
Bukan namanya Henry kalau ia tak mengikuti Sorin dari belakang. Karena ia ingin tahu.
"Sorin!" Panggil Henry masih mengikuti Sorin ke arah Bu Tina.
"Berhenti! Tunggu sebentar!" Perintah Henry tegas membuatnya kembali berbalik ke suara Henry.
"Ada apa lagi Hen?" Sorin menyerngitkan dahi lalu membuang tatapannya ke arah lain.
"Lo mau ke mana?" Henry curiga.
"Bukan urusanmu, Hen." Timpal Sorin tak terima dengan sikap Henry yang mengikuti dari belakang.
"Apa aku buat salah ke kamu, Rin?" Henry kebingungan melihat tingkah Sorin yang berubah seratus delapan puluh derajat tak seperti sebelumnya.
Sorin bahkan tak pernah menjawab dengan nada yang berbeda seperti saat ini.
Sorin menggeleng kepala dengan ekspresi datar. "Tolong hen. Jauhi aku." Titahnya serius dan kembali meninggalkan Henry yang mematung.
Henry akan kembali mengikuti Sorin, langkahnya dihentikan oleh Vika yang datang menghampirinya.
"Kesayanganku. Papa udah hubungi kamu belum?" Henry diam melihat Vika yang nampak centil, meraih tangan Henry dan memegangnya.
Seketika Henry menepis tangan Vika. Vika tersentak.
"Sayang jahat banget sih."
"Lo bisa nggak ganggu hidup gue?" Henry memutar bola mata malas.
"Kamu kok bilang gitu sih ke calon istri sendiri." Kata Vika murung.
"Siapa juga yang mau jadi calon Lo?" Pedas Henry berjalan menjauh dari Vika yang masih percaya diri.
"Henry?! Tungguin!" Vika berlari menyamai langkah Henry. Namun, Henry mengusir secara paksa.
"Pergi! Jauhin gue! Gue gak sudi tunangan
sama Lo!" Henry berteriak jujur.
"Henry! Gue mau.. kenapa Lo gak mau?!" Vika masih mengejar Henry, walaupun sempoyongan.
"Terserah gue! Jangan paksa gue!" Tegas Henry yang memilih semakin berlari jauh.
Vika berhenti mengejar Henry sambil mengatur napas tersengal.
"Gue gak akan berhenti berjuang mencintai Lo, Hen. Gue pasti bisa dapatkan Lo." Vika masih tetap dengan pendiriannya untuk mendapatkan hati seorang Henry.
Meskipun Henry sama sekali tidak tertarik dengan Vika. Apalagi dengan perjodohan yang dibuat oleh papa Henry dengan orang tua Vika.
"Gue harap anak miskin itu menepati janji yang gue buat. Kalau enggak—, gue bakalan buat dia lebih menderita." Vika geram sendiri. Setelah diperlakukan buruk Henry. kemudian ia kembali berjalan, menuju teman-temannya.
***
Dua minggu setelah acara jeritan selesai. Di kelas anak-anak nampak serius menghadapi ujian sekolah. Satu bangku ada dua orang. Dua orang dari kelas yang berbeda. Ya, adik kelas bersama kakak kelas.
Sorin duduk sebangku dengan perempuan cantik bernama Hilda. Hilda, kakak kelas populer, tetapi nilai akademiknya tak sebagus Sorin. Namun, Hilda terlihat sangat baik dan ramah ke Sorin. Tak hanya itu ketika Hilda mengalami kesulitan, ia tak segan bertanya ke Sorin.
"Sorin.." panggilnya pelan agar tak terdengar guru yang menjaga.
Salah satu jari Hilda menunjuk pertanyaan yang tidak dimengertinya.
"Sorin. Kamu bisa nggak?" Aku nggak begitu paham. Tolong bantu aku." Suaranya pelan masih terdengar ditelinga Sorin.
Sorin mengangguk. Lalu, ia menunjuk jawaban tersebut.
"Makasih Sorin." Kata Hilda pelan berterima kasih sambil menyilang jawabannya.
Sorin yang telah menyelesaikan soal ujiannya. Ia beranjak dari tempat, kemudian memberikan kertas ujiannya ke Bu Tina.
Semua pandangan ada pada Sorin yang keluar dari kelas.
Sorin lega, ujian hari ini lancar. Tiba-tiba saja handphone dari dalam sakunya bergetar hebat.
Ia segera menerima panggilan tersebut.
"Hallo. Apa benar ini Ananda Sorin?"
"Iya benar. Saya Sorin. Ada apa ya pak?"
"Bapak anda sedang dirawat di rumah sakit. Mohon ananda segera ke rumah sakit. Karena ada hal yang akan kami sampaikan."
"Ba-bapak saya?"
"Iya."
DEGH!
Handphone yang dipegang Sorin melesat terjatuh ke lantai.
Ia tak menyangka kalau kabar buruk itu datang melandanya. Tatapan nanar nampak jelas diwajah Sorin, bulir air matanya menetes dan terus menetes.
Semua yang masih belum menyelesaikan ujiannya. Mematung, karena tak menyangka bahwa Sorin memilih pulang.
"Kenapa Sorin tiba-tiba pulang?" Batin Ardi dan Henry.
Keduanya dengan cepat menyelesaikan soal ujian dan mengumpulkan bersamaan bak lari cepat ke Bu Tina.
Bian yang melihat tingkah Ardi dan Henry dibuat gila. "Kenapa mereka berdua berlari bersamaan? Seperti dikejar anjing saja." Gerutunya gemas.
***
Ardi dan Henry berada di luar kelas. Pandangannya melihat ke arah sekitar, namun Sorin tak nampak.
"Sorin benar pulang. Kenapa dia pulang lebih awal?" Celetuk Ardi ke Henry yang tengah khawatir.
"Mana gue tau bodoh." Tatapan Henry menyipit mendengar pertanyaan Ardi.
"Gue baru aja selesai." Lanjut Henry.
Henry yang memegang handphonenya sedang menghubungi Sorin.
Taakkk!
Ardi menjitak dahi Henry. Henry spontan kesakitan.
"Awww!"
"Lo ngapain jitak gue! Sakit, woy!" Henry marah sambil menunggu jawaban dari sambungan Sorin.
"Telinga gue masih berfungsi. Lo bilang gue bodoh, bukannya Lo yang bodoh!" Timpal Ardi tak terima, tangannya dengan cepat mengapit kepala milik Henry.
"Ar. Lo apa-apaan hah! Jangan gila! Gue gak mau ribut sama Lo!" Berontak Henry.
Sikap Ardi membuat dirinya menjadi tidak fokus menelphone Sorin. Hingga sambungan telponnya mati.
"Bilang ke gue Lo pasti tau kan. Sorin ke mana?!" Ardi mengira Henry mengetahui keberadaan Sorin. Padahal Henry tak mengetahuinya sama sekali.
"Lepasin tangan Lo! Gue gak bisa napas!"
Suara keduanya membuat bising di ruang kelas. Bu Tina keluar melihat tingkah Ardi dan Henry berteriak menghentikan.
"Cukup!"
Bu Tina nampak mengerikan dari biasanya. Sebagian anak yang belum menyelesaikan ujian hari ini melihat aksi tersebut dari bilik jendela.
"Kalian berani-beraninya bertengkar di luar kelas! Ada ujian, kalian bertengkar seperti anak TK!"
Sekarang kalian berdua ikut ibu ke ruang BK." Perintah Bu Tina tanpa terkecuali.
Ardi dan Henry mengikuti langkah Bu Tina dari belakang. Mereka berdua saling menyalahkan satu sama lain tanpa suara. Agar Bu Tina tidak mengetahuinya.
Di Ruang BK. Ada kepala sekolah sedang berbicara dengan guru BK. Kepala Sekolah meminta agar Ardi dan Henry masuk ditemani Bu Tina.
Bu Tina bertanya dihadapan kedua belah pihak yang berpengaruh di sekolah. Hal itu membuat Ardi semakin tak berkutik.
Berbeda dengan Henry yang tak panik, menurutnya ada kepala sekolah ataupun tidak tetap biasa saja.
"Kalian kenapa bertengkar?!"
Pertanyaan pertama yang dilontarkan Bu Tina membuat Ardi ingin jujur. Namun, lidahnya keluh.
Keheningan nampak terjadi, Henry yang mencairkan suasana.
"Iya, Maaf Bu sebelumnya atas tindakan kami yang kurang baik saat ujian belum selesai."
Henry mengatakan tanpa ekspresi apapun. Tapi, memang tindakan Ardi dan Henry memang salah.
"Maaf Bu Tina." Tambah Ardi memohon.
"Ibu sudah memaafkan kalian. Tapi kalian harus jujur. Ada apa sebenarnya?"
"Sorin sudah pulang kah, Bu?"
Bu Tina memandang kaku dua anak didiknya itu. Menunggu jawaban dari mulutnya.
"Hanya karena Sorin?" Lirih Bu Tina.
Kepala sekolah beranjak keluar ruangan BK. sSebelum akhirnya alis Bu Tina menaik dan suaranya meninggi ke Ardi dan Henry.
"Ardi Henry kalian saya hukum 100kali putaran di lapangan!"
"Hah!" Jawab keduanya bersamaan.
***
To be continue…