Love has no Limit

Love has no Limit
Holiday with my First Love



Edmund Jakko, nama laki-laki itu terus ada di benakku. Aku terus bergumam mengingat bagaimana dia berkata


"Because it is you Zie"


Aku bisa tersenyum sendiri ketika mengingatnya.


Jakko bilang karena itu adalah aku. Dia melamarku karena wanita itu adalah aku.


Belakangan ini aku terus mengingat semua tentang Jakko.


"Will you marry me.." kata-kata ini sekarang begitu nyata buatku. Bagaimana aku tidak merasakannya, jika setiap hari Jakko menghubungiku dan menanyakan hal yang sama setiap hari.


Aku pikir setelah kunjungannya 2 bulan yang lalu dia tidak akan menghubungiku lagi. Mengingat bagaimana aku hanya diam membisu, dan memberikan alasan yang seperti di buat-buat waktu itu.


Aku bahkan membodohi diriku sendiri dengan membuat Jakko menunggu. Aku memang bodoh waktu itu, tidak bisa melihat ketulusan Jakko padaku. Mamaku bilang, sebagai wanita alangkah bagusnya jika kita di cintai. Seharusnya aku bersyukur, Jakko mencintaiku dan sangat tulus padaku juga keluargaku. Zielve adikku sudah menceritakan semuanya padaku. Bagaimana Jakko terus bertanya tentangku di belakangku. Tentang keseharianku dari pagi hingga malam.


Cincin ini akan menjadi saksi, aku tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan menjadi Ny. Edmund Jakko. Aku tidak sabar melihat reaksinya ketika aku mengenakan cincin. pemberian dari nya.


**


Rombongan dari Tourku kali ini hampir separuhnya adalah mereka yang berasal dari negeri S tersebut. Terlihat jelas bagaimana mereka saling menyahut satu sama lain dengan menggunakan bahasa ibu dari negeri S. Aku sungguh tidak bisa memahami apapun yang mereka bicarakan. Jakko akan membantuku jadi penterjemah disana. Aku terkekeh dalam hati.


Kali ini rasanya benar-benar sendirian. Tidak ada yang mengantarku. Papaku sedang bekerja, mamaku pun hanya melepasku dari balik pintu rumah. Adikku Zielve sedang sekolah. Begitu pun dengan beberapa temanku yang tahu akan keberangkatanku ke negeri S. Mereka juga sedang bekerja. Dan dari semuanya, yang mereka katakan sama


"Sampaikan salamku buat Jakko." Bagaimana Jakko bisa jadi sepopuler ini,pikirku.


Bandara ini,sangat sibuk. Banyak orang berlalu lalang dengan tergesa-gesa. Bahkan tidak jarang yang kulihat mereka berlari lari dan kebingungan membawa koper mereka sendiri.


Tidak jauh dari tempatku menunggu terlihat seorang bapak membawa berkotak kotak makanan yang sangat susah untuk dibawa olehnya seorang diri. Kenapa tidak ada yang membantunya, pikirku. Sejenak aku cukup ikut merasakan bagaimana uletnya seseorang berkerja hanya untuk mencari uang.


Aku seperti sedang berkaca untuk diriku sendiri. Ketika Bapak itu sedang berjuang untuk mencari uang, sedangkan aku disini malah berhenti dari pekerjaanku. Sesekali aku melihat ke arah jari manisku, karena di situ ada yang bertengger dengan manis sebuah cincin dari Jakko.


***


Aku mengikuti bagaimana rombongan ini berjalan dan menuntunku menuju pintu keluar. Hampir 9 jam, aku duduk manis dalam pesawat. Waktu yang lumayan panjang untuk bisa bertemu dengan Jakko. Tidak masalah bagiku.


Cahaya yang sangat terang dari Bandara ini tidak mudah menuntunku untuk bisa segera bertemu dengan Jakko. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh Bandara ini. Tanpa aku menyadari bagaimana bersih, rapi dan tertibnya tempat ini, berbeda dengan Bandara dari tempatku berasal.


Aku melihatnya, dia berdiri sejajar dengan arah jarum jam 11 dari tempat ku berdiri. Jakko melambaikan tangannya kepadaku. Memakai jaket kulit berwarna hitam dan di padukan dengan celana kain berwarna sama. Dia masih Jakko yang sama, bathinku. Edmund Jakko yang jangkung dengan perawakan yang tegas. Senyumnya, aku sangat merindukan senyum itu. Aku tidak pernah melihat senyuman semanis senyum dan tawa milik Jakko. Hanya saja dia memangkas habis rambutnya di bagian atas telinga. Laki-laki itu masih bersinar dengan gaya rambut seperti itu.


"Arghhh,aku benar-benar terpesona olehnya."pikirku


Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum kearahnya. Jakko berlari kecil menghampiriku, dan melihat kearah jari manisku. Dia tertawa dan memutar badannya sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya. Dengan senyumnya yang cerah dan tanpa meminta ijinku, Jakko meraih tanganku kemudian berkata


"Well, Zie will you marry me?"aku bahkan tidak sanggup menjawabnya karena malu, ada banyak mata yang memperhatikan kami.


Aku hanya tersenyum kearahnya. Sejalan dengan pikiranku sepertinya Jakko memahami arti dari senyumku tadi. Sekali lagi tanpa meminta ijinku Jakko menarikku ke dalam pelukannya. Begitupun dengan aku yang seolah tidak ada penolakan dariku dengan apa yang dilakukan olehnya.


Sesaat aku tenggelam dalam pelukannya sebelum sempat aku membalasnya.


Beginikah aroma tubuh Jakko, wangi maskulin ini akan selalu aku ingat.


"Welcome to my Life my Queen." Ucapnya meraih tanganku dan mencium punggung tanganku tepat dimana cincin itu berada.


Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Aku bahkan tidak terlalu memperdulikan orang yang lain.


Seperti inikah rasanya yang di bilang banyak orang serasa dunia milik berdua. Aku baru saja merasakannya. Tanpa ragu Jakko menggandeng tanganku.


Seorang guide datang dan memberi arahan kepada rombongan kami. Aku tidak mengerti bahasa mereka. Jakko menjelaskan padaku, Guide akan membawa ke hotel tempat kami menginap, setelah itu adalah jam bebas kami dan berkumpul kembali ke hotel jam 7 malam untuk makan malam.


"wanita ini akan ikut bersamaku, aku akan mengikuti kalian dari belakang dan mengantarnya ke hotel" Jakko mengatakan sesuatu kepada sang Guide.


Dan si Guide itu hanya mengangguk ke arah kami.


"Nama nya Miss Amare" bisik Jakko kepadaku dengan raut wajah menunjukkan ke arah sang Guide.


"Miss Amare..." ucapku mengulang dengan lirih tanda aku memahami yang dia maksud.


"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Jakko dengan lembut padaku.


"kemana?" jawabku mengulang pertanyaannya.


"apa ada tempat tertentu yang ingin kamu datangi?"


"aku tidak tahu manapun yang terkenal di negeri ini, kecuali film dan drama dari negeri ini sangat sering aku lihat." jawabku tak kalah lirih dengannya.


"Drama Jiwoek..." tebaknya.


Aku tersenyum tipis. Menerka dari mana lagi dia tahu tentang ini kalau bukan dari Zielve.


"Bagaimana kalau kita datang ke area apartment milik Jiwoek, siapa tahu nanti kamu bisa bertemu dengannya." katanya menggodaku.


Belum selesai kami berbicara, sang guide sudah menggiring rombongan yang lain untuk masuk ke sebuah bis di ujung pintu keluar bandara ini. Jakko menarikku untuk mengikutinya dan membukakan pintu mobil serupa dengan sedan berwarna abu-abu.


"Mobilmu, Jakk" tanyaku


"Ya, Nyonya Jakko" dia menyeringai menggodaku.


Aku tersipu mendengarnya, seperti yang aku bayangkan Ny. Edmund Jakko.


"Setelah dari hotel, kita kemana Zie?" tanya Jakko


Aku diam beberapa saat, sebelum akhirnya kujawab "ke tempatmu."


"Ke tempat saya?!" Jakko seperti tidak percaya dengan yang aku katakan.


"Heeemmmmm" aku mengangguk.


"Zie, kamu tidak salah mau datang ke tempat saya"ulangnya


"Iya, apa ada yang salah dengan ingin datang ke tempatmu? " tanyaku


"Seorang wanita datang ke tempat laki-laki itu berbahaya, Zie"


"Apa kau akan memakan ku?" tanyaku


"Saya laki-laki normal Zie, tidak ada yang bisa. saya prediksi kalau kamu datang ke rumahku. Saya bisa benar-benar memakan kamu"


"Kamu sudah berjanji kepadaku Jakko, sebelum kita menikah kamu akan menjagaku seperti yang aku mau."kataku datar.


"Saya, memang sudah berjanji Zie, tapi saya sendiri takut tidak bisa mengendalikan diriku." jawab Jakko


"Apa di rumahmu ada wanita, kenapa berbelit belit tidak mau membawaku kesana?Apa yang salah dengan aku ingin tahu tentang kehidupanmu" kataku kemudian.


"ya, ada wanita...itu kamu, Ny. Jakko" dia tersenyum manis ke arahku.