
"Sorin, coba kamu jalan." Pinta Henry yang sudah siap membantu Sorin.
Sorin beranjak dengan hati-hati, mencoba berjalan meskipun harus menahan rasa sakit.
"Masih sakit?" Henry khawatir melihat Sorin yang belum sepenuhnya sembuh.
"Tidak apa. Sebentar lagi pasti sembuh." Sorin berjalan pelan-pelan agar kakinya kembali pulih.
"Gue antar pulang. Biar sampai rumah kamu bisa langsung istirahat, Rin."
"Iya, makasih Henry tumpangannya." Sorin tak ada pilihan selain mengatakan iya. Menolak Henry, ia tak tega sama sekali belum lagi dia yang telah membantu membawa dirinya ke UKS.
"Sama-sama Rin. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke aku ya." jawab Henry.
Sorin berjalan keluar dibantu Henry.
***
Ardi yang sedang bermain basket bersama timnya gagal fokus mendribble bola lalu melambungkan bola basketnya pun tak masuk.
Bian mendekat ke Ardi lalu menepuk-nepuk pundaknya. "Bro, dari tadi tumben gak ada yang berhasil masuk. Banyak pikiran Lo?"
"Enggak, gue lagi kesal." Timpal Ardi.
"Anj*r, sama aja. Apa bedanya coba?"
Seakan bian ingin meremas teman yang ada dihadapannya itu.
"BIAN MINGGIR!" Suara keras dari teman lainnya membuat Bian sigap menghindar dari bola yang ternyata bukan ke arahnya namun ke Ardi.
BRUGHH! Bola basket menghantam dahi Ardi. Ardi merintih kesakitan, Karena benturan bola yang keras membuatnya sedikit pusing.
"AAWWW.. Pala gue!" Rintih Ardi. Teman-temannya berkumpul ke Ardi dan Bian.
"Ar Lo gak papa?" Bian terkejut melihat kejadian yang tak terduga itu. Bian selamat, tetapi Ardi yang harus merasakan sensasi bola basket.
"Gak papa mata Lo! CK.." Ardi menutupi dahinya yang masih perih.
"Tapi, bukan gue sumpah." Bian panik sambil meringis menahan tawa melihat Ardi kesakitan.
"Ar, Sorry salah gue. Bukan Bian." Dika datang menghampiri Ardi.
"Tanggung jawab, Bro." ucap teman lainnya dipinggir Dika.
"Gue balik. Sakit ini kepala." Ardi menegaskan dan lebih memilih tak melanjutkan permainan basket tersebut.
"Ya maaf, Ar." Dika merasa bersalah.
"Maaf terus, tanggung jawab, Dik. Beliin minum sana!" Pinta Bian kesal melihat tingkah Dika yang tidak menyadari kesalahan .
"Dasar gak peka, Dik!"
"Bentar Ar, Dika mau beliin Lo minuman. Pasti Lo haus." Kata Bian.
Bian sesekali melihat Dika tengah berlari membeli minuman di toko.
Semua teman-temannya setuju, Kalau Dika harus bertanggung jawab. Meskipun Ardi menolak, tetapi setidaknya memberinya minuman juga tanda bukti dengan apa yang sudah dilakukan Dika meskipun tidak sengaja.
"Dasar gak peka itu anak!" Celetuk salah satu temannya yang masih bergerombol.
"Guys, kita break atau lanjutin permainan?" Tanya Bian ke semua temannya yang hadir berkumpul.
"Kalau kalian mau lanjutin permainan silahkan. Gue gak larang kalian, tapi Sorry gue balik duluan." Ardi menimpali pertanyaan Bian yang didengar semua teman-teman.
"Mending kita lanjut besok." Kata salah seorang temannya.
"Iya boleh. Ide bagus." Bian mengangguk setuju.
"Kalau sekarang lanjut ya gak apa-apa, tapi Henry gak hadir."
"Semua setuju?" Bian bertanya seraya menegaskan kepastian latihan basket.
"Setuju!" Suara keras anak basket terdengar kompak.
Semua kembali memilih selesai dalam permainan dan akan dilanjutkan besok.
***
Perjalanan ke rumah.
"Sebenarnya, Lo gak fokus basket mikirin apaan? Mikirin nyokap Lo lagi, atau mikirin cewek ?" Bian bertanya - tanya kepada Ardi yang sama sekali enggan merespon.
Ardi masih diam bukan karena kesakitan di dahi. Namun teringat Sorin yang sekarang sedang bersama Henry.
Ardi merasa berada didekat Sorin membuat dirinya nyaman. Apakah ini rasa sayang sebagai teman ataupun perasaan suka terhadap teman? Ardi tak mengerti dengan perasaan di dalam hatinya.
"Henry sengaja jauhin gue sama Sorin?" Gumamnya sendiri.
Ardi merasa Henry ingin mengenal Sorin lebih dekat. Tetapi, Ardi masih berpikir positif thinking. Tak akan terjadi apapun antara Sorin dengan Henry.
"Masih pusing?" Bian bertanya sambil melirik ke samping seraya mengendarai motor.
"Woy! Pakai naya lagi?! Ya iyalah. Bola basket woy! Bukan bola ping pong!" Ketus Ardi mendengar pertanyaan gila Bian.
"Hehehe, Maaf maaf gue cuma test. Lo sih diem kaya orang kesurupan." Bian terkekeh seakan meledek Ardi yang tak seperti biasanya.
Ardi menjitak kepala didepannya, Bian merintih kesakitan. "Sakit, Ar!"
"Siapa suruh Lo comment?!" Ardi geram, menjitak kedua kalinya.
"Ardi makin lama makin garang." Bian hanya bisa menerima pasrah perlakuan Ardi. Karena hal yang lumrah diantara mereka.
"Pasti Lo mikirin cewek kan?" tebak Bian percaya diri sambil mempercepat laju motor.
"Terserah gue."
"Ya terserah Lo bukan gue. Gue cuma bisa doain Lo, semoga lancar didapetin." Kata Bian.
"Wokeh."
***
Sementara Henry telah mengantar Sorin kembali ke rumah. Sorin pelan-pelan berjalan dibantu Henry, tangannya melingkar tepat pada bahu Henry.
Sampai terhenti duduk dipinggir tempat tidur dibantu Henry.
"Makasih ya Hen. Kalau tidak ada kamu. Aku belum sampai di rumah." Sorin meluruskan kakinya ke atas tempat tidur.
"Sama-sama. Kamu gak perlu pikirkan hal apapun."
"Hm. Memang kenyataannya seperti itu." Sorin sendu.
Sorin merasa dirinya sangat merepotkan Henry. Apalagi Sorin ingin mengembalikan uang yang sudah keluar banyak untuk membantu dirinya. Masih dipastikan dirinya belum bisa mengembalikannya secara cepat.
"Aku selalu repotin kamu."
"Jangan merasa seperti itu. Tanpa kamu saat itu, aku juga tidak akan selamat." Henry memandang Sorin serius.
"Tolong menolong memang sangat diperlukan. Seperti kita sekarang. Nggak perlu merasa bersalah. Kita sudah impas hlo. Sebelumnya aku sudah pernah mengatakan ini." Lanjut Henry penuh makna.
Sorin selalu berandai kalau dirinya punya segalanya termasuk uang. Dirinya pasti tidak terlilit hutang banyak. Ataupun harus balas budi. Meskipun Henry tak meminta untuk mengembalikannya.
Tetapi, bagi Sorin. Hutang harus tetap dibayar karena itu sebuah tanggung jawab yang harus diselesaikan.Tetapi, untuk sekarang ia belum mampu membayar lunas.
"Lebih baik, kamu istirahat, Rin. Jangan memikirkan hal yang tidak penting. Kamu fokus dengan tujuanmu selanjutnya." Henry menatap Sorin penuh semangat. Ia melihat Sorin sudah mempunyai strategi, tujuan hidup.
Melihat Sorin yang tak pernah lelah selesai bersekolah harus kembali bekerja. Berbeda dengan dirinya yang sudah disediakan Papa. Tanpa harus bekerja keras.
Henry melihat Sorin sangat salut, penuh perjuangan. Apalagi mendengar Ia tak bisa melanjutkan sekolah saat pertama kali bertemu dengan Sorin. Ada rasa sedih, tidak tega, dan rasa sedikit malu muncul kepada Sorin. tetapi Ia sadar seharusnya dirinya bersyukur, difasilitasi papanya.
Sejak Sorin ada dikehidupan Henry. Ia semakin banyak belajar.
Jalan kehidupan setiap orang masing-masing berbeda. Tak perlu risau. Tak perlu khawatir.
"Sampai sekarang aku belum tau. Kenapa aku bisa tidak sadarkan diri di dalam ruangan?" Celetuk Henry tiba-tiba menceritakan ke Sorin.
Sebenarnya tidak nyambung. Tapi, Henry begitu saja ingin menceritakan.
"Kamu lupa atau bagaimana?" Sorin spontan menjawab, setelah mendengar ucapan Henry.
"Aku ingat hanya sedikit. Aku datang ke rumah temanku, lalu mengetuk pintu rumahnya, dan tiba-tiba hidungku seperti ditutup oleh kain basah. Setelah itu aku tak mengingat apapun."
Henry bercerita karena ia penasaran siapa yang tega membawanya? Kesalahan apa yang sudah diperbuatnya?
***
To be continue..