
“Mama…Veve….” aku memeluk mereka sangat erat.
“Sayangku Gigi, kamu sudah melalui banyak hal-hal hebat dalam hidupmu. Maafkan mama tidak bisa mendampingimu di saat paling buruk dalam hidupmu. Terima kasih kamu sudah kuat menjalaninya. Kamu putri mama yang paling hebat.”
Mamaku mengusap rambutku, memelukku dan sesekali mencium lembut pipiku.
“Aku sangat rindu kalian” ucapku sambil menangis, karena tidak bisa menahan haru bisa bertemu mereka.
Ini benar-benar diluar hal yang aku duga. Sedangkan Veve sudah terisak sambil menyeka airmatanya di samping mamaku. Adikku yang begitu cuek dan sangat ceria juga bisa sesedih ini. Aku sangat meridukan mereka.
Sekelebat gambar Jakko melintas di pikiranku. Jakko, aku mengingatnya kembali. Sekujur tubuhku seperti lemas secara mendadak tanpa sebab entah karena rasa bahagia karena bisa bertemu kembali dengan mama dan Veve. Atau karena bertemu mamaku bisa mengingatkanku tentang Jakko. Aku bahkan sudah tidak lagi bisa memahami diriku sendiri.
“Gigi…” Mamaku memelukku dengan lebih erat agar aku tidak terjatuh.
“Kak Gigi…” Veve juga tidak kalah terkejutnya dengan mamaku karena kakiku tiba-tiba lemah tidak bisa menyangga tubuhku.
Aku terjatuh dalam pelukan mamaku. Beruntungnya aku karena ada Jiwoek dan Veve yang dengan sigap menangkapku dari belakang.
Ada apa lagi dengan kakiku yang tiba-tiba lemas ini?Meski tertatih-tatih aku masih bisa berjalan tadi, aku bahkan bisa berlari kecil untuk mengejar Jiwoek yang yang marah.
Jiwoek dengan entengnya menggendongku yang tanpa permisi seperti biasanya. Jiwoek tidak memandang ke arahku sama sekali. Apa dia masih marah padaku? Tapi dengan kesigapannya barusan tentu bukan karena dia masih marah padaku kan?
“Thank you, Woek…” ucapku lirih pada Jiwoek. Meski Jiwoek tidak sedikitpun menanggapi apa yang aku ucapkan.
Jiwoek membawaku ke tengah ruangan rumah ini, disana ada sofa yang besar bahkan dari jauh sudah terlihat begitu nyaman jika aku duduk di sana. Jiwoek sepertinya sangat hafal dengan rumahnya ini.
Di antara pintu masuk dan ruangan tengah ini ada pembatas berupa tangga turun ke ruangan tengah. Jiwoek tanpa kesusahan menuruninya tanpa melihat letak tangganya.
Dan benar saja, Jiwoek berjalan ke arah Sofa yang nyaman itu. Dia mendudukkan aku disana dengan hati-hati. Jiwoek dengan sigap menyeka air mataku di pipiku.
Ada apa denganku? Dengan melihat Jiwoek barusan aku bahkan tidak memikirkan lagi Jakko. Tidak, tidak boleh secepat ini aku terpikat oleh Jiwoek. Ini benar-benar tidak adil buat Jakko.
Mamaku dan Veve dengan buru-buru menghampiriku. Mamaku masih dengan tingkat kehebohan seperti biasanya.
Mamaku langsung memeriksa kakiku, lututku, pipiku menghadapkan wajahku ke kanan dan ke kiri.
“Are you okay sweet heart…?” kata mamaku gugup.
Sweet heart? Ini pertama kalinya aku mendengar panggilan ini dari mulut mamaku.
Sama halnya dengan Veve, dia juga tampak panik di balik mamaku.
“I’m okay, ini bukan apa-apa ma, aku baik…” aku berusaha menggerakkan kakiku sekuat tenaga, tapi kakiku melemas dan tetap pada tempatnya. Sama sekali tidak bisa beegerak.
Aku sendiri terkejut lebih dari siapapun, kenapa lagi dengan kakiku ini?
Aku baik-baik saja tadi.
Ada apa ini?
Sepertinya, Jiwoek sangat menyadari dengan apa yang aku rasakan. Dia langsung mengeluarkan lagi HP miliknya, dan sepertinya dia akan menghubungi seseorang.
“Radovan…..” Jiwoek menelpon Radovan. Dan pergi menjauh dariku.
Bukan mamaku namanya kalau tidak tanggap dengan apa yang sedang aku rasakan.
“Ada apa Gigi?” mamaku duduk di sampingku sambil mengelus-elus kakiku.
“Kaki kak Gigi gak bisa bergerak lagi?” Veve langsung to the point seperti biasanya.
Aku hanya diam dan sebisanya tersenyum. Aku tidak mau membuat mereka jadi sedih karenaku. Tapi nyatanya, kakiku benar-benar lemas kali ini.
“Anak Mama yang hebat sabar ya… Kaki Gigi baik-baik saja, kakinya begitu tangguh menopang tubuh mungil ini. Ini tubuh bukan sembarang tubuh yang mungil, di dalamnya banyak sekali perhiasan dunia. Jadilah kaki Gigi yang kuat yang selalu menopang tubuh mungil ini…” mamaku seolah seperti membacakan mantra untuk kakiku.
“Aku rasa kakiku cuman butuh istirahat ma…” aku tersenyum pada mamaku agar tidak khawatir.
Veve yang ada di samping kiriku, ikut memijat-mijat kakiku. Dia tertunduk melihat kakiku, seperti ada sesuatu disana yang ini dilihat tapi kasat mata.
Dari tempatku ini aku melihat butiran air mata jatuh begitu saja dari wajah Veve yang cantik.
Aku yang melihatnya langsung merengkuhnya dalam pelukanku. Dia sangat peduli padaku. Bagaimana aku bisa selemah ini? Sedangkan ada begitu banyak orang yang sangat menyayangiku dan menginginkan yang terbaik untukku.
Mana boleh aku begini ?
“Veve, aku baik-baik saja…sungguh aku sehat. Kakiku ini hanya merasakan capek saja, tadi aku dalam perjalan yang panjang dan lama, besok aku pasti bisa berjalan lagi. Tenanglah, don’t cry my little baby…” aku mencium dahinya, berusaha meyakinkan mereka, bahwa aku baik-baik saja.
Dari samping kanan ku mamaku seperti memberi isyarat pada Veve untuk tidak menangis.
“Zielve, sayang kak Gigi…” ucap adikku sambil memelukku dan mencium pipiku.
Ah…aku tidak ingin menangis lagi.
Tapi yang di lakukan Veve barusan buatku menyimpan banyak arti. Seperti dia ingin berkata, baik-baik ya kak, cepat sembuh, jangan sedih lagi, semua baik-baik saja, jaga dirimu baik-baik, ini semua bukan salahmu, jangan menghukum dirimu, kami ada di sisimu.
Ya, seperti itu rasanya. Zielve sayang kak Gigi….mempunyai banyak arti yang sangat aku butuhkan untuk menguatkanku. Veve…adikku yang sangat ceria, tiba- tiba jadi semelow ini karena aku.
“Maaf, membuat kalian jadi khawatir.” ucapku kemudian.
Terima kasih atas hari ini, aku bisa bertemu dengan keluargaku. Harusnya ini jadi pertemuan kejutan yang sangat membahagiakan, tapi semua moment indah itu, hilang begitu saja karena kakiku yang tiba-tiba lemah.
Moment bahagia ini jadi berubah menjadi moment yang berurai air mata.
Jiwoek, ini berkat Jiwoek. Dia bahkan tidak memberitahuku sebelumnya akan membawaku kemana? Mungkin dia ingin membuat kejutan untukku, tapi aku malah membuatnya marah. Aku sudah salah paham kepadanya.
Niat baiknya ini, aku tidak bisa membalasnya. Tadi seharusnya aku tidak berpikiran sempit seperti itu. Aku hanya berpikir dari sisi Xakan, aku tidak berpikir dari sisi Jiwoek. Aku mengacaukan semuanya hari ini.
Maafkan aku, Woek.
**
Untunglah tidak ada hal yang serius terjadi dengan kakiku. Dua jam kemudian kakiku bisa di gerakkan seperti sebelumnya. Sorakan Veve yang paling riuh ketika melihatku bisa berdiri dan berjalan meski agak tertatih.
JIwoek sedari tadi belum kembali, sepertinya dia keluar dan membiarkan aku bersama dengan mama dan adikku.
Mamaku dan Veve, sepertinya sangat hafal dengan rumah Jiwoek ini, mereka bahkan tidak lagi sungkan dan merasa sangat nyaman berada disini. Ini seperti bukan hari pertama mereka disini.
“Mama, kapan mama sampai disini?” tanyaku ketika aku mengikuti mamaku ke dapur rumah ini.
“Ahhhh….pantas saja dua hari yang lalu aku menelpon dan kalian tidak ada yang menerima panggilanku.”protesku
“Maaf, kak. Jiwoek yang menyuruh kami untuk merahasiakan ini dari kakak.” Adikku nyengir dan berlalu meninggalkan kami.
“Begitu rupanya, kenapa kalian selalu seperti ini? Setiap kali kalian selalu merahasiakan dariku sama seperti saat Jakko du….lu…..” ucapku begitu spontan menyebutkan Jakko dan berakhir pelan.
Ah, Lukaku ini. Luka yang bernama Jakko. Hatiku sakit, sangat sakit….aku tidak bisa menjabarkannya….tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Mamaku menyadari ucapanku, beliau meletakkan kembali pisau dari tangannya yang sedang lincah memotong wortel.
“Bukan salahmu sayang….apa yang terjadi dengan Jakko bukan salah Gigi. Ini sudah jalan yang harus kamu lewati. Jangan menyalahkan diri sendiri.”mamaku memelukku.
Kali ini air mata ku mengalir dan aku hanya mematung meski mamaku sudah memberiku pelukan kekuatan untukku.
“Kita jangan membahas ini ya ma.” Kataku sambil menyeka air mataku.
Aku mengambil alih kesadaranku, aku tidak mau menangis lagi di depan keluargaku. Mereka bisa sedih karena aku.
Tunggu dulu, Papaku?
Apa papaku tidak datang kesini juga?
“Ma, papa nggak ikut kesini ya?”tanyaku
Mamaku kembali memegang pisaunya lagi, dan melanjutkan kegiatannya.
“Papamu masih ada urusan, dia datang kesini sedang ada pertemuan dengan seseorang.” Jawab mamaku
“Pertemuan? Dengan siapa? Papa punya kenalan di negara ini? Siapa ma?”
“Mama juga nggak tahu, sepertinya mau mengurus masalah paspormu.”jawab mamaku.
“Bahagianya aku memiliki kalian.” Aku memeluk mamaku dan mencium pipinya.
“My sweet Heart…”mamaku membelai kepalaku dengan tangan kirinya.
“Papa sendirian ma?” tanyaku lagi.
“Tidak mungkin papamu yang pemalu itu bisa melakukannya sendiri. Tadi padi Radovan dan mamanya Jiwoek yang mengantar…”
“Ibunya Jiwoek???” kataku memastikan lagi.
“Iya… kenapa?”
“Vara?...”tanyaku menggantung.
“Oooo, Varawook maksudmu…?” kata mamaku.
“Dia, lucu sekali kak. Apapun yang dilakukannya semuanya lucu….dia selalu menirukan Jiwoek sepanjang hari. Bukankah dia terlihat mirip dengan Jiwoek, bagaimana menurutmu kak?” tiba-tiba Veve menghampiriku dan mama yang sedang asik mengobrol.
Seperti biasa dia selalu ikut bicara, menjawab pertanyaanku untuk mama. Sepertinya selama aku nggak ada dia sudah naik jabatan jadi juru bicara mama.
#Untuk kesekian kalinya#
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Saya pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya karena lama untuk update episode ini
🙏🙏🙏🙏🙏
Untuk episode kali ini, saya meminta maaf untuk keterlambatan saya karena banyak hal dan kesibukan pribadi saya.
🙏🙏🙏🙏
Terima kasih sudah selalu setia menunggu episode selanjutnya dari "Love has No Limit"
🙏🙏🙏
Semoga Episode kali ini bisa menghibur dan tidak mengecewakan Readers setia.
🙏🙏
Readers saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih untuk setiap semangat dan dukungan yang di berikan.
🙏
Saya juga berterima kasih untuk setiap kritik dan saran dari **Readers.
Readers....
♦Don't be panic
♦Always keep calm
♦Protect your self and other
♦Stay at home
♦Stay Positive
♦We having such a good time at home
♦Clean Care is in Your Hands
♥Says Goodbye 👿COVID 19👿
♥Go back 👿CORONAVIRUS👿
...
❄Everything gonna be okay❄
🙏🙏🙏**