Love has no Limit

Love has no Limit
Caracas with Love



Pemandangan di samping kanan dan kiri jalan sangat indah. Banyak sekali pepohonan dan bunga-bunga liar yang sayang jika mataku melewatkannya.


“Woek, may I open the mirror?” aku bertanya pada Jiwoek apakah aku boleh untuk membuka kaca.


Jiwoek meski tanpa kata dia membuka kaca dari pintu yang mengahalangiku menikmati indahnya pemandangan di tepian jalan.


Anginnya….ini sangat menyegarkan.


Anginnya… aku sangat menikmatinya.


Ini memang panas tapi aku menyukainya. Apa mungkin karena aku sudah lama tidak pernah melihat suasana di luar? Waktu yang cukup lama untukku bertahan di dalam rumah Jiwoek selama hampir 2 bulan.


Kemana sebenarnya Jiwoek akan membawaku? Aku sungguh sangat penasaran. Semoga ini tidak ada hubungannya sama Jakko lagi. Aku tidak menghindar tapi…. Luka dalam hatiku ini akan membawaku pada kesedihan yang sangat dalam. Terlalu dalam hingga tidak dapat aku ungkapkan.


“You like it, Gigi?” Jiwoek bertanya apakah aku menyukainya?


“What’s like?” aku malah menanyakan hal yang sama, aku tidak memahami yang di katakannya barusan.


“I saw you close your eyes for a few moments.” Jiwoek bilang dia melihatku memejamkan mata untuk beberapa saat.



“oh, I enjoy it. Try to feel it, Woek” aku menikmatinya dan menyuruh jiwoek untuk merasakannya.


Jiwoek membuka kacanya juga dan mengeluarkan tangannya, membentangkan sebentar dan menariknya kembali untuk mengemudi.


“You feel it?” tanyaku antusias, apakah dia juga menikmatinya sama sepertiku.


“I don’t know…I Can’t feel that. This is just the wind” Jiwoek bilang dia tidak tahu dan tidak bisa merasakan seperti yang aku katakan. Katanya itu hanya angina saja.


“Maybe because I haven’t breathed in the air of freedom for along time.” Jawabku pada Jiwoek.


Aku mengatakan padanya mungkin karena aku sudah lama tidak menghirup udara kebebasan.


“Are you bored at home all the time?” Jiwoek bilang apakah aku bosan berada dalam rumah sepanjang waktu.


Sejujurnya iya, aku bosan sangat bosan harus berada di sana sepanjang waktu. Tapi kondisi kakiku kan tidak memungkinkan, ditambah lagi aku menumpang pada Jiwoek. Aku juga selalu merepotkannya. Dia sudah merawatku sejauh ini. Dan memenuhi setiap keperluan dan kebutuhanku. Aku harusnya bisa bersyukur untuk setiap kebaikan yang di berikan oleh Jiwoek.


Aku tidak enak mengakuinya pada Jiwoek. Aku menggelengkan kepalaku pelan.


“Really?” Jiwoek seolah meragukan jawabanku.


Aku mengangguk berusaha meyakinkan jawabanku. Agar Jiwoek percaya kepadaku.


Aku melihat di sudut kananku sudah ada sebotol air mineral. Kapan Jiwoek membelinya?


Aku mengangkat air mineralku, menunjukkan pada Jiwoek dengan maksud bertanya padanya, dari mana air mineral itu secara ajaib bisa ada di sampingku?


Jiwoek seolah sangat sadar dengan yang apa yang aku lakukan, bahkan tanpa aku bertanya jiwoek sudah menjelaskan padaku.


“ I bought it earlier when you slept. I don’t want to wake you up.” Jiwoek bilang dia membelinya katika aku tidur tadi dan dia tidak mau membangunkan aku.


“ah, I’m sorry” aku meminta maaf karena sudah tertidur.


“Why are you apologizing?” Jiwoek bertanya kenapa aku harus meminta maaf.


“I feel sorry to bother you all the time..” jawabku. Aku merasa bersalah selalu merepotkan Jiwoek setiap kali.


“You know, Gigi. Ever since you where by my side, I felt like I had someone to look after.”


Jiwoek bilang sejak ada aku, dia seperti merasa ada seseorang yang harus dia jaga.


“I’m really sorry to you. If only there wasn’t me you wouldn’t need to feel responsible and have to take care of me. I, m just a burden to you all the time.” Kataku sambil mengeluarkan tanganku ke luar untuk merasakan hembusan angin.


Aku sungguh minta maaf pada Jiwoek, kalau saja tidak ada aku tentu Jiwoek tidak harus merasa bertanggung jawab dan harus menjagaku. Aku ini hanya beban saja buat Jiwoek sepanjang waktu.


“Stop saying that, Gigi. It’s not like a heavy burden. Emm, I mean….this is something I’ve been dreaming of for a long time.”


Jiwoek menyuruhku untuk berhenti mengatakan apapun yang membuatku merasa bersalah. Jiwoek menjelaskan bahwa itu bukan sesuatu beban yang berat baginya. Dia bilang ini adalah sesuatu yang sangat di dambakan olehnya dalam waktu yang lama.


“Dreaming for a long time?” aku justru menanyakan tentang hal apa yang sudah lama Jiwoek impikan?


“Yeah…As you know, Gigi. I don’t have a younger sister. I feel you are gift that God has sent to me.”


Kata jiwoek, seperti yang kutahu Jiwoek tidak punya adik perempuan. Jadi Jiwoek merasa aku adalah hadiah yang sudah kirim kepadanya.


Ah, Jiwoek menganggapku adik selama ini. Bangganya aku di anggap adik oleh laki-laki cantik yang begitu terkenal. Sekali lagi aku ingin bersyukur karena merasa beruntung. Tidak semua orang bisa merasakan seperti yang aku rasakan. Bisa sedekat ini dengan aktor yang rupawan ini, siapa saja akan iri kepadaku.


“Ah, I’m so lucky. I have a brother who is very famous.” Aku tersenyum padanya.


“Ah, my lil sister…” Jiwoek mengelus rambutku.


**


“We arrived, Gigi” Jiwoek berkata kalau kami sudah sampai.


Aku melihat jam di HP ku. Ini benar-benar perjalanan yang panjang, 3 jam Jiwoek menyetir.


Aku menegakkan punggungku untuk melihat sekitar. Sebelum Jiwoek belok ke kanan, di ujung jalan aku membaca papan bertuliskan


“Welcome back home sweet home, Caracas Island”


Caracas Island?


Namanya sangat asing di telingaku.


Pulau Caracas?


Aku tidak pernah mendengar kalau Caracas adalah sebuah nama pulau. Tunggu dulu, perjalanan kami tidak melewati laut , hanya melalui jalur darat. Aku juga tidak melihat ada laut di sepanjang perjalanan tadi.


Belum selesai aku dengan apapun yang sedang aku pikirkan. Jiwoek mulai berbicara,


“Itu rumahku, Gigi.” Jiwoek menunjukkan dengan tangannya sebuah bangunan yang tampak sangat sederhana, tapi begitu eksotis karena tampak depan di kelilingi oleh dinding-dinding kayu.


“Ah, rumahmu, Woek. Kamu berasal dari sini, Caracas island” aku mengangguk setelah melihat begitu uniknya rumah Jiwoek.


Jiwoek hanya tersenyum cerah menjawab pertanyaanku.


Laki-laki ini memang cantik, apalagi jika aku melihatnya dari samping seperti sekarang. Dari sudut manapun Jiwoek memang tampan. Aku benar-benar terpesona dengan ketampanan Jiwoek.


Eh, tunggu dulu…apa baru saja Jiwoek berbicara lagi dalam bahasaku? Aku sampai tidak memperhatikannya.


“Wait a minute, how can you speak using the same language as me, Woek?” tanyaku penasaran. Aku sungguh penasaran bagaimana Jiwoek bisa menyebutkan beberapa kalimat dalam bahasaku.


Jiwoek mengangkat HP miliknya. Seolah menjelaskan dia belajar dengan HP miliknya.


Xakan Calling, tiba-tiba HP milik Jiwoek berbunyi. Kali ini Jiwoek tidak langsung menjawabnya seperti biasanya. Jiwoek malah mematikan ponselnya.


“Hey, Xakan calling…” aku menegurnya karena sudah mematikan panggilan dari Xakan.