Little Star

Little Star
Kesempatan.



Jam berlalu begitu cepat. Hingga semua yang ada di kelas berhamburan keluar. Mata pelajaran telah selesai. Namun Sorin belum keluar ruang kelas.


Ia masih menemani Henry belajar matematika.


"Susah banget, Rin. Dari tadi salah mulu." Keluh Henry merasa putus asa. Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat.


"Henry pasti bisa. Coba aku lihat."


Henry memberikan buku yang ia tulis ke Sorin. "Kamu salah rumus, Hen."


"Coba kamu pakai rumus yang ini." Sorin memperlihatkan buku catatan rumus miliknya.


"Oke, aku coba ya."


"Sip."


Ardi mendengar hal itu mendekat ke bangku Sorin dan Henry.


"Rin, Rin. Dia ngantuk kali, padahal rumusnya ada dibuku catatan yang sebelumnya sudah disalin dari papan tulis. Makanya belajar, Hen. Belajar!" Ardi meledek tak karuan ke Henry yang fokus menyelesaikan.


Henry menghentikan aktivitasnya. Tatapan tajam terarah tepat ke Ardi yang terkekeh melihat dirinya.


"Bisa diam nggak?! Gue jadi gak konsen!"


"Nggak bisa, dasar lemah Lo!" Ardi meledek kedua kalinya.


Henry geram melihat Ardi sengaja meledek dirinya. Sorin hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"Ayo Rin, Kita balik." Ardi mengajak Sorin pulang bersama, Henry sigap memegang pergelangan tangan Sorin yang tidak terlihat Ardi.


"Jangan Rin. Kamu pulang sama aku saja." Ceplos Henry ke Sorin disebelahnya.


Sorin diam. Ia kebingungan melihat Ardi dan Henry sigap mengajak pulang bersama. Sebenarnya bisa saja Sorin memilih dari salah satu. Tetapi, Ia menjaga perasaan keduanya.


"Bagaimana kalau kita bertiga pulang bersama saja?" Kata Sorin membuat keduanya menolak bersamaan.


"GAK!"


"GAK AKAN!"


"Gue mendingan pulang sendiri daripada sama Lo!" Timpal Ardi jujur menunjuk Henry.


"Gue juga ogah-ogahan." Henry tak mau kalah.


Suara keduanya membuat Sorin pusing kepala. Sorin memilih cepat berlari meninggalkan keduanya tanpa permisi.


"EH, Rin! Jangan pulang duluan! Tungguin!" Oceh Ardi.


"Gara-gara E-lo, Sorin jadi pulang." Henry menyalahkan Ardi.


"Gara-gara Lo, Hen." Timpal Henry sadis.


"Lo jangan pulang dulu, ada janji latihan basket hari ini ! Lupa Lo?!" Lanjut Henry sebagai ketua tim basket.


"Oh iya, gue lupa. Sorin gimana? Kasian balik sendiri?" Ardi khawatir.


"Guna handphone Lo apa, Ogep!" Kesal Henry dengan tingkah Ardi yang menurutnya pelupa.


***


"Ardi sama Henry selalu saja ribut." Sorin berencana langsung ke tempat kerja. Ia telah membawa pakaian yang akan dikenakannya ketika bekerja.


Ia berjalan keluar gerbang sekolah. Tanpa di ketahui Sorin, tubuhnya menabrak Sorin. Seketika Sorin tak bisa menahan diri, Ia pun jatuh tersungkur.


"Aww.." Rintih Sorin kesakitan.


"Upss.. Sorry gak sengaja. Gue kira gak ada orang. Eh ternyata ada." Vika memang sengaja melakukan hal itu kepada Sorin.


Sorin masih terduduk kesakitan. "Vika, Aku salah apa ke kamu? Kenapa kamu sengaja lakukan hal itu ke aku?"


"Apa aku punya salah sama kamu?" Lirih Sorin sambil menahan rasa sakitnya.


Vika terlihat puas dengan apa yang barusan dilakukannya. "Gara-gara Lo, gue dihukum."


"Satu hal lagi, Lo jangan coba-coba genit ke cowok gue. Apalagi calon masa depan gue!" Nada menindas Vika berhasil membuat Sorin terkejut.


"Siapa calon yang kamu maksud?" tanya Sorin ingin tahu.


"Henry itu milik gue. Lo siapa? Lo itu cewek gak tau diri, kampungan lagi." Vika menghina Sorin mati-matian.


Hasilnya Henry datang tak terduga langsung membawa tubuh Sorin tanpa mempedulikan Vika.


Sorin terkejut, Ia mendelik tak percaya tubuhnya diangkat Henry. Henry tak peduli dengan Vika yang berteriak kencang memanggil dirinya.


"Henry?!" Melotot tak percaya adegan romantis tepat di matanya. Ia seakan kerasukan jin jahat karena tak terima, Henry seenaknya membantu Sorin yang terlihat kecentilan dipandangan Vika.


"Turunin cewek kampungan itu! " Vika berteriak sambil mengejar Henry, seperti pangeran yang menolong putri salju.


Henry membawa Sorin ke UKS.


"Henry. Tolong turunkan aku." Lirih Sorin yang malu dibantu Henry dalam posisi seperti ada disebuah drama ataupun sinetron.


"Aku tidak apa-apa." lanjut Sorin risih.


"Gak kenapa-kenapa gimana? Kaki lo sekarang luka, tangan Lo juga."


"Aku mohon turunkan.." rengek Sorin.


Henry tak menggubris sama sekali permintaan Sorin karena ia belum sampai ke UKS.


Setelah, ada di UKS Henry menurunkan Sorin dipinggir tempat rawat yang disediakan.


Sorin melihat Henry mengamati luka yang dirasakannya.


"Lukanya sampai lebam gini. Kalau dibiarin bisa ganggu aktivitas dan bahaya buat Lo.


Henry mengatakan hal itu seraya mengambil salah satu obat yang bisa meringankan lebam Sorin. Karena, petugas sedang tidak ada di UKS. Terpaksa Henry mengambil obat yang berada di lemari tak jauh dari tempat Sorin.


Sorin memperhatikan setiap kelihaian yang dilakukan Henry, saat mengobati lukanya. Dengan penuh hati-hati dan pelan. Agar Sorin tidak merasa kesakitan.


"Masih sakit, Rin?"


"Sudah lebih baikan, Hen."


"Makasih ya."


Henry mengiyakan. "Kenapa bisa Lo jatuh kaya gini?"


"Apa karena kamu nggak hati-hati?" Henry memperhatikan Sorin.


"Hehehe iya. Aku terkejut melihat Vika datang tiba-tiba." Sorin mencari alasan sambil melihat ke arah lain.


"Di mana Ardi?" Ceplos Sorin membuat Henry terperanjat.


"Ardi lagi ada janji sama anak basket." Henry menjawab apa adanya.


"Henry juga tidak sibuk bermain basket?"


"Aku gak akan membiarkan kamu dalam keadaan susah. Apalagi jatuh seperti ini." Kata Denis meyakinkan.


Dibalik tingkah keduanya, Vika diam-diam melihat dari bilik jendela, lalu mendengarkan percakapan tersebut.


"CK.. Hoki banget Sorin. Boro-boro gue digituin malahan cemberut, iya." Kesal Vika yang mengikuti keduanya sampai UKS.


Vika memilih pergi, daripada ia harus memanas sampai berasap melihat kemesraan Henry dengan Sorin semakin membuat hatinya sakit.


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Biar aku bisa bantuin kamu, Rin." Henry tersenyum manis dihadapan Sorin.


Senyuman Henry membuat Sorin semakin terdiam, karena Ia tak setiap saat melihat senyuman dari Henry.


"Maaf merepotkan kamu Hen." Sorin memelas.


"Santai Rin. Aku antar kamu pulang ya?" Pertanyaan yang sangat mengejutkan Sorin, karena Ia sedang menatap cermat Henry yang hampir tidak bersamanya.


"Ya. Tapi, ikut aku makan siang dulu ya?"


"Oke." Sorin menyetujui. Walaupun sebenarnya Ia melanggar janji yang sebelumnya diikat bersama Ardi.


Ia berusaha menghubungi nomer tersebut. "Ardi, aku pul--" ucapannya terpotong karena handphone Sorin diambil ahli Henry.


"Ar, Gue mau antar Sorin dulu ke rumah."


"Enak aj--." Sambungan dimatikan sepihak, lalu memberikan kembali ke Sorin.


"Sudah selesai pembicaraannya?" Sorin bertanya karena ingin mengetahui respon dari Ardi.


"Hm." Henry menaikan alis bersamaan.


"Cepat sekali." Celetuk Sorin sengaja.


"Ya." Henry sengaja tak mengatakan yang sejujur. Baginya untuk apa? Toh, Ardi bukan pemilik hati Sorin.


Berbanding terbalik dari sisi Ardi. Ia kesal karena ucapannya dimatikan sepihak.


"CK.. Anj***. Gue belum selesai ngomong."


***


To be continue..