
Jiwoek beranjak pergi dari hadapanku.
“Finish your breakfast Gigi.” Jiwoek menyuruhku menghabiskan sarapanku. Sarapan di jam 11 siang. Aku menghabiskannya pelan-pelan.
Jiwoek, masih sibuk di dapur entah apa yang di lakukannya di ruang kecil yang hanya sepetak itu. Dapur rumah ini sangat kecil. Berbeda dengan dapur mamaku. Mama….aku merindukanmu.
Jiwoek tiba-tiba menghampiriku dan menyodorkan HP milikku. Tidak sabar aku langsung meraihnya. Tapi sebelum aku mampu mengambilnya, Jiwoek mengambilnya lebih dulu.
“Finish your breakfast first.” Ucap Jiwoek dengan senyumnya.
Dia tetap menyuruhku untuk menghabiskan sarapanku dulu kalau aku mau HP ku. Sangat kekanakan, Jiwoek ini sungguh seperti anak kecil.
Aku tidak membantahnya. Sarapan ini Jiwoek yang sudah membuatnya. Aku memang harus menghabiskannya. Kali ini aku percepat makanku untuk menghabiskannya. Setelah aku menghabiskannya, aku langsung menengadahkan tanganku dengan maksud meminta HP ku kembali. Ya, aku sangat kegirangan bisa segera menghubungi keluargaku.
Jiwoek terkekeh lagi melihatku. Dan menyerahkan HP milikku. Aku membalasnya tersenyum, sedikit tanda aku sangat berterima kasih karena sudah memperbaiki HP ku yang rusak.
Benar saja, semuanya normal, HP milikku sudah kembali normal. Aku langsung menekan nomor mamaku. Aku sangat merindukan mamaku. Aku tidak tahu harus bercerita dari mana.
Tut…tut…tut….
Aktif, no mamaku aktif. Tadinya aku takut akan ada saja kesialan lain yang menunggu ku. Aku bahkan sempat takut tidak lagi bisa menghubungi keluargaku. Mama, angkat telpnya ma. Bathinku.
“Halo, kak Gigi….!!” Suara dari seberang ini. Ini suara Veve. Sudah berapa hari aku tidak mendengar suaranya yang usil. Aku merindukanmu Veve.
Hanya mendengar suara adikku, aku sudah tidak kuasa menahan air mataku. Segera aku mengusap air mataku. Aku tidak mau terlihat lemah oleh Jiwoek. Sekuat tenaga aku berusaha agar bisa menahannya. Menahan airmataku agar tidak keluar.
Selain Jiwoek, Veve juga tidak boleh tahu kalau aku menangis. Aku berusaha mengatur emosiku, suaraku juga tidak boleh bergetar. Dengan begitu keluargaku tidak akan terlalu mengkhawatirkan aku.
“Halo….kakak…ini kak Gigi kan…kak jawablah, kami sangat khawatir padamu.” Veve terus saja berkata. Masih secerewet biasanya. Aku bahagia hanya dengan mendengar suaranya.
“Iya Veve…ini kakak.” Jawabku berusaha senormal mungkin.
“Aaaa….apa…?Papa dengarlah….ini kak Gigi. Mama ini benar benar kakak Gigi…dengarlah ma. Kakak masih hidup. Kakak ku masih hidup, Ma.” Aku mendengar suara Veve yang setengah berteriak dengan riangnya.
Ya, itulah adikku. Veve yang selalu ceria.
“Benarkah…anakku, Gigi” suara papaku.
“Gigi…mana…mana…. Mama mau bicara. Gigi sayang kau baik-baik saja nak?” ini mamaku.
Aku merindukan mereka. Papa ku yang kalem, Mamaku dengan sejuta aturannya, Adik ku yang ceria. Aku ingin memeluk mereka. Aku menelan ludahku, terus berusaha sebisaku untuk tidak menangis walaupun beberapa butiran air mataku sudah meluncur ke pipiku dengan bebas.
Jiwoek datang dan membawa sekotak tissue. Dia mengambil piring kotorku dan menyodorkan tissue yang di bawanya tepat di depanku, sambil berkata
“Cry, Gigi. It’s okay. Don’t hold back anymore.”
Menangislah Gigi. Itu tidak apa-apa. Jangan di tahan lagi.
Jiwoek membelai lembut ujung rambutku dan pergi dari hadapanku. Meninggalkan aku seorang diri.
“Gigi…apa kamu bisa mendengar Mama..” suara mama menyadarkan ku dari rasa terkejutku barusan.
“Iya, mama. Ini Gigi. Gigi baik-baik saja.” Jawabku dari panggilan mamaku dari seberang telp.
“Kita sekeluarga bersyukur sayang. Akhirnya kamu menghubungi kami. Mama yakin kamu belum meninggal seperti yang sudah di katakan oleh tour travel mu. Ceritakan pada mama bagaimana bisa ada kesalah pahaman seperti ini.”
Mama mencercaku dengan banyak kalimat kekhawatiran.
Mama bilang Tour travel ku memberi info pada mama aku sudah meninggal.
Bagaimana mungkin?Aku sudah membaca beberapa artikel tentang ledakan Café itu. Hanya ada nama Jakko di sana. Tidak ada namaku. Aku yakin tidak ada namaku. Jiwoek pasti tahu sesuatu tentang ini. Aku akan bertanya padanya nanti.
Akhirnya aku menangis, aku membiarkan diriku untuk menangis, meluapkan rasa marah, takut dan kesedihanku.
“Mama jangan khawatir ya, Gigi baik-baik saja, Ma. Aku tidak tahu ma kalau pihak travel sudah memberi tahu mama. Tapi kenapa Pihak Travel memberi kabar mama aku sudah meninggal, aku tidak tahu alasannya ma.” Aku sedikit menjelaskan versi ceritaku pada mama.
“Kamu ada dimana selama ini sayang. Kenapa kamu baru hubungi mama?”tanya mamaku.
“Ada orang baik yang menolongku ma. Sebenarnya aku ingin hubungi mama sebelum ini, tapi HP ku rusak ma. Aku juga tidak hafal nomor telp mama, Papa atau Veve. Jadi aku terpaksa menunggu sampai HP ku sudah selesai di perbaiki baru bisa menghubungi mama ini.”aku masih memberi penjelasan pada Mama.
“Syukurlah sayang kalau kamu baik-baik saja. Cepatlah pulang, Kita semua sangat merindukanmu.”
“Iya, Ma. Aku ingin sekali pulang.” Air mataku ini tidak bisa membiarkan diriku yang sedikit lebih tenang. Terus saja mengilir di pipiku dengan bebas.
“Lalu, ceritakan pada mama bagaimana Jakko bisa jadi salah satu korban dari ledakan itu?” tanya mama
Aku sedikit tersengal, mendengar pertanyaan Mama. Apa sampai di negaraku sana berita kematian Jakko sudah tersebar. Apa berita tentang ledakan Café ini sungguh berdampak sangat besar.
Apa ini juga alasan Jiwoek menyembunyikan aku disini?
Tentang Jakko, aku tidak sanggup menjelaskan pada Mamaku. Ada sesak di dalam hatiku yang sulit untuk aku gambarkan. Aku menangis dengan tersedu-sedu. Aku yakin mamaku mendengarku yang sedang terisak. Aku bahkan susah untuk mengatakannya.
“Gigi, dengarkan mama. Tenang sayang. Jangan menangis lagi. …” mamaku masih sibuk menenangkan ku.
“Jakko…i..i..itu…sa….sa…salah….salahku Ma…” Aku melepaskan HPku. Aku menjatuhkannya dengan sengaja. Aku tidak ingin menjelaskan ini kepada siapapun.
Jiwoek seperti seorang Pahlawan yang datang tepat waktu. Dia datang menghampiriku dan memungut HPku.
Dengan bergetar aku meraih tangan Jiwoek.
“It’s all my fault…. All because of me…..I caused it…. This is my fault…..”
Ini semua salahku….Semua ini gara-gara aku….Aku adalah penyebabnya….Ini salahku.
Aku menjelaskan pada Jiwoek. Seolah aku ingin mengalihkan penjelasanku yang harusnya aku katakan pada mamaku.
Jiwoek menatapku dengan iba. Dia menunjukkan padaku bagaimana dia mematikan HPku. Jiwoek mendekat ke arahku, dia berdiri persis di depanku. Aku yang duduk mematung denan terus menangis tidak benar-benar memperhatikan bagaimana mimik muka Jiwoek saat ini. Dia merengkuhku dalam pelukannya, membelai lembut ujung kepalaku dan tangan kanannya menepuk bahuku.