
Ardi berjalan mendekat ke Sorin.
"Lo kenapa?" Tanya Ardi ingin tahu.
"Beri tau gue sekarang!"
Ardi sudah ada dihadapan seorang Sorin yang enggan melihat Ardi, bukan membenci Ardi, tetapi Sorin lebih memilih menjauh karena ingin sendiri.
Sorin menggeleng. "Jangan paksa aku, Ar. Aku lagi ingin sendiri."
"Lo lupa sama janji yang kita sepakati sebelumnya? Kalau Lo ada masalah ataupun apalah yang lo rasain, Lo harus cerita ke gue." Ardi menjelaskan dengan intonasi sedang.
"Iya. Tapi, aku sekarang ingin sendiri."
Sorin berbalik arah melanjutkan langkah meninggalkan Ardi.
"Hm. Gue tau Lo lagi pengen sendirian. Tapi, gue gak bisa biarin Lo sendirian." Gerutu Ardi sendirian mengacak rambutnya.
***
Ekspresi kesal nampak jelas di wajah Oki. Bisa-bisanya gue ditinggalin sendirian.
"Huftt.. Sorin Sorin." Oki menghembuskan napas kasar, mondar mandir dihadapan Bian yang sedang duduk santai dengan gitar ditangannya.
"Lo bisa diam tenang, nggak?" Celetuk Bian memperhatikan gerak gerik Oki yang cemberut jalan mondar mandir didepannya.
"Gak!" Timpalnya ketus.
"Bikin gue nggak konsen main gitar. Huh!" Bian seakan dibuat marah Oki. Ia tidak ingin kehilangan kesabarannya, sambil mengelus dada.
"Lo kenapa sih mondar-mandir dari tadi? Bikin gue darah tinggi aja." Ocehan Bian mulai berseru. Ia menghentikan sejenak permainan gitarnya, menunggu Oki tenang.
"Sorin.. Sorin.. gue nunggu Sorin, Bi." Ucap Oki kesal.
"Udah biarin Sorin sendirian dulu. Siapa tau dia lagi nggak pengen diganggu."
Bian menenangkan Oki.
"Iya tapi,—."
Ucapannya terjeda Bian lagi. "Lo itu jadi teman yang baik, ya harus paham kondisi teman Lo. Ngerti nggak omongan gue?"
"Lo kan se tenda bareng Sorin. Ya mudah. Entar, Lo tinggal tanyain ke sorinnya pelan-pelan dan Lo nggak perlu marah-marah kaya sekarang ini."
Oki berpikir kembali. Apa yang dikatakan Bian memanglah benar. Oki berusaha meredam amarahnya sendiri. Untuk tak bersikap egois.
"Lo paham sekarang?" Tanya Bian sekali lagi.
"Iya paham. Ya udah duduk sini disebelah gue." Pinta Bian mempersilahkan.
Oki menuruti permintaan Bian duduk disebelahnya. Tak lama Sorin berjalan masuk ke tenda. Beberapa menit disusul Ardi yang pandangannya mengarah pada Bian.
Ardi berjalan mendekat ke Bian dengan lesu.
"Lo habis ke mana, Ar?Aneh banget."
"Tau ah, laper. Makan yok." Ajak Ardi berjalan mendahului Bian dan Oki.
"Ayok!" Antusias Bian mengikuti Ardi sambil membawa gitar kesayangannya.
"Ar, gue ikutan ya?!" Tanya Oki dengan suara kerasnya.
"Iya!" Ardi berbalik berteriak lantang, lalu berjalan kembali.
Sorin masih menangis sambil bergumam sendiri di dalam tenda. Ya. Sorin sendirian menenangkan pikiran, kemudian mengusap air mata yang sudah keberapa kalinya menetes.
Tangannya bergetar hebat setelah serangkaian kejadian yang telah terjadi. Tak mampu dilupakan sampai saat ini. Meskipun ia belum mengetahui dalangnya. Namun, Sorin yakin bahwa yang melakukan hal itu adalah Vika dan genknya.
"Sejahat itu Vika dan teman-temannya ke aku? Padahal aku tidak pernah membuat masalah kepadanya?"
Ia berbicara pelan dengan mata yang membengkak.
"Hanya karna aku dekat dengan Henry. Vika terlihat sangat membenciku." Lanjut gumaman Sorin yang tak habis pikir terhadap Vika. Padahal ia sama sekali tidak dekat dengan Vika. Apalagi berteman dekat. Tak ada sama sekali terbesit perasaan benci.
"Kenapa Vika juga tahu tentang kehadiranku di sekolah ini? Kalaupun Henry yang memberitahu. Harusnya tak selancang itu?"
"Itukan privasiku dan hanya dia dan aku yang tahu."
Pikiran Sorin menjadi tak tentu. Ia mengusap air mata terakhir kali dan pergi ke toilet membasuh mukanya.
***
Sorin memandangi wajahnya di cermin toilet, yang tak ada semangatnya sama sekali. Dibandingkan sebelum Vika dan genk mendatanginya.
Beberapa menit, Dari balik kaca ia melihat Vika datang memandangnya. Ia menoleh dan pandangannya ada pada Vika diikuti teman-temannya.
"Eh, ketemu lagi sama anak miskin?Hustt..sssttt minggir! Minggir!"
Cemoohan Vika tak suka melihat kehadiran Sorin yang suram baginya.
Sorin tak bergerak sama sekali. Ia masih menatap dengan ekspresi yang tak mampu ditebak.
"Apa lihat-lihat?!" Celetuk Disty tak terima.
"Gue colok mata Lo! Baru tau rasa!" Sahut Yista.
Alya mengangguk setuju sambil melipat kedua tangannya ke depan.
Sorin masih menatap semuanya perlahan.
"Apa kalian yang sengaja mengunci aku di toilet?"
Pertanyaan Sorin mengangetkan genk Butterfly terutama Vika.
Tak ada gerakan atau suara setelahnya, semua terdiam selang lima detik, suara Vika mencelos begitu saja.
"Memangnya kenapa? Lo jelas nggak ada bukti. Nuduh gue?"
Sorin mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Tatapan sengit dan situasi mencekam semakin dirasakan Sorin. Suara pintu toilet yang sengaja di kunci rapat dari salah satu teman-teman Vika. Menambah keringat Sorin semakin bercucuran, karena Vika semakin mendekat ke arahnya.
Secepat kilat, tangan Vika menarik rambut Sorin. Seketika Sorin merintih kesakitan.
"AAWWW.. sakit!"
Vika memanas, tangan kirinya juga mencengkram tangan kanan milik Sorin.
"Gue rencanain ini semua. Kenapa? Lo nggak terima? Kalau Lo gak terima, harusnya Lo ikutin perintah gue! Jauhin calon suami gue! Ngerti!" Tindas Vika dengan tatapan sengit.
Rasa sakit yang dirasakan Sorin tak seberapa dengan harga dirinya yang direndahkan. Hanya karena masalah laki-laki dirinya akan mendapat hal yang menyakitkan.
"Lepaskan tanganmu!" Gertak Sorin tak terima.
"Gue gak akan lepaskan tangan Lo! Sebelum Lo mengiyakan kemauan gue!" Vika mengotot menunggu jawaban dari mulut Sorin.
"Ya, aku akan menuruti semua keinginanmu, sekarang lepaskan tanganku!" Berontak Sorin.
Vika melepaskan cengkraman kuat itu. "Awas aja sampai gue lihat Lo deketin Henry lagi. Gue akan balas lebih dari ini!" Vika mengatakan penuh penekanan, kemudian membuka pintu lalu keluar dari toilet.
Sorin lega. Ia pun menahan rasa sakit bekas cengkraman kuat dari Vika di tangannya.
Menghela napas panjang, Sorin berusaha menerima dan lebih memilih menghindar dari Henry daripada harus menambah masalah lagi.
Sorin keluar toilet. Kemudian belum sampai tenda, ia berhenti karena Henry memanggilnya sekaligus bertanya.
"Sorin. Kamu dari mana? Di mana anak-anak juga? Kenapa disekitar tenda kelihatan sepi?"
Tatapan Sorin datar, mulutnya enggan berbicara. Namun, ia membalas singkat ke Henry yang menunggu jawabannya.
"Aku tidak tahu."
Kemudian, Sorin berlalu begitu saja.
"Sorin.. kenapa dia diam aja?" Batinnya, lalu menyamakan langkah ke sebelah Sorin.
"Kamu kenapa?" Tanya Henry setelah menarik tangan Sorin hingga ke hadapannya.
"Aku tidak apa-apa. Lepaskan tanganmu."
Sentak Sorin ke Henry. Henry hanya bisa melepaskan perintah Sorin.
Bagi Henry ada yang aneh melihat tingkah Sorin. Namun, ia tidak ingin memperkeruh suasana hati Sorin yang terlihat tak begitu baik.
Sorin kembali berbalik pergi, sementara Henry hanya bisa menatap kaku Sorin yang semakin jauh.
"Ada apa dengan Sorin? Apa aku sudah membuatnya marah?" Gumamnya sendiri.
Pemikiran seperti itu muncul karena tingkah Sorin yang berubah, cenderung membuat Henry terlihat bodoh.
***
To be continue…