
Semua berkumpul membentuk barisan seperti di awal. Bu Devi sebagai MC memberi semangat, karena akan dimulai perlombaan antar kelompok bukan hanya kelas dari Bu Devi tetapi dari kelas lain juga.
Semua antusias ketika Bu Devi menyebutkan ada lima permainan, dan diakhir permainan ada kegiatan lain yaitu jeritan malam.
Sorak Sorai setiap kelompok dan suara dukungan membuat suasana semakin bersemangat. Ketika permainan bakiak menjadi permainan pertama yang dimulai.
Setiap kelompok diambil 3 anak laki-laki yang memainkannya.
Suara riuh tak kalah kencang ketika Henry, Ardi, dan Bian berjalan cepat secara bersamaan melawan kelas lain.
"HENRY! ARDI, AYO!"
"HENRY! HENDRY!"
"ARDI! ARDI"
Teriakan kencang itu tak ada hentinya. Ketika ketiga laki-laki itu berhenti memenangkan pertandingan. Seketika suaranya kompak bertambah kencang.
Ketiga laki-laki itu kompak berpelukan layaknya Teletubbies, antara sadar ataupun tidak. Ketiganya kegirangan dan terlihat gembira.
"YEAH, Kita berhasil!" Kata Bian masih berpelukan dengan Henry dan Ardi.
"Ya gitu dong. Akur, jangan bertengkar mulu, kaya anak PAUD." Ledek Oki datang sedikit menyindir ucapan Ardi kala itu, membuat ketiganya saling melepas melihat Oki dan Sorin datang.
Henry, Ardi nampak jelas kikuk, sementara Bian yang bergidik geli seperti ulat keket. Ardi ataupun Henry juga tak menjawab perkataan Oki sama sekali.
"Hihh, Gelay! Gue masih waras, Bray!" Ceplos Bian masih bergaya ala ulat keket.
"Siapa jugak yang mau jeruk sama jeruk. Kampret!" Seru Ardi tak terima, dirinya juga tidak mau dicap seoerti yang dikatakan Bian.
Suara Bu Devi kembali riuh ketika permainan kedua memeriahkan lokasi.Pandangan kelompok Henry tertuju pada Bu Devi.
"Permainan bakiak sudah dilaksanakan semua kelompok terutama laki-laki ya. Sekarang permainan kedua untuk perempuan disetiap kelompok, yaitu mengambil koin pada semangka menggunakan mulut."
Suara riuh kencang, mendengar permainan kedua menegangkan.
"Kita harus menang,Rin." Oki menyemangati.
"Dann—- permainan ini mata pemainnya harus ditutup dengan sapu tangan yang ada di ibu." Lanjut Bu Devi menyampaikan.
Semua melongo. Ada yang berkecil hati dalam gerutu, "Njir, pake ditutup segala mukanya. Kan susah." Protes Vika ke genknya.
"Iya. Lihat olinya, iuh.." tambah Disty mengerutkan kening, sambil memutar bola mata malas.
"Tapi, kita tetap harus menang." Sela Alya mengingatkan.
"Ya dong, harus!" Timpal Vika masih tetap percaya diri.
Tatapan sengit terlihat dari Genk butterfly ketika Bu Devi menyebutkan nama pemain yang pertama.
"Sorin Oki VS Vika, Yista."
"Yis. Kita harus menang. Gimana caranya?" Bisik Vika ke Yista yang tak lama. Ide muncul dipikirannya.
Yista berbisik ke Vika, Yista menjelaskan sampai Vika paham. Semua berakhir dengan anggukan dan maju disamping Bu Devi.
Sorin dan Oki berhadapan ditengahnya sudah ada koin yang sudah di tancapkan ke buah semangka. Sapu tangan menutupi kedua matanya yang siap mengambil setiap koin dan akan di masukkan ke dalam wadah dibawah mereka.
"Satu dua tiga!" Suara hitungan Bu Devi membuat Sorin dan Oki tengah berusaha mengambil koin itu menggunakan mulut.
Ia berusaha menahan bau oli yang sangat terasa menjijikan. Belum lagi baunya sangat menyengat di indra penciumannya.
"AYO SORIN !" Teriak keras semangat dilantunkan Ardi,membuat Henry yang ada disebelahnya menoleh.
"OKI, AYO KI, Fokus diambil sama mulut jangan dimakan!" Teriak Bian konyol.
Semua yang mendengar ucapan Bian terkekeh kecil.
"Ada-ada aja Lo, Bi."Celetuk salah satu anak yang tak jauh dari posisinya.
"Ya kan, beneran pake mulut." Timpal Bian menegaskan.
"Hahaha ya ya terserah Lo." Anak itu pasrah dengan sikap konyol Bian, Agar menarik perhatian.
Ardi langsung menoyor Bian heboh, "Bikin Oki jadi gak konsen terus.."
"Anjir.. sakit, Ar. Itu lihat gara-gara Lo dia kesusahan dapatin koin." Ardi menunjukkan ke Bian, kondisi Oki yang belum mendapatkan koin lagi di mulutnya.
"Awas aja kalau kalah, berarti gara-gara Lo!" Gertak Ardi ke Bian yang seketika hatinya menciut.
"Hih garang..takut." Ledek Bian sambil kedua tangannya bergaya mencakar ala kucing mengeong.
Bu Devi mengatakan, "Hasil pemenangnya adalah Vika dan Yista."
Setelah semua koinnya telah dihitung Bu Devi mengeluarkan suara lantang pemenangnya.
"Yah, kita kalah, Rin." Kata Oki lirih membuka sapu tangan yang ada dipenglihatannya.
Sorin menepuk pelan bahu Oki. "Tenang Oki. Kalah menang sudah biasa, namanya juga perlombaan."
"Thanks ya Rin. Gue kira Lo bakalan marah kalau kita kalah." Jelas Oki merasa bersalah.
"Tidak, Oki. Menang atau kalah yang terpenting kita sudah berusaha." Lirih Sorin masih terdengar di telinga Oki.
OKI mengangguk paham sebelum akhirnya permainan ketiga dilanjutkan.
Permainan kedua telah selesai. Sorin dan Oki mencuci tangan disebuah air kran yang tak jauh dari lokasi berkemah. Tiba-tiba tanpa diundang, Vika dan Yista mendekat.
"Kasian banget. Sudah kalah, gak dapat hadiah. Kasian banget." Celetuk Vika dan Yista sengaja menyindir Oki dan Sorin yang tengah membersihkan kedua tangan.
"Gak masalah kalau kalah. Namanya juga perlombaan." Cergas Oki menimpali Vika dan Yista.
"Ya kan, Rin?" Tanya Oki ke Sorin selesai mencuci tangan.
"Iya benar kata Oki." Gumamnya dalam hati.
"Anak kampungan harusnya gak ikut kali. Sekolah mahal, semua serba mahal. Hahaha." Celetuknya diakhiri dengan tawa yang menusuk.
"Jangan cari gara-gara sama Sorin. Lo berdua gak tahu malu ya." Tegas Oki membela Sorin.
"Harusnya pertanyaan Lo itu kebalik. Lo yang kampungan. Orang susah!" Cela Vika ke Sorin, bukan ke Oki.
"Lo bisa diam gak?!" Geram Oki memanas mendengar perkataan Vika dan Yista merendahkan Sorin seenaknya.
"OKI. Sudah, jangan digubris ucapan Vika dan Yista. Kita kembali aja yuk." Pinta Sorin yang enggan menatap Vika dan Yista.
"Eh, ya juga ya. Gak penting banget neladenin." Ketus Oki berlalu bersama Sorin meninggalkan Vika dan Yista yang masih menatap penuh kebencian.
Sementara Ardi tengah mengomel ke Bian, "Gara-gara Lo, Bi. Kelompok kita, kali ini kalah." Tuduh Ardi ke Bian dengan ekspresi tanpa bersalah.
"Gue pastiin selanjutnya menang." Timpal Bian yakin.
"Gue pegang omongan Lo!" Ardi menepuk pundak Bian.
Henry yang mendengar suara Ardi dan Bian menjauh dan memilih mendekat ke arah Oki dan Sorin.
"Sorry ya Hen, kalah." Kata Oki merasa bersalah.
"Santai Ki. Lo sama Sorin sudah melakukan yang terbaik. Jadi gak perlu merasa bersalah. Masih ada kesempatan lagi." Tutur Henry jelas lalu tersenyum tipis.
Sorin mengangguk.
"Makasih Hen." Balas Oki.
"Kalau gitu gue mau ke tenda, sebentar." Lanjut Oki.
"Oke." Singkat Henry yang sekarang hanya dengan Sorin.
"Rin, Lo capek gak?" Tanya Henry memulai pembicaraan.
"Hahaha.. sedikit." Sorin menjawab dengan jujur tetapi sedikit canggung.
"Tunggu disini sebentar, ya. Jangan ke mana-mana." Pinta Henry ke Sorin yang memberi jawaban anggukan kecil.
"Iya Hen."
Hanya lima menit Henry kembali. Sorin melihat wajah yang nampak sumringah antusias. Tanpa diketahui Sorin Henry menyodorkan minuman, tepat Sorin tengah nyaman beristirahat duduk di batu besar.
"Makasih Hen." Sorin menerima botol minuman tersebut.
"Sekalian diminum gih, pasti haus." Lanjut Henry memberi perhatian kecil.
Tanpa diketahui Sorin dan Henry. Ardi tengah mematung memperhatikan keduanya.
***
To be continue…