
Aku tidak bisa memahami bagaimana Zielve bisa jadi sedekat itu dengan Jakko. Mereka benar-benar seperti kakak dan adik yang saling bercanda dan saling menggoda antara satu sama lain.
Aku hanya pendamping lain dalam mobil ini. Taksi ini bisa menjadi saksi bagaimana akrabnya mereka. Pak sopir pun ikut menimpali candaan mereka dengan akrab. Membuatku jadi semakin penasaran dengan sosok Jakko.
**
Entah kenapa jantungku selalu berdegub kencang setiap kali aku memandang ke arah Jakko. Tidak akan aku pungkiri ,dia memang laki-laki paling tampan yang pernah kutemui. Aktor tampan dari negaraku pun tidak ada yang semanis ini ketika tertawa. Rasanya aku benar-benar tersihir olehnya.
Apa mungkin laki-laki yang mendekati kata sempurna ini tertarik padaku. Dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih menarik dan lebih cantik dari pada aku. Siapa aku ini, aku hanya wanita biasa yang jauh dari kata cantik. Bahkan aku tidak pernah menonjol dalam lingkungan sekolah atau kelompok. Bisa dibilang aku hanya peran tambahan dalam sebuah film.
"mimpi" bathinku.
**
Sejujurnya aku terus terngiang akan ucapan Jakko dalam telepon terakhirnya sebelum dia berangkat menuju kemari.
"Will you marry me...?" kata-kata sederhana ini terus menempel di kepalaku.
Apa itu mungkin, laki-laki yang bersinar ini melamarku? Bisa jadi aku salah dengar waktu itu. Aku terus bergumam dalam hatiku.
Atau mungkin setelah melihatku secara langsung dia berubah pikiran dan lebih tertarik pada Zielve. bathinku
Aku akui adikku Zielve adalah gadis yang supel,ceria dan ramah sama sepertinya. Zielve mewarisi senyum manis mamaku, sedangkan aku mewarisi sikap pendiam papaku. Begitulah yang sering kudengar dari pendapat beberapa orang yang mengenal kami. Itulah sebabnya Jakko dan Zielve jadi mudah akrab, walaupun ini adalah kali pertamanya mereka bertemu. Sedangkan aku hanyalah orang ketiga diantara keseruan mereka.
"Hei, Bukankah ini seperti sikap seseorang yang cemburu." gumamku yang menyadarkan tiap pemikiran yang bergumul dalam otakku.
"Cemburu?!" pekik ku tak percaya
"Aku cemburu pada adikku sendiri...tidak mungkin" ini hanya rasa keherananku saja melihat mereka seakrab itu.
**
"Zie, saya lapar..." tiba-tiba Jakko meraih pundakku dan berkata padaku. Pengucapan nya dalam menggunakan bahasa yang kami pakai masih terbata tapi untuk seorang sepertinya bagiku Jakko seorang laki-laki yang cerdas. Dia bahkan memahami apapun yang dikatakan Zielve.
"Mamaku sudah memasakkan sesuatu buatmu dari tadi pagi" jawabku menoleh kepadanya yang tepat persis ada di belakangku.
"Kalau mister sudah lapar di dekat sini ada banyak tempat makan sesuai selera mister" pak sopir yang ada di sebelah ku pun mengajukan idenya.
"Tidak tidak, kita harus tetap makan di rumah. Masakan mamaku no.1 dan tidak ada duanya. Kalau kak Jakko makan di restoran kasihan mama sudah memasak dari tadi pagi." protes Zielve padanya.
q
"Hahaha...." Jakko terkekeh mendengar ocehan Zielve.
***
(Rumah Keluarga Ziegi)
"Kita sudah sampai" kataku lirih sambil membuka pintu.
Dan tepat di depan pintu papa dan mama ku tersenyum ke arah kami, lebih tepatnya ke arah Jakko.
Jakko dengan akrabnya merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari papaku dan mamaku.
"Hai,Dad. Hai, Mom" seperti itulah biasanya dia menyapa kedua orang tuaku. Dia tidak berubah sama sekali, ketika telpon, video call atau saat bertemu langsung seperti sekarang ini. Tidak ada kecanggungan sama sekali.
"Mom, Zie sangat diam, jika saya tidak berkata lapar mungkin dia lupa kalau saya datang kesini." Dia merengek seperti seorang putra kepada ibunya.
"Begitulah kakakku. Bukankah kak Jakko sendiri yang bilang padaku kalau kak Jakko sering kehabisan bahan pembicaraan ketika menelpon kak Gigi." celetuk Zielve yang tiba-tiba menutupi mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Seperti seseorang yang tanpa sengaja membocorkan sebuah informasi.
Secara spontan aku melihat ke arah Jakko yang berdiri disamping mamaku dan Jakko hanya mengangkat kedua bahunya, seolah menjawab pertanyaan yang belum aku ajukan.
"Sudah ayo makan dulu. Tamu kita sudah lapar." kata papaku segera
**
Rumah ini tidak seperti biasanya. Rumahku kali ini tampak berbeda dari biasanya. Lebih rapi dan lebih indah dari sebelumnya. Ini karena Jakko, karena dia bilang akan datang kami sudah mempersiapkan semuanya. untuk menyambutnya.
"Dad, bisakah membantuku mencari hotel yang dekat dengan rumah ini." sambungnya.
"Kenapa mencari hotel, tidurlah disini Jakko" kata papaku meminta nya untuk tinggal.
"Saya sudah cukup merepotkan kalian hari ini" kata Jakko sambil mengambil gelas berisi air putih.
"Ayolah, kau juga tidak datang kerumah kami setiap hari" ajak papaku sekali lagi.
"Atau karena rumah kami agak kecil makanya kamu enggan,benar begitu" mamaku langsung menyindirnya.
"No, mom. I'm sorry mom..." dia seketika menjadi tidak enak mendengar yang di ucapkan mama.
"Menginaplah Jakko, kamu bisa pakai kamarku atau kamar Veve. Aku dan Veve bisa berbagi kamar hari ini." kataku kemudian.
"Maafkan saya, benar-benar mengganggu kalian hari ini." akhirnya Jakko menyetujuinya.
**
"Dimana kamarmu Zie?" tanyanya mendekatiku yang sedang mencuci piring.
"Kamarku diatas, hanya ada kamarku dan kamar Veve di atas" kataku sambil menjelaskan tanpa menatapnya.
"Biarkan saya membantumu..." ucapnya memberikan tangannya yang siap membantuku.
"Duduklah, kamu tamu di rumah kami. tidak seharusnya kamu ada disini" terangku.
"Saya ingin bicara denganmu, tidakkah kamu terlalu kelihatan kalau kamu menghindari pembicaraan denganku." dia mengungkapkan yang ingin di sampaikan.
"Bukan seperti itu" jelasku menggantung.
"So, will you marry me?" kata Jakko tiba-tiba.
pyaaarrrrrrrr....
Aku terkejut mendengarnya dan tanpa sengaja menjatuhkan piring yang sedang kucuci.
"Zie.."
Seketika semua mata memandang ke arahku,
"Ada apa Gigi?" tegur papaku.
"Tanganku licin pa." jawabku
"I'm sorry, Dad. I surprised her because suddenly proposed to her" dia menjelaskan pada papaku tanpa malu malu.
"Benarkah??" Zielve jadi sangat aktif tiba tiba.
"Kak Jakko apa yang kau pikirkan. Seharusnya kau membawa sesuatu untuk melamarnya, kenapa kau melamarnya saat dia mencuci piring. Kau benar-benar tidak romantis sama sekali" protes Zielve yang malah membuat kedua orang tuaku tertawa.
"Saya membawa ini untuk melamarmu..." katanya sambil mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Zie marry me, be my wife" dia sungguh sungguh melamarku di hadapan keluarga yang hanya melihat ke arah kami dan menggoda kami yang hanya berdiri mematung di samping tempat cuci piring.
Cincin indah bemata satu, menjadi saksi bagaimana Jakko berusaha melamarku.
Dan aku masih terpaku di tempatku.
Aku bahkan masih bingung dengan keadaan yang berubah dari keseharianku biasanya.
Aku tidak tahu aku harus bahagia, gelisah atau sedih.
***