Little Star

Little Star
Khawatir.



Ardi terbangun dari tidurnya. Matanya membelalak melihat Sorin tertidur di sampingnya. Pandangan Ardi ke jam yang terpasang di dinding, menunjukkan pukul empat pagi.


"Gimana bisa dia masih disini? Bukannya dia harus sekolah?" Pertanyaan itu melayang di kepalanya.


"Segitu khawatirnya Sorin ke gue, sampai lupa memikirkan diri sendiri?" lanjutnya tak terdengar perempuan yang masih tertidur pulas disamping tempatnya dirawat.


"Arghh.. Enggak. Gue yang kegeeran." Ardi menyangkal pertanyaannya sendiri sambil menggeleng kepala.


"Gue harus bangunin Sorin."


Setelah dipikirkan kembali. Ardi mengurungkan niat membangunkan Sorin. Meskipun, Hal itu sangat disayangkan oleh Ardi, Ia tak tega melihat Sorin tertidur nyenyak.


"Jangan.." gerutunya sendiri.


Ardi terkejut melihat Sorin yang terbangun menguap. Ia pun kembali ke posisi semula, sengaja menutup mata seperti sedia kala.


***


"Hoammm.." Suara Sorin menguap masih terdengar. Ia melihat kembali keadaan Ardi.


Tangan Sorin memegang pergelangan tangan Ardi. "Ardi, Kamu harus semangat." Lirih Sorin menguatkan Ardi agar bisa sembuh seperti semula.


"Gimana caranya biar gue bisa kuat. Kalau mama gue gak bisa dukung gue?" Batin Ardi menjawab mendengar ucapan Sorin.


Semua Anak yang terlahir tanpa perhatian orang tua termasuk Ibu yang melahirkannya. Tak munafik, jika ingin diperhatikan. Hati seorang anak kandung mana yang tidak ingin diperhatikan. Tentu saja rasa keinginan ingin diperhatikan pasti ada. Tetapi..


Hanya Sang Pencipta yang mampu meluluhkan semua hati hamba-Nya.


Sorin melepaskan genggaman dipergelangan sang Ardi. Ia mengambil handphone dalam tasnya, satu pesan singkat dari Henry beberapa jam yang lalu.


"Kamu di mana sekarang?"


Ia membaca pesan itu, lalu menutupnya dan menyimpan handphonenya kembali ke tas.


Tak disangka suara pintu terbuka. Henry sudah ada di depan pintu ruangan.


Sorin berbalik ke suara itu. "Henry?"


Ucap Sorin terkejut melihat kehadiran Henry datang tiba-tiba.


"Hm." Henry melangkah kaki, memilih duduk di sofa ruangan Ardi.


"Sejak kemarin kamu di sini, Rin?" tanya Henry penuh selidik.


"Iya. Maaf baru buka handphone, Henry. Hehehe.." Sorin menjawab pertanyaan Henry diakhiri dengan tawa kecil.


Ardi yang mendengar percakapan Henry dan Sorin telinganya dibuat gatal. Ia bangun dengan pelan mengangkat badannya bersandar di tempatnya.


Sorin yang ada didekat Ardi membantu dengan telaten. "Ardi sudah baikan?"


"Sorin, Lo tenang aja. Gue udah baikan kok." Ardi memberikan senyuman lebar memastikan Sorin sudah tak perlu mengkhawatirkannya lagi.


"Kalau gitu kamu lebih baik sekolah, Sorin. Hari ini ada jadwal olahraga. Bawa seragam olahraga nggak?" Henry menyela pembicaraan keduanya.


Sorin sebelumnya sudah menyiapkan pelajaran yang akan dibawanya besok, tetapi Ia lupa ada jadwal olahraga.


"Oh iya.. Aku lupa." Sorin menyesal, tak membawa seragam sekolah.


Henry berdiri mendekat ke Sorin memberikan seragam olahraga. "Terima. Hari kamu harus masuk Sorin. Aku sudah membayar mahal sekolahmu jadi masuklah."


Sorin mengangguk samar, Ia merasa tak enak dengan Henry. Walaupun sebenarnya Ia tak tega dengan Ardi yang masih di rumah sakit.


Sorin kembali mengalihkan pandangannya ke Ardi.


"Lo gak perlu khawatirin gue. Hari ini gue juga masuk."


Kedua alis Sorin menaik, "Apa Ar? Kamu jangan nekat." Ceplos Sorin dengan nada menaik.


"Jangan buat masalah baru Ar. Kalau sakit gak perlu memaksa juga. Kesehatan nomer satu." Timpal Henry yang masih berada di ruangan.


"Gue serius. Gue bosen di ruangan ini."


***


Bu Lena sudah sampai di rumah makan pak Sholeh sekitar se jam yang lalu. Ia sedang menyapu lantai, mengepel lantai dan membersihkan meja.


"Ck.. Sampai kapan anak itu ada di rumah sakit. Aku gak akan sudi membayar biaya rumah sakit. Untuk kebutuhanku sendiri saja belum tercukupi. Sampai kapan aku harus membiayai anak gak tau diri itu." o


Omelan Bu Lena tak sengaja terdengar Pak Sholeh yang baru saja datang dari pasar membeli bahan makanan yang kurang.


"Lena, Gimana bisa kamu berperilaku seperti itu kepada anakmu? Meskipun dia nakal, itu tetap darah daging kamu."


Bu Lena terkejut melihat Bosnya yang datang tiba-tiba.


"Apa bos? Mungkin bos salah dengar."


***


To be continue...