
Apa pertanyaanku begitu sulit untuk di jawab. Jiwoek tidak membuka mulutnya sama sekali. Seperti orang yang sedang kebingungan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggunya berbicara. Aku tahu dia menyadari hal itu.
Jiwoek menyandarkan punggungnya di kursi yang di duduki olehnya. Jiwoek terus memandangku tanpa kata sebelum akhirnya dia membuka suara,
“At that time…… there were many rumors that terrorists were in the country. “Jiwoek berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Just look, other people can guess you are not from this country……You fainted on the road, so I thought bringing you here could save you. At least no one will suspect you. But, the problem is growing, it’s no longer about terrorists but political competition. Righ now they’re looking for the Café bomber. By hiding you to my place, I don’t think anyone will look for you.” Begitu penjelasan dari Jiwoek.
Jiwoek bilang saat kejadian banyak rumor mengatakan bahwa ******* sedang ada di negara ini. Katanya sekali lihat aku tidak seperti orang dari negara ini. Dan aku pingsan di jalanan, Jiwoek membawaku ke tempat ini untuk menyelamatkanku. Setidaknya tidak akan ada yang mencurigaiku. Tapi karena masalahnya semakin berkembang kali ini bukan lagi masalah tentang ******* tapi tentang persaingan politik. Dan badan hokum dari negara ini sedang mencari si pelaku pengeboman café. Dengan menyembunyikan aku di tempat ini tidak akan ada yang mencariku.
Penjelasannya sangat jelas, entah tiba-tiba ada sesak yang tidak bisa aku jelaskan. Aku tidak tahu apakah yang di lakukan Jiwoek padaku bisa di kategorikan sebagai hal yang menolongku. Benar kah?
Dia membawaku ke tempat ini karena ingin melindungi aku dari tuduhan, apa mendadak aku jadi tertuduh sebuah pengeboman.
Aku tidak melakukannya. Aku hanya meminta tolong Jakko untuk membeli minuman disana.
Apa pemberitaan di luar sedang banyak yang mencariku. Brarti apa aku sekarang menjadi seorang tersangka?
Aku menunduk dengan lemas, mendengar hal yang sepertinya membuat kepalaku seperti tidak sanggup menahan beban.
Di Negeri yang asing ini apa aku jadi buronan?
Benarkah seperti itu?
Hatiku mendadak berdegup begitu hebat.
Ada ketakutan, kecemasan, kesedihan, was was dan tidak percaya.
Aku datang ke negara ini hanya untuk menemui Jakko dan memberinya jawaban bahwa aku menerima lamarannya untuk menjadi istrinya.
Apa ini?
Tapi kenapa jadi seperti ini? Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan sekarang, rasa dalam hatiku bercampur aduk jadi satu.
Kenyataan apa ini?
Semoga ini hanya mimpi. Mimpi Panjang yang akan segera berakhir. Dalam diamku, aku menutup mataku sebentar mencoba menipu pemikiranku sendiri. Terus berharap bahwa semua ini tidak nyata, ini hanya mimpi…..aku berusaha meyakininya seperti itu.
Tapi….
Saat aku membuka mata, aku masih duduk di tempat tidur ini. Aku masih melihat Jiwoek yang terus memegang jari-jarinya sedikit memainkan jarinya sendiri. Seberapa besar lagi aku harus merasakan kesialan yang bertubi-tubi seperti ini. Aku tidak sanggup.
“Psychomatic…..Radovan said you suffer from psychomatic symptoms” tiba-tiba Jiwoek mengeluarkan lagi suaranya. Aku masih terdiam. Masih mencerna setiap ucapan Jiwoek.
“That’s what makes you unable to walk because there is a deep big shock in you” Jiwoek melanjutkan ucapannya.
Psikomatis, menurut Jiwoek Radovan bilang aku mengalami gejala Psikomatis. Dan karena psikomatis itulah aku tidak bisa berjalan, karena dalam diriku ada trauma terdalam yang sangat besar.
Apa lagi ini?
Kenyataan apa lagi ini?
Trauma apa?
Psikomatis apa itu?
Aku sudah tidak bisa membendung pertahananku. Hal-hal ini tidak bisa aku terima secara akal. Ini semua tidak masuk akal. Tidak bisa aku terima. Tidak, ini terlalu menyakitkan. Tidak bisa aku terima secara nalar. Seseorang, siapapun itu. Aku mohon katakan padaku ini sebuah kebohongan, ini semua tidak nyata.
“I want to go to the bathroom” aku ingin ke kamar mandi putusku, aku tidak bisa menangis di depan laki-laki yang tidak aku kenal.
Jiwoek yang terdiam hanya mengangguk ringan dan memundurkan kursinya.
“I’m getting sleepy so I want to wash my face before going to sleep” aku katakan pada Jiwoek kalu aku mulai mengantuk, dan aku perlu mencuci wajahku sebelum aku tidur.
Ini memang hanya sebuah alasan yang sedang aku buat.
Karena ini adalah aku yang sebenarnya, aku tidak pernah menunjukkan kesedihanku dan air mataku dengan sengaja kepada orang lain. Begitulah aku sejak kecil. Aku tidak mau melihat orang-orang di sekitarku mengkhawatirkan aku hanya karena aku menangis. Apalagi aku adalah seorang kakak, aku tidak ingin menunjukkan sisi rapuhku kepada siapa pun.
Akupun tahu mungkin Jiwoek menyadari ini hanya alasan yang aku buat untuk tidak lagi membahas hal-hal lain yang mungkin tidak bisa aku dengar kelanjutannya.
Jiwoek menggendongku lagi. Kali ini tanpa permisi. Semudah itu laki-laki ini berbuat sesuatu tanpa permisi. Jiwoek menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar mandi. Dan dia menurunkan aku, kali ini Jiwoek meraih tanganku dan melingkarkan di balik lehernya. Menuntunku di kursi yang masih berada sama seperti pagi tadi. Dengan dinding yang sama seputih tadi pagi, dan juga masih sama dalaman milik laki-laki ada disudut kamar mandi.
Membiarkan aku duduk dengan benar, setelah itu dia tidak segera meninggakanku. Dia mengambil jemuran miliknya secepat kilat. Mungkin Jiwoek baru menyadarinya, padahal dalaman miliknya itu sudahada di sana sejak pagi. Sambil menyembunyikan miliknya itu di balik badannya, dia berhenti tepat di depanku.
"Call me if you..." Jiwoek belum selesai bicara, aku memotong ucapan nya. Karena aku tahu apa yang akan di katakan oleh nya.
"I call you if I done." aku berkata padanya akan memanggilnya setelah aku selesai. Aku sudah bisa menebaknya.
Kalau aku tidak memanggilnya, aku juga tidak bisa berjalan sendiri ke tempat tidur itu.
Jiwoek tersenyum tipis kepadaku. Dia berlalu pergi sambil terus berusaha menyembunyikan apa yang di bawa olehnya.
Hal sederhana ini sejenak nengalihkan pikiranku.
Klek.
Pintu kamar mandi sudah di tutup oleh Jiwoek.
Aku sudah tidak tahan menanggungnya.
Aku mengangis sejadi jadinya. Tanpa rasa sungkan atau takut ada yang melihatku.
Dalam hatiku saat ini, aku tidak bisa menggambarkannya. Tapi ada sesak yang teramat hebat yang tidak bisa aku jelaskan.
Kenapa semuanya jadi sekacau ini?
Apa benar aku di curigai sebagai pelaku pengeboman?
Apa aku sekarang ini adalah buronan?
Kenapa aku harus bersembunyi di tempat orang asing yang bahkan aku tidak mengenal mereka?
Aku menderita penyakit apa tadi?
Psikomatis?
Penyakit apakah itu?
Separah apa sakitku?
Trauma apa?
Trauma separti apa yang jadi penyebab lumpuh ini?
Siapapun? aku mohon Jelaskan sesuatu padaku?