Love has no Limit

Love has no Limit
Love, Why I'm here ?



Walau dengan ijin yang masih belum aku setujui, Jiwoek tetap menggendongku tanpa peduli apa yang aku rasakan. Canggung.


Deg deg deg deg....


Dengan posisi kepalaku yang sejajar dengan bahunya, mau tidak mau aku harus menarik sedikit baju bagian belakang yang di pakai Jiwoek.


Aku hanya diam, tidak berani bergerak barang sedikit. Kaku, bahkan dalam jarak sedekat ini aku tidak berani menatap Jiwoek.


Berbeda dengan Jiwoek, dia malah dengan entengnya menggendongku tanpa sungkan. Apalagi yang bisa aku lakukan, untuk sekarang ini aku hanya bisa mengandalkannya.


Seketika aku teringat akan Jakko, andai Jakko yang ada disini. Bukan kah gak adil buat Jakko, secepat ini aku merasakan dag dig dug dalam waktu singkat dengan laki-laki lain.


Ini seperti aku melakukan kesalahan pada Jakko, seperti aku sudah menghianati Jakko.


Aku bahkan belum melihat jasadnya, aku belum meminta maaf sudah menyebabkan ini semua. Aku menyalahkan diriku sendiri atas semua yang sudah terjadi pada Jakko.


Aku terus bermain dengan pemikiranku sendiri. Ada sesal yang tidak bisa aku ungkapkan.


Sedih, sangat sedih ketika aku mengingatnya. Kejadian ini terlalu cepat.


Setiap kali mengingat Jakko, air mata ini tidak pernah bisa aku hentikan. Aku tahu ini bukan waktu nya menangis. Aku mengusapnya secepat kilat, berharap Jiwoek tidak menyadari air mata ini menetes.


Aku ingat ketika di bandara Jakko berkata


“Well. Zie will you mary me?” kata-kata ini terus melekat dengan sosok Jakko, sejak dia datang mengunjungiku ke negaraku.


Jakko tidak pernah bosan mengatakannya, di setiap kesempatan dia memintaku untuk menikah dengannya.


Dan kala itu aku bahkan tidak menjawabnya dengan benar. Kalau saja aku tahu itu saat terakhir dia mengatakannya, aku akan menjawabnya.


Setidaknya, waktu itu aku harusnya menjawab “iya”.


Aku menyesalinya. Sangat menyesalinya. Apa susahnya mengatakan iya hanya satu kata dan tidak memberatkan. Kenapa aku hanya tersenyum saat itu, harusnya kukatakan iya dengan ekspresi paling bahagia, tanpa peduli apapun yang di katakan orang-orang yang berada di sekitarku.


Aku akan terus larut dalam kesedihan jika aku terus seperti ini. Tapi ini tidak adil buat Jakko. Gara-gara aku, ini semua gara-gara aku.


Kalau saja aku bisa memutar waktu. Aku tidak akan meminta minuman padanya. Aku tidak akan datang ke negara ini. Sekali lagi aku tidak bisa membendung air mata ini. Dan secepat kilat pula aku menghapus air mataku.


Entah Jiwoek menyadarinya atau tidak. Aku canggung terhadapnya, bagiku dia hanya laki-laki asing. Aku bahkan tidak tahu tujuannya.


Jiwoek berhasil meraih gagang pintu, dan terus berjalan menuju ke tempat tidur. Dimana lagi tempatku, tempat untuk orang yang tidak bisa berjalan sepertiku, hanya di atas tempat tidur karena itu tempat paling aman.


Aku membuyarkan semua pikiranku tentang Jakko. Masih ada yang harus aku tanyakan pada Jiwoek. Banyak sekali…dia janji padaku untuk menanyakan setelah dia pulang. Apa sekarang waktu yang tepat.


Jiwoek dengan hati-hati membaringkan aku di tempat tidur. Aku masih dengan rasa canggung, hanya diam mematung. Jiwoek meraih tissue di atas meja tepat di sebelah tempat aku berbaring. Kali ini Jiwoek mengusap lembut dibawah mataku. Dia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Lana siang tadi.


Apa yang di lakukan Jiwoek ini…terlalu dekat, kami tidak saling mengenal sebelumnya, dan kami tidak dalam hubungan yang bisa di bilang dekat. Bukan kah ini sedikit berlebihan, atau kebiasaan secara garis besar orang dari negara ini seperti ini. Aku sungguh tidak nyaman dengan suasana ini.


Tunggu dulu, jika Jiwoek mengusap air mata ku, itu berarti dia menyadari aku menangis tadi. Aku sudah bersusah payah menyembunyikan tangisanku, akhirnya Jiwoek menyadarinya. Bukankah malah lucu kalau dia tidak tahu aku sedang menangis, padahal kami sedekat itu tadi.


Spontan setelah aku tersadar dari pikiranku, aku mengambil alih tissue yang di pegang Jiwoek. Suasana ini sangat tidak nyaman, hanya kami berdua berada di ruangan ini. Laki-laki dan perempuan yang bahkan tidak saling mengenal satu sama lain.


Apa aku harus khawatir?


Apa aku bisa mempercayainya?


“Thank you” ucapku berterimakasih.


Jiwoek mengangguk, dan menarik kursi yang ada di dekatku. Dia meletakkan tubuhnya di atas kursi itu. Sepertinya dia menunggu ucapanku selanjutnya, atau dia ingin mengatakan sesuatu padaku.


“I’m sorry….” Aku meminta maaf karena menangis secara tiba-tiba di hadapannya.


“It’s okay…” tidak apa-apa begitu kata Jiwoek singkat.


Apa harus aku tanyakan sekarang ya….


Setidaknya suasana yang canggung bagiku ini harus di buat senyaman mungkin walaupun kami belum saling mengenal. Selain nama kami belum tahu kepribadian masing-masing dari kami. Itu bukanlah hal yang penting sekarang.


Dia sudah berjanji padaku untuk menjawab semua pertanyaanku. Aku beranikan diri untuk bertanya padanya.


“Jiwoek, if you don’t mind I want to ask something” aku bertanya tentang janji nya, Jiwoek berjanji akan menjawab setelah dia pulang. Bukan kah ini hal yang penting juga.


“you are still emotional Gigi” katanya aku masih emosinal


“Can’t I have a Question.” Apa aku masih bisa bertanya pada Jiwoek sekarang tanpa peduli dengan rasa emosional ku.


“I will answer whatever you ask, Gigi. But….If you have calm down.” Jiwoek bilang dia akan menjawab semua pertanyaanku asalkan aku bisa tenang.


Aku terdiam.


Memang aku kenapa?


Aku bahkan tidak dalam keadaan yang bisa membuat orang lain khawatir….kecuali kakiku, entah kenapa kakiku lemas, padahal kaki ini aku masih bisa merasakannya. Aku merasakan sakit ketika aku memukul ringan kakiku, aku juga bisa menggerakkan ujung kakiku. Bagiku hanya itu saja, tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku, walaupun ini juga bagian dari pertanyaanku.


“Gigi, I don’t know what you think and what makes you cry?” Jiwoek melanjutkan dia bilang dia tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan dan apa yang membuatku menangis.


Aku kembali diam membisu.


“Radovan said you must not think to deeply, there is a part of you that is suffering from shock. I also can not say to much. When you can calm down maybe I can answer all your question.” Jiwoek menjelaskan


Jiwoek bilang kata Radovan, aku tidak boleh banyak berpikir terlalu dalam karena ada bagian dalam diriku yang sedang sangat terguncang. Dan Jiwoek tidak bisa menjelaskan banyak hal padaku karena hal itu, shock dalam diriku. Jiwoek bilang dia akan menjawab semua pertanyaanku ketika aku sudah tenang.


Radovan???


Sehebat apa dia, kenapa dia berhak menentukan apa yang baik buatku?


Siapa dia beraninya sok memahami diriku? Dia bahkan tidak mengenalku?


Atau....


Apa ini hanya alasan yang sedang di buat buat oleh Jiwoek. Kenapa aku merasa dia seperti sedang mengulur-ulur waktu. Apa lagi yang bisa aku lakukan. Tidak ada seorangpun dari negara ini yang aku kenal, aku hanya bisa mengandalkan Jiwoek saat ini. Kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa hanya berusaha tenang dan meyakinkan diriku sendiri untuk mempercayai Jiwoek. Pria asing, yang entah apa tujuannya membawaku ke tempat ini. Setidaknya aku harus tahu alasannya.


“Why you helped me? You don’t know me…” akhirnya aku menanyakannya di antara kesunyian kami. Aku bertanya padanya kenapa dia menolongku padahal dia tidak mengenalku.


Aku melihat gerak-gerik Jiwoek yang sedang menghindari tatapan ku, membuang muka ke samping kanannya seolah mencari sesuatu padahal tidak ada apapun di sebelah kanannya.


“Why you brought me here instead of the hospital ? ...” aku mengganti pertanyaanku. Kenapa dia membawaku ke tempat ini bukannya ke rumah sakit.


“Why don’t you take me to the hospital?” aku mengulang pertanyaanku, kenapa dia tidak membawaku ke rumah sakit. Bahkan sebelum Jiwoek sempat menjawabnya.


Jiwoek memandangku sejenak, dan menjawab


“I don’t know whether my answer will affect you……or…. Not?” Jiwoek menjawabku dengan terus menatapku lekat. Ada penekanan ragu di ujung kalimatnya. Dia bahkan tidak bisa menjabarkan jawabannya. Dia bilang dia tidak tahu apakah jawabannya akan berpengaruh besar kepadaku atau tidak.


Apa maksudnya?


Apanya yang akan berpengaruh besar ke padaku?


Apa dia sedang mencari-cari alasan?


Apa aku tidak boleh tahu alasannya?


Aku berhak tahu apapun yang menyangkut diriku sendiri.


🙏🙏🙏


Untuk pembaca setia ❤ Love has no Limit❤


🙏🙏🙏


Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutan tiap episodenya


🙏🙏🙏


Maaf jika ada keterlambatan Up yang agak panjang, di karenakan kesibukan saya pribadi


🙏🙏🙏


Kedepan saya akan berusaha untuk bisa Up lebih cepat lagi


🙏🙏🙏


Terus nantikan kelanjutan kisah Ziegi dan Jiwoek, semoga kalian bisa terus menyukai karya saya


🙏🙏🙏🙏🙏


Terima kasih banyak.