Love has no Limit

Love has no Limit
My Second Love Mom



“Gigi, tomorrow my mother will come here.” Kata Jiwoek dari kejauhan setelah memutuskan sambungan telepon dari HPnya.


Sepertinya Jiwoek baru saja bangun tidur, dia mengatakannya dengan setengah hati di ujung pintu kamar. Dengan rambut yang setengah acak-acakan, dan wajah yang terlihat jelas kalau dia sebenarnya masih mengantuk. Dia sangat serius dengan ucapannya.


Pagi hari ini adalah pagi yang indah ketika aku membuka jendela di kamar tadi, cahaya mataharinya begitu bebas menerobos masuk ke setiap celah yang bisa di hinggapi. Kenapa ada kabar mendadak seperti ini. Kabar yang sukar untuk aku pilah, entah ini kabar baik atau kabar buruk buatku.


Jiwoek bilang besok ibunya akan datang kesini.


Apa?


Ibunya mau datang, lalu bagaimana dengan aku?


Apa aku harus pergi dari sini?


Tapi aku harus kemana?


Ada apa ini?


Kenapa tiba-tiba? Seperti apa ibunya?


Mendadak ada perasaan yang menyeruak dan aku tidak bisa menjabarkannya.


“I have a photo schedule tomorrow. My mother is a very kind and is a very friendly person. You just do what usually do.”Begitu pesan Jiwoek.


Jiwoek berjalan ke arahku dan membuka pintu kulkas yang berada persis di belakangku. Dia mengambil air mineral dingin dan langsung meminumnya.


Katanya besok dia ada jadwal pemotretan. Katanya aku tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal, karena ibunya adalah seseorang yang sangat ramah dan baik. Begitu katanya.


“Umm…Woek, Do I have to cook something for her. Or maybe there are foods that he used to like?” Aku menanyakan barangkali ada sesuatu yang bisa aku masakkan untuk ibunya, atau ada sesuatu yang di sukai oleh ibunya Jiwoek.


Aku masih nampak kebingungan dengan hal yang mendadak seperti ini.


Lalu bagaimana dengan aku?


Apa harus keluar dulu sementara sampai Ibunya kembali?


“Emmm, how about me?” aku menanyakan pada Jiwoek, aku harus bagaimana?


“What…”


Jiwoek menghampiriku tepat di sebelahku, dan mengambil telur dadar yang aku potong untuk persiapan sarapan pagi kami.


“I mean, Do I have to leave first from here….” Aku belum selesai menyelesaikan kalimatku Jiwoek sudah memotong ucapanku.


“No….No! No….Gigi…” Jiwoek mengatakannya dengan setengah berteriak dan sedikit mengagetkanku. Bukankah dia bisa mengatakan ‘tidak’ dengan sederhana. Kenapa dia bersikap sedikit berlebihan.


“I already said you just have to do anything as usual…..” Jiwoek menyambungnya dengan sangat tegas. Walaupun dia seorang aktor, tapi reaksinya ini berlebihan buatku. Ini pertama kalinya aku melihat Jiwoek yang meledak-ledak seperti ini.


Aku memang mendengarnya mengatakan, aku hanya perlu melakukan seperti biasanya. Tapi bukankah ibunya akan ada pertanyaan kenapa aku ada di sini? Siapa aku? Aku akan menjawab apa nanti.


Jiwoek berjalan sedikit mondar-mandir di belakangku, aku menengok dan melihatnya sambil memegang dahi kepalanya. Apa yang ada dalam pemikirannya sekarang ini?


“I'm sorry, I mean you don't need to go anywhere stay here like every day.”


Jiwoek mengambil kursi dan duduk sambil menghadapku yang masih sibuk dengan hidangan sarapan pagi kami.


Jiwoek meminta maaf, secepat ini dia menyadari kesalahannya barusan. Dia menjelaskan padaku aku tidak perlu kemana-mana dan tetap tinggal disini seperti setiap harinya.


“What If you mother ask who I am?”Aku bertanya bagaimana jika ibunya bertanya siapa aku.


Jiwoek sedikit terkekeh, apa yang membuatnya lucu dengan apa yang baru saja aku katakan?


Aku bertanya dengan menaikkan alisku, aku yakin Jiwoek tahu maksudku.


Katanya ibunya sudah tahu tentang aku, justru karena itu ibunya datang ke sini untuk melihatku.


“Why….?” Aku bertanya Jiwoek kenapa ibunya ingin melihatku?


Apa ini masuk akal?


Untuk apa?


Apa aku sangat mengganggu kehidupan putranya?


Apa beliau akan mengusirku?


Seperti drama yang biasa aku lihat?


Tapi aku ini siapa?


Bahkan aku ini bukan pacarnya, aku ini…Tunggu dulu, aku bahkan tidak tahu apa kedudukanku di rumah ini?


Aku hanya tukang masak Jiwoek yang tidur di tempat tidurnya, dan membiarkan majikanku tidur di sofa kamar?


Apa penggambarannya cukup tepat, jika kukatakan seperti itu?


Arrgghh, aku tidak ingin terlalu memikirkannya. Yang penting aku harus sembuh, dan segera pulang.


“Ask my mom tomorrow.” Kata Jiwoek sambil berlalu pergi dari dapur. Sepertinya dia kembali ke kamar untuk mandi.


**


(Keesokan hari sudah tiba)


Hari ini berbeda dengan hari biasanya, aku bangun dengan pemikiran….ibunya hari ini datang…..


Aku sangat tidak tenang, serba salah dan sangat kikuk. Entah hari ini tidak bisa aku lalui dengan biasa. Aku bahkan bangun lebih pagi dari biasanya. Dan beberapa kali aku kehilangan kendali dengan tongkat penyanggaku.


Di pagi buta aku sudah membersihkan debu di setiap sudut lantai partemen jIwoek ini.


Aku merapikan semua yang nampak di apartemen Jiwoek. Agar memberi kesan terlihat nampak istimewa.


Pagi siang sore, aku tidak tahu tentang kedatangannya.


Masih di selimuti gugup yang tidak menentu, aku terus membuka dan menutup pintu kulkas. Sungguh rasa dalam hatiku sekarang ini campur aduk. Apa yang harus aku siapkan untuk menu sarapan pagi.


Aku bahkan mengeluarkan bahan makanan yang ada di kulkas, dan memasukkannya lagi.


Aku melakukannya beberapa kali, karena aku ragu dengan apa yang akan aku masak untuk Jiwoek untuk persiapan sarapan pagi kami.


Aku bahkan tidak tahu jam berapa ibunya akan datang? Tapi aku sudah serba salah dari pagi. Aku sudah berusaha melakukan semuanya seperti biasa, tapi kali ini aku ingin sedikit lebih sempurna dari biasanya. Seperti sedang menunggu hasil pengumuman rasanya.


Aku pikir aku akan membuat beberapa tumis sayur dan akan memakannya dengan roti. Tapi aku sudah membuatnya 2 hari lalu. Aku bahkan kebingungan dengan menuku sendiri. Beberapa kali aku hanya mematung di hadapan sayuran yang entah harus kuapakan.


Begitu pula dengan jiwoek, sepertinya dia juga menyiapkan hari ini lebih awal. Jiwoek bilang padaku jadwalnya memang agak pagi.


Laki-laki ini, mempunyai wajah secantik dan secerah ini???


Perempuan mana yang tidak terpesona?


Aku sendiri, untuk beberapa kali terakhir ini aku tidak memungkiri aku terpesona olehnya, Jiwoek memang begitu tampan. Mudah bagiku untuk mengagumi sosok Jiwoek yang mempesona ini, karena aku adalah penggemarnya bahkan sejak aku masih di negara asalku.


Tapi Jiwoek belum tahu tentang ini. Kalau aku juga adalah penggemarnya? Bodohnya ku tidak bisa mengenalinya dari awal. Sepertinya aku hanya penggemar dari level tingkat paling rendah, karena tidak bisa mengenali idolanya sendiri. ^_^