
“Hai, Mom….hdaguaygfiuah”
Entah apa yang di katakan Jiwoek. Aku hanya sebagai penonton kali ini. Sesekali dia tersenyum ke arahku. Senyumnya yang cantik seperti tokoh ampan yang sempurna dalam komik. Dan secara tiba-tiba Jiwoek menyodorkan HP miliknya ke arahku.
Aku mengerutkan alisku, merasa apa yang di lakukan Jiwoek barusan di luar hal yang bisa di duga.
“My mom, want to talk with you.” Ibunya ingin bicara denganku.
Deg…deg….deg….deg…
Aku menerima telp dengan perasaan yang gugup dan tidak bisa ku jelaskan.
“Me…”aku bertanya kepada Jiwoek untuk meyakinkan lagi.
Jiwoek hanya mengangguk, menyuruhku menerima telpon tersebut.
“Halo…” aku memulainya, ada perasaan bergetar yang lain yang sukar untuk aku jabarkan.
“Halo…Ziegi. Are you okay?” suara yang renyah dari seberang telpon sedang menanyakan kabarku, seolah kami sudah saling mengenal sebelumnya.
“oh…aaa….ya…I’m fine.” Aku menjawabnya dengan kikuk
“Are you nerveous…?” beliau ini, sangat terbuka sekali.
“oh…a…emmm” aku bahkan tidak bisa berkata-kata, meski hanya untuk menjawabnya.
Untuk beberapa menit aku mengobrol singkat dengan ibunya Jiwoek. Orangnya sangat ramah, bahkan berusaha membuatku nyaman untuk berbicara dengan beliau.
Tak lama setelahnya, Jiwoek pun pergi meninggalkan aku yang hanya sendiri di rumah. Sekarang tidak ada lagi rasa gugup untuk menyambut kedatangan ibunya. Maksudku tidak segugup tadi pagi, sebelum aku mengobrol singkat dengan beliau. Sekarang aku bahkan sangat menantikan kedatangannya.
**
Sekitar satu jam setelah Jiwoek pergi, Xakan dengan tergopoh-gopoh masuk dengan sangat kasar. Menaruh beberapa tas yang penuh dibawa oleh tangan kanan dan kirinya.
“yaghedugaiuguieaguea” Xakan mengatakan sesuatu yang aku tidak mengerti. Aku bangkit dari dudukku, mengambil tongkat penyanggaku. Aku ingin menawarkan bantuan pada Xakan, tapi biasanya Xakan akan menolak apapun batuan yang aku tawarkan.
Dan di belakang xakan ada wanita paruh baya dengan gaya yang sangat sederhana tapi tampak stylish, modis, fashionista dan sejenisnyalah. Bahkan Lana yang seorang desaigner saja tidak secantik ini saat berbusana. Wanita dengan rambut yang di ikat rapi ke belakang dan menggulungnya dengan rapi pula diantara sela rambut yang terikat. Dengan setelan sepatu boots selutut dan di padukan dengan mantel tebal di bagian krah bermotif bulu lembut dengan warna gelap senada dengan warna sepatu boots yang di kenakan. Tak lupa kacamata hitam besar menutupi kelopak mata yang tak terlihat. Sekilas tampak sederhana, tapi jika di perhatikan lebih seksama seperti barang mewah.
Aku masih mematung di tempatku ketika beliau tersenyum ke arahku seketika saat melihatku. Senyumnya sangat cerah dan secantik senyum milik Jiwoek. Pantas saja Jiwoek begitu tampan, jika melihat ibunya yang terlihat mirip seperti seorang kakak bagi jiwoek ini, Siapapun akan setuju kalau Jiwoek memiliki wajah yang rupawan itu turunan dari ibunya yang secantik Dewi.
“Hai Ziegi…” beliau menyapaku duluan dan berjalan menghampiriku yang masih diam mematung.
Aku pun tersenyum melihat beliau yang begitu welcome menerimaku keberadaanku yang tak terduga. Belaiu dengan tangan terbuka memelukku tanpa canggung. Aroma tubuhnya seperti aroma ibu. Meski terlihat lebih muda dari yang aku bayangkan, pelukan hangat dari beliau ini sungguh menenangkan dan yang aku sukai adalah bau ibu dari beliau ini tidak dapat aku ungkapkan.
“Mom,….” Xakan memanggil beliau sama seperti bagaimana Jiwoek memanggil ibunya.
“Ya…” jawab ibu Jiwoek menoleh ke arah Xakan dan melepaskan pelukannya dariku.
“jusjrfieskjiofjdhudrbfc….” Kembali Xakan mengatakan hal yang tidak dapat aku mengerti.
Aku hanya melihat ibu Jiwoek mengangguk-angguk. Dan melambaikan tangannya pada Xakan bahkan sebelum Xakan pergi.
“Gigi… I want to go now…” Xakan berpamitan padaku. Aku pun hanya mengangguk. Aku tahu dia pasti terburu-buru untuk ke lokasi pemotretan Jiwoek.
“ejhhseioj … Xakan” selain kata Xakan tidak ada satupun yang aku mengerti.
Ibu Jiwoek melihat ke arahku, Xakan berpamitan dengan terburu-buru tanpa mempedulikan lagi antara aku dan ibu Jiwoek.
“Ummmm, yeah” jawabku singkat dengan di iringi anggukan keras.
“With my Woek?” tanyanya lagi memastikan apakah aku makan bersama dengan Jiwoek.
Aku mengangguk lagi.
Ibu Jiwoek mulai sibuk memilah-milah barang bawaan yang tadi sudah di bawakan oleh Xakan. Aku menghampirinya, dan menawarkan bantuan.
“Can I help you, ….eee….” aku bingung harus memanggil beliau apa?
“Mom…” kata Ibu Jiwoek seolah menjawab kebingunganku. Dan sekaligus menyuruhku memanggilnya seperti itu.
“Mom…” aku mengulang yang di katakan oleh ibunya Jiwoek.
Ibunya Jiwoek menoleh ke arahku dan memberiku 2 tas yang paling kecil diantara semuanya. Aku menerimanya dan menunggu instruksi selanjutnya dari beliau. Ibu Jiwoek mengangkat tas paling besar dan membawanya kearah dapur. Aku ingin membantunya tapi kakiku masih menghambatku, aku berjalan masih terpincang-pincang.
Aku membawa 2 tas yang di berikan padaku tadi dengan tangan kiriku. Aku mengikuti ibu Jiwoek menuju kearah dapur. Aku menaruh kedua tas itu di samping meja tempat aku dan Jiwoek biasa makan. Sedangkan ibu Jiwoek masih berusaha membuka tas yang paling besar itu. Sepertinya isi tas itu terlalu banyak sehingga susah untuk membukanya. Aku menghampiri beliau dan menekan sedikit ke dalam isi tas tersebut, ibu Jiwoek tersenyum ke arahku. Seolah mengerti dengan apa yang aku maksudkan setelah aku menekan isi tas tersebut. Sedikit demi sedikit tas tersebut bisa terbuka.
Dan rasa penasaranku terbayarkan ketika aku melihat banyak sekali makanan yang ada dalam tas itu. Sebegitu banyaknya?? Di taruh mana? Kulkasnya sudah penuh. Ibu Jiwoek mengeluarkan satu-persatu isinya. Semua sudah tertata rapi di dalam box kotak makanan.
Setiap beliau mengeluarkan satu makanan, beliau akan bilang,
“This is Jiwoek’s favorite food…..”
“Jiwoek likes to eat this….”
“Jiwoek loves to eat this….”
“This is Jiwoek’s favorite….”
“Jiwoek really like this….”
“This one Jiwoek likes……”
Semuanya kesukaan Jiwoek, beliau mengeluarkan satu-persatu sambil mengatakan setiap kotak makanan itu semuanya tidak ada yang terkecuali, semua kesukaan Jiwoek.
Aku bertanya-tanya makanan apa saja itu. Sebegitu banyak, berapa hari Jiwoek akan menghabiskannya. Aku menghitung dengan singkat, dalam tas tersebut total ada 12 kotak makanan. Dan sekarang aku penasaran dengan isinya.
“Eat all this food with Jiwoek. I hope you can eat this food….emmm… no no no…. I hope you can like this food.”
Ibu Jiwoek menyuruhku untuk memakan semua makanan kesukaan Jiwoek ini bersama dengan Jiwoek. Beliau berharap aku bisa memakan makanan tersebut dan semoga aku menyukai makanan yang di tujukan untuk Jiwoek semua.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk menjawab setiap ucapan Ibu Jiwoek.
“All of this food is a gift from a neighbor’s mother at home for Jiwoek. They are fans of Jiwoek since Jiwoek was a child.”
Katanya semua makanan yang di bawa oleh ibunya Jiwoek adalah pemberian dari tetangga ibu Jiwoek yang diberikan khusus untuk Jiwoek. Karena mereka adalah penggemar Jiwoek , bahkan ketika Jiwoek masih kecil.
Jadi sejak kecil Jiwoek memang asli sangat tampan. Penggemar Jiwoek bahkan ketika Jiwoek masih anak-anak.
“I often even looked like a stepmother when I had to argue with Jiwoek and the neighbours always defended Jiwoek from me. They always say Jiwoek is a sweet kid.”
Dengan diiringi tawa renyah, Ibunya Jiwoek menjelaskan bahwa beliau lebih terlihat seperti ibu tiri jika bersama Jiwoek dan harus berdebat dengan Jiwoek, maka para tetangga siap menjadi tameng bagi Jiwoek dari ibunya tanpa di minta.
Keterkejutanku tidak cukup sampai disini, ketika ibu Jiwoek membuka satu-persatu kotak makanan isinya seafood. Dan hampir semuanya seafood. Sepertinya Jiwoek penggemar makanan laut.