Love has no Limit

Love has no Limit
It's Deep Love Sad



Bayangan Jakko masih begitu kuat dalam diriku. Aku tidak boleh bahagia sendiri. Aku tidak bisa melupakan semua kenangan tentang Jakko, meski singkat kenangan itu tetap ada. Masih bersarang dalam pikiranku.


Senyum Jakko yang sangat menawan. Senyum indah itu tidak lagi bisa kusaksikan dengan kasat mata. Senyum paling indah yang tidak akan lagi aku temui di dunia ini. Tidak ada duanya. Meski aku bisa melihatnya ketika aku menutup mata dan memutar ulang rekaman dalam kepalaku, itu semua tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa bersalahnya aku.


Setiap kenangan yang aku miliki dengan Jakko, tingkah manjanya pada mama dan papaku, pria yang dengan tegap menjemputku di bandara, pria dengan perawakan yang tegas itu, setiap kenangan indah itu semuanya hanya akan kembali menuntunku pada kenangan terburuk dalam hidupku.


Andai saja waktu bisa di putar ulang, di tempat sebelum ledakan itu terjadi….


Maafkan aku, Jakko….


Ini semua salahku….


Dengan Jiwoek membawaku melihat bagaimana Café itu masih berjalan dengan normal, ini menyadarkan aku akan satu hal. Aku tidak lagi bisa menjalani kehidupanku dengan normal seperti layaknya Café itu yang sudah bangkit.


Disaat aku merampas senyum paling indah yang pernah aku jumpai, aku merasa tidak memiliki hak untuk hidup normal layaknya orang pada umumnya.


“Thank you, Woek.” Ucapku pada Jiwoek yang menjalankan mobilnya pergi dari tempat itu.


Jiwoek meraih tangan kiriku dan menggenggamnya, sembari berkata…


“Everything gonna be okay, Gigi.” Katanya semuanya akan baik-baik saja.


Semuanya memang sudah baik-baik saja. Tapi tidak denganku, dengan diriku, terutama dengan hatiku.


Semuanya jadi samar, kabur dan tidak bisa aku gambarkan. Aku bahkan susah menjelaskannya. Bagaimana rasa sakitnya kehilangan seseorang di depan mata….tepat di depan mata. Yang bahkan aku sendiri tidak mampu mencegahnya. Bukan karena penyakit atau kejahatan yang bisa aku halangi. Ini hal yang tak pernah terduga dalam hidupku yang terjadi di depan mataku.


“I-tu …” Jiwoek mengatakannya lagi menggunakan bahasaku. Kali ini dia mengejanya di tipa suku kata.


Walaupun aku sedang bersedih, tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas yang di katakan oleh Jiwoek. Sepertinya aku tidak salah dengan pendengaranku, barusan dia berkata dengan bahasaku kan?


“Itu??” aku mengulang ucapannya. Meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tidak salah dengar.


“Ya, i-tu Gigi. Look over there…” Jiwoek menunjukkan dengan dagunya.


Aku mengikuti instruksinya untuk melihat kearah kanan. Aku memajukan kepalaku untuk melihat yang dimaksud Jiwoek.


Ada apa disana? Tidak ada hal yang menarik perhatian di sana.


“Jakko office is there….” Jiwoek menunjukkan berjajar gedung yang ada di sebelah kanan.


Jiwoek mulai mengarahkan mobilnya kearah kanan dan berjalan melambat.


Yang mana? Aku bergumam dalam hati.


Sebelah mana? Aku terus mengikuti setiap bangunan yang sudah di lewati oleh Jiwoek.


Jujur saja, aku sangat penasaran dengan kantor Jakko. Kalau saja waktu itu kami ….. bukan …kalau saja waktu itu aku tidak menyuruhnya membelikan aku minuman. Mungkin saat itu aku sudah sering berkunjung ke kantornya Jakko.


Aku terus bertanya dalam hati. Dan tidak mampu aku lontarkan, karena aku tidak punya hak menanyakannya. Aku sudah merampasnya, merampas kehidupan milik Jakko.


Perasaan ini seperti cambuk besar bagiku. Perasaan yang tidak bisa di deskripsikan dengan ucapan dan kata-kata.


Pelan-pelan Jiwoek berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat yang letaknya paling ujung diantara bangunan-banguan tinggi yang lain.


Sungguh ini menggelitik hatiku. Kembali membuatku penasaran.


Dimana? Yang mana? Sebelah mana? Pertanyaan ringan ini terus berputar di kepalaku.


Winner property.


Aku ingat, saat aku berkenalan dengan Jakko melalui apilkasi kencan tersebut. Profil Jakko menjelaskan pekerjaannya sebagai CEO Winner property.


Aku masih celingukan mencari petunjuk yang bertuliskan Winner property.


Kantor itu, kosong. Seperti bangunan baru yang siap di sewakan. Dari sini aku bisa melihat jelas tulisan ‘for rent’ di pintu kaca yang terlihat sepi.


Kantor Jakko sudah di sewakan, hampir 2 bulan ini di tinggalkan oleh pemiliknya. Jakko, maafkan aku. Semua ini gara-gara aku.


“Apa kamu mau mengajakku melihat kesana, Woek?” aku bertanya pada Jiwoek dengan menggunakan bahasaku.


“I don’t know what do you talking about Gigi…but if you don’t want to go down, we’ll leave at here…”


Kata Jiwoek meski dia tidak mengerti yang aku katakan, kalau aku tidak mau turun maka kami akan pergi dari sini.


Aku langsung mengangguk mengiyakan yang di katakan Jiwoek.


Aku ingin tahu, tapi aku juga ketakutan untuk datang. Aku tidak bisa menghadapi kemungkinan lain dalam diriku yang sekarang ini sungguh sangat bergejolak. Aku tidak bisa menanggung ini, ini terlalu berat buatku.


Meski ini hanya sebuah bangunan yang bahkan sama sekali tidak aku kenal, aku merasa sakit … sangat sakit….sakit sekali di dalam hatiku. Tidak dapat aku jelaskan dengan kata-kata.


Jiwoek melihat kearahku dengan lekat,


“Listen to me, Gigi…” Jiwoek meraih bahuku, kali ini Jiwoek sedikit serius. Entah apa yang merubah emosinya. Aku tidak pernah melihat Jiwoek yang seserius ini ketika berkata denganku.


Ada apa dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba ini. Apa aku terlalu merepotkan untuknya? Seharusnya tadi aku tidak harus ikut Jiwoek pergi keluar jika akhirnya seperti ini. Apa bagi Jiwoek ini adalah sebuah kejutan buatku?


Sayangnya buatku ini bukan kejutan. Ini adalah alarm pengingat luka hati yang menyadarkan aku untuk bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Jakko.


"This is all not your fault. All the events that were experienced by Jakko, were not your fault. You only came at the wrong time and place. So it is not your fault." Jiwoek lebih serius padaku.


Katanya semua ini bukan salahku, apa yang sudah menimpa Jakko itus bukan kesalahanku.Aku hanya datang di waktu dan tempat yang salah, jadi itu bukan kesalahanku.


Aku tertunduk mendengarnya. Tapi sebagian besarnya adalah karena aku. Jiwoek tidak bisa memahaminya.


“At least…Can we buy mineral water first? We will take a long trip today, Gigi.”


Paling tidak, bisakah kita membeli air mineral dulu, kata Jiwoek.


“I can’t go down along the road, some people can recognize me. Come with me, I’ll never leave you alone.”


Jiwoek melanjutkan, bahwa dia tidak bisa turun di jalan karena beberapa orang bisa mengenalinya. Jadi dia menyuruhku utnuk ikut bersamanhya dan dia bilang tidak akan meninggalakanku sendiri.


Apa dari sini aku bisa katakan ada seseorang yang lain yang sangat peduli padaku. Atau ini memang hal yang selalu dilakukan olehnya kepada siapapun. Kepribadian Jiwoek memang baik. Jadi tidak ada celah buatku untuk tidak mengindahkan kalimatnya.


Aku pun hanya bisa menyetujui apa yang dikatakan olehnya. Jika memang ini perjalanan panjang seperti yang di katakan olehnya, kami memang memerlukan air mineral.


“Where we go?” aku menanyakan kemana kami akan pergi hari ini?


“Kamu akan tahu kalau sudah sampai…” Jiwoek mengulangi kalimatnya.


Aku terdiam mendengar jawaban yang sama seperti sebelumnya.


“Okay, We’ll buy mineral water first…” Jiwoek kembali menyabukkan sabuk pengamannya, sedangkan aku yang dari tadi terdiam hanya mengikuti apa yang di katakan olehnya.


**


Aku membuka mataku, tanpa aku sadari aku tidur beberapa saat. Aku masih di dalam mobil Jiwoek. Dan Jiwoek masih serius mengemudikan mobilnya.


“ah, I’m sorry , Woek” kataku meminta maaf pada Jiwoek karena sudah tertidur.


“it’s okay Gigi.” Jiwoek membelai rambutku lembut.


Kemana Jiwoek akan mengajakku? Ini hampir 2 jam perjalanan dan Jiwoek masih berkendara. Tapi perjalanan ini menyadarkanku untuk melihat ke sekeliling jalanan. Di samping kanan dan kiri di penuhi pemandangan yang indah.