
Sorin kelelahan. Namun, Ia tak berhenti meminta pertolongan akan keberadaannya.
"TOLONG.. TOLONG AKU.. TOLONG BUKA PINTUNYA !" Teriak Sorin kencang dibalik pintu yang terkunci.
Sudah beberapa jam, Sorin di dalam toilet. Napasnya memburu, keringatnya bercucuran penuh membasahi seragam.
"Apa yang harus aku lakukan lagi, selain berteriak ? Handphoneku mati. Hiks.. Hiks.."
Sorin menangis memilih duduk memeluk kedua kakinya erat.
"TOLONG... Tolong.." Suara Sorin semakin pelan, badannya lemas. Ia pun tak sadarkan diri.
***
Ardi berlari tak memperdulikan dirinya yang tak mengikuti pelajaran berlangsung. Ia lebih memilih mencari Sorin. Jika Sorin sudah ditemukan. Ardi siap menanggung resiko dari Bu titik.
Ardi mencari keberadaan Sorin di perpustakaan, ruang ekstrakurikuler paduan suara. Lalu, ke taman belakang sekolah. Namun Sorin masih tidak ditemukan.
"Sorin, Lo sebenarnya ke mana?!" Ardi mengacak rambut kasar, karena kebingungan.
Ia memilih berhenti sejenak seraya berpikir ke tempat terakhir bersama Sorin ketika beristirahat.
"Gue belum cari ke kantin, ya. Siapa tau dia ketinggalan di kantin." Pikir Ardi meredam kekhawatirannya sendiri. Ia berlari ke kantin.
Ardi melihat kantin, hanya ada aktivitas pedagang tanpa ada pembeli. Semua murid beraktivitas di dalam kelas. Ia juga tidak melihat Sorin sama sekali.
"Sorin.. Sorin Lo ada di mana?! Lo sengaja bikin gue khawatir kaya gini." Gerutu Ardi.
Ardi melangkahkan kaki menuju kelas, belum sampai kembali ke kelas. Ardi berbalik badan menuju toilet.
"Cari Sorin ke mana - mana gak ketemu. Gue jadi kebelet kencing. Mana gak bisa tahan ini kencing."
Ardi kembali ke toilet yang dekat dengan kantin, sayangnya toilet dalam perbaikan.
"CK, gila. Kenapa lagi ini toilet?! Udah gak bisa nahan kencing, ini udah ke pucuk."
Ardi menerobos ruangan toilet tak kompromi.
Ia masuk disalah satu ruangan, untuk kencing.
"Ah, leganya." ucap Ardi menutup kancing celananya.
"BRAKKK.. BRAKKK.." Suara keras gebrakan membuat Ardi terkejut, Ia mendengar gebrakan disalah satu ruangan toilet.
Mata Ardi melotot, suara gebrakan terhenti sejenak. Lalu, Ia mendengar suara tangisan,
"Hiks.. Hiks tolong aku. Tolong.
Suara tangisan meminta tolong membuat telinga Ardi mendekat ke pintu yang terkunci dihadapannya.
Ardi mengecek dengan sedikit ketukan dan ucapan, Tok..tok. "Apa ada orang di dalam?"
Suara Ardi terdengar dari dalam ruangan, Sorin pun bangkit, Ia kenal dengan suara itu. Namun, Ia menggeleng tak percaya jika suara itu adalah Ardi. Mungkin suara yang didengar Sorin hanyalah halusinasi semata.
Tok..Tok.. "Apa ada orang di dalam ?!" ucap tegas Ardi sekali lagi memastikan suara gebrakan dari dalam.
"TOLONG.. TOLONG.. Aku ada di dalam !"
Ardi tahu suara tersebut.
"SORIN ! LO DI DALAM?!" Ceplos Ardi bertanya karena mengingat Sorin yang belum ia temukan.
"IYA. TOLONG AKU!" Jawab Sorin keras.
"Lo minggir dari pintu. Gue mau dobrak pintu ini."
Sorin masih ada di dalam, menjauh dari pintu yang akan dibuka paksa oleh Ardi. Ardi tidak khawatir mendobrak pintu yang akhirnya bakalan rusak.
BRAKKK. Ardi berhasil membuka pintu yang sebelumnya terkunci. Keberhasilan Ardi menemukan Sorin membuatnya lega. Ia melihat Sorin tengah menutup telinga dengan kedua tangannya.
Tanpa basa basi Ardi menolong Sorin. Sorin menurunkan tangannya, Ia melihat kehadiran Ardi dekatnya. Namun, Sorin sudah tak berdaya.
Ardi sigap menangkap tubuh Sorin yang tergolek lemas.
"Sorin. Bertahanlah." Ardi panik membopong tubuh Sorin ke UKS.
***
To be continue...