Love has no Limit

Love has no Limit
Walk Around With Love



“Kamu akan tahu kalau sudah sampai…”


Aku tersenyum mendengarnya mengulang kalimat yang di ucapkan menggunakan bahasaku.


“Siapa yang mengajarimu?...” tanyaku menggunakan bahasa yang sama.


“ehmmm….ehm…” JIwoek melirikku, dan aku masih memperhatikan tingkahnya.


Sepertinya dia tidak mengerti yang aku bicarakan.


“Hmmm….I don’t understand what do you talking about….” Akhirnya Jiwoek mengakuinya. Dia tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan.


Aku terkekeh, mendengar pengakuannya.


“What?....” Jiwoek bertanya padaku seolah ingin tahu penyebab aku tertawa.


“Hehehe….Nothing, I’m just….no no..” aku sendiri masih mengingat reaksi Jiwoek yang tidak bisa menjawabku.


“Gigi…. What you laughing and what you said…” Jiwoek tersenyum menanyakan apa yang membuatku tertawa dan apa yang aku katakan tadi?


“Who taugh you to use the same language as me…?” aku menjawabnya dengan pertanyaan yang sama, siapayang sudah mengajarinya belajar bahasa yang aku pakai.


“emmm….there is no…” katanya tidak ada yang mengajarinya.


“No no no…my mother? Zielve? Tell to me…” aku mencoba menebak, siapa yang sudah mengajarinya.


“Mama? Your mom? Veve?...” tanyanya


“Hmm…” aku mengangguk.


“Not them…” Singkatnya. Bukan mereka. Bukan mamaku? Bukan Zielve? Lalu siapa? Papa? Tidak mungkin, papaku tidak mungkin mengajari Jiwoek.


“Not them? So…who…?” tanyaku masih penasaran.


“I study by my self” jawabnya bangga.


Katanya dia belajar sendiri tanpa ada yang mengajari dari keluargaku.


Benarkah?


Aku memandangnya sambil mengernyitkan dahiku…


Dari gerak-gerikku aku yakin dia tahu aku mergukan perkataannya.


“Seriously…Gigi” katanya meyakinkanku.


Jiwoek menunjukkan HP miliknya. Jadi ini seperti dia mengakui dia belajar dari Hp miliknya. Ah, sekarang ini memang bnyak aplikasi terjemahan.


“Really..” belum selesai aku menyampaikan kalimatku, pandangan mataku menangkap hal yang familiar di depanku.


Ini jalanan menuju Café itu, aku hanya kesini sekali tapi jalanan ini tidak asing buatku.


Ditambah lagi aku melihat papan nama jalan, Ziegill street. Iya papan nama ini yang aku baca waktu Jakko memarkirkan mobilnya.


Kala itu aku dan Jakko sedang membicarakan Jiwoek. Laki-laki yang saat ini malah ada di sebelahku ini. Meski tidak jauh, bangunan putih yang menjulang dan berjajar ini…Jakko menunjukkan padaku sebagai tempat tinggal Jiwoek. Dan sekarang aku bahkan tinggal di apartemen milik sang aktor. Entah ini hal baik atau suatu keberuntungan saja.


Kembali lagi gambaran kejadian itu tiba-tiba hinggap di pikiranku, semuanya masih terekam jelas di ingatanku. Kepalaku mulai berdenyut. Nanarku juga sudah tidak lagi bisa di sembunyikan.


Jiwoek dengan sigap menyodorkan tissue kepadaku.


“I’m sorry, Woek.”aku terbawa emosiku sendiri.


“It’s okay, Gigi” Jiwoek menepuk bahuku.


Tiba-tiba Jiwoek berhenti, tidak jauh dari tempat Jakko memarkir mobilnya. Jiwoek menunjukkan padaku Café ‘This ICY’ yang sekarang ini berdiri kokoh. Meski menurutku lebih sepi dari sebelum kejadian ledakan itu.


“My heart is trembling right now…..”aku mengingat kejadian itu.


Hatiku seketika bergetar. Hatiku berdegup kencang. Tak bisa kutahan lagi. Aku menumpahkan airmataku.


Jiwoek terus menepuk bahuku, mencoba menenangkan aku.


“Calm down, Gigi.” Jiwoek membelai rambutku, dia membuka masker yang sudah mengahalangi air mataku jatuh. Mengusapnya lembut dengan tangan kirinya.


“Wait here, I’ll buy something for a minute” Jiwoek menyuruhku untuk menunggunya di dalam mobil, dia bilang akan membeli sesuatu.


Jiwoek membuka sbuk pengamannya. Ini seperti dejavu bagiku. Jakko juga meninggalkan aku disini.


Jakko juga bilang ‘tunggulah disini, Zie’


Tidak, aku tidak mau membuat seseorang kehilangan hidupnya lagi seperti Jakko.


Aku harus menghentikan Jiwoek.


Aku meraih tangan Jiwoek, menariknya agar tidak keluar.


“Why?” Jiwoek melihatku menarik tangannya.


“Can we just leave here…”kataku.


“Okay, but I bought you mineral water first.”tawar Jiwoek.


“No no no, Woek. I don’t want mineral water. Please….My heart is very tight here. My Heart hurts so much, Woek.”


Aku tidak melepaskan tangannya. Aku memintanya untuk pergi dari sini. Dengan alasan hatiku sesak jika berada disini. Aku sungguh-sungguh memohon pada Jiwoek untuk segera pergi dari tempat ini. Memang kenyataannya hatiku sungguh sakit mengingat kembali bagaimana kegaduhan kala itu.


"Please Woek....don't leave me alone. I'm so scared"


Sekali lagi aku memohon pada Jiwoek untuk tidak meninggalkan aku.


Duarrrr!!!


Gambaran ingatan itu terpampang jelas di kepalaku. Meski ingatan itu datang dengan acak, tapi aku masih ingat bagaimana perasaanku saat itu. Wahhh, kesedihan terdalam yang tidak bisa aku jelaskan dengan gamblang. Sakitnya masih menancap di hatiku.


Orang- orang yang berlarian tanpa tahu arah dan tujuan. Berhamburan pergi menjauh dari arah ledakan saat itu. Dan aku di seberang jalan turut merasakan dahsyatnya getaran akibat ledakan itu.


Jakko, ada di dalam Café itu. Sangat tidak adil. Bagaimana Café itu kini bisa berdiri kokoh lagi? Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Sedangkan sebelumnya ada beberapa nyawa melayang di dalam sana. Ini bahkan belum 2 bulan semenjak kejadian itu.


Ini semua salahku, ini salahku, gara-gara aku…semuanya kesalahanku.


Jakko….maafkan aku. Aku salah, Jakko. Sang pencipta, ampuni aku. Aku sudah menghilangkan nyawa seseorang. Andai saja Jakko tidak ke tempat itu.


Hatiku akhir-akhir ini sudah begitu damai, kali ini dengan singgah ke tempat ini seolah menyadarkan aku, aku tidak berhak bahagia setelah merampas nyawa Jakko. Ini salahku….


“It is not your fault, Gigi.” Jiwoek mengatakan jika itu bukan kesalahanku.


Jiwoek, dia ini selalu saja tahu apa yang ada di pikiranku tanpa harus aku mengatakan sesuatu. Apakah dari gerak-gerikku sudah bisa terbaca semuanya.


“Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan, Woek.” Aku menjawabnya dengan bahasaku, sengaja agar dia tidak benar-benar tahu apa yang aku pikirkan.


Jiwoek memasangkan lagi sabuk pengamannya dan mulai melaju pergi dari sana. Syukurlah Jiwoek bisa mengerti apa yang minta.


“okay, we leave here.” Iwoek mulai mengendarai mobilnya.


“Thank you, Woek.” Aku mulai menata kembali emosiku. Ini sungguh tidak baik buatku. Psikomatis ini sepertinya belum sembuh dariku. Sepertinya Psikomatis ini masih ingin berlama-lama di dalam tubuhku.


“I-tu …” Jiwoek mengatakannya dengan nada yang agak ragu.


“Itu??” aku mengulang ucapannya.


“Jakko office is there….” Jiwoek menunjukkan berjajar Gedung yang ada di sebelah kanan.


Gedung mana?


Sebelah mana?...


Aku bertanya dalam hati.


Dan tidak mampu aku lontarkan.


Meski hatiku sakit mengingat Jakko, aku masih ingin tahu bagaimana kantor milik Jakko. Aku juga masih ingin tahu tempat tinggal Jakko.