
Aku tidak sanggup menjelaskannya. Aku tidak bisa mengatakan hal yang sejujurnya. Dalam benakku masih sangat berat jika harus bercerita tentang Jakko. Bagaimana Jakko tidak pernah kembali, pergi, menghilang, tepat di depanku.
Semuanya karena aku. Ini semua salahku. Rasa sesak, penyesalan, kesedihan yang teramat dalam ini…entah kapan baru bisa aku menerimanya.
Aku masih tersedu-sedu di hadapan Jiwoek yang memelukku. Rasa tenang ini entah dari mana datangnya. Dengan segudang rasa sakit di hatiku, aku masih bisa merasakan bagaimana ada orang lain sekarang ini membelaiku lembut sedang berusaha menenangkan aku.
Lalalala…..
Nada dering Hpku berbunyi. Jiwoek memberikannya padaku, itu dari mamaku. Aku jadi semakin tersedu-sedu. Aku tidak akan mampu menjawab jika mama kembali menanyakan tentang Jakko.
Dengan pandangan yang setengah memohon pada Jiwoek…aku tidak ingin menerima panggilan dari mamaku sekarang. Sepertinya Jiwoek tahu maksud pandanganku. Dia menolak panggilan dari mamaku. Dan menonaktifkan HPku. Aku sangat berterima kasih untuk hal kecil yang sudah di lakukan olehnya.
Aku tahu keluargaku pasti akan sangat mengkhawatirkan aku jika tidak lagi bisa menghubungiku. Aku marah pada diriku sendiri. Bukannya aku tidak bahagia bisa menghubungi keluargaku lagi. Tapi….jika itu menyangkut Jakko, aku tahu aku salah tapi aku takut. Apa ini dampak dari Psikomatis yang aku derita.
Air mataku, sungguh tidak mau berhenti. Ada yang mengganjal di hatiku yang susah untuk aku deskripsikan. Jiwoek mendekat ke padaku dan menepuk punggungku. Dia berusaha menenangkan aku.
“I don’t know what do you talking about…” Jiwoek tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan.
“Gigi, you calm down….” Dia menyuruhku untuk tenang.
Jiwoek berhenti menepuk punggungku. Dan ketika aku masih sibuk dengan hatiku sendiri, Jiwoek mengusap air mataku dengan tissue. Dia membungkuk dan menatapku dalam.
“Don’t Cry….” Jangan menangis katanya.
“Gigi, let’s sit there..” Jiwoek memintaku untuk pindah duduk di kursi yang berada di depan Televisi.
“Tell me…maybe it can make you calm.” Lanjut Jiwoek.
Ceritakan padaku…, mungkin itu bisa membuatmu lebih tenang. Begitu yang di ucapkan Jiwoek.
Aku mengangguk, mengusap air mataku. Tidak boleh terus membiarkan diriku larut dalam kesedihan ini. Aku berusaha turun dari kursi tempat aku duduk. Aku membiarkan Jiwoek menangkapku. Dia membawaku berjalan berdampingan dengannya ke arah kursi yang di maksud. Pelan-pelan dia menuntunku.
Setelah sampai di kursi yang di maksud. Sekali lagi Jiwoek mengusap air mata yang masih menempel di pipiku dengan tangannya.
“You calm down Gigi…” Jiwoek meminta ku lagi untuk tenang.
“Listen to me, Gigi. Calm down, okay…. Don’t think to much.” Ucap Jiwoek.
Dengarkan aku Gigi. Tenanglah, jangan berpikir terlalu banyak. Ucapan Jiwoek ini sederhana, tapi memberi pesan mendalam buatku.
“Now, may I have your family’s phone number?” Jiwoek meminta nomor telepon keluargaku. Untuk apa?
“You family’s can speak English?” Jiwoek bertanya apa keluargaku bisa berbicara bahasa Inggris.
Aku menjawabnya dengan anggukan. Aku mulai tenang, tanpa aku sadari percakapan yang sudah dilakukan Jiwoek ini cukup efektif menghentikan air mataku secara perlahan.
Lagi-lagi, seperti tahu apa yang sedang aku tanyakan dalam hati, Jiwoek menjelaskan.
“I will represent you to explain to them about your situation. So, they no longer worry about you.”
Dia ingin berbicara dengan keluargaku mewakiliku untuk menjelaskan tentang keadaanku disini. Agar keluargaku tidak lagi khawatir.
Niatnya baik. Apa cara ini lebih baik. Jiwoek tidak tahu tentang Jakko, jadi jika mama atau Veve bertanya tentang Jakko akan lebih aman bukan? Alasan Jiwoek masuk akal. Tidak ada alasan buatku menolak niat baiknya.
“As long as you agree, I will do it…” Asalkan aku setuju, Jiwoek akan melakukannya untukku.
Semua perkataan Jiwoek hanya ku jawab dengan anggukan.
Jiwoek mengambilkanku air mineral, yang di taruh di meja yang berada persis di depanku dan aku masih bisa menjangkaunya sendiri.
"Drink it Gigi" menyuruhku meminum air yang sudah di ambilkan olehnya.
Kemudian menaruh sekotak tissue tepat di sebelah kananku. Sepertinya dia mewaspadai kalau-kalau aku menangis lagi.
Jiwoek menyodorkan HPku yang sudah di aktifkan lagi olehnya. Aku menerimanya dan mencari nomor telp Mamaku. Aku membukanya di layar penuh dan menyerahkannya pada Jiwoek. Jiwoek segera menekan nomor dari Hp miliknya.
Agak lama sampai akhirnya Jiwoek berkata “Hallo” dan menjauh dariku.
Entahlah, apapun yang di katakan Jiwoek pada keluargaku aku sudah tidak lagi peduli. Sekarang aku baru yakin, tidak mungkin Jiwoek mempunyai niat yang buruk terhadapku setelah apa yang sudah dia lakukannya untukku. Dia sedang menjadi juru bicaraku saat ini. Menghadapi mamaku bukan hal yang mudah.
Cukup lama Jiwoek berbicara dengan keluargaku. Bagaimana bisa tidak ada ketegangan dalam wajah yang cantik itu. Jiwoek begitu tenang, sesekali aku melihatnya tersenyum dan tertawa dari kejauhan. Apa yang sedang di tertawakan olehnya? Apa ada hal yang Lucu tentangku. Aku meyakinkan diriku lagi, agar aku mempercayai Jiwoek.
Laki-laki yang mempesona, aku baru menyadari ada keistimewaan dari Jiwoek. Dari tempatku duduk ini , walaupun samar aku melihatnya yang masih terus menelpon. Wajah nya yang cantik sudah melekat dan langsung bisa aku bayangkan dengan jelas. Sebelumnya aku hanya menduganya. Tanpa berani bertanya padanya. Ah…kenapa wajahnya jadi terlihat jelas dan nyata … persis … sama … seperti… aktor tampan dari negara ini. Iya, ini Jiwoek yang sama. Aku yakin kali ini. Jiwoek yang selama ini ada di dekatku adalah Jiwoek si aktor tampan itu.
Sungguh…. Aku menutup mulutku sendiri karena tidak percaya. Kemana saja aku selama ini, kenapa aku baru bisa yakin kalau Jiwoek ini adalah orang yang sama…ah…maksudku Jiwoek yang ini adalah Jiwoek si aktor terkenal itu. Bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Aku terlambat menyadarinya. Aku sudah menduganya sebelum ini, tapi aku belum yakin sebelum bertanya padanya. Tapi sekarang, tanpa bertanya, 100% aku yakin dia Jiwoek si aktor tampan itu.
Aku mendesah kecil, kenyataannya Jiwoek tidak tampan, dia cantik…wajahnya sangat imut. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tidak terlalu berisi tapi cukup atletik. Kulitnya sangat mulus untuk ukuran laki-laki, terlalu halus seperti kulit bayi. Rambutnya hampir menutupi matanya yang lebar. Aku bisa melihatnya tertawa lagi, padahal karakter bibir Jiwoek tidak tipis lumayan tebal tapi ketika dia mulai tertawa bibirnya menghilang dan menampakkan barisan giginya yang rapi. Aku terpesona. Ah, ini keberuntunganku kan? Iya kan….