
“Nothing…ummm, I only watch television and cook.” Jawabku.
Tidak ada yang aku lakukan, hanya menonton Televisi dan memasak.
Jiwoek mengangguk-angguk. Dia melahap makanannya dengan santai.
“I want to tell you a secret Gigi” Jiwoek mengatakannya di sela-sela makannya.
Dia bilang ingin mengatakan sebuah rahasia padaku.
“What secret?” Rahasia apa yang ingin di katakan olehnya.
Aku menyelesaikan makanku lebih cepat, karena Jiwoek sudah dua kali menambah nasinya.
Aku turun dari kursiku dan mengambil alat penyangga di sebelah kananku, aku bermaksud menaruh tempat makananku di tempat cuci piring sekaligus mencucinya.
Belum sempat aku berdiri, Jiwoek langsung meraih tempat makanku dan meletakkan di sebelah kanannya.
Jiwoek tidak pernah membiarkanku melakukan banyak hal. Ini sungguh membatasi ruang gerakku.
Akhir-akhir ini aku tidak pernah bisa berpikir positif tentang Jiweok. Dia selalu melarangku melakukan ini, melakukan itu, untuk hal sederhana sekalipun.
Aku ingat 5 hari yang lalu saat Radovan memberiku alat penyangga ini, Jiwoek tiba-tiba berubah jadi ekorku. Dia seperti seorang ayah yang mengawasi anaknya ketik pertama kali bisa berjalan.
Saat itu aku berpikir mungkin Jiwoek takut aku jatuh. Belakangan aku jadi berpikir bukan karena aku takut jatuh, bisa saja dia khawatir kalau aku terjatuh aku bisa memecahkan dan merusak barang di apartmen ini.
Berbeda dengan Radovan, dia selalu memotivasiku untuk cepat sembuh. Entah kenapa aku jauh lebih cocok ketika berada dengan Radovan. Bukan berarti ketika berada di dekat Jiwoek aku tidak nyaman.
Justru Jiwoek adalah satu-satunya orang yang paling aku andalkan saat ini. Tapi untuk beberapa hal, aku tidak suka bagaimana cara dia memperlakukanku.
**
Aku kembali duduk di kursi yang sama dan menaruh kembali alat penyanggaku.
“Hurry up and finish your meal. Tell me what’s the secret.” Kataku kemudian.
Aku menyuruhnya untuk cepat menghabiskan makanannya. Karena aku sudah penasaran ada rahasia apa yang ingin di katakan olehnya.
Aku melihatnya yang masih dengan santai menikmati makanannya.
“Gigi, Enak….really…ini enak.” Dia mengacungakan jempolnya ke arahku. Dia seperti sedang mengacuhkan apa yang aku bicarakan.
Tapi, kata-kata Enak ini adalah kata yang pertama kali Jiwoek katakan dalam bahasaku.
Hanya kata-kata itu yang bisa dia katakan akhir-akhir ini. Kali ini bukan keluargaku yang mengajarinya.
Jiwoek bertanya kepadaku sendiri,
“How to say Delicious in your language?” jika ingin mengatakan Delicious dalam bahasa dari negaraku itu apa?
“Enak…emmm, ini enak.” Jawabku.
Jiwoek tanpa harus ku ulang, dia langsung bisa menirukannya dengan benar. Dia seorang aktor pasti mudah baginya untuk menghafalkan sesuatu.
Jiwoek selalu mengatakan hal ini setelah makan. Benar-benar seperti menghafalkan sesuatu yang wajib. Aku juga tidak bisa membedakannya, apa yang dimakan olehnya benar-benar enak atau hanya pemanis kata seperti yang biasa dia katakan di depan kamera?
“Gigi, I want to eat this chicken again tomorrow” Dia bilang dia ingin makan ayam yang sama lagi besok.
Jiwoek tidak memperhatikan perkataanku.
“Okay… I’ll wait for you. Finish your eat.” Aku mencoba mengerti, dan termangu di depannya yang sedang menikmati makan malamnya.
Beberapa kali dia melihat ke arahku, dan mulai mengoceh sendiri dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti.
“kdsjfofsjgdjgdgnohfrsuijfso Gigi jehfsgbflushdfijrofvhids”
Aku sungguh tidak bisa memahami ucapannya.
Aku pun membalasnya dengan menggunakan bahasaku,
“Apa yang kamu bicarakan, aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan tuan Jiwoek. Pakailah bahasa yang aku mengerti, agar kita bisa berkomunikasi dengan baik.”
Jiwoek mengakhiri ucapannya dan mengerutkan kening melihat kearahku yang masih mengoceh dengan bahasaku.
“Wait there, let’s talk there.” Jiwoek menyuruhku menunggunya selesai makan di sofa besar itu. Dia menunjuk kearah depan Televisi, dimana lagi tempat nyaman untuk bicara di apartemen ini kalau bukan di kursi itu, bathinku.
Sambil agak tertatih-tatih aku berjalan meninggalkan Jiwoek sendiri di tempat makan menuju sofa yang di maksud Jiwoek.
“Carefull…” Jiwoek siap beranjak berdiri ketika aku mulai melangkahkan kaki pertamaku.
“Okay, understand Mister.” Aku mengatakannya sambil lalu. Aku bahkan menggodanya dengan menyebutnya Mister.
Sayup-sayup aku masih mendengarnya mengoceh pelan dengan bahasanya.
Aku menghidupkan televisi dan mencari acara yang menarik sambil menunggu Jiwoek selesai makan. Rahasia apa yang akan di katakan oleh Jiwoek.
Jiwoek pun tidak segera datang ke sini ketika selesai makan, dia masih mencuci tempat makan kami.
**
Jiwoek duduk persis di sebelahku. Dia memulai pembicaraan.
“What do you want to hear first.” Jiwoek memulainya. Dia malah menanyaiku apa yang ingin aku dengarkan darinya.
“Anything what do you want” sambungnya, apapun yang aku inginkan.
“You, Your Family, Jakko” Jiwoek seperti sedang memberiku pilihan.
Jakko ada dalam daftar pilihan dari Jiwoek. Dia selalu ingin membahas tentang Jakko.
Aku mengalihkan perhatian Jiwoek dari pertanyaannya. Asal itu bukan Jakko aku masih mau membicarakannya.
“You…”kataku.
“Do you mean it's that me.” aku meyakinkan diri bahwa yang di katakan Jiwoek tentang aku?
Tentang apa itu?
"You.....emmmm..." Jiwoek sengaja menggantung ucapannya.
" From now on, please Cook for me everyday." Jiwoek bilang dia ingin mulai sekarang aku memasak untuknya setiap hari.
Tanpa dia minta pun, aku sudah melakukannya akhir-akhir ini. Memasak untuknya setiap hari.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
"My Family.... what secret about my family"
Aku bertanya ada rahasia apa tentang keluargaku.
Jiwoek menoleh ke arahku dan memperhatikan aku dengan seksama.
"Promise, you not angry with me." kata Jiwoek kemudian.
Katanya aku harus berjanji untuk tidak marah padanya. Ada Rahasia apa? Aku sungguh penasaran.
Aku mengangguk setuju agar Jiwoek cepat bercerita.
"I told your family that you have recovered and can walk"
Jiwoek bilang, dia mengatakan pada keluargaku kalau aku sudah sembuh dan bisa berjalan.
"And that is Surprise for you." sambung Jiwoek. Katanya itu surprise buatku.
Ini bukan surprise, bukankah menurutku itu bukan tanda kejutan, Mamaku pasti langsung curiga kalau aku sudah sembuh kenapa tidak pulang ke rumah.
Aku tidak bisa berkata apapun. Aku yakin Jiwoek paham arti diamku. Karena berikutnya Jiwoek bertingkah semakin lucu.
"And if you get well, I invite them here" Jiwoek melanjutkan.
Katanya kalau aku sembuh, Jiwoek akan mengundang mereka ke sini.
Benarkah mamaku akan akan datang kesini. Ini baru namanya Surprise. Aku bahagia. Aku harus lebih berusaha dengan keras untuk sembuh sekarang.
Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya diam. Aku hanya membathin dengan riang.
"And how about Jakko?" Jiwoek kembali bertanya.