
"Bu. Sebenarnya, ada perlu apa Bu?" tanya Yista diikuti Vika, Disty dan Alya menimpali, "Iya Bu."
Tanpa sepatah kata pun Guru matematika memperlihatkan layar, membuat keempat muridnya tercengang.
"Lihat, Apa yang kalian lakukan?" Ucap guru matematika menatap mereka berempat sengit. Bukan karena membenci. Tetapi, karena sikap keempat muridnya yang bersikap tidak baik kepada teman sekelasnya sendiri yaitu Sorin.
Rasanya Vika, Yista, Disty dan Alya mati kutu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena bukti telah ada di depan mata.
"Ayo jawab! Jangan diam saja!" Guru matematika ingin tahu jawaban dari mulut muridnya.
Gugup, gagap menjadi satu. Nasi juga sudah menjadi bubur. Penyesalan datangnya juga belakangan. Tetapi, bukan namanya Genk Butterfly kalau tidak terima dengan pertanyaan, saran ataupun kritikan.
"Ja-jadi gini Bu. Sayaa.. nggak sengaja, Bu." Kata Disty mengelak.
"Nggak sengaja? Bagaimana bisa..? Sudah jelas-jelas kamu Disty yang sengaja mencelakai Sorin."
Balas Guru matematika sambil menunjuk layar sikap yang telah dilakukan Disty.
"Memang Disty disuruh Vika, Bu." Ceplos Yista kebablasan.
Vika mendelik ke arah Yista setelah mengatakan yang sebenarnya. Yista terkejut langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
"Ish, Sialan Yista. Kenapa mulut Lo ember banget sih jadi anak?!" Gumam Vika sambil mengerutkan dahi.
"Ohh, Jadi kalian sekongkol !" Ucap kencang guru matematika ke Vika dan teman-temannya.
Mereka berempat belum menjawab. Sungut telah
"Kalian saya hukum bersihkan lapangan sampai pulang sekolah. Saya akan sampaikan ke wali kelas kalian Bu Tina."
Mereka berempat pun berujung saling menyalahkan.
***
"Sejak kapan Henry ke aku bilang, Lo?" Sorin melayangkan pertanyaan ketika Henry telah memberikan makanan di samping tangannya.
"Ya maaf. Kebiasaan ngobrol sama Ardi pakai Lo, Gue." ucap Henry menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sebenarnya Ardi, ke mana sih Henry?" tanya Sorin ingin tahu keberadaan Ardi.
"Ardi dari kemarin tidak ada kabar. Handphonenya sekarang tidak aktif." Lanjutnya.
Seketika Henry membisu. "Gue bilang gak ya ke Sorin? Kalau Ardi lagi di RS." batin Henry bimbang antara jujur mengatakan atau tidak.
"Henry?" Panggil Sorin.
"Henry, kenapa kamu diam saja ?" celetuk Sorin menatap Henry kebingungan.
"Enggak apa-apa, Sorin. Setelah pulang sekolah ikut aku." Ajak Henry membuat Sorin berpikir.
"Ke mana?" balas Sorin ingin tahu dan menegakkan tubuhnya ke arah Henry.
"Jangan banyak tanya. Dimakan dulu makanannya." Jawab Henry sambil menunjuk makanan yang ada di samping Sorin.
Sorin menyunggingkan senyum manisnya. "Makasih Henry."
***
Sudah tiga hari setelah kejadian yang menimpa Ardi. Ia masih berbaring di tempat tidur RS, Tangannya tiba-tiba bergerak sendiri. Perlahan Ia berusaha membuka matanya.
Ia pun bereaksi. "Aku ada di mana?" Lirih suara Ardi masih bisa didengar ibunya. Tetapi, Ardi tetap diacuhkan oleh Bu Lena yang fokus masih dengan handphone.
Ardi masih memandang ibunya penuh arti. Ia bergumam sendiri, "Kapan Ibu bisa memperdulikan gue? Gue lagi sakit, tetap nggak perhatian. Apa memang gue bukan anak kandungnya?"
Pemikiran negatif Ardi muncul karena sikap Bu Lena. Beliau sengaja menunggu Ardi sadar.
"Bu." Panggil Ardi.
Ardi menjeda setiap memanggil Bu Lena. Karena kondisinya yang baru saja tersadar.
"Buu?!" Ardi mengeraskan suara meskipun harus memaksa.
Pandangan Bu Lena ke Ardi. Namun, ekspresi Bu Lena tak menyenangkan hati. Bu Lena beranjak dari tempatnya, "Apa yang kamu lakukan lagi, Ardi?!
"Memang benar, kamu selalu merepotkan hidup ibu !" ceplos Bu Lena sambil menatap tajam anaknya.
"Apa ibu udah nggak khawatir kondisiku?" Ardi sengaja bertanya karena hatinya sudah sesak selalu mengalah terhadap sikap ibu kandungnya sendiri.
"Nggak ada. Harusnya kamu keluar dari rumah sakit ini !" Bu Lena memaksa Ardi keluar dari rumah sakit.
Tubuh Ardi digoncangkan berkali- kali dan ditarik kasar oleh Bu Lena. Bu Lena sendiri tak terima Ardi biang kerok semua masalah dihidupnya. Sedangkan, Ardi merintih kesakitan menahan tarikan
KREETT. Suara pintu pelan terbuka.
Sorin dan Henry melotot tak menyangka dengan pemandangan yang ada didepan mata keduanya.
***
To be continue..