Love has no Limit

Love has no Limit
Love Walker



Aku merasa bersalah sudah membangunkan Jiwoek di tengah malam. Jiwoek berjalan ke arahku. Jiwoek melihat kekacauan yang sudah aku buat, dia hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Jiwoek membersihkan setiap pecahan yang berserakan di lantai. Aku melihat dia sibuk dengan lantai basah dan pecahan kaca.


Aku masih memegang gelas berisi air. Seakan sekarang rasa hausku sudah hilang, karena kejadian kecil ini. Bohong namanya kalau aku tidak merasa bersalah. Sangat merasa tidak enak padanya. Harusnya aku yang membersihkan itu. Kakiku, karena kaki ini aku tidak bisa melakukan apapun.


Apa untuk mengambil minum saja aku harus meminta bantuan seseorang. Bukankah itu hal yang sangat sederhana. Setiap kejadian membuat ku merasa semakin menjadi orang yang tidak berguna. Ada rasa yang tiba-tiba menyeruak dalam diriku. Aku tidak bisa terus seperti ini.


Setelah selesai membersihkannya Jiwoek menghampiriku dan duduk di tepi tempat tidur. Jiwoek menunjuk gelas yang kupegang dengan wajahnya.


“Don’t you drink it” kata Jiwoek menegurku apa aku tidak minum air yang aku pegang.


Gelas yang sama dan isi yang sama sekali belum kuminum. Seperti seorang anak yang takut karena melakukan kesalahan dan menunggu hukuman. Mungkin itu yang lebih tepat menggambarkan apa yang aku rasakan sekarang.


Jiwoek hanya memandang ke arahku dalam diam. Ada suasana yang tidak nyaman di antara kami. Aku perlahan meminum airku. Ketika aku hendak mengembalikan gelas ke meja sebelahku, Jiwoek mengambilnya dari tanganku. Dia meletakkan nya di tempat yang seharusnya. Sungguh rasanya tidak enak sama sekali. Ada rasa bersalah, ada rasa canggung.


“Go to sleep Gigi” Jiwoek membaringkan ku dan menata bantalku. Dia menyuruhku untuk tidur.


Aku hanya bisa diam dan mengikuti instruksinya.


”You need lost of rest. Don’t think about anything. You shouldn’t think to much.” Jiwoek melanjutkan ucapannya bahkan sebelum aku menjawabnya. Entah ini hanya basa-basi atau sungguh-sungguh rasa kekhawatiran.


Jiwoek bilang aku harus banyak istirahat. Dan tidak boleh memikirkan apapun, karena aku tidak boleh berpikir terlalu banyak.


Aku masih tertegun dengan apa yang Jiwoek ucapkan. Sungguh ada ketenangan dalam diriku. Berkali-kali aku menyuruh diriku sendiri untuk mempercayai laki-laki cantik ini. Tapi berulang kali pula aku mengingkarinya dan membuatnya menjadi orang asing yang tidak ada hubungannya denganku. Padahal Jiwoek adalah orang yang audah menyelamatkan aku.


**


Hangat…silau sekali rasanya….


Aku membuka mataku. Masih di ruangan yang sama.


Dan aku berusaha bisa menerima kenyataan bahwa mulai sekarang setiap aku membuka mata aku harus terbiasa ….


Tidak….


Lebih tepat nya aku harus membiasakan diri mulai sekarang dengan suasana ini dan ruangan ini.


Ketika aku membuka mataku, hari sudah sangat terang. Aku tidak tahu ada pemandangan indah di balik ruangan ini. Kemarin pintu itu tertutup rapat. Ya, pintu yang menghadap ke langit luas yang di lapisi kaca. Dari sini aku bisa menikmati langit yang begitu indah memendarkan warna biru ke angkasa.


Ini pagi atau siang, kenapa begitu terik sinar matahari yang menembus kesini.


Aku melihat jam di sebelahku, jam 10 pagi. Astaga, terlaku siang. Selama ini aku tertidur, aku tidak pernah bangun kesiangan sebelumnya.


Ini pasti ada yang salah dengan tubuhku.


Apa ini juga karena Psikomatis yang aku derita?


Aku sangat ingin mendengar penjelasan.


Aku melihat Jiwoek duduk di sofa tempat dia tidur semalam.Dan dia sedang sibuk dengan Hp miliknya.


Aku bangun dan setengah duduk, menarik badanku untuk bersandar.


Jiwoek langsung menoleh ke arahku, sambil tersenyum padaku dia berkata,


"You woke up already, Gigi. Do you want to eat? or .... want to go to the bathroom?"


Jiwoek bilang karena aku sudah bangun, dia menanyakan apa aku ingin makan atau mau ke kamar mandi.


"Bathroom." kamar mandi jawabku singkat.


"okay" Jiwoek meng-iya-kan jawabanku.


Dia beranjak dari sofa dan berjalan ke arahku. Dia membuka selimut yang sudah menjagaku selama aku tidur. Dan tanpa kata dia mengangkat tubuhku dalam gendongannya.


Aku sudah menduganya, dia pasti akan melakukan ini tanpa permisi. Bahkan dia tidak peduli apakah aku canggung atau tidak. Aku berusaha meyakin kan diriku lagi. Aku harus mulai terbiasa dengan ini. Ini rumahnya, siapa lagi yang bisa aku andalkan kalau bukan dia.


Jiwoek mendudukkan aku, di atas kursi yang sama seperti kemarin.


Kali ini di samping kursi ada pegangan dari bahan stainless. Seperti alat untuk membantu berjalan. Kalau aku tidak salah ingat walker, nenek ku juga menggunakan alat seperti ini untuk membantunya berjalan. Jiwoek meninggalkan aku, tapi tak lama dia kembali membawakan aku handuk mandi dan baju ganti ku.


Tunggu dulu, masalah ganti baju ini...yang mengganti bajuku sudah pasti Jiwoek kan?


Kali ini aku akan berusaha mengganti baju ku sendiri. Aku bisa kok. Kemarin masih ada Lana, kalau saja Lana ada di sini sekarang jadi aku bisa meminta tolong pada Lana tanpa sungkan.


Tapi alat terapi jalan Walker ini sungguh membuatku jadi lebih optimis. Dengan bantuan alat ini, siapa tahu otakku bisa menerima dan mengingat lagi bagaimana cara berjalan.


"Jiwoek, thank You..." aku berterima kasih pada Jiwoek. Aku memegang alat bantu jalan ini. Aku yakin Jiwoek paham arti dari rasa terima kasihku.


Jiwoek mengangguk lembut sambil tersenyum tipis padaku.


"Listen to me Gigi. Don't think about anything." Jiwoek memintaku untuk mendengarnya, dan untuk tidak memikirkan apapun.


Aku mengangguk, dan membalas senyumannya.


"Every time you go to the bathroom you always fall. So with a walker, you don't fall again. The first time you went to the bathroom you fall, last night you fall and fainted."


Jiwoek bilang karena setiap aku ke kamar mandi aku selalu terjatuh. Jadi dengan adanya alat terapi bantu untuk berjalan ini, dia harap aku tidak terjatuh lagi. Waktu itu pertama kaki aku ke kamar mandi aku terjatuh dan Jiwoek bilang semalam juga aku terjatuh dan pingsan.


Aku pingsan. Jadi semalam aku pingsan di kamar mandi. Tadi malam terakhir kali yang aku ingat aku sedang menangis tersedu sedu di dakam kamar mandi. Pantas saja aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa tertidur pulas semalam. Siapa lagi yang menolongku kalau bukan Jiwoek. Itukah sebabnya dia mengganti bajuku? Sudah pasti bajuku basah semua karena aku membuka air dan aku membiarkannya penuh dan mengalir menggenangi lantai. Aku banyak merepotkan Jiwoek. Aku berhutang budi padanya, apa aku bisa membalas kebaikannya.


"Sorry I always to bother you..." aku meminta maaf pada Jiwoek karena selalu merepotkan dia, aku mengucaokannya sambil sedikit tertunduk. Aku malu terus-terusan merepotkannya.


"don't apologize,Gigi. It makes us more uncomfortable. Don't feel guilty and don't feel burdened."


Jiwoek tidak mau aku meminta maaf. Itu hanya akan membuat kami justru saling tidak nyaman. Aku tidak boleh merasa bersalah dan terbebani.


Harusnya aku senang mendengar hal ini, tapi aku semakin merasa tidak enak padanya.


Aku menutupinya dengan anggukan dan senyuman, hingga Jiwoek pergi meninggalkan aku sendiri di kamar mandi.