
Keduanya menoleh melihat ke sumber suara.
Tatapan tajam Henry membuat Sorin berteriak kecil, "Henry?"
Henry mendekat disebelah Ardi dengan ciri khasnya melipat kedua tangan ke depan di hadapan Sorin. Ia berdehem memberi jawaban setelah Sorin memanggilnya.
Sorin melontarkan ucapan kembali, namun ia tahan.
"Kamu sakit, Rin?" tanya Henry.
"Ngapain Lo ada sini juga?" Jari telunjuk Henry mengarah ke Ardi, Nadanya seakan mengintrogasi.
Ardi yang mendengar perkataan Henry menimpali, "Terserah gue, Lo juga ngapain disini."
Ekspresi tak suka Henry muncul. "Gue cari Sorin. Bukan cari Lo."
Sorin menyela pembicaraan keduanya, "Plis, jangan ribut disini kalian berdua." Sorin menegaskan.
Henry dengan cepat memegang pergelangan tangan Sorin pelan dan menariknya keluar dari UKS.
DEGH!
Sorin terkejut melihat aksi yang dilakukan Henry. Sorin mengikuti arahan tangannya. Entahlah, mau dibawa ke mana Sorin. Intinya Sorin pasrah.
Henry menghentikan langkah dan melepaskan tarikannya perlahan di halaman belakang sekolah.
Mereka saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Sorin melihat mata elang tengah menyelimuti Henry. Terlihat jelas dari sorot mata yang tajam ke arahnya.
"Kamu kenapa Hen?" tanya Sorin tenang.
Tak ada jawaban, semua hening. Karena di halaman sekolah tidak ada siapapun. Hanya Sorin dan Henry.
"Bisa nggak Rin, kamu gak buat aku khawatir?" Lirih Henry terdengar jelas di pendengaran Sorin.
"Maaf."
Sorin terdiam tidak mampu menjelaskan ke Henry tentang semua kejadian yang sudah terjadi.
"Kenapa kamu bisa ada di UKS bersama Ardi?"
Keingin tahuan Henry semakin bergejolak. Seperti memaksa Sorin untuk jujur kepada dirinya. Padahal, Henry bukan orang yang special di hati Sorin.
"A-aku.." ucapannya terbata-bata karena trauma mengingat kejadian di toilet.
"Hen.. Lo bisa nggak maksa Sorin buat jawab sekarang?"
Ardi datang menjemput Sorin. Langkahnya semakin dekat.
Henry tercekik ucapan Ardi. Ia mati kutu, diam seribu bahasa.
Sorin juga tidak ingin berucap apapun. Sekarang ia masih merasa lelah. Tangannya dingin dan gemetar. Rasanya ia ingin kembali ke rumah beristirahat dan menenangkan jiwa.
"Harusnya Lo malu. Sorin bukan siapa-siapa Lo. Jadi, Lo gak wajib bersikap posesif ke dia."
Setelah mengatakan itu, Ardi menuntun tubuh Sorin kembali ke kelas. Tak memperdulikan Henry yang masih berdiri diposisi sama.
Setelah Ardi meminta izin wali kelas di kantor, Ia membantu Sorin kembali ke rumah.
***
Seminggu kemudian. Seperti rutinitas sebelumnya, setelah sekolah Sorin harus kembali bekerja. Ia bersyukur dirinya bisa menyisihkan sebagian penghasilan bulanannya untuk ditabung. Ia berharap usahanya tak akan sia-sia.
Sorin sudah sampai di tempatnya bekerja. Pak Sholeh menyambut dengan pertanyaan yang membuat Sorin termenung.
"Nak, Bagaimana sekolahmu? Apa kamu nyaman?"
Pertanyaan itu sangat mengejutkan Sorin. Disatu sisi Ia bersyukur berkat Henry membantunya, agar Sorin bisa melanjutkan sekolah. Dilain sisi Sorin tak suka dengan seseorang yang sengaja menjahilinya agar Ia tak nyaman bersekolah.
Sorin terpaksa berbohong. Tak ada pilihan lagi. Ia sengaja menjaga perasaan Henry.
"Hehehe.. Tentu saja aku sangat nyaman, pak."
"Syukurlah, Kalau kamu nyaman. Bapak senang dengarnya. Berarti temanmu juga banyak ya Nak."
"Iya pak. Tapi, ada beberapa yang dekat dengan Sorin."
"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Pak Sholeh ingin tahu.
"Laki-laki pak." Ucapnya polos sambil menyapu lantai disekitar meja pak Sholeh.
"Sorin, kalau berteman dengan anak laki-laki harus banyak hati-hati, ya."
"Hm, ya pak.. Memangnya kenapa pak?"
Sorin tanpa sadar ingin tahu.
Pak Sholeh tersenyum sambil menepuk salah satu pundak Sorin.
"Nak, kamu harus ingat. Tidak akan ada pertemanan laki-laki dan perempuan bertahan lama." Pak Sholeh menjelaskan ke Sorin yang seketika kegiatannya Ia hentikan.
***
To be continue..