
Mataku nanar melihat kearah café itu..
Seluruh mata melihat kearah café itu, beberapa diantaranya berhamburan lari menjauhi arah café itu. Beberapa orang lagi ikut membantu orang yang terkena hempasan ledakan dari dalam Café.
Ketika yang lainnya bergegas pergi menjauhi Café, mungkin aku satu-satunya orang yang berjalan mendekati arah café itu.
Aku masih memandang nanar, tanpa bisa berkata-kata. Di dalam café yang meledak itu… Ada Jakko disana, dia menyuruhku menunggunya di mobil. Kenapa café itu meledak, Jakko belum kembali dari membeli minuman.
Langkahku gontai, tidak menentu. Sambil terhuyung-huyung, aku masih syok dengan apa yang terjadi di depan mataku. Aku memaksakan diriku yang setengah pusing dan lemas, tetap berjalan kearah Café itu.
Ada tangan yang menghentikanku, aku menoleh kearahnya masih berharap itu Jakko.
Bukan, hanya seorang pria berparas cantik, ternyata bukan Jakko. Beberapa orang menghampiriku, dan berusaha menghentikanku.
“Let me go…” kataku di sisa tenagaku sambil berusaha melepaskan tangan pria itu.
Tiba-tiba aku mulai susah mengatur nafasku, dadaku mulai terasa sesak. Dan kepalaku semakin berat. Pandangan mataku semakin menciut, lama kelamaan makin pudar. Sekarang hanya ada kegelapan dan keheningan yang aku rasakan.
(Lima hari kemudian)
Aku membuka mataku, mencoba mengenal tempat yang asing bagiku. Tempat aku berbaring ini sebuah kamar. Ini benar-benar tempat asing buat ku. Aku tidak mengenali tempat ini.
Aku memegang kepalaku mencoba mengingat bagaimana aku bisa sampai di tempat ini. Kamar ini benar-benar asing. Aku mengedarkan pandanganku ke suluruh ruangan ini. Sekali lagi aku mencoba mengingat bagaimana caranya aku datang ke tempat ini.
Terakhir kali….
Air mata ku keluar dengan sendirinya. Aku ingat terakhir kali Jakko ada di Café itu, dan café itu meledak…………..
Mungkin ini hanya mimpi. Iya mungkin ini rumah Jakko. Dia janji akan membawaku ke rumahnya dan menunjukkan kantor tempatnya bekerja. Buru-buru aku menghapus air mataku. Aku berusaha bangun, dan kepalaku terasa sangat berat. Terlalu berat, aku memegang kepalaku, dan baru sadar ada cairan infus berdiam di tangan kananku.
“Arghhhh…kenapa aku pusing sekali…” aku meringis merasakan kepalaku yang pusing.
Sekali lagi aku memeriksa yang ada di ruangan ini, apa mungkin ini rumah sakit. Ini rumah atau apa. Aku terus bertanya-tanya dengan yang ada di depanku. Ini lebih seperti kamar.
Ada satu foto tidak jauh dari tempatku, seperti tidak asing, yang jelas foto itu bukan Jakko. Aku berusaha bangun, tapi badanku terasa sangat lemas sekali.
Aku mendengar langkah kaki seseorang suaranya semakin mendekati ruang dimana aku sekarang. Aku mendengar ada yang mulai membuka pintu. Seorang laki-laki masuk dan terkejut melihatku sudah bangun.
Ada tawa cerah dari laki-laki itu. Dia mengambil handphone dari sakunya dan menelpon.
Aku tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Yang aku tahu, aku masih berada di negara S, karena laki-laki itu menggunakan bahasa yang sama dengan rombongan tour ku. Siapa dia, kenapa laki-laki itu tidak asing buatku.
“Who are you?” aku langsung menanyakan itu.
“aaa…. Where are you come from ?” dia malah balik bertanya padaku. Dia menanyakan asalku.
“mmmm…” tidak ada jawaban dariku. Kepalaku semakin sakit. Aku sedikit meringis memegangi kepalaku.
“are you okay?...” dia berjalan mendekatiku. Dan menatapku dalam, sesekali aku melirik kearahnya, laki-laki yang cantik, bathinku.
Aku mengangguk ringan di hadapannya walaupun sekarang ini aku sedang merasakan pusing yang hebat.
“I brought you because I saw you determined to enter the café, and pass out on the street. Are you remember…?” dia menjelaskan bagaimana dia membawaku kemari.
Dia bilang aku terlalu nekat masuk ke dalam café yang meledak, dan aku pingsan di jalan. Begitu dia menjelaskan.
Jakko, benarkah… apa yang aku lihat sebelumnya. Café itu benar benar meledak. Aku kembali sesak mengingatnya.
Tasku, aku menaruh Hpku di dalamnya.
Seolah menyadari dengan tindakan ku.
Laki-laki cantik ini mulai mengerti apa yang aku cari. Dia menjauh dariku berjalan diantara kursi yang berjajar menbentuk sebuah Lorong. Membuka lemari di sebelahnya dan mengangkat sebuah tas kecil yang sebelumnya aku bawa. Dia menunjukkan ke arahku.
Aku mengangguk. Meng-iya-kan tanpa kata kepadanya bahwa aku sedang mencari tasku itu.
Ada Hp ku di dalamnya.
Dia berjalan ke arahku dan memberikan tasku tanpa kata.
Tak lama kemudian dia pergi meninggalkan ku di kamar ini,dan kembali masuk dengan seorang laki-laki lain. Laki-laki yang seperti lebih tua darinya segera datang menghampiriku, dan memeriksa suhu tubuhku.
Meletakkan punggung tangannya ke dahiku. Dia membuka tasnya dan mengambil stetoskop….ahhh… dia dokter rupanya.
Penampilannya tidak seperti seorang dokter. Dia memeriksa kedua mataku,mulutku dan detak jantungku.
“Tell me, what’s your name,” dia bertanya
“Ziegi” jawabku singkat.
“Are you remember you self” tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
Aku lihat laki-laki yang berwajah cantik itu mengatakan sesuatu pada dokter muda ini.
Begitu pun dokter ini juga mengatakan sesuatu padanya. Dokter itu menjauh dari ku setelah memeriksaku. Berjalan kearah laki-laki cantik itu duduk. Mereka saling berbincang dengan bahasa mereka sendiri.
Aku tidak mengerti apapun. Aku tidak paham dengan yang mereka katakan.
“Thank’s, Radovan” itu kata-kata terakhir yang di ucapkan laki-laki cantik itu pada dokter ini.
Dan hanya kata-kata itu yang bisa aku cerna dari pembicaraan mereka.
Radovan, apa itu sebuah nama atau kata-kata dari bahasa mereka.
**
Jakko, aku segera membuka tasku. Mengambil Hp ku. Dan Handphone milikku mati. Kenapa bisa mati. Sebelum aku berangkat ke negara ini aku sudah men-charger penuh baterainya. Kenapa bisa mati.
Aku sedikit frustasi dengan keadaan ini. Aku sangat penasaran dengan Jakko. Bagaimana keadaannya sekarang.
Sesaat tadi aku masih berharap ini semua hanyalah mimpi. Tapi laki laki yang cantik itu berkata padaku, aku nekad mau masuk ke arah cafe yang meledak.
Lalu bagaimana dengan keadaan semua pengunjung yang ada di cafe itu. Terutama Jakko. Aku masih ingat bagaimana Jakko melambaikan tangan padaku sesaat sebelum dia masuk ke Cafe itu.
"Buy me a buble drink..."
aku ingat bagaimana kali terakhir aku memintanya membelikan aku minuman.
Ini karena aku. Andai saja aku tidak meminta itu. Kenapa aku memintanya. Aku bisa minum apa saja yang di sediakan Jakko di rumahnya.
Aku mulai menyesalinya, dan mulai terisak. Dadaku kembali sesak, pandangan ku juga mulai memudar...