Love has no Limit

Love has no Limit
My First Love left Me



Pandanganku mulai kabur, karena air mata yang sudah membanjiri di pipiku. Aku sungguh menyesali semuanya. Andai saja aku tidak memintanya membelikanku minuman. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa. Ada yang kosong dalam hatiku. Penyesalan, kemarahan, kesedihan, dan syok. Hanya itu yang tersisa dariku saat ini.


Edmund Jakko, aku harap masih ada kabar baik. Aku bahkan belum pernah mengatakan padanya kalau aku mencintainya. Dengan waktu yang sesingkat ini aku tidak tahu apa itu cinta. Yang aku tahu hanya aku bahagia ada di sampingnya.


Aku menutupi mataku dengan kedua tanganku, karena air mata ku sudah tidak lagi bisa aku kendalikan. Ketika aku terus terisak, Laki-laki yang cantik itu menghampiriku. Dan menyodorkan ku sekotak tissue. Dia mengarahkan sekotak tissue itu ke lengan kananku. Aku membuka mataku, menoleh kearah kotak tissue itu dan menerima kebaikannya.


“Thank you” kataku sambil mengambil tissue dari laki-laki ini.


Sesekali aku melirik ke arahnya. Laki-laki berkulit putih dengan bibir tipis ini seperti nya tidak asing buatku. Seperti aku pernah melihatnya. Aku lupa pernah melihatnya dimana. Apa ini yang sering di bilang banyak orang tentang Dejavu. Apa kali ini yang aku rasakan ini bisa di bilang sebagai dejavu.


“Why are you crying ?” dia bertanya padaku kenapa aku menangis sambil meraih sebotol air mineral tak jauh dari tempatku berbaring.


Aku masih terisak, dan mengusahakan sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara ketika menangis. Karena sekarang aku bahkan tidak tahu aku ada dimana? Kenapa aku ada di sini? Siapa laki-laki ini? Kenapa dia membantuku? Kenapa dia menolongku? Ada begitu banyak pertanyaan.


Sekarang ini bagiku hanya perlu mengetahui bagaimana keadaan Jakko.


“How is the café?” tanyaku menanyakan bagaimana keadaan café itu.


“Booommmm, This Icy exploded, as you saw before you fainted.” Dia bilang café itu meledak seperti yang aku lihat sebelum aku pingsan.


Air mataku kembali jatuh. Aku mengusapnya segera sebelum jatuh lebih banyak.


“What’s you relationship with that Caffee ?” tanyanya sambil membantuku bangun dan bersandar pada bantal yang di tata oleh laki-laki ini tepat berada di belakang punggungku. Dia melakukannya tanpa ada rasa canggung. Aku pun menerima perlakuan itu dengan canggung.


Aku tidak menjawab pertanyaan nya, aku masih berkutat dengan kesedihanku sendiri.


“What about all the people in the caffee?” aku menanyakan bagaimana keadaan orang orang yang ada di dalam cafe.


Kali ini dia yang tidak menjawabku, malah mangambil kursi dan di dekatkan di bibir tempat tidurku sekarang. Seperti seseorang yang sedang mengunjungi pasien yang sedang sakit.


Dia mengambil hp milik nya dari saku celananya, mengutak atik hp nya sendiri dan tidak terlalu mempedulikan pertanyaanku.


Laki-laki ini menyodorkan Hp miliknya ke arahku. Memformat semua nya ke dalam bahasa Inggris. Aku menerimanya, dan membacanya.


The governor’s THIS ICY caffee exploded. It has not been found yet where the source of the explosion came from. Police are still steeped in the motive for the explosion. Allegedly due to problems of political competition. Took many lives….


Berita di artikel itu menyebutkan bahwa This Icy café milik gubernur meledak tanpa tahu dari mana sumber ledakan berasal. Polisi bahkan masih mencari motif dari meledaknya café milik sang Gubernur setempat. Di duga kuat karena masalah persaingan politik.


Belum selesai aku membacanya, aku segera mengganti judul dari pencarian di internet melalui Hp milik laki-laki ini.


‘name of the victim at the THIS ICY caffee’


Seketika muncul beberapa artikel tentang berita nama-nama dari korban jiwa di Café THIS ICY. Aku membaca nya dengan tergesa-gesa. Aku masih berharap tidak ada nama Jakko disana. Aku teruskan membaca artikel aku mengurutkan namanya dan mencoba seteliti mungkin.


Jianbin, Tawi mickors, Imari Diego, Kyle Smith, David Ganoe, Abraham, Jamie Dave, Edmund Jakko……


Aku belum selesai membacanya. Tapi aku sudah menemukan ada nama Jakko disana. Sekali lagi aku mencari artikel yang lainnya. Bisa jadi artikel itu masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Ada 11 orang meninggal pada kejadian ledakan di café itu,5 orang lagi luka-luka. Mereka yang luka-luka di duga sedang melintas di depan café ketika café tersebut meledak.


Masih ada nama Jakko disana, begitupun ketika aku membuka semua artikel karena rasa penasaranku. Di semua artikel nama Jakko tetap ada. Aku masih berusaha menipu diriku sendiri.


Aku melepaskan Hp itu tanpa sadar dan menutup wajahku dengan kedua jariku. Aku benar-benar masih tidak bisa mengendalikan diriku. Aku terisak sejadi-jadinya kali ini. Tanpa memikirkan ada orang lain di ruangan ini selain aku.


Aku membuka selimut yang menutupi separuh tubuhku dan mulai beranjak bangun dari tempat tidur. Tapi ketika aku menapakkan kaki ku ke lantai ini, langkahku gontai. Aku tidak bisa berdiri dengan benar. Apakah ini karena efek aku masih lemas. Aku melihat keseluruh tubuhku. Tidak ada luka pada diriku. Lalu apa yang membuatku terjatuh bahkan ketika aku hanya berusaha berdiri.


Laki-laki itu hanya memperhatikan ku tanpa berusaha menghentikanku. Aku sudah tidak lagi peduli dengan apa yang dia pikirkan. Aku masih menangis meski tidak bersuara. Kenapa secepat ini. Aku masih belum bisa menerimanya. Ak uterus bergumul dengan pikiranku sendiri.


Laki-laki itu mendekatiku berjongkok sejajar di hadapanku, mulai memapahku mengembalikan aku ke atas tempat tidur.


“Where are you going? Let me help you..” Laki-laki itu dengan sabar merebahkan aku kembali ke tempatku, bersandar pada tempat tidur.


“I want to go to the bathroom.” Ucapku dengan nada bergetar.


“ okay…” sekali lagi dia membantuku. Kali ini dia membantuku berdiri dan menarikku ke dalam tubuhnya. Dia mengangkatku dan memapahku berjalan kearah kiri dari tempat aku berbaring. Aku merasakan sedikit kecanggungan dariku. Diantara kesedihanku, mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang asing membuatku tidak nyaman.


“why I can’t walk well?” Aku mengeluh padanya, berharap dia mau menjelaskan sesuatu padaku. Tapi dia hanya diam dan terus menuntunku kearah kamar mandi.


Dia membuka pintu kamar mandi. Kamar madi yang seluruh ruangannya berwarna putih. Semuanya sudah tertata rapi. Hanya saja di ujung jendela besar yang menghadap ke luar ada berjajar dengan rapi pula dalamn milik pria yang harusnya tidak aku lihat. Sepertinya laki-laki ini juga tidak peduli aku memperhatikan kearah diman dia meletakkan jemuran di ujung jendela kamar mandi ini. Dia menduduk- kan aku di sebuah kursi tanpa sandaran. Sepertinya dia sudah menyiapkan kursi ini disini untukku.


Dia tersenyum tipis kearahku dan berkata


“Call me when you are done.” Dia menyuruhku memanggilnya ketika aku sudah selesai.


Sebelum dia menjauh, aku bertanya kepadanya…


“Eeemmmm…what’s your name?” ucapku menanyakan namanya.


“How can I call you, If I don’t know your name.” sambungku menjelaskan kenapa aku menanyakan Namanya.


Dia tampak keheranan dengan pertanyaanku. Dia sedikit menggelengkan kepalanya kekanan. Kembali tersenyum tipis kepadaku.


“Jiwoek” jawabnya singkat.


“Ah.. Jiwoek. I call you if I done” jawabku enteng.


Tapi… Jiwoek…Jiwoek… Jiwoek. Aku kembali mengingat-ingat. Namanya terdengar seperti aktor tampan dari negara ini. Aku sering melihat film yang di perankanya.


Jiwoek, Jiwoek, aku mengulang namanya lagi.


Jiwoek!!!


Aku mengagetkan diriku sendiri.


Apa dia orang yang sama yang sedang aku pikirkan. Apa laki-laki barusan benar-benar si aktor itu. Pantas saja aku seperti pernah melihatnya sebelum ini. Atau mungkin hanya kebetulan dia tampak sama dengan sang aktor. Tapi bagaimana Namanya bisa sama juga.