
Sorin melihat Ardi tak seceria saat di sekolah. Manik mata Ardi terlihat berbohong menyimpan masalah yang masih dipendam sendiri.
"Iya Ar. Aku baru pulang kerja."
"Tumbenan jam segini pulang?" Ceplos Ardi tak sengaja.
"Iya, setengah hari, Ar. Aku disuruh pulang, karna pak Sholeh pergi." Sorin menjelaskan sambil menatap Ardi yang ada dihadapannya.
"Owh. Pantesan mama sudah pulang juga jam segini." Jawab Ardi.
Sorin mengangguk. "Iya."
Sorin sebenarnya curiga melihat Ardi murung. Ia berinisiatif untuk menanyakan.
"Ardi, mau ke mana?" tanya Sorin memastikan.
Sorin menebak. "Sepertinya, Ardi sedang sedih. Apa kepikiran sama Bu Lena, ya?" Batinnya sendiri.
"Gue lagi pengen jalan kaki cari angin."
Sorin mendengar ucapan Ardi, paham dengan kondisi Ardi yang sedang tidak baik-baik saja. Ia ingin mengajaknya bicara lebih lama, tetapi--.
Apakah pantas seorang perempuan walaupun sekadar teman mengajak jalan-jalan duluan. Karena yang ditakutkan Sorin, Ardi salah paham terhadapnya.
"Owh--, ya udah. Aku pulang dulu ya, Ardi."
Sorin memilih mengurungkan niatnya mengajak Ardi jalan-jalan bersama. Ia memilih kembali ke rumah.
"Tunggu!" Kata Ardi, membuat langkah Sorin terhenti.
Menghela napas panjang Sorin memilih berbalik ke Ardi. "Ada apa Ar?"
"Temenin gue jalan yuk. Nggak enak juga gak ada teman ngobrol. Dikira orang lain, gue stres. Lo gak keberatan kan?"
Diakhiri pertanyaan yang dilontarkan Ardi, diiyakan oleh Sorin tanpa penolakan.
Hitung-hitung juga Sorin menghirup udara bebas dari pekerjaan rutin.
"Tenang. Gak lama kok, Rin." jawab Ardi kedua kalinya.
"Oke."
Mereka berdua berjalan santai bersebelahan. Sorin memilih memulai pembicaraan.
"Ardi, makasih ya udah baik sama aku."
"Hahaha.. Lo udah berapa kali bilang makasih ke gue. Santai Rin." Ardi terkekeh diawal jawabannya.
"Baik itu harus Rin, apalagi kita kan temenan. Ya wajib dong, tolong menolong." Ardi tersenyum setelah mengatakan hal itu.
Terlihat Sorin seperti terhipnotis lekung senyum Ardi. Ia hanya diam. Seperti tak asing dengan senyuman Ardi.
"Apa aku pernah bertemu Ardi sebelumnya?" tanyanya dalam hati.
Lekungan senyum itu semakin membuat Ardi terlihat manis belum lagi mata miliknya yang sipit menambah keindahan ketika dipandang.
"Arghh.. Enggak.. Enggak." Sorin mengelak pikirannya sendiri. Menggelengkan kepala beberapa kali.
"Lo gak apa-apa?" Ardi bertanya ke Sorin. Karena melihat tingkah aneh Sorin.
Sorin menghela napas panjang. "Iya, aku gak apa-apa."
"Beli minum yuk. Pasti Lo mau pingsan." Ceplos Ardi sengaja membuat mata Sorin membulat besar ke dirinya.
"Ardi !" Panggil Sorin penuh penekanan.
"Hahaha.. Wekgh." Ardi tertawa ekspresi mengejek Sorin. Ia pun berlari mendahului Sorin yang masih berjalan.
Sorin tak mau kalah. Ia mengejar Ardi yang sudah mendahuluinya.
"ARDI !" Teriak Sorin sambil mengejar Ardi.
Mereka berdua terlihat seperti anak kecil memperebutkan sesuatu.
***
"Arghhh.. Dasar pelit. Kenapa tinggal jawab pertanyaan gue apa susahnya coba?!" Henry kesal dengan sikap Ardi yang terkesan sengaja merahasiakan tentang Sorin.
Henry sengaja tidak bertanya empat mata ke Sorin. Karena, menurutnya hal itu sangat memalukan.
Henry memang terkesan cuek tapi sebenarnya ia sangat peduli, namun kepeduliannya melebihi batas jadi terobsesi.
Tetapi, Sorin masih belum menyadari sikap Henry.
Ia kembali masuk ke dalam kamar, mengganti pakaian. Henry bersiap menemui Sorin. Salah satu pelayan mendekat ke majikannya sudah rapi.
"Tuan Henry. Makanannya sudah siap." Pelayan memberitahu kepada Henry makanan yang sudah diinginkannya.
"Iya, Terima kasih Bu."
"Tuan, Apa benar Bapak akan kembali hari ini?" Pertanyaan itu membuat Henry menganga.
"Tahu dari mana, Bu?"
"Ahh.. Maaf Tuan, saya hanya bertanya."
Pelayan itu terlihat gugup. Henry menyimpan rasa curiga. Bagaimana bisa pelayan di rumahnya tahu. Sedangkan, Ia pemilik rumah tak tahu menahu tentang kedatangan Papanya sendiri.
"CK ada apalagi ini. Kenapa papa gak bilang akan kembali?" Pertanyaan itu terlihat dalam gumaman sendiri.
Ia mengambil handphone dari saku. "Hallo, Pa. Papa mau balik ke rumah?"
"Iya papa kembali ke rumah. Memangnya kenapa Hen?"
"Kenapa papa gak bilang Henry?"
***
To be continue...