah.
Kata-kata itu cukup memberiku banyak pesan untuk menghargai setiap detik kehidupan yang aku miliki. Jakko masih tetap di tempatnya. Tempat paling istimewa dalam hatiku.
**
“Kak, ayo makan…” Veve membangunkanku.
Ah aku kesiangan…ini karena aku banyak menangis semalam.
Ibu Jiwoek….dia benar-benar seperti malaikat. Aku sangat tenang semalam ada dalam pelukannya.
“Baiklah, aku mandi dulu….”kataku beranjak dari tempat tidur.
“Eh, dimana kamar mandinya?”sambungku pada Veve yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
“Di setiap kamar di rumah ini ada kamar mandinya. Apa kamu harus tanya tentang itu? Aku sedang menikmati hari-hari menjadi orang kaya disini….hahaha…” candanya seperti biasa.
“Tapi nggak keterusan ya…” ingatku pada Veve
“iya ….iya ….cepat mandi semua sedang menunggumu.”
Aku pun pergi dari hadapan Veve.
Aku mengingat satu hal, aku tidak membawa baju ganti. Aku sudah memakai baju ini seharian kemarin, aku bahkan memakainya saat tidur. Apa aku harus pakai baju ini lagi? Ah, Veve…
“Veve pinjami aku bajumu, aku harus ganti baju." kataku pada Veve.
"Jiwoek sudah membawakanmu baju. Itu ada di atas lemari dekat pintu kamar mandi.” Veve menunjuk kearah pintu kamar mandi.
Ya, benar saja di sana sudah tertata rapi baju polos lengkap dengan celana panjang seperti yang biasa aku kenakan. Dari mana Jiwoek mendapatkan ini? Aku berhutang lagi pada Jiwoek.
Aku berjalan menuju kamar mandi dan mengambil baju ganti yang sudah di siapkan oleh Jiwoek, begitu kata Veve.
Aku harus berterima kasih padanya nanti, semoga dia sudah tidak marah lagi padaku seperti kemarin. Aku menarik dengan asal kaos dan celana yang di lipat dengan rapi.
Alhasil aku menjatuhkan sesuatu di bawah baju ini….arghhh… itu dalaman untukku.
Ya Tuhan….ini tidak mungkin Jiwoek yang menyiapkannya bukan?
Aku tahu ini bukan pertamakalinya Jiwoek menyiapkan hal-hal semacam ini.
Tapi apa dia akan bilang sama semua orang kalau dia sangat hafal dengan ukuranku untuk hal yang satu ini. Ini hal.yang memalukan untukku. Mana mungkin aku bersikap masa bodoh kalau ada yang tahu.
“Ada apa kak?” tanya Veve melihat sesuatu yang jatuh di lantai.
Aku segera mengambilnya dan berharap veve tidak melihatnya.
“Apa itu kak? Bra kakak ya…?”Veve melihatnya,
tidak seharusnya kamu melihatnya Veve. Kamu harusnya keluar tadi. Aku sedikit malu mengakuinya.
“Tunggu dulu kak, apa Jiwoek juga menyiapkan itu….?” Veve malah bertanya padaku.
“Enggak, tadi aku lihat mama hanya melihatmu dari pintu karena papa melarang mama masuk. Papa nggak mau mama malah menangis dan membangunkanmu kak… itu bukan mama kak….” Kata Veve mendebatku.
“Dan Mom? Siapa Mom? Tante Loudres? Memang dia menemanimu semalaman, tapi tadi pagi dia ….. rasanya nggak mungkin kak. Itu pasti Jiwoek, yang masuk kesini tadi cuma Jiwoek…..” Veve akan terus seperti itu jika aku tidak masuk kamar mandi.
Jiwoek sukses membuatku salah tingkah di depan adikku sendiri pagi ini.
**
Ini sarapan pagi yang baru bagiku. Ada Ibunya Jiwoek, ada Vara, Jiwoek, mamaku, papaku Veve dan pagi ini ada Xakan.
Katanya semalam Xakan datang untuk menjemput Jiwoek tapi karena terlalu larut malam, Xakan menginap dan akan pergi pagi ini setelah sarapan dengan Jiwoek.
Lalu aku? Apa aku harus ikut Jiwoek kembali, tidak bisakah aku disini bersama keluargaku?
Hei, kenapa aku harus tanya pendapatnya?
Aku tidak ada hubungan apapun dengan Jiwoek, jadi kenapa alam bawah sadarku merasa harus mengikutinya?
Radovan pagi-pagi buta sudah pergi meninggalkan Caracas. Untuk kembali bekerja.
Semua mata menuju kepadaku dan menanyakan keadaanku. Aku meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Aku sangat bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik.
Masakan sarapan pagi ini, masakan khas dari negaraku.
Jiwoek dengan senyumnya, dia bilang,
“ Enak….” Seperti biasanya.
Veve menyenggol sikuku,
“lihatlah kak, dia tampan sekali.” Setengah berbisik kepadaku, mengagumi Jiwoek yang tampan.
Mamaku yang ada di sampingku menimpali…
“Jiwoek memang tampan….”
Apa yang mereka bicarakan ini di tengah-tengah waktu makan, bersyukur Jiwoek tidak akan mengerti apa yang kami katakan.
“Thank you, Ma…I’m tampan.” Jiwoek menimpali ucapan kami yang kami kira dia tidak tahu.
Tahu dari mana dia arti Tampan itu apa?
Dan berakhir dengan tawa.
Veve mengajakku duduk di halaman depan kami bercerita tentang ini dan itu. Lebih tepatnya tentang Jiwoek yang sangat Ganteng menurut versi Veve.
“Kak, apa kak Gigi gak kena serangan jantung tiap hari liat orang ganteng gitu.”
Aku menggeleng dan mengangguk. Aku terlambat menyadari kalau dia aktor yang justru selama ini aku idolakan.
“Aku baru menyadari dia adalah Jiwoek yang aku idolakan setelah beberapa hari aku tinggal di rumahnya,”kataku pada Veve.
“ya ya ya aku yakin otak kak Gigi ada yang rusak.”
Aku terkekeh mendengarnya. Mungkin memang ada yang salah dengan diriku.
“Kalau aku pikir-pikir Jiwoek itu tingkahnya sudah kayak suamimu kak….Kalian pacaran ya…” Veve menggodaku.
“Zielve….”tegurku
“mmm….semuanya tentang kakak dia yang urus, kemarin dia yang jadi orang pertama yang langsung gendong kakak waktu pingsan….papa cuma manggil-manggil aja….Gigi…Gigi…” jelas Veve.
Dia nggak tau aja, Jiwoek uda berulang kali seperti itu tanpa permisi, aku nggak heran.
“kalau di pikir lagi….dia nih aktor…peduli banget sama orang yang nggak dia kenal….atau jangan-jangan dia suka sama kakak….hahaha…”Veve terus menggodaku.
“Kamu yang suka Jiwoek, mau mastikan Jiwoek ada hubungan apa sama kakak gitu kan? Enggak ada Ve" kataku
“Tapi…sampai hal paling pribadi kakak dia yang siapin. Coba kakak pikir apa orang akan sedetail itu perhatiannya. Apalagi dia nih aktor lho kak…”
Yang di katakan Veve ada benarnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang di omongin muncul.
Jiwoek tiba-tiba berdiri tepat di depanku.
Veve dengan sikapnya yang salah tingkah langsung pergi meninggalkan aku dan Jiwoek.
“I want to go now, Gigi.” Jiwoek duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Veve.
Aku hanya mengangguk. Apa dia mau mengajakku ikut dengannya?
“Woek, I’m sorry…”aku ingin meminta maaf padanya tentang kemarin, aku nggak mau ada salah paham dengan Jiwoek.
“Sorry for what? You stay here, Sunday I come here. Make sure your phone is active.”
Jiwoek menyuruhku tinggal disini, katanya hari minggu di kembali. Dan dia berpesan agar aku tetap memastikan hpku aktif.
Jiwoek menyodorkan Hp milikku.
Aku mengangguk mengerti.
“Okay… I want to go now, take care my princess…”
Jiwoek mengecup keningku sebelum pergi.
Tanpa permisi seperti biasanya….
My princess, ini agak nggak biasa di telingaku.